One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 83



Gisell menganga saat melihat kedatangan seorang pria tampan yang tiba-tiba bicara dengan orang tuanya dengan nada tegas dan penuh penekanan.


Gisell menatap Melia juga laki-laki di hadapannya bergantian, tidak mengerti dari nama Melia mengenal dua laki-laki tampan ini.


Memang, Erick terlihat tampan. Namun, Kevin lebih tampan dan pesonanya lebih mematikan.


Gisell menebak kedatangan laki-laki itu karena ucapan kedua orang tuanya saat merendahkan Melia, dan dia datang untuk membelanya.


Orang tua Gisell sudah ketakutan, tubuh mereka bergetar hebat saat Kevin menghujaninya dengan ucapan penuh penekanan dan sorot mata tajam.


"A-apa salah kami?" tanya ibu Gisell terbata-bata, "apakah kami sudah melakukan kesalahan?" ulangnya lagi menatap Kevin.


"Kalian tahu, Melia karena perhatian dengan anak kalian jadi dia diam tak membalas ucapan kalian. Jika tidak, mungkin kalian akan masuk rumah sakit karena darah tinggi," ujar Kevin datar.


Melia melihat Erick, tapi laki-laki itu hanya meringis canggung. Namun, tak bisa dipungkiri kekesalan Melia memudar saat melihat Kevin lagi-lagi membelanya, bahkan di depan orang tua Gisell.


Orang tua Gisell pun menunduk, Kevin menghela napas kasar memijat pelipisnya kemudian beralih menatap Gisell.


"Oh, iya saya lupa. Apa nama sekolahmu?" tanya Kevin kepada Gisell.


"Ehm, itu Internasional Modelling School,"jawab Gisell seraya menunduk.


"Oh oke, kamu ambil tempat tidur di asrama saat gadis tadi sudah keluar dari asramamu, jaga untuk ditempati oleh Melia nantinya," tegas Kevin seperti sebuah perintah.


"Iya baik," ucap Gisell mengiyakan meski sekujur tubuhnya berkeringat hanya untuk berbicara dengan laki-laki dingin di hadapannya saat ini.


Laki-laki ini beneran keren, dia bukan cuma membela Melia saat direndahkan orang tuaku, tapi dia juga membungkam siapapun yang mengusik Melia, benar-benar luar biasa.


Sebenarnya apa hubungan dia dengan Melia?


Gisell membatin dalam hati memuji Kevin keren, karena memang itulah kenyataannya dimata semua wanita.


Melia merasa syok dengan mata sekaligus pipi tiba-tiba memerah. Sebenarnya, dia merasa sangat sakit hati saat dikatai orang tua Gisell, ia bukan tak memperdulikannya tapi ia tak cukup berani untuk perduli akan gunjingan mereka.


Dan sekarang, saat dirinya bisa menahan diri malah justru Kevin yang sekarang tak bisa menahan diri untuk tidak membelanya, padahal mereka kenal belum cukup lama.


"Apa ini karena dia menganggapku tunangannya? jadi dia malu jika aku tidak membela diri saat dikatai orang, kemudian ia pun membalasnya," Melia mulai merasionalkan kelakuan Kevin adalah karena dia sebagai tunangannya. Kevin malu saat ia tak membalas perbuatan orang maka Kevin memutuskan turun tangan sendiri.


Namun, bagaimanapun ia tetap merasa sangat berterima kasih atas sikap Kevin padanya. Tiba-tiba Melia teringat sesuatu, saat Kevin meminta Gisell menjaga tempat tidur asrama untuknya. Melia langsung melompat kegirangan dan meraih lengan Kevin dengan manja.


Gisell yang melihat tingkah Melia hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.


"Apakah yang kamu bilang tadi beneran?" tanya Melia antusias. Lalu dengan nada sarkas Kevin menjawab, "tidak, aku hanya berbohong!"


Melia mematung! Kevin berjalan menuju mobil diikuti Erick yang meminta Melia ikut juga.


"Aku pamit duluan ya, Gisell. Aku akan mencarimu lagi besok, hari ini aku harus membujuk seseorang," pamit Melia kemudian melangkah terburu menyusul Kevin.


