
Kevin sudah bersiap-siap. Saat mendengar Melia dalam kepanikan, ia langsung mengganti pakaian tidurnya dengan kaos juga jaket. Lantas yang ia lakukan adalah segera turun ke bawah meminta para pengawal rumah ikut dengannya.
"Ada masalah darurat, kalian beberapa ikut denganku. Kita ke Club malam Red Apple," ucap Kevin tegas.
"Siap laksanakan Tuan muda!" ucap mereka serempak.
Kevin segera masuk ke dalam mobilnya, beberapa pengawal berada di belakang mengikuti deru mobilnya yang membelah jalanan kota, tak butuh waktu lama untuknya menemukan keberadaan club Red Apple.
"Laras, kamu akan menyesal karena telah menyentuh Meliaku hari ini," geram Kevin dengan mata menatap tajam lurus ke depan.
Sebelum berangkat tadi, suasana rumahnya hening, kedua orang tuanya tak akan tahu, karena jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Langkah Kevin tergesa turun dari mobil, melihat club malam yang sepi membuatnya mengernyit heran. Papan besar bertuliskan Red Apple itu seketika membuatnya merasa familiar.
Dor Dor Dor, di luar bawahan Laras berusaha mendobrak pintu, sementara Melia dan Verell semakin panik menahan dari dalam.
Keringat bercucuran di dahi Melia, ia berharap Kevin segera sampai dan menyelamatkannya.
Sial.
Brakkkk! pintu terbuka, Melia juga Verell memundurkan langkah. Bersama dengan itu derap langkah kaki mendekat ke arah Laras dan anak buahnya.
Melia dan Verell berusaha menendang dan melawan bawahan Laras sekuat tenaga, Melia sudah tidak perduli dengan penampilannya yang acak-acakan.
Derap langkah kaki kian mendekat.
"Dia datang," gumam Melia yang matanya sebenarnya sudah tak kuasa ingin menangis akan tetapi Melia tahan.
Berhenti," teriak Kevin membuat mereka seketika melihat siapa yang datang. Melia mengenali suara itu, Melia sangat mengenalinya dan ia bernapas lega saat Kevin datang tepat waktu.
"Aku ada disini," teriak Melia, agar Kevin tau bahwa dirinya ada di dalam toilet tepat dimana Laras berada di pintu masuknya.
Kevin mengepalkan tangan, menatap tajam ke arah Laras.
"Minggir!" teriak Kevin membuat Laras mendelik dan mundur.
Saat tiba di toilet, Kevin mengerutkan alis melihat penampilan Melia yang berubah jelek dan berantakan.
"Hentikan, Mel." titah Kevin saat melihat Melia berusaha melawan bawahan.
Laras menginterupsi bawahannya untuk berhenti menyerang, sementara Melia memajukan bibirnya protes karena begitu datang, Kevin langsung memarahinya.
"Kev, jelas-jelas mereka yang menggangguku lebih dulu, tapi kamu begitu datang langsung memarahiku," gerutu Melia dengan nada manja.
Laras yang melihat itu pun merasa sangat kesal.
Kevin memajamkan mata ke arah Melia dan meminta Melia agar berada disisinya. Melia menurut, ia lantas bersembunyi di balik punggung Kevin.
"Kevin, lihat wajahku. Aku hanya berusaha menolongmu. Hiks, tapi wanita di belakangmu malah menghancurkan wajahku, kamu tau kalau aku sedang membantumu disini, aku sedang memergoki mereka berselingkuh dan aku hanya membantumu menghukum mereka." Laras dengan wajah disedihkan mulai mengadu, ia sempat tersenyum smrik dan melirik ke arah Verell dengan remeh.
"Tau rasa kalian, kali ini aku tidak yakin apa Kevin masih akan terus melindungimu setelah tau kamu dan Verell berusaha menjalin hubungan," batin Laras.
"Dia bohong, Kev. Kamu tau aku kan? Dia berkata sembarangan," ucap Melia.
