One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 45



Melia tertawa mengejek, ia sama sekali tak terganggu dengan ancaman Liona. Toh selama ini memang papanya tidak pernah perduli, mau tak dianggap pun, Melia rasa bukan hal yang penting. Dirinya sudah terlanjur sakit hati dengan ketidakadilan hidup dan jalan takdirnya.


"Kau..." geram Liona.


"Apa? Mau apa? mau ngancem lagi, gak akan ngefek apa-apa dalam hidup aku, sama bujuk papamu suruh bantu." Sinis Melia, ia lantas melenggokkan badan seolah mengejek kekalahan Liona. Tiba-tiba seseorang karyawan dengan antusias menghampiri Melia, "Mbak, kata-katanya dong." pintanya seraya membuat video.


Melia terkekeh pelan dengan tingkah karyawan Kevin yang menurutnya unik itu, mungkin karena kebanyakan melihat vlog di YT.


"Kalau panas itu minum es, panas kok ngurusin hidup orang." Sindir Melia dengan bangga.


"Makasih mbak," pekik karyawan itu, ikut melirik sinis ke arah Liona.


Liona semakin mengepalkan tangannya saat melihat Melia langsung masuk ke dalam kantor, bahkan langsung masuk ke dalam lift tanpa seorangpun yang mencegahnya.


Sial. Pikir Liona, itu artinya Melia memang sudah berhasil mengambil hati Kevin, untuk sementara ini ia akan memikirkan ulang, ruang apa yang bisa membuat Liona dekat dengan CEO LS Group itu.


Derap kaki Melia sampai di dalam lift, seketika ia menepuk jidat karena lupa bertanya kepada Kevin, apakah laki-laki itu bisa ditemui. Namun, melihat dirinya yang masuk tanpa ada satu orangpun mencegah, membuat Melia mengerti. Mungkin, Kevin memberi pengertian pada bawahannya.


Jemari lentiknya menekan angka dimana lantai ruangan Kevin berada.


Sementara Liona yang kesal, mulai meninggalkan LS Group untuk mengatur siasat baru.


Ting...


Lift terbuka, Melia membenahi penampilannya setelah keluar, lantas menuju ruangan Kevin.


Alan keluar, ia melihat kedatangan Melia tersenyum ramah dan menyapa.


"Siang nona, silahkan langsung masuk. Pak Kevin sudah menunggu." Dalam hati Alan senang, karena sebentar lagi mood Kevin berubah lebih baik, penawarnya sudah datang. Semenjak kedatangan Liona, mood Kevin hancur dengan bawaan emosi, jadi kali ini Alan berharap Melia akan berhasil.


Melia mencoba menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan, mengatur napas agar tak terlihat gugup di hadapan Kevin.


Tanpa mengetuk lebih dulu, ia langsung meraih knop pintu dan membukanya.


Ceklek, pintu terbuka. Namun, yang Melia lihat Kevin tengah sibuk dengan dokumennya, sama dengan waktu pertama kali Melia datang.


Apa bekerja kantor sesibuk itu? pikir Melia. Kevin sepertinya belum menyadari kehadirannya di ruangan ini. Lantas dengan segera ia mengambil ponsel di dalam tas, kemudian menghubungi sang ibu.


"Hallo, Mel. Bagaimana apa kamu sudah sampai? apa yang terjadi disana?" Cerca Sintia di seberang sana.


"Iya hallo, Bu. Aku sudah sampai di kantor Kevin, iya ibu tenang saja," ucap Melia, Kevin mendongkak, ia tak percaya jika saat ini Melia sudah berada di hadapannya.


Namun, ia harus bersikap datar dan biasa saja.


"Iya, Bu. Iya, ibu tenang saja. Lagian orangnya juga udah pergi, kayaknya kesel banget gitu mukanya. Gak tau sebenarnya kaya apa kejadiannya."


"Oh, yaudah. Ibu bisa tenang kalau begitu, tapi dia tidak berbuat sesuatu sama menantu ibu kan, Mel."


