One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 65



Mendengar perkataan Kevin yang memastikan hubungan kedua keluarga akan baik-baik saja membuat hati Farhan melunak, akan tetapi ia masih berusaha membujuk Kevin agar bisa menerima Laras.


"Nak Kevin, tolonglah terima Laras, dia sudah lama mengejarmu. Saya, terus terang nggak sanggup melihatnya kecewa dan sakit hati," Farhan masih berusaha keras membujuk Kevin agar menerima Laras.


"Om, saya dan Laras tidak memiliki perasaan apapun! Semacam perasaan yang harus dimiliki seorang laki-laki dan perempuan ketika menjalin hubungan. Om tentu tahu betul hal seperti itu tidak akan baik jika terlalu dipaksakan. Saya dan Laras sama-sama masih muda, dia bahkan bisa mencari laki-laki manapun selain saya, lagi pula dari awal saya memang tak berniat menerima perjodohan itu." tegas Kevin.


Farhan terdiam beberapa saat, ia mulai paham jikalau Kevin adalah tipe sosok yang tidak suka diperintah apalagi di paksa, jadi mungkin Farhan akan berhenti membujuknya sementara.


"Baik, nak Kevin! Saya mengerti, kamu mungkin belum bisa menerima Laras, bukan berarti tidak bisa."


"Kevin, kamu jangan keterlaluan! Apa tidak bisa menghargai papaku dengan mengiyakan ucapannya," ujar Laras marah. Farhan lantas menoleh ke arah putrinya, ia terkejut dengan luka yang ada di pipi Laras.


"Bagaimana bisa wajahmu terluka Laras?" tanya Farhan seraya menautkan alis heran.


Laras tak menjawab, akan tetapi matanya menatap tajam Kevin sehingga Farhan yang terkejut pun mengira bahwa memang Kevin yang melukai pipi Laras.


"Kevin, kamu jangan keterlaluan. Kalau kamu tidak bisa menerima Laras, paling tidak kamu juga tidak boleh melukainya," suara Farhan meninggi.


"Saya tahu, kamu tidak menyukai Laras, apa itu berarti kamu bisa seenaknya melukai wajah anakku." pungkas Farhan lagi, sorot matanya berubah tajam menatap Kevin dengan emosi.


Kevin masih terlihat santai, ia sama sekali tidak takut dengan suara Farhan yang sudah berubah intonasi.


Sementara Verell kini justru mencemaskan Kevin, ia melihat api kemarahan di mata sang papa. Verell khawatir jika Kevin tak bisa menghadapi papanya.


"Om Farhan, bukan saya yang melakukannya! Saya sama sekali tak menyentuh Laras apalagi membuat pipinya terluka," ucap Kevin terlihat santai, lagi-lagi Verell dibuat salut dari cara Kevin menghadapi masalah, tenang dan tegas.


Pembawaan Kevin yang dingin, tegas dalam berucap membuat siapapun pasti akan dengan mudah mempercayai setiap perkataannya.


Verell melihat sorot Laras berubah kelam, namun ia memilih diam membiarkan Kevin menghadapi keluarganya.


Laras yang mendengarnya pun semakin kesal.


"Memang bukan kamu, tapi orangmu yang membuat wajahku terluka. Apa masih tidak mau mengaku di depan papaku?"


"Orangmu, siapa orang itu?" tanya Farhan mengerutkan dahi.


"Iya, Pa. Bahkan Kevin tak membiarkan diriku membalas orangnya, Kevin tak membiarkan diriku melampiaskan amarahku." kesal Laras.


"Oh, itu. Anak di rumah saya, Om. Saya minta maaf karena sudah membiarkan anak saya melukai Laras, tapi itu semua juga karena dia membela diri." tegas Kevin, ia sama sekali tak takut menghadapi Farhan, karena saat ini ia mempunyai satu bukti untuk menghancurkan Laras.


"Sejak kapan kamu punya anak, Kev?" tanya Farhan semakin tak mengerti. Laras yang keaal pun semakin menajamkan mata ke arah Kevin, saat ini laki-laki itu aman di mata sang papa, tapi dia tidak tahu bahwa saat ini Melia sedang berada di tangan anak buahnya.


"Bukan anaknya, Pa. Tapi, tunangannya."