"Aku tidak pernah melakukannya, aku tidak pernah mengkhianatimu!" tegas Melia lagi. Kevin menggenggam jemari Melia tiba-tiba, dua mata itu beradu sesaat hingga berhasil memancing amarah dan kekesalan Laras.
"Sialan, sudah ketahuan masih saja mengelak." Laras melipat tangannya di dada.
"Sayang, aku tau kamu nggak akan melakukannya, apalagi berniat mengkhianatiku, aku percaya sama kamu. Aku tahu kalau dia hanya berbohong," dengan nada sayang Kevin berucap, menenangkan Melia, memberi kode bahwa 'semua akan baik-baik saja.'
Melia bernapas lega, saat Kevin memilih lebih mempercayainya, ia tak bisa membayangkan jika Kevin lebih percaya pada Laras, apakah Kevin akan memarahinya?
Laras yang melihat betapa Kevin percaya sama Melia merasa benci dan cemburu.
Kevin menatap tajam ke arah Laras, tatapan matanya dingin dan menusuk hingga berhasil membuat Laras mendelik, akan tetapi hatinya dikuasai rasa benci, dan semakin benci kepada Melia karena wanita itu selalu bisa menarik perhatian Kevin. Verell masih syok mendapati orang yang diminta tolong oleh Melia adalah Kevin, orang yang cukup berpengaruh di negara ini. Belum lagi, laki-laki itu selain kaya ia juga bisa melakukan apapun dengan kekuasaan termasuk melenyapkan keluarganya.
"Punya keberanian dari mana kamu, hm. Berani sekali menyentuh orangku, apa kamu lupa siapa wanita yang mau kamu celakai itu, dia adalah wanitaku." tegas Kevin dengan sorot mata tajam penuh amarah.
"A.. Aku hanya membantumu menangkapnya, karena dia berselingkuh, tidak ada maksud lain?" alibi Laras, sesekali ia meringis karena luka di wajahnya.
Melia masih terdiam, menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Kevin, hatinya merasa tenang karena kehadiran orang itu. Kevin menjelma menjadi pangeran pelindungnya malam ini.
"Ya Tuhan, semoga Kevin tidak mempercayai ucapan Laras sama sekali, semoga." batin Melia berdoa dalam hati.
"Memang apa saja yang kamu lihat? apa yang mereka bicarakan tadi?" tanya Kevin.
Laras seperti punya harapan, senyum tipis di sudut bibirnya.
"Aku melihat, mereka berpelukan. Di dalam ruangan, aku juga mendengar kalau Verell sedang berusaha merayunya, Verell berniat menjadikan wanita itu pacarnya," ucap Laras melirik sinis ke arah Verell.
Jantung Melia berdetak kencang, menunggu jawaban Kevin. Apakah laki-laki itu akan percaya sama Laras dan membencinya? Tidak, Melia menggeleng spontan, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemari Kevin hingga membuat laki-laki itu menoleh sekilas ke arahnya. Tatapannya masih sama, tak ada yang berubah.
Kevin lantas menatap Verell setelah menoleh sekilas ke arah Melia.
"Apa benar yang dia katakan?" tanya Kevin menatap tajam ke arah Verell. Verell yang shok masih belum bisa mengendalikan diri dari keterkejutan. Verell menghela napas sejenak, ia memberanikan diri menatap Kevin.
"Aku dan Melia hanya teman biasa, apa yang dikatakan dia sama sekali tidak benar," ucap Verell tegas. Meski begitu, ia juga was-was karena tadi kesalahannya adalah ia sempat meminta Melia untuk menjadi pacarnya jika esok ia masih hidup. Dalam hati, Verell berdoa semoga Kevin lebih percaya kepada Melia, dan tidak berfikir untuk melihat rekaman cctv room VIP dimana dia mengamuk.
"Dia bohong, aku mendengarnya sendiri."
"Verell tidak berbohong, Kev. Aku dan Verell memang teman, kau tau aku bagaimana kan?" Melia berbisik lirih di balik punggungnya.
"Hya, apa yang dikatakan Laras itu tidak benar. Dia hanya bicara sembarangan," ucap Verell tegas agar Kevin lebih yakin untuk mempercayai dia dan Melia.