One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 75



Gisell tersenyum pahit, ia ingin banyak cerita kepada Melia. Namun, Gisell tahu sahabatnya itu akan semakin emosi.


"Banyak hal yang harus aku pertimbangkan, Mel untuk melawan mereka. Karena jika aku ingin mendapatkan pekerjaan yang bagus setelah lulus, maka aku harus baik-baik disini dengan tidak mengganggu mereka." terang Gisell.


Melia geram, ia tahu persis keluarga Clara, hal itu juga yang membuatnya marah, kesal, dan emosi terlebih melihat Gisell diam saja ketika dibully.


Apa orang miskin tidak pantas merasakan sedikit kenyamanan? pikir Melia, ibarat bernapas pada ruang yang terbatas, sesak rasanya.


'Aku fikir hidupku sudah sangat menderita dengan polah tingkah wanita kaya, tak disangka Gisell juga mengalaminya, apa memang kami akan terus menerus hidup tanpa ketenangan dan kenyamanan?' batin Melia.


Mereka keluar dari kantin kampus setelah membayar makanan, Gisell mengajak Melia berkeliling melihat kampusnya.


"Luar biasa, kamu pasti bangga bisa kuliah disini?" tanya Melia.


"Tentu, aku lebih bangga jika kamu merasakan juga. Mel, tak perduli apa yang harus aku hadapi, kita harus menjadi kuat untuk diri sendiri." Gisell menepuk pelan pundak sahabatnya.


"Tentu, kita tidak harus membiarkan orang lain seenaknya menindas kita, kamu lihat ini." Melia menunjuk wajahnya yang terluka.


"Karena mau kita bersikap baik atau buruk mereka tetap seenaknya saja bertingkah." sambung Melia.


"Lihat gedung itu, andai kamu bisa masuk kesana pasti kamu akan sangat menyukainya." Gisell menunjuk gedung lantai dua yang ternyata adalah kelasnya. Tapi sayang sekali ia tak bisa mengajak Melia masuk dan melihatnya.


"Dimana asramamu?" tanya Melia penasaran. Tempat ini sangat bagus, tentu Melia ingin melihat juga seperti apa tempat tinggal sahabatnya selama menempuh study.


"Tentu, ayo ikut aku." Gisell menarik tangan Melia dengan antusias melewati lorong demi lorong, sepanjang berjalan keduanya terlihat sangat ceria seolah melupakan kejadian yang terjadi di kantin beberapa menit yang lalu.


Saat sampai di asrama, para gadis pun juga Clara telah menunggunya. Gisell tertegun melihat banyak serpihan kaca berserakan di lantai, ia dan Melia saling pandang. Namun, keterkejutannya tak berlangsung lama karena seketika ia mendidih emosi saat tahu serpihan kaca itu adalah pecahan dari botol skincarenya yang telah di rusak.


Breng sek !! Gisell mengepalkan tangan, ingin rasanya ia mendekat dan mencakar wajah mereka satu-satu. Sebab, ia harus menabung beberapa bulan demi bisa membeli skincare itu dan kini tanpa rasa bersalah mereka telah merusaknya.


"Ada apa?" tanya Melia yang melihat wajah dan mata Gisell memerah dengan tubuh mematung di ambang pintu kamarnya.


"Mereka sudah keterlaluan, mereka menghancurkan semua skincare milikku," ucap Gisell dengan nada kesal, tangannya mengepal erat.


Melia sudah tidak bisa menahan diri jika sahabatnya ditindas, ia berjalan masuk melewati serpihan kaca mendekat ke arah mereka yang menatap remeh.


Lantas Melia menuju meja rias dimana terdapat banyak skincare disana, dan ia yakin itu adalah milik teman asrama Gisell yang berulah. Tangannya dengan cepat meraihnya, membantingnya ke lantai hingga pecah berserakan.


Satu sama, batin Melia.


"Apa-apaan kamu," pekik para gadis yang dipenuhi kekesalan, Melia hanya menanggapinya dengan seringai tipis.


"Hentikan, Hey! Hentikan kegilaan temanmu." celoteh yang lain meminta Gisell untuk menahan Melia.


