One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 78



Melia mengingat-ngingat wajah Kevin, tatapan matanya yang tajam saat menghadapi dirinya sering membuat masalah terlintas di kepala. Tiba-tiba, tanpa sadar ia mendelik dan menggeleng cepat hingga membuat Gisell yang berada di sampingnya kebingungan.


"Gimana, Mel? kamu kenapa?" tanya Gisell khawatir, ia tahu saat ini Melia bingung harus memanggil siapa ke kantor polisi. Gisell tahu, Melia tak mungkin memberitahu ibunya perihal masalah hari ini.


Melia mengedikkan bahu, belum tahu.


Berfikir, jika meminta pertolongan pada Kevin pasti laki-laki itu akan semakin mengecapnya buruk, perusuh atau pembuat onar, mengingat baru semalam laki-laki itu menyelesaikan masalahnya.


Meski Melia tahu, bahwa Kevin akan selalu menolongnya. Bukan karena apa, mungkin karena rasa bersalah.


"Apa aku harus meminta bantuan Verell?" tanya Melia dalam hati, akan tetapi seketika ia meggeleng cepat. Mengingat Verell dengan tingkat emosi tinggi membuatnya tak yakin, yang ada laki-laki itu justru menambah masalah. Menghubungi Kevin pun tak akan mungkin.


Tiba-tiba ia teringat Erick, kakak dari Verell. Seketika senyum mengembang di bibirnya.


Melia lantas mencari kartu nama yang sempat Erick berikan kemarin. Beruntung, kartu nama itu masih berada di tasnya.


"Fyuh, syukurlah masih ada!" ucap Melia bernapas lega, ia melirik sebentar ke arah Gisell yang menatapnya penuh tanda tanya.


Mendesah pelan, sebelum meraih ponsel.


Akhirnya Melia memutuskan menghubungi Erick, untuk meminta bantuan.


Melia pikir, Tuan muda seperti Erick akan dengan mudah menyelesaikan masalahnya dan anggap saja saat ini ia sedang berhutang budi.


Erick yang tengah berada di caffe bersama Kevin ponselnya berdering. Gegas ia meraih ponselnya.


"Ptpfff... Bahkan istri kecilmu menghubungiku," ucap Erick seraya terkekeh dan memperlihatkan layar ponselnya. Kerutan di dahi Kevin semakin dalam, ia berdecak kesal dalam hati karena menurut Kevin yang pernah menilai Melia matre begitu kenal laki-laki kaya yang sama dengan dirinya langsung berusaha mendekati.


"Benar-benar, baru juga semalam bicara manis dan aku mulai berfikir dia berbeda. Baru kenal Erick sudah mulai mendekatinya," batin Kevin dalam hati yang menahan rasa kesal dan geram yang bercampur.


Layaknya menonton sebuah drama, Erick melihat wajah Kevin yang seketika berubah kelam.


Lalu dengan santainya ia menaik turunkan alis kemudian jarinya dengan segera menekan tombol hijau ke atas guna mengangkat telepon dan menloudspeaker suara. Erick mengisyaratkan Kevin diam dengan gerakan tangannya, meski ia tahu pria itu akan menjadi kesal.


"Ehm, hallo ini Melia kan?" panggil Erick dengan ramah, melirik ke arah Kevin yang tampak kesal, dalam hati Erick membatin jika sebenarnya Kevin sudah mulai memiliki rasa pada gadis kecil itu.


Bukan Kevin namanya jika ia tak memiliki ego tinggi, kesempatan seperti ini harus Erick gunakan untuk memancing cemburunya Kevin.


"Ah, ternyata kamu masih mengingatku," sahut Melia di seberang seraya terkekeh pelan.


Kevin yang mendengar Melia tertawa dengan Erick pun mengepalkan tangan.


"Dia tak semanis itu saat denganku," batin Kevin.


"Tentu masih ingat! Oh ya, ada apa kamu menelponku?" tanya Erick, ia merasa lucu dengan ekspresi Kevin saat mendengar Melia menelponnya bahkan diiringi tawa kecil.


