One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 61



Setelah selesai bicara dengan Laras, lantas yang dilakukan Kevin adalah menarik tangan Melia dan membawanya keluar. Melia mendongkak, ia seperti sedang ditarik kekasihnya yang posesif, perasaan senang bercampur membuat degub jantungnya tak terkontrol, pipinya bersemu merah saat jemari dingin itu menyentuh telapak tangannya.


Menggenggam erat kemudian menariknya keluar melewati Laras yang tak hentinya membulatkan mata, juga bermuka sebal.


Melia menarik sudut bibirnya membentuj sebuah senyuman tipis, bolehkah ia berbahagia sekarang. Perasaan haru meletup-letup di dada.


Melia hanya bisa menurut, ia tak ingin membuat Kevin kecewa terlebih laki-laki itu telah menyelamatkan nyawanya. Mereka berdua diam, tangan Kevin masih setia menarij tangan Melia hingga menciptakan rona merah di pipi. Namun, sampai di depan pintu Kevin teringat kepada Verell yang seolah diam mematung tak mengikuti ia dan Melia keluar.


"Kamu ikut denganku," ucap Kevin menginterupsi pada Verell. Verell yang sedang melamun pun sama sekali tak bergerak. Pikirannya melayang memikirkan perbedaan antara dirinya dengan Kevin. Perbedaan mereka bagai langit dan bumi, dibandingkan dengan dirinya. Kevin adalah sosok yang sempurna, pantas jikalau Melia meminta perlindungan darinya.


Kevin bisa melindungi Melia dari bahaya, sementara dirinya? ia bahkan masih membutuhkan bantuan Melia dalam hal ini, perbedaan yang sangat jauh itu membuat Verell hanya bisa menelan ludah kasar, diam di tempat tanpa berniat ikut pergi bersama mereka.


"Kenapa hanya diam, kamu ikut denganku," tunjuk Kevin pada Verell. Melia yang melihat Verell diam mematung di dalam ruang toilet lantas melepaskan tangannya dan melangkah kembali masuk, meraih tangan Verell dan menariknya. Kevin yang melihat adegan itu memalingkan wajah dengan kesal, ia pura-pura tak melihat apapun saat ini. Verell yang merasa Melia perduli dan kembali masuk ke dalam pun senang, ia mengukir senyum tipis meski sempat melihat kekesalan Kevin, Verell lantas mengikuti langkah Kevin dan Melia menginggalkan toilet bar.


"Kev, kamu akan nyesel karena ini." protes Laras, ia menatap tajam Kevin yang seolah tak perduli dan menggubris ancamannya. Laras mengusap rambutnya frustasi dan berteriak-teriak tak jelas.


Sesampainya di depan, Kevin menoleh sekilas saat mendengar teriakan Laras di dalam.


"Sia lan kamu, Kevin. Kamu akan menyesal karena sudah membela ja lang seperti Melia, kamu akan menyesal karena percaya sama gadis murahan itu, lihat! Aku tidak akan tinggal diam, aku akan balas kalian." Laras berteriak seperti orang gila. Mereka bertiga yang ada di depan bar tak memperdulikan hal itu.


"Mel, kamu pulanglah ke rumah dan istirahat, tidak perlu ikut pergi ke rumah Verell." titah Kevin, Melia menautkan alisnya.


"Kenapa? masalah ini, aku yang buat. Apa tidak apa-apa jika aku tidak ikut kamu ke rumah Verell?" tanya Melia, disatu sisi ia khawatir dengan Kevin, takut karena ulahnya merepotkan Kevin mendapatkan imbas seperti yang Laras ucapkan.


"Tidak apa, kamu lebih baik pulang." jawab Kevin lagi.


"Tapi, Kev..."


"Pulang." potong Kevin cepat.


"Hey, ini bukan masalah yang besar. Jadi lebih baik kamu pulang, aku akan menyelesaikannya segera. Lagi pula ini sudah larut, kamu perlu istirahat." Sambung Kevin lagi membuat Melia bernapas lega, ia sendiri juga tidak ingin sepanjang tidur dihantui rasa bersalah dan tak tenang karena masalah Laras. Wanita itu bahkan terang-terangan mengancam Kevin, meski Melia sangat yakin Kevin bisa mengatasi banyak hal, mendengar ancama Laras tentang keluarga yang berusaha merebut posisinya apakah Kevin akan baik-baik saja? Melia kini mulai mengkhawatirkan laki-laki itu.


