One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 86



Gio adalah paman dari Kevin. Anak bungsu Louis dari wanita lain, berusia 30 tahun. Wajah yang tadinya tak kalah tampan berkarismanya dari Kevin itu sedikit demi sedikit mulai berubah, kusam dan tak terawat. Karena sudah sebulan dia di Rumah Sakit menjalani perawatan asetnya yang tak bisa bereaksi paska di hajar keras di sebuah club malam,sial memang!


Melia menghentikan langkahnya sejenak tepat di hadapan Mereka. Tampak Gio tengah menatapnya datar tanpa berkedip.


Mendekus sebal saat tak ada celah sedikitpun untuk Melia melewatinya.


Gio yang semula tampak lesu, kini terlihat seperti seorang yang menemukan binatang buruan saat menatap Melia.


Melihat pandangan laki-laki di hadapannya yang aneh, Melia mengerutkan keningnya heran dan berusaha berjalan memutarinya untuk lewat. Namun, lagi-lagi Gio berusaha menghalanginya membuat Melia kesal.


"Maaf tuan, dia adalah keluarga pasien. Dia disini untuk menjaga ibunya di Rumah sakit ini," ucap wakil direktur menjelaskan.


Gio menarik sudut bibirnya tipis, "apa ibunya juga tinggal di lantai yang sama denganku?" tanya Gio. Paman dari Kevin itu seolah menemukan hal menarik yang akan menjadi mainannya.


"Minggir!" pekik Melia menatap tajam Gio, laki-laki itu malah menyeringai menggoda.


"Wah, nona cantik kau lumayan galak juga ya, hm." Gio mengerling menatap Melia.


Melia mendekus.


"Jika tidak mau minggir juga, aku tidak akan segan lagi padamu," ucap Melia menatap tajam Gio. Tak ada raut takut bagi Melia meskipun laki-laki itu memiliki kekuasaan sama dengan Kevin.


Gio terus menatap Melia dari ujung rambut hingga kaki, tanpa sadar dirinya menelan ludahnya. Bagian bawah tubuhnya yang sudah sebulan tidak bereaksi tiba-tiba berubah menjadi bereaksi hanya dengan menatap Melia saja.


Gio pun merasa bahwa selama ini bukan dirinyalah yang tidak bergairah. Melainkan ia belum menemukan gadis yang tepat saja.


"Nona cantik, bisakah lebih lembut sedikit. Bagaimanapun kau seorang wanita." Gio masih terus menggoda Melia.


"Nona bisakah memberitahuku siapa namamu?" tanya Gio, Melia hanya mencebik enggan menjawab.


"Siapa namanya?" karena tak mau menjawab, Gio pun bertanya kepada Wakil Direktur.


Wakil Direktur itu sempat menatap ke arah Melia.


"Namanya Melia Zain," ucap Wakil Direktur itu dengan nada hati-hati, bagaimanapun diia sangat tahu wanita di hadapan saat ini adalah orang Kevin Reyhan Louis.


"Melia, hmm! Nama yang bagus, kedengarannya saja sudah tahu orangnya sangat manis dan patuh."


"Jangan menyebut namaku." desis Melia, entah kenapa ia merasa jijik dengan om-om di hadapannya saat ini.


"Oh, aku tak ada maksud buruk. Jadi, kamu tak perlu bersikap galak," ujar Gio dengan nada santai.


"Pandangan mata om menjijikkan," ucap Melia to the point.


Gio merasa kesal dan merasa bahwa Melia adalah wanita yang tidak tahu diri. Ingin rasanya Gio memberinya pelajaran, akan tetapi saat tahu Melia begitu cocok dengan seleranya maka ia merasa sangat sayang melakukannya. Jadi Gio pun memutuskan untuk menakuti kucing kecil itu saja.


"Heh Nona, apa kamu tidak tahu siapa diriku?" tanya Gio.


Melia melipat tangan di dada, "Aku sama sekali tidak perduli siapa dirimu, jadi lebih baik minggir untuk memberiku jalan."


Menarik, pikir Gio.