Kevin, rasa kesal semakin mendominasi saat Melia menelpon Erick terlebih dengan tawa mereka terdengar sangat akrab. Kevin kesal, gadis itu bahkan tak menghubunginya sama sekali. Dan sekarang, Melia malah menelpon Erick membuat kekesalan dalam hatinya menjadi-jadi.


Erick menjeda panggilannya, dan menatap Kevin.


"Jadi kau selalu memarahinya, kau tidak tau malu memarahi anak kecil!.Dia meminta tolong padamu itu karena dia yakin kalau kamu bisa melindunginya," ujar Erick, Kevin semakin menggelap mendengarnya.


"Aku, aku tidak pernah memarahi Melia. Yang ada gadis itu yang selalu marah-marah padaku. Dan sekarang, dia malah menfitnahku memarahinya, keterlaluan!" elak Kevin, seraya mengusap wajahnya kasar. Ia merasa difitnah oleh Melia bahkan di depan temannya.


"Kau tidak perlu memarahinya seperti itu, bagaimanapun dia hanya gadis kecil yang butuh perlindungan, aku sedikit banyak tau cerita kehidupannya," ujar Erick.


"Tapi, yang dia ucapkan soal aku marah-marah itu tidak benar!" tegas Kevin.


"Hallo... Hallo, Erick kamu masih mendengarku?" tanya Melia di seberang, dengan nada sedikit panik.


Erick kembali membuka panggilan dan loudspeakernya.


"Iya aku dengar kok, kamu perlu bantuan apa, Mel?" tanya Erick.


Melia menghela napas, "bisakah ke kantor polisi, tolong datang kesini untuk ehm mem-be-baskanku," ucap Melia terbata-bata, ia takut Erick tak akan menolong dirinya lantaran hal ini berurusan dengan polisi.


Meminta bantuan kepada Kevin? terus terang Melia takut karena baru semalam dia dan Kevin tertimpa masalah dan sekarang ia sudah membuat masalah lagi. Melia sadar, dirinya masih begitu labil dalam hal mengontrol emosi, tapi berharap pembelaan yang ia lakukan untuk Gisell tidak sia-sia, Melia tahu rasa sakitnya ditindas seperti apa? jadi dia tak akan membiarkan siapapun menindas sahabatnya.


Erick menatap Kevin sejenak, saat sadar Melia terus memanggilnya ia pun menjawab lagi.


"Ehm, kenapa kamu bisa masuk ke kantor polisi? bukankah semalam Kevin yang mengantarmu pulang dan memastikan kamu sampai di rumah?" tanya Erick.


"Ceritanya panjang dan rumit, aku masih sangat labil mengontrol emosi, karena tidak tahan melihat temanku dibully, aku jadi membantunya balas dendam." jelas Melia, dalam hati ia merasa bersalah pada Kevin karena lagi dan lagi terus membuat masalah. Jadi untuk kali ini, ia fikir tak ada salahnya meminta bantuan orang lain.


Erick lagi-lagi menjeda ucapannya dan menatap Kevin.


"Apa aku harus pergi menolongnya, Kev?" tanya Erick. Kevin hanya mengedikkan bahu tak mau tahu, kemudian memijat pelipisnya pusing. Ada rasa kecewa menyeruak saat tahu Melia memutuskan menghubungi Erick dibanding menghubungi dan meminta tolong padanya.


"Heiii, aku meminta izin padamu! Aku harus bagaimana menolongnya?" tanya Erick yang sebenarnya merasa tak enak kepada Kevin, terlebih Kevin tahu Melia meminta tolong padanya.


"Jangan pergi menolongnya! Biar tahu rasa. Sesekali memang gadis kecil itu harus kita beri pelajaran. Biar tak terus menerus membuat masalah dan merepotkan orang lain. Lagi pula, ini bukan sekali dua kalinya dia membuat masalah," gerutu Kevin.


Erick menghela napas sejenak, kemudian terdiam.


"Hah!" tiba-tiba bayangan wajah pucat Melia yang terlihat panik di kantor polisi melintas di kepala membuat Kevin berdecak kesal.


"Pergilah, bantu dia!" ucapnya tiba-tiba dengan raut wajah datar.


LIKE KOMENNYA JANGAN LUPA🥰


YG PUNYA VOTE BOLEH SUMBANGIN YA🤗