'Maafkan aku, Kev. Aku bahkan tidak bisa berjanji untuk tak menggunakan perasaanku, aku yang mulai tak bisa menepati perkataanku untuk tak pernah menggunakan perasaan diantara kita. Aku tahu, rasa ini salah, dan aku hanya akan menyimpan rasa khawatirku rapat-rapat, aku tak ingin berharap lebih selain dari pada status sesuai perkataanmu waktu itu. Tuhan memang hebat ya, dia mampu membolak balikkan perasaanku secepat ini, menjadi gelisah hanya karena memikirkanmu.'


"Baiklah, Kev. Aku akan pulang, tolong kamu bantu jaga teman baikku, Verell." Kelegaan terpancar jelas di wajah Melia, ia pun memilih patuh untuk pulang ke rumah dan membiarkan Kevin serta Verell menyelesaikan masalahnya.


"Dia menganggapku teman baik kah barusan? Apa aku tidak salah dengar?" Batin Verell senang, ia merasa terharu karena Melia menganggapnya sebagai teman baik, padahal karenanya lah Melia hampir celaka hari ini.


"Maaf, Tuan Kevin tidak perlu membantu saya, ini masalah pribadi saya sendiri, saya juga yang akan menyelesaikannya. Mel, kamu pulanglah. Maaf karenaku, kamu hampir celaka, dan makasih kamu juga Tuan Kevin sudah menyelamatkanku hari ini, Laras memang gila. Ia selalu menghalalkan banyak cara untuk ambisinya, aku hanya membenci tingkahnya. Dan ini adalah akibat yang harus aku terima. Terima kasih banyak, Mel! Kamu pulang dan istirahat, lain waktu jika bertemu lagi aku akan mentraktirmu makan," ucap Verell tersenyum manis.


Kevin menggeram sebal. Namun, ia berusaha menutupi kekesalannya, ia tak ingin Melia menilai dirinya sedang cemburu.


Cemburu? Benarkah ia sedang cemburu, Kevin menggeleng pelan, itu hal yang sangat tidak mungkin terlebih mencemburui Melia yang hanya bersikap biasa pada laki-laki lain.


"Apa dia begitu baik pada semua laki-laki?" batin Kevin bertanya-tanya saat melihat interaksi Melia dan Verell, membuat Kevin mendekus sebal namun tetap menampilkan wajah datarnya, seolah tak perduli.


'Wajar kan dia ramah pada banyak laki-laki, bukankah dia pelayan club? hmmm, kenapa juga aku harus kesal. Oh, ayolah Kev! Kamu tidak akan bermain dengan perasaan kan? Seperti perjanjian awal, ini hanyalah bentuk dari tanggung jawabmu karena merusak masa depannya.'


Pikiran Kevin benar-benar berkecamuk, jika teringat tadi saat sebelum mendapat kabar dari Melia. Ia sudah seperti orang yang sedang jatuh cinta, gelisah tak jelas. Dan kegelisahannya terbukti, ia hampir tak bisa membendung rasa khawatir saat Melia menghubunginya. Begitu sampai di club, melihat Melia diserang membuatnya ingin rasanya memeluk. Namun, semua itu urung saat melihat sosok pemuda di balik tubuh Melia. Kevin pikir, dengan ia membuat nama Laras buruk maka maka ja lang itu tak akan menyerang Melia, dugaannya salah. Laras malah hampir mencelakai Melianya.


Kevin mengerutkan alisnya, "Jadi pulang atau tidak?"


Melia yang melihat raut wajah Kevin tak sabaran pun mengangguk.


"Iya," ucap Melia. Mungkin Kevin sebenarnya sangat lelah dan kurang tidur jadi dia bersikap tidak sabaran.


Melia terpaksa meninggalkan motornya, ia memutuskan untuk memesan taksi online. Kevin dan Verell benar-benar memastikan ia masuk ke dalam taksi.


Hai hai, maaf yang minta crazy up mohon maaf🙏🏻


SEPERTI BIASA, SAJENNYA BOLEH DISUMBANGIN😘😆


MISS U ALL💃🏻