One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 76



Sambil marah-marah, Melia melempar segala barang ke sembarang arah.


"Apa kalian pikir hanya orang kaya saja yang bebas berulah? apa kalian pikir orang miskin seperti kami tidak berani membalas, hah?" Melia berteriak keras. Para gadis itu histeris dan saling pandang saat Melia membuang barang-barangnya sementara Clara semakin melebarkan senyumnya melihat tingkah teman Gisell.


"Jangan karena kalian kaya lantas seenaknya saja menindas orang miskin," cerca Melia.


Gisell memijat pelipisnya, awalnya ia hanya perlu menabung selama setahun mungkin untuk mengganti skincare mereka yang berharga puluhan juta, tak disangka Melia justru mengamuk dan mungkin masalahnya akan lebih besar lagi setelah ini. Terlebih Gisell melihat seringaian di wajah Clara membuatnya yakin gadis licik itu memiliki rencana besar.


Gisell menghela napas, meski begitu yang dilakukan Melia adalah untuk melindunginya dan membalas orang-orang yang telah menindasnya. Kini Gisell hanya bisa pasrah dan berserah diri pada keadaan.


Clara semakin senang melihat keadaan ini, jemarinya berselancar di layar ponsel.


'Hallo kantor polisi XX, ada yang bisa saya bantu?'


Clara tersenyum.


'Hallo pak polisi tolong datang ke tempat saya, ada orang jahat berusaha berbuat onar dan merusak barang-barang saya dan teman saya.'


"Laporan diterima, boleh saya tahu dimana?'


'IMS School.'


Semua orang terdiam, termasuk beberapa yang berkerumun di depan kamar asrama Gisell. Clara tersenyum sinis menatap Melia, ada kepuasan dalam diri karena sebentar lagi ia akan punya cara menyingkirkan Gisell dan temannya tanpa harus mengotori tangan.


Semua yang mendengarkannya pun diam tercengang kaget karena ketua para gadis alias Clara melapor polisi, Melia semakin kesal setelah tahu gadis itu tiba-tiba melapor polisi bahkan melabeli dirinya orang jahat. Karena masalah ini sudah sampai ke tahap polisi dan Clara sudah menganggapnya jahat, maka Melia tak segan lagi untuk bersikap lebih jahat. Dengan tangan mengepal erat, dia mendekat ke arah Clara dan menarik kerah bajunya.


"Pengecut!" kecamnya dengan nada penuh emosi, Gisell menelan ludahnya susah payah, ia berusaha meredam emosi Melia dengan mengajaknya pergi akan tetapi Melia enggan, karena menurutnya Clara harus diberi pelajaran hingga kapok.


Melia bahkan sempat melempar barang yang ada di tangannya sebelum berlari menyerang Clara.


"Lepas, jauhkan tanganmu dari tubuhku!" pekik Clara.


"Kenapa memang, jika aku mau aku bukan hanya menyentuh tubuhmu tapi juga mematah-matahkannya." kecam Melia.


Namun, tiba-tiba Clara merasakan sakit di bagian hidungnya.


"Heh ja lang, apa kamu tidak tahu siapa diriku," maki Clara.


Plakkk!


"Tidak penting siapa dirimu, kenapa memang? bahkan jika kamu anak orang paling kaya di negeri ini sekalipun aku tidak takut." kecam Melia seraya menampar Clara.


Clara meringis, meski tak sampai membekas tapi tamparan Melia cukup kuat hingga membuatnya kesakitan. Baru kali ini ada orang yang berani sekali melawannya.


Clara benar-benar kesal, ia hendak membalas menampar balik Melia. Namun, tiba-tiba seseorang salah satu dari mereka yang berkerumun meneriaki hidungnya bengkok.


"Hey, lihat hidung Clara terlihat bengkok." teriaknya hingga berhasil mengundang rasa penasaran.


Sementara Gisell mendekat ke arah Melia dan mencoba sekali lagi membujuk temannya itu.


"Sudahlah Mel, ayo." Tak digubris oleh Melia dan bahkan ia memilih ikut memperhatikan hidung milik Clara.


Terdengar suara riuh para mahasiswa yang berbisik-bisik setelah memperhatikan Clara.