Gisell tersenyum dingin.


"Apa kalian tidak berfikir akan ada akibat seperti ini karena telah menghancurkan skincare milikku?" tanya Gisell, ia menatap dingin teman-temannya bergantian.


Teriakan para gadis anak orang kaya itu mengundang kamar sebelah penasaran. Lalu beberapa diantaranya ingin tahu dan terlihat kaget dengan apa yang telah dilakukan sahabat Gisell.


"Hey, hentikan!" teriakan para gadis itu. Clara menyeringai, ia hanya memperhatikan polah tingkah teman Gisell yang cukup berani.


Setelahnya ia punya rencana bagus untuk Gisell.


"Aku suka temanmu ini, dia punya keberanian yang luar biasa, selama ini aku selalu kehabisan cara untuk mengganggumu, tapi hari ini! Tanpa ku duga, temanmu membuat alasan." Clara melipat tangannya di dada, disusul belakangnya para gadis masih berteriak.


"Hey hey, skincareku berharga puluhan juta, tak usah banyak tingkah. Aku yakin kamu pun tak akan sanggup menggantinya!" decak seorang gadis.


"Punyaku juga, dia merusaknya? memangnya punya apa dia buat mengganti."


Satu persatu mereka menyebutkan skincare mereka yang berharga puluhan juta.


Melia semakin kesal kala melihat Gisell tampak biasa saja tanpa mau melawan. Jika Melia jadi dirinya mungkin saja wajah mereka akan penuh dengan luka cakarannya.


Semua orang tahu bahwa selama ini Gisell menabung hemat untuk membeli skincare yang berharga ratusan ribu, untuk itulah Clara yakin bahwa Gisell tak kan mampu mengganti rugi.


"Dan dengan mengganggumu lah aku jadi punya cara..." Clara menjeda ucapannya. Melia kesal, selama ini Gisell selalu menahan diri setiap ditindas oleh mereka.


"Heh, kalian orang kaya. Ck! kenapa begitu sombong, padahal kalian hanya bisa mengemis tangan pada orang tua, sok berlagak menghina orang miskin. Bukankah aku hanya membalas apa yang kalian lakukan pada sahabatku? harusnya kalian berfikir akibat yang akan kalian lakukan jika merusak skincare orang lain. Orang-orang seperti kalian itu hanyalah sampah, tak berguna dan menyusahkan." desis Melia dengan emosi hampir meledak.


Jika dipikir-pikir, ketua geng itu sama persis seperti ibu tirinya yang hanya memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lain.


Gisell tersenyum melihat tingkah Melia yang membelanya, selama ini ia hanya menghadapi mereka sendiri. Meski setelahnya ia harus lebih berhemat lagi untuk mengganti rugi skincare mereka.


"Apa kamu bilang, mulutmu itu apa tidak pernah sekolah." cerca Clara yang tak terima.


"Hya, kenapa memang? meski tak sekolah tapi aku tau cara menghormati orang lain tak seperti kalian para penindas."


Clara mencibir, ia memutar bola matanya jengah.


"Sudah Mel, abaikan saja mereka." pinta Gisell, namun hal tak terduga lain adalah Melia kini bukan hanya merusak balik skincare Clara dan teman-temannya, ia juga memporak-porandakan barang-barang lain seperti tas dan sepatu.


"Kamu jangan diam aja kalau ditindas, lawan siapapun itu. Kalau kamu diam aja mereka bakal ngelunjak, dan sok berlagak kuasa." tegas Melia kesal.


"Tapi Mel, itu semua tak semudah yang kamu ucapkan. Plis berhenti," pinta Gisell.


Melia menghela napas, sementara mereka tampak terkejut dengan tingkah bar-bar Melia yang diluar kendali, Clara seperti mendapatkan cara agar bisa menyingkirkan Gisell dari Internasional Modeling School.


Hay hay, makasih yang masih setia mampir.


Maaf ya alurnya kalau makin ribet karena ini juga dari sana. Vote giftnya boleh disumbangin. Aku usahakan update setiap hari ya, kemarin karena kendala kerangka telat🙏🏻🤗