One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 91



Melia terbangun tengah malam merasakan ingin sekali buang air kecil. Namun, terkejut saat melihat Kevin tertidur di sisi ranjang sambil memegang jemarinya kuat.


"Kok dia jadi perhatian banget ya sekarang," gumam Melia kemudian mencoba melepaskan tangan Kevin. Pelan-pelan, karena Melia tak ingin laki-laki itu terbangun. Ia berusaha bangkit, dan memegangi infusnya untuk ke kamar mandi.


"Mau kemana?" Kevin terbangun dan mengusap kedua matanya. Sigap ia bangkit menghampiri Melia yang berusaha berjalan.


"Kok badan aku lemah banget sih, jalan aja sampai gak bisa." Melia menekuk wajahnya.


"Itu karena kamu sedang hamil, bawaan orang hamil itu beda-beda, Mel." Kevin mengacak rambut Melia.


"Ayo aku bantu, mau kemana?" Kevin mengulurkan tangannya.


"Mau ke toilet, kebelet."


"Yaudah aku antar."


"Malu lah, masa kamu mau ikut."


Kevin menghela napas, "Aku gendong aja biar cepet." Kevin langsung mengangkat tubuh Melia begitu saja dan membawanya masuk ke dalam toilet. Melia membelalakkan mata tak percaya.


"Aku tunggu di luar, tapi pintunya gak usah ditutup biar aku yang berbalik."


"Jangan ngintip, awas kalau ngintip," ucap Melia.


"Iya iya, hm."


Melia merasakan lega luar biasa, setelah selesai ia berjalan sambil berpegangan pintu untuk menghampiri Kevin.


"Gandeng aja gak usah digendong, malu."


"Gak ada orang, lagian ini tengah malam gak bakal ada yang lihat juga kali, Mel. Kenapa mesti malu?"


"Ya aku malu, aku gak pernah diginiin sama cowok," ucap Melia polos.


"Hm, masa?"


Melia mengangguk, dan hal itu lagi-lagi memancing tawa Kevin.


"Malah ketawa, kamu ga capek apa tidur di kursi. Ada sofa kenapa gak tidur disana?" tanya Melia.


"Sofanya terlalu pendek."


"Tapi kan mending dari pada duduk gitu," omel Melia.


"Hm, maunya tidur sebelah kamu!" jawab Kevin asal, Melia seketika melirik sebelahnya. Memang ranjang VIP ukurannya muat untuk dua orang, ia pun berfikir sejenak kemudian menepuk sisi sebelahnya.


"Yaudah sini," ucap Melia.


"Beneran gak papa? kamu gak takut sama aku?" goda Kevin.


Melia menggeleng, "nggak, kamu mungkin yang takut hehe."


Kevin seketika mendelik, tapi ia bergerak cepat dan membaringkan tubuhnya di sisi Melia.


Lambat laun kantuk kembali menyerang keduanya hingga terlelap.


***


Matahari mulai merangkak naik, sebelum ada perawat masuk Kevin sudah lebih dulu membuka matanya. Namun, masih di posisi yang sama, di samping Melia. Entah kenapa, muka bantal gadis itu membuat perasaannya menghangat, mungkin sebenarnya ia memang sudah menyukai Melia sejak awal, perasaan yang selalu ia elak akhir-akhir ini.


Melia mengerjap, kemudian terbangun. Anehnya ia tak merasa mual seperti yang dirasakan tiap bangun tidur belakangan ini.


"Sudah bangun, hm?"


Pertanyaan itu segera membuat Melia tersadar dan menoleh ke samping. Apa karena ada Kevin di sisinya? jadi ia tak mengalami mual?


Mendadak Melia menelan ludahnya susah payah, pesona Kevin sewaktu bangun tidur dengan rambut acak-acakan membuat jantungnya berdebar semakin kencang.


"Kamu nggak pulang?" Pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut Melia.


"Enggak."


"Gak ngantor, atau paling gak mandi dan ganti baju dulu."


Baru selesai mengatupkan mulut, ketukan pintu terdengar.