Ada yang mengoceh, ada yang membully, ada juga yang tak percaya.


"Masa sih bengkok, enggak deh. Mungkin karena begitu saja bentuknya."


"Eh iya orang tadi aku lihat juga bengkok, mungkin oplas kali."


"Lah mana mungkin oplas, aku ga percaya."


"Nggak nggak deh, palingan kalian salah lihat."


Bisik-bisik kian terdengar nyaring. Tanpa sadar, tangan Clara tergerak menutup hidungnya hingga memancing tanda tanya yang lain.


"Rasain, muka banyak tembelan plastik aja belagu selangit dan sok kecakepan." gerutu Melia, Gisell menepuk pelan pundaknya, menyadarkan Melia yang berkacak pinggang langsung menoleh.


"Kenapa? kamu mau bilang berhenti melawan mereka." decak Melia dengan bibir mengerucut.


"Iya kamu nggak seharusnya melawan mereka, Mel. Mereka itu punya kuasa, kamu harus pikirkan nasibku kedepannya jika mereka melakukan hal yang bisa membuatku berhenti kuliah disini." Gisell berkata seraya memohon.


"Sudahlah, Sell. Kalau kita nggak melawan, mereka akan terus semena-mena," ucap Melia.


'Lagian yang terluka kan wajahku, aku berharap polisi lebih percaya padaku dari pada orang itu,' pikir Melia dalam hati.


Kegaduhan masih terjadi, terlebih saat Clara masih menutupi hidungnya, tak membiarkan siapapun memperhatikan dari jarak dekat.


"Masak sih hidungnya bengkok, jangan-jangan memang oplas?" tanya salah seorang.


"Gak mungkin, dia gak akan pernah oplas?"


"Memangnya bisa dipercaya?"


"Tentu saja."


"Ck! hanya orang bodoh yang percaya perkataannya yang tidak pernah oplas."


Pro dan kontra masih terjadi, Clara semakin geram. Tapi, setidaknya ia harus menunggu kedatangan polisi untuk membereskannya. Bagi Clara, apa yang dia inginkan harus terwujud dalam sekejap mata. Seperti halnya membereskan teman Gisell yang membuat ulah.


Dia punya kekuasaan, dia punya harta dan segalanya. Kedua orang tuanya pun akan selalu membantu apa yang jadi keinginannya.


"Geng, jangan percaya mereka." tegas Clara menjelaskan kepada gadis-gadis yang setia di belakangnya.


"Tentu, mereka hanyalah orang miskin yang berusaha menjatuhkanmu!"


Mendengar itupun Melia sangat kesal.


Di kantor, Kevin selesai meeting dengan petinggi perusahaan untuk kerja sama proyek terbarunya.


Baru keluar beberapa langkah dari ruang rapat, ponselnya berdering membuatnya mengira jika itu Melia.


"Fyh, Erick." gumamnya, namun tetap mengangkat telepon.


"Ada apa, Rick?" tanya Kevin.


"Hoho, sedang sibukkah. Bisakah keluar sebentar ngopi bersama sore nanti?" tanya Erick.


Kevin berfikir sebentar.


"Boleh, kita ketemu di caffe simpang delapan."


"Oke oke, bagaimana kabar istri kecilmu?" tanya Erick diiringi kekehan kecil.


"Hm, baik."


""Wah benarkah, aku jadi merindukannya." goda Erick tak kuasa menahan gelak tawa. Ia jadi membayangkan wajah kesal Kevin jika cemburu.


"Hm," Kevin hanya bergumam, ia sudah sampai di ruang kerjanya.


"Salam untuknya," Ucap Erick sebelum akhirnya menutup telepon. Kevin berdecak malas, ia kesal tapi untuk marah dan meminta Erick menjauh dari Melia itu hal yang sangat tidak mungkin mengingat laki-laki itulah yang menolong Melianya.


"Apa mereka memang sedekat itu, perasaan baru bertemu sekali kenapa terkesan akrab sekali." desis Kevin, dalam gumamannya sendiri.


Tiba-tiba ia berdiri melihat kalender, ia ingat pertemuannya dengan Melia satu bulan yang lalu.


"Sudah sebulan apa tidak terjadi sesuatu dengannya?"