
Selepas kepergian Kevin dan Verell, Laras berteriak seperti orang gila, sementara pengawal Kevin terakhir kali menendang bawahan Laras lantas pergi meninggalkan club.
Laras meringis memegangi wajahnya yang semakin perih.
"Kalian, ikuti gadis itu cepat! Tangkap gadis itu untukku, aku akan membayar dua kali lipat." bentak Laras, langsung bangkit, ia akan pulang ke rumah agar Kevin juga Verell tak curiga jika dirinya masih berniat mencelakai Melia.
'Kita lihat saja ja lang, apa yang bisa kamu lakukan. Ck! Kalau aku tidak bisa memiliki Kevin, kamu pun tak akan aku biarkan memilikinya.'
Laras melajukan mobilnya menyusul mobil Kevin yang melaju menuju kediamannya, sementara bawahannya sudah pergi lebih dulu mengikuti taksi Melia.
Sementara di gang, laki-laki bawahan Laras semakin tertarik saat tahu Melia memiliki skil berkelahi.
"Ayo lagi, pukul lagi." sahut mereka sembari terkekeh, meski sudah babak belur mereka tak kapok untuk mengganggu Melia, sementara Melia meringis menahan sakit di perutnya akibat kena pukul beberapa kali, dengan langkah kaki menyeret ia mulai mengerti bahwa beberapa orang di hadapannya saat ini seperti suruhan Laras.
"Berhenti, sudah cukup main-mainnya. Nona besar meminta kita untuk menangkapnya dan membawa pergi."
Dari situ Melia paham, mereka pasti orang suruhan Laras.
"Jangan buru-buru, lah," ucap laki satunya dengan seringai misterius. Bawahan Laras yang lain mulai malas menanggapi.
"Dia tidak akan bisa kabur juga," sambungnya lagi.
Mendengar hal itu membuat Melia tertawa, "ehm, bagaimana kalau kalian menjadi bawahanku saja? Aku dan wanita itu sama memiliki kekuasaan," ujar Melia menawarkan diri.
"Tidak perlu, kami tidak tertarik dengan tawaranmu." tolak salah satu diantara mereka yang berbadan sedikit gempal, Melia merasakan tangan juga perutnya mulai sakit, ia pun sedang memikirkan ide untuk kabur.
"Mau menggunakan cara seperti itu tidak akan mempan sama sekali. Nona besar kami tentu sudah membayar mahal, lebih baik kamu ikut kami dan jangan mempersulit diri."
"Cehhh!" Melia berdecih, ia meneliti anak buah Laras satu persatu, melawan mereka mungkin tak akan mampu karena ia hanya seorang diri, jalan satu-satunya adalah berlari.
Melia melihat ke arah masuk gang. Mundur beberapa langkah, "Laras jadi ini semua ulahmu, jangan diam disitu pengecut!" teriak Melia yang berhasil membuat anak buah Laras seketika menoleh ke arah masuk gang.
Melia berusaha berlari saat anak buah Laras lengah karena teriakannya. Melia masuk ke dalam gang, sementara anak buah Laras terlihat meneliti dimana Melia tadi menoleh.
"Apa nona besar datang?" tanya salah satu rekan kepada yang lainnya.
"Tidak ada, Ck sial dia melarikan diri." gerutu salah seorang yang menyadari bahwa kini Melia berusaha lari meski jalannya terseok.
Beberapa orang berusaha mengejar Melia, salah seorang laki-laki menyeringai tipis dan mengibaskan tangannya ke atas.
"Tak perlu di kejar, kalian kembali lah." titah laki-laki itu, ia lantas mengeluarkan senapan dan berjalan beberapa langkah ke arah Melia.
"Ya Tuhan, habislah aku." pekik Melia, belum lagi ia harus menahan rasa sakit di tangan dan perutnya akibat pukulan dari anak buah Laras.
"Jika aku boleh berharap, apakah bisa Kevin datang menolongku lagi," batin Melia meringis.
Pyarr!!!!
Suara pecahan gelas membuat Sintia mematung, ia baru saja terbangun pelan-pelan dari ranjang kamar rawatnya, berusaha meraih gelas berisikan air putih untuk ia minum. Namun, baru saja hendak meraih tangannya malah justru tanpa sengaja menjatuhkan gelas itu hingga pecah berserakan di lantai.