"Dia sehat wal afiat, bu. Jangan terlalu mengkhawatirkannya, dia laki-laki." Melia menghela napas, melirik ke arah Kevin yang masih mengerjakan dokumen dan sekekali menatapnya.


Meski mulut mengelak, tapi hati dan respon tubuh memang tak pernah bisa berbohong. Keduanya berpura-pura, mengabaikan detak jantung yang tak terkontrol dan memilih meninggikan ego.


"Berikan ponselmu padanya, ibu ingin bicara langsung." Suara Sintia di seberang sana. Melia mendelik, lantas mendekat ke depan Kevin.


"Ibu mencarimu, sayang. Dia ingin bicara dengan calon menantunya," ucap Melia seraya menyodorkan ponselnya ke arah Kevin. Kevin mendongkak, ia menerima ponsel itu tanpa kata. Meski sebenarnya ia tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat.


Melia cuek, ia menghempas tubuhnya di sofa setelah menyerahkan ponsel.


"Hallo, bu. Apa kabar?" tanya Kevin dengan nada ramah.


"Aku juga baik, Bu."


"Maaf ya, tadi ada wanita yang kekeh anterin bekal dan merebutnya dari Melia, ibu khawatir terjadi sesuatu jadi ibu minta Melia untuk kesana."


"Ibu tenang saja, aku sudah memintanya pergi setelah mengantar bekal."


"Oh, iya ya. Ibu juga percaya kalau nak Kevin bukan orang yang mudah tergoda wanita lain, Apa Melia merepotkanmu, nak?"


"Tidak Bu, dia sedikit manis akhir-akhir ini." bisik Kevin agar Melia tak mendengar perkataannya, bisa besar kepala nanti jika Melia tahu apa saja pujian yang sudah keluar dari mulutnya hari ini, apalagi kalau tau perkataan dirinya saat mengusir Liona.


"Kalau begitu, biarkan dia menemanimu hari ini, nak."


"Ibu bagaimana? apa sudah lebih baik, jangan banyak fikiran. Melia pasti juga gak tenang ninggalin ibu," ucap Kevin.


Melia penasaran dengan apa yang diobrolkan oleh Kevin dengan sang ibu, samar-samar ia mendengar namanya berulang kali disebut. Apakah mereka sedang membicarakannya?


Diam-diam Melia yang penasaran melangkah mendekat tepat di depan wajah Kevin yang sedikit menunduk saat mengobrol. Melia ingin tahu apa yang mereka bahas saat ini hingga Kevin bahkan sama sekali tak menoleh ke arahnya, saat Melia membungkukkan badan, wajah Kevin mendongkak. Hal pertama yang membuat mereka sama-sama terkejut adalah saat dua bibir mereka menempel.


Jantung Melia seolah ingin lompat, sekujur tubuhnya seperti tersengat aliran listrik ratusan volt. Namun, seolah waktu sedang berhenti berputar dan keduanya sama-sama diam membeku.


Kevin pun sama, ia terkejut akan tetapi rasa manis seolah membuat dirinya enggan segera terlepas. Bibir merah jambu yang selalu menggoda ternyata lebih manis dirasakan. Kevin terlena, dia diam tanpa kata. Itu adalah ciuman keberuntungan atau memang kecelakaan saja.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Cintaku tanpa sambutmu


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


'Ku harus milikimu


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa


Simpan mawar yang kuberi


Mungkin wanginya mengilhami


Sudikah dirimu untuk


Kenali aku dulu


Sebelum kau ludahi aku


Sebelum kau robek hatiku


(Risalah hati- Dewa19)


"Ini, kenapa ini manis sekali? apa dia sadar apa yang sudah dilakukan." batin Kevin yang merasakan tubuh Melia justru diam tak berkutik, dan Kevin. Ia sangat menikmati bibir merah jambu itu meski hanya sekedar menempel bak perangko, tapi rasanya sungguh sangat manis.


"Aduh," pekik Melia menjauhkan diri saat sadar apa yang sudah dilakukannya, Melia lantas memegangi bibirnya dengan raut wajah gelisah. Entah, setelah ini Kevin pasti Kevin akan berfikir bahwa ia telah menggodanya.