Mendengar penuturan Laras, putrinya membuat Farhan semakin bingung sebab Farhan sama sekali belum pernah mendengar jikalau Kevin, penerus keluarga Louis sudah memiliki tunangan.


"Aku tidak pernah mendengar Kevin memiliki tunangan." bantah Farhan.


"Bohong!" potong Laras cepat.


"Diam dulu," ucap Farhan pada Laras.


"Tapi,-"


Farhan mengibaskan tangannya ke atas, kode agar Laras diam sebentar dan mendengar ucapan Kevin.


"Saya ingin meminta pertanggung jawaban keluarga Om Farhan atas masalah ini," ucap Kevin.


"Heh, wanita ja lang itu yang melukai wajahku, seharusnya kamu yang bertanggung jawab dan menyerahkan wanita itu padaku." Kesal Laras emosi.


Dia bukan ja lang, dia juga melakukannya untuk membela diri karena kamu yang memulainya lebih dulu," ucap Kevin membela Melia.


"Aku hanya minta kamu melepaskan wanita itu, lagi pula dia memang wanita ja lang bukan?"


Verell ikutan kesal mendengar ucapan kakak tirinya, bukankah kata ja lang lebih cocok tersemat untuknya yang sudah tidur dengan banyak laki-laki?


"Aku tahu, kak Laras duluan yang mulai, dia mengancam akan melukai wajah Melia, membuat wajah Melia hancur agar Tuan Kevin meninggalkannya, kak Laras juga mengancam akan melempar Melia pada laki-laki untuk ditiduri." Kini Verell bersuara, bagaimanapun ia harus membantu Kevin karena laki-laki itu telah menyelamatkan dirinya.


"Diam kamu, tidak usah ikut campur." tegas Farhan, membuat Verell seketika menunduk, ia paling tidak bisa melawan papanya karena selama ini Verell hanya ingin mendapatkan rasa sayang dari laki-laki paruh baya itu.


Laras menyeringai, mau bicara seperti apapun papanya memang tidak akan pernah mendengarkan Verell, adik tirinya.


Farhan yang mengetahui sifat anaknya bagaimana, ia mulai baik-baik berbicara dengan Kevin.


"Kevin, Om mohon padamu untuk baik-baik menyelesaikan masalah ini. Laras mungkin hanya menggertak wanita itu, tapi yang dilakukannya justru membuat wajah Laras seperti ini. Itu murni bukan kesengajaan, Laras sedang cemburu dan dia melakukan hal itu bukan tanpa sebab." jelas Farhan, meski terdengar halus tetap saja berujung pembelaan pada anak perempuannya.


"Masalah ini tergantung bagaimana tindakan Laras berikutnya, Om. Saya tidak bisa tinggal diam jika dia masih saja berusaha mencelakai tunangan saya, apalagi sampai berniat memisahkan kami. Itu hal yang sangat tidak mungkin, jadi Laras kamu jangan pernah bermimpi untuk mencelakai Melia dan merebut posisinya." tegas Kevin.


Verell akhirnya tersenyum, meski hari ini ada sebuah kenyataan dasar dari dugaannya, yaitu hubungan Melia dan Kevin. Verell akhirnya tahu kalau Melia dan Kevin memang memliki hubungan, kedepannya mungkin ia akan lebih hati-hati mendekati Melia.


"Nak Kevin, lebih baik lupakan masalah hari ini. Kamu tahu kenapa? dulu waktu aku dan ayahmu masih muda, kami juga sering bertengkar seperti kalian, seperti kamu dan Laras. Jadi Om harap, kalian tetap baik-baik menjalin hubungan, dan kamu Laras! Kamu tidak boleh membuat Kevin menyalah artikan tindakanmu," ucap Farhan, akan tetapi itu sama sekali tak membuat Kevin tersentuh meski laki paruh baya di hadapannya saat ini adalah teman baik papanya.


.


.


.


.


MOHON MAAF MELIA BELUM NAMPAK HILALNYA, INSYAALLAH DIA BAIK² SAJA SEMOGA🥰🏃🏼‍♀


SEPERTI BIASA, LIKE KOMEN, VOTENYA SAYANG💃🏻MAAF BELUM BISA BALAS KOMEN SATU²😘