"Ada apa ini, kenapa perasaanku tak nyaman." gumam Sintia kemudian menoleh ke arah jam yang menempel di dinding.
"Maaf suster, saya tidak sengaja memecahkannya." Sintia mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Tak apa, nyonya. Biar nanti seseorang masuk dan membereskannya, apa anda mau minum lagi?" tanya suster itu, Sintia pun mengangguk. Dirinya memang sedang dilanda haus malam ini, tapi yang terjadi malah gelasnya jatuh dan pecah.
"Tunggu sebentar nyonya," ucap suster hendak berlalu.
"Tunggu sus, apa di depan kamar ini masih ada orang yang berjaga?" tanya Sintia memastikan.
"Iya, nyonya. Pengawal masih berjaga 24 jam di depan."
Sintia pun mengangguk.
Tak berselang lama, suster datang membawa nampan berisikan air putih, dengan tak sabar Sintia minum, rasa lega menjalar melewati tenggorokan setelah menandaskan satu gelas air putih.
"Selamat beristirahat kembali, nyonya."
Sintia mengangguk lantas ia mulai kembali memejamkan mata.
Sintia berfikir mungkin saat ini Kevin juga melakukan penjagaan untuk Melia seperti apa yang laki-laki itu lakukan untuknya.
Seringai tipis terbit, laki-laki itu menggunakan senapannya untuk menembak Melia.
Peluru yang berisi obat bius itu seketika mengenai tepat kaki Melia, gadis itu meringis dengan pandangan mata mulai buram.
"Tolong aku, aku mohon jangan biarkan mereka menyentuhku," ucap Melia memohon pada laki-laki yang menyerangnya dengan senapan, sementara beberapa masih berada jauh di belakang.
Laki-laki itu tak bereaksi, ia tak menolak ataupun mengiyakan permintaan Melia.
"Tolong aku mohon jangan biarkan mereka menyentuhku," lirih Melia yang mulai kehilangan kesadaran. Laki-laki itu masih diam saja.
Sementara di sisi lain. Kevin, Verell juga Laras sampai di dalam rumah keluarga Laras. Kevin turun, kedatangannya kemari bukan hanya karena ingin membantu Verell, tapi ia juga ingin meluruskan masalah serta membicarakan penolakannya kepada orang tua Laras, ia tak ingin hidup dalam kejaran perempuan itu dan yang akan ia lakukan adalah memutuskan hubungan perjodohan.
Verell sangat berterima kasih kepada Kevin, lantas dengan semangat membawa Kevin masuk ke dalam rumah, sementara Laras di belakang dengan wajah kelam dan pura-pura menyedihkan mengikuti langkah mereka.
"Silahkan masuk, Tuan." pinta Verell tersenyum ramah.
"Seharusnya mereka bisa mengejar *** *** itu dan menjalankan perintahku dengan mudah kan?" batin Laras yang sedang menunggu kabar dari salah satu anak buahnya.
Drrtttt....
Ponsel Laras bergetar, ia berhenti sesaat dan membiarkan Kevin juga Verell masuk ke dalam rumah, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis.
'Boss kami sudah berhasil menangkap wanita yang boss mau,'
Sebuah pesan singkat dari anak buahnya yang berhasil membuat wajah kelam Laras berubah seketika.
"Baguslah, berani menentangku memangnya siapa dirimu? hanya sebutir penghalang yang patut aku singkirkan, kita lihat saja nanti! Sampai kapan kamu akan bertahan di sisi Kevin, karena sampai kapanpun. Aku Laras tidak akan membiarkan sesuatu yang tidak bisa aku miliki, begitu dengan mudah dimiliki orang lain! Jika aku tidak bisa mendapatkan Kevin, aku pun akan menghancurkan hidup wanitanya." Seringai jahat muncul di bibir Laras, lalu ia kembali memasang wajah suram dan ikut masuk ke dalam rumah.
JEMPOLNYA JANGAN SAMPAI KELEWAT YA, LIKE KOMENNYA JANGAN LUPA, MAAF BELUM SEMPAT BALAS SATU-SATU, MAKASIH BANYAK² TUK VOTE LIKE KOMEN GIFT DAN RATENYA😘