Alan masuk, sambil menenteng paperbag.


"Pagi Melia, ini baju gantimu Kev!" Alan menyodorkan paperbag ke arah Kevin dan tersenyum menyapa Melia.


"Thanks, Lan. Jangan tebar pesona sama Melia."


"Hehe, aku kan hanya menyapa." elak Alan.


"Balik gih, kantor urusanmu sementara waktu." usir Kevin.


"Siap boss, Oh ya aku dapat kabar dari pengawalmu kalau Ibunya Melia sudah mendapat pendonor ginjal, dan dia butuh Melia untuk persetujuan penanganan segera." Alan memberi info.


"Sudah dapat? Bagus, biar nanti aku yang kesana."


"Kev, aku pengen lihat Ibu."


"Nanti ya, habis sarapan aku antar kamu kesana. Biar tenaganya pulih dulu." Kevin mengacak rambut Melia, Alan yang melihat hal itu pun hanya bisa berdehem heran.


"Ehmm..."


"Jomblo syirik aja." Cibir Kevin.


"Jadi udah jadian nih, hm?"


"Apaan kita gak pacaran kok," ucap Melia menahan senyum.


"Hahahaha tak dianggap, kasian bossku ini."


Wajah Kevin seketika menggelap karena malu, bukan karena apa ucapan Melia memang benar adanya, sejauh ini ia bahkan belum pernah menyatakan satu kata pun kalimat cinta dan ia tak berhak marah atas pernyataan Melia.


Kini Alan yang dibuat terkejut, sementara Kevin yang menggelap berangsur tersenyum.


"Dah balik sana, jam berapa ini." omel Kevin.


"Iya iya, bye Mel-Mel," ujar Alan seraya berlalu.


"Aku mandi dulu bentar," ujar Kevin sambil berlalu.


Sementara di bangsal lain, Sintia harap-harap cemas karena Melia tak ada kabar sama sekali.


Tok... tok... tok...


Terdengar ketukan pintu, samar Sintia mendengar seseorang bicara dengan pengawal di depan. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan Sintia terkejut melihat kedatangan Bram dan putrinya, Karina.


"Sintia..." Panggil Bram dengan mata sayu, sementara Karina menunduk berjalan di belakang Bram.


"Kenapa kamu kemari, Mas. Bukannya sudah cukup kamu membawa penderitaan dalam hidup kami."


Bram terdiam.


Namun, Karina mendahului langkah Bram dan mendekat ke arah Sintia.


"Tolong maafkan Papa, tante. Papa tidak pernah sekalipun melupakan tante begitu juga dengan Melia. Mama yang mengancam papa akan menyelakai kalian jika Papa nekad, aku saksinya." Karina memohon sambil memegang tangan Sintia.


"Kalian mau menipuku lagi kah? apa tujuan kalian datang kemari?" cerca Sintia.


"Niat Papa maupun aku hanya untuk minta maaf, Tante. Mungkin kesalahan kami, sangatlah besar. Tapi..." Karina menjeda ucapannya dan menoleh ke arah Bram yang tampak sedih.


"Aku minta maaf, Aku bukan suami dan Papa yang bertanggung jawab untukmu dan Melia."


"Aku tahu," balas Sintia.


"Aku mau bertemu Melia, dimana dia?"


Sintia tak ingin egois, bagaimanapun hubungannya dan Bram sudah berlalu.


"Dia di rumah, karena terus menerus menjagaku dia sampai lupa menjaga diri sendiri dan sakit."


"Tante, tolong maafkan papa ya." bujuk Karina, gadis itu menatap iba Sintia dan menggenggam jemarinya, Sintia sama sekali tak menolak karena ia tahu sifat Karina tak seperti Lyn dan Viona.


Sintia tak menjawab, hanya mengangguk.


"Terima kasih sudah memaafkanku, sebelum aku dan Karina pergi, aku ingin melihat kamu sembuh, aku akan melakukan apapun untuk itu termasuk membagi ginjalku, aku berharap kamu tak menolaknya."