Saat mereka berjalan menuju mobil, Gisell sebenarnya merasa penasaran apa hubungan Melia dengan laki-laki tampan itu?


Namun, dia yakin semua itu pasti ada alasannya. Dan jika apa yang dikatakan laki-laki tampan tadi benar, mungkin kedepannya ia dan Melia akan terus bersama setiap hari.


"Semangat membujuknya ya, Mel. Keluarkan kekuatan terhebatmu dalam merayu," ujar Gisell dengan senyum dan tangan melambai.


Melia terkekeh, pun melambaikan tangannya lewat kaca jendela mobil.


"Sampai jumpa, Gisell."


Erick melihat senyum Melia dan Gisell bergantian, dua gadis yang jika dibandingan umurnya masih terlihat sangat kekanakan bagi Erick. Namun, hari ini dua gadis itu berhasil menggelitik hingga ia harus menahan tawa.


Hya, Erick hanya bisa menahan tawanya mendengar percakapan mereka. Lain halnya dengan Kevin, laki-laki dingin itu masih cuek tanpa ekspesi sama sekali.


Tidak ada yang tau bahwa sebenarnya Kevin bisa tersenyum tanpa memperlihatkannya.


Kevin selalu pintar menyembunyikan perannya.


"Jalan, pak!" titah Kevin kepada sang supir. Erick yang duduk di samping supir hanya bisa melirik ke belakang sambil mendekus.


Melia tak tenang, duduk bersisihan dengan Kevin menaiki mobil mewah ini pertama kalinya.


Meski malu, tangan Melia tergerak memegang jass mahal milik Kevin. Menampilkan wajah tergemas sekaligus puppy eyesnya.


"Kamu tadi bilang sama Gisell, buat menjaga tempat tidur itu apa beneran? kamu serius kan?" tanya Melia.


"Tidak, aku hanya berbohong," jawab Kevin dengan wajah datar tanpa melihat ke arah Melia.


"Kamu sudah terlanjur bilang, ya kamu harus menepatinya, dosa loh kalau berbohong!" bujuk Melia lagi, dengan nada rendah tentunya.


"Aku berbohong juga demi kebaikan," ucap Kevin cuek.


"Kamu harus menepati perkataanmu tadi dan mengizinkanku kembali bersekolah, ya?"


Kevin memalingkan wajahnya ke jalanan, ia sungguh ingin terbahak melihat Melia yang terus memegangi lengannya sambil memohon. Wajahnya yang cantik, sungguh terlihat menggemaskan saat menjadi gadis penurut dan tunduk. Namun, Kevin masih ingin melihta seberapa keras gadisnya itu berusaha membujuknya.


"Bolehkan?" Melia masih tak menyerah, kesempatan seperti ini mana boleh terlewatkan, selain ia bisa melindungi Gisell dari perlakuan nona-nona kaya, Melia juga bisa memulai kembali merajut mimpi yang pernah pudar. Melia sungguh ingin menjadi bagian dari Internasional Modeling School sedari dulu, merasakan nikmatnya duduk di bangku kuliah, bercanda tawa, belajar bersama dengan teman seusianya. Dan Melia yakin, hanya Kevinlah yang bisa mewujudkan semua mimpinya. Kevin selalu bisa memberi apa yang menjadi impiannya.


Kevin menggeleng, akan tetapi dengan wajah melihat ke samping dimana ia bisa melihat kendaraan lalu lalang, sejenak menghiraukan wajah Melia yang mungkin saat ini sudah menahan kesal karenanya.


"Jika kamu menepati ucapanmu, aku janji akan..." Melia menjeda perkataannya sambil berfikir, akan tetapi tangannya tak berhenti menggoyang-goyang lengan Kevin.


Pletak!!


Kevin berbalik ke arah Melia, menatap wajah imut itu kemudian menyentil pelan dahinya.


"Sakit tahu." Melia meringis sambil mengusap-usap dahinya.


Erick melirik interaksi keduanya di balik kaca spion, ingin tertawa tapi pasti laki-laki sebeku es itu akan memelototinya. Jadi yg hanya bisa Erick lakukan adalah menahan tawa melihat adegan di belakang.


"Berhenti merayuku."


"Aku tidak sedang merayu, aku hanya memintamu menepati perkataan tadi." elak Melia.