"Aku? kamu yang tidak tahu diri pria tua jelek. Tiba-tiba datang menggangguku! Aku tidak peduli siapa kamu, bahkan jika pemilik negara ini sekalipun, memperlakukan orang seenaknya dengan mengandalkan kekuasaan apa kamu pikir kamu orang hebat, heh! Mungkin wanita di luar sana bisa dengan mudah tergoda oleh orang sepertimu, tapi tidak semua, ingat itu baik-baik Tuan kaya yang terhormat. Jika om masih membuat onar lagi dan membuat ibuku tidak bisa tidur, aku tidak akan melepaskanmu!" tekan Melia, Gio mematung, benar-benar mematung dibuatnya. Lantas di saat Gio terdiam, Melia menerobos dan melewatinya begitu saja meninggalkan paman Kevin.


Gio mencerna ucapan Melia, setelah selesai raut wajahnya pun berubah menjadi sangat gelap.


Para dokter yang berada disana tak ada yang berani berbicara.


Hingga saat Gio bertanya, "apakah aku jelek?" Mereka masih setia diam, enggan menjawab dan malah melihat wajah paman Kevin itu. Sebenarnya, wajah Gio dan Kevin hampir sama. Hanya saja, terlalu lama berada di rumah sakit membuatnya berubah.


Gio menatap wakil direktur, mau tak mau wakil itu pun memberanikan diri untuk menjawab.


"Tuan sudah lama di rumah sakit dan tak beristirahat dengan baik, jika Tuan beristirahat dengan baik dan berbenah diri pasti akan berubah seperti semula," ucap Wakil Direktur dengan menunduk.


"Berarti saat wanita bernama Melia tadi mengataiku tua dan jelek itu beneran," ucap Gio, karena selama di rumah sakit ia memang tidak mood bercermin apalagi merawat diri.


"Anda tidak jelek, Tuan. Hanya wajah anda terlihat lesu," jawab wakil direktur.


Mendengar penuturan wakil direktur membuat wajah Gio semakin menggelap karena kesal, dengan cepat ia berjalan menuju kamar hingga dokter yang memegangi infusnya setengah berlari menyusul karena takut Gio akan terluka atau kenapa-napa. Selain itu, sudah dipastikan laki-laki itu pasti tengah marah saat mendengar ucapan wakil direktur barusan.


Gio langsung mencari cermin dan memperhatikan wajahnya. Memang benar, wajahnya keliatan tua, jelek dengan lingkar sekitar mata menghitam, Gio pun memarahi para dokter yang merawatnya tidak becus.


"Kalian ini benar-benar tidak pecus menjagaku, hingga membuat wajahku jelek begini," decak Gio.


Wakil direktur mengelap keringat dinginnya, ia menghela napas.


"Anda sebenarnya hanya perlu istirahat dnegan baik dan cukup maka akan kembali segar seperti semula," ujar wakil dengan nada bergetar.


"Apakah itu benar?" tanya Gio.


Wakil mengangguk, "ya, itu benar. Anda hanya tidak istirahat dengan baik saja, jika anda istirahat dengan baik dan cukup, tentu wajah anda akan balik ke ketampanan yang dulu."


Gio pun akhirnya melepaskan mereka. Meski begitu, ia tetap butuh informasi Melia dari wakil direktur.


"Apa ibu wanita tadi dirawat di bangsal lantai ini?" tanya Gio.


"Iya, itu benar."


"Apa Ibu gadis itu akan segera keluar?" tanya Gio lagi tak sabar.


"Mungkin tidak secepat itu, karena ia membutuhkan transplantasi Ginjal dan itu butuh waktu yang lama." jelas wakil direktur.


Gio kemudian memutar otak, seketika ia tersenyum lebar.


"Kalau begitu, bisakah siapkan parcel dan kirim ke kamarnya? bilang dariku sebagai permintaan maaf karena beberapa waktu sudah mengganggu istirahatnya," ucap Gio.


Wakil direktur dan para dokter pun saling pandang. Meski begitu, mereka mau tidak mau mengangguk patuh.


"Bagus, aku menunggu hasil kerja kalian!" ujar Gio dengan seringai tipis.


VOTE GRATISNYA BOLEH SUMBANGIN KAK🄲