Deg! Di ambang pintu Melia yang datang bersama Kevin pun tertegun.


Pun juga Sintia yang tak kalah terkejutnya dengan keputusan Bram.


"Mel..." Panggil Sintia saat melihat Melia juga Kevin datang. Bram sontak ikut menoleh begitupun dengan Karina. Melihat Melia datang dengan selang infus yang dipegang Kevin membuat Sintia juga Bram terkejut.


"Maaf membuat ibu khawatir," ucap Melia seraya mendekat.


"Kamu sakit apa? kok sampai diinfus, itu artinya sedari kemarin kamu disini?" cerca Sintia, akan tetapi melihat Kevin berada di sisi putrinya yang bahkan dengan setia memegangi infus membuat Sintia menghela napas lega.


"Tuan Kevin..." Bram tertegun, pun dengan Karina.


"Pagi Om Bram, tante." Kevin membungkuk salam. Lagi-lagi Bram dibuat tertegun sementara Melia masih enggan menyapa laki-laki yang berstatus papanya.


"Mel, Papa datang untuk meminta maaf sama kamu dan ibumu, Papa banyak salah." Suara Bram terdengar lemah.


Melia tak menjawab, ia malah menatap Kevin. Karena sejak awal, ia memang sangat membenci istri sah sang papa dan anaknya, bahkan Melia berniat membalas dendam nanti ketika sudah menjadi nyonya CEO.


Tak disangka, Papanya malah datang menjatuhkan harga diri untuk meminta maaf.


"Tolong maafkan Papa, Mel. Aku tahu, Papa salah! Aku pun tak pernah membelanya, juga dengan mamaku. Karena aku yakin, suatu saat nanti masing-masing dari mereka akan menyadari kesalahan. Atau kamu percaya apa itu karma? Jika ia, percayalah Papa juga sudah kesulitan menahan diri selama ini." Karina mendekat ke arah Melia dan memegangi tangannya.


Lagi-lagi Melia menatap ke arah Kevin, Kevin pun menganggukkan kepala memberi isyarat. Karena sebenci apapun Melia terhadap Bram, tidak akan pernah merubah status. Juga tidak akan pernah merubah jalan takdir yang sudah digariskan.


Melia akhirnya mengangguk meski tanpa senyum.


Ingin rasanya Bram mendekat dan memeluk erat putrinya. Ingin rasanya Bram menjerit bahagia. Sementara Karina hanya bisa menitikkan air mata haru melihat papanya senyum penuh kelegaan.


"Kak Karina, apa aku boleh bicara berempat dulu?" Tanya Melia setelah kondisi sedikit lebih tenang.


Karina mengangguk dengan senyum, "kebetulan aku mau beli minum ke kantin."


"Terima kasih kak."


"Iya Mel, sama-sama." Karina pun melangkah keluar, kini tinggalah Kevin, Melia, Bram juga Sintia di dalam kamar rawat sang Ibu.


Kevin membimbing Melia duduk, "biar aku yang bicara!" ucap Kevin sambil menggenggam tangan Melia, seolah mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.


Melia mengangguk.


***


Di kediaman Louis, Gio menghampiri Papanya, yakni Kakeknya Kevin.


"Apa Papa tahu, Kevin menjalin hubungan dengan seorang gadis kecil?" tanya Gio disela-sela obrolan mereka.


Louis mengangguk, " tentu tahu."


"Apa Papa tahu asal usul gadis itu, karena yang aku dengar dia anak haram." Gio mencoba mempengaruhi sang papa.


"Oh ya?" dahi Louis seketika mengkerut, ia memang mencari tahu siapa gadis yang menjalin hubungan dengan Kevin. Namun, ia tak mencari tahu status gadis itu.


"Tentu, dan yang aku tahu ibunya gadis itu adalah simpanan pengusaha kaya."


"Apa? Siapa?" kaget Louis.


"Bramantyo." Gio menyeringai, jika ia tidak bisa mendapatkan Melia maka Kevin pun tidak boleh mendapatkannya.