One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 69



Dengan tubuh lemas Farhan mencoba membujuk Kevin untuk melepaskan Laras. Pria paruh baya itu tak lagi bertenaga karena takut dengan amarah Kevin, ditambah lagi dengan kegilaan Laras membuatnya masih terus mengelus dada.


"Nak Kevin, tolong lepaskan Laras! Maafkan dia, Om yakin dia melakukan itu juga karena sakit hati, bukan tanpa sebab. Om juga tidak bisa membenarkan tindakannya, tapi dia wanita, apa kamu akan melakukan hal buruk apalagi dengan seorang wanita?" bujuk Farhan.


"Ck! Apa Om pikir tunangan saya juga bukan wanita sehingga saya harus memaklumi perbuatannya? Apa Om pikir, jika tunangan saya, Laras bunuh lantas saya akan diam saja?" pukas Kevin dengan nada tinggi, tangannya semakin mencengkram kuat Leher Laras. Emosinya masih belum reda, jika sampai terjadi apa-apa dengan Melia maka ia tak segan lagi.


"Ha ha ha, aku tidak akan melepaskan ja lang itu, bahkan jika kamu membunuhku sekalipun." Laras semakin tertawa membuat Kevin meradang.


"Ternyata kamu memang tipe orang yang egois dan tak sayang keluarga, ya?" sindir Kevin dengan nada kembali tenang.


"Terserah penilaianmu, aku tak perduli," jawab Laras.


"Kamu ternyata begitu egois tak memperdulikan keselamatan keluargamu, jika orang sepertimu m*ti pun tidak akan disayangkan." geram Kevin.


"Apa menurutmu jika ja lang seperti Melia m*ti akan sangat disayangkan?" teriak Laras, hatinya memanas seketika karena di mata Kevin hanya ada Melia Melia Melia, Kevin tak pernah memandangnya sebagai seorang yang sangat menyukainya.


"Bagian mana darinya yang bisa dibandingkan denganku heh, dia hanya gadis miskin kenapa sangat disayangkan, jika dibandingkan denganku dia hanyalah segelintir debu yang tak ada artinya." tanya Laras.


Kevin tersenyum sinis, "mau membandingkannya? jelas kalian, dua orang yang sangat berbeda. Melia tak banyak bertingkah seperti dirimu, dia bukan hanya cantik, tapi juga tau tata krama dan pastinya sangat jauh dari kelakuanmu," ucap Kevin. Ia terus membela Melia hingga membuat Laras semakin emosi.


Melia baru turun dari mobil Erick, Alan yang di luar pun terkejut.


"Mel," panggilnya, akan tetapi Melia hanya mengangguk dengan senyum samar. Alan tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu, ia hanya tahu kalau Laras berusaha menyerangnya dan sudah diselamatkan oleh Kevin.


"Astaga, kenapa kejadian seperti ini aku sampai tak tahu!" Alan mengepalkan tangan.


Sementara Melia ia berjalan beriringan bersama Erick, gadis itu tertegun kala melihat Alan masih ada di rumah Laras, itu artinya Kevin masih ada juga.


"Silahkan masuk, ini rumahku," ucap Erick membuat Melia membulatkan mata, apakah ini bisa disebut sebuah konspirasi?


Melia melangkah, ia tertegun cukup lama melihat apa yang dilakukan Kevin. Laki-laki itu terlihat sangat emosi dengan tangan mencengkram leher Laras, apakah Kevin sudah tahu kalau Laras berusaha menculiknya? pikir Melia sehingga laki-laki itu terlihat sangat emosi.


"Dengar baik-baik, orang seperti kamu tidak akan pernah pantas dibandingkan dengan Melia," ucap Kevin penuh penekanan.


"Ternyata aku memang begitu baik di matamu," ucap Melia dengan nada lirih, baru saja Kevin berbicara, gadis itu muncul dari luar bersama Erick dengan luka-luka di wajahnya. Mendengar suara yang tak asing membuat Kevin langsung menoleh, tanpa sadar rasa kesal dan emosi yang menguasai hatinya menguap begitu saja berganti dengan kelegaan. Kevin masih mematung, ia tak bisa membayangkan bagaimana Melia menghadapi anak buah Laras sendirian, ia pasti sangat tersiksa.


Melia tak bisa untuk tidak melempar senyum pada laki-laki itu, Kevin yang tanpa sadar rasa kesalnya hilang pun meminta Melia untuk berada di sisinya.


Melia menurut, ia menoleh sebentar ke arah Erick, laki-laki yang tak kalah tampan dari Verell itu yang sudah menolongnya.


Erick berperawakan tinggi, wajah tampan dengan hidung mancung dan kulit bersih. Kevin yang melihat Melia ditolong oleh Erick pun sontak kekesalannya hilang, tapi merasa ada yang aneh. Kevin memindai wajah Erick, kecurigaannya tak berarti. Tapi, ia merasa terancam karena Erick memiliki pesona yang memikat.


"Terimakasih," ucap Melia menatap ke arah Erick, laki-laki itu mengangguk.


"Rasain! Ja lang yang tidak pernah tau diri sebenarnya adalah kamu, bukan aku! maka mulai hari ini, aku akan balas semua yang kamu buat." batin Melia, ia hanya bisa mengumpat dari hati karena bagaimana pun Erick yang sudah menolongnya ternyata adalah saudara dari Laras.


Diam-diam Kevin tersenyum tipis melihat tingkah Melia, sangat tipis nyaris tak terlihat. Sementara Laras semakin kesal saat tahu Melia selamat dari anak buahnya karena Erick.


"Maaf, seharusnya aku tak membiarkanmu pulang sendirian. Kamu pasti sangat kesulitan, bagaimana keadaanmu?" bisik Kevin, pandangannya tak lepas dari wajah Melia, laki-laki itu memindai luka-luka yang ada di wajah gadis itu, sedikit meringis karena Kevin membayangkan rasa nyerinya.


"Aku baik, aku berharap kamu datang menolongku!"


Deg


Deg


Jantung Kevin berdebar hebat, nyatanya kalimat sesederhana itu berhasil emmbuatnya merasa tak karuan. Antara senang dan sedih dalam waktu yang sama, senang saat mendengar Melia mengungkapkannya dan sedih karena nyatanya ia tak ada saat Melia membutuhkannya.


Apa yang dilakukan Melia membuat mereka yang disana syok, apakah gadis itu akan menghabisi dan membalas Laras?


"Ternyata kamu tipe orang yang pendendam ya?" ucap Kevin merasa lucu karena Melia masih mempunyai banyak tenaga untuk mendorong tangannya.


Laras yang mendengar pun memutar bola mata malas.


Tiba-tiba Kevin menautkan tangan satunya pada tangan Melia dan menariknya mundur ke belakang.


"Kamu lebih baik jangan berulah." bisik Kevin.


"Aku tidak sedang berulah, walapun Laras tidak berhasil membunuhnya tapi ia berhasil membuatku dalam ketakutan. Aku hanya ingin dia merasakan hal yang sama, ketakutan yang sama seperti apa yang aku rasakan." tekan Melia.


Ingin rasanya Kevin memeluk Melia sekarang, akan tetapi situasi membuatnya harus menahan diri. Melia memang gadis yang sangat kuat.


Erick mengerutkan kening, bukankah gadis itu sudah berjanji tadi. Pikirnya.


Erick lantas segera mendekat ke arah Melia, "apa kamu sudah lupa dengan hal yang kamu janjikan tadi?" tanya Erick.


Kini giliran Kevin yang mengkerutkan alisnya curiga, ia menatap tajam Erick akan tetapi laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja.


"Apa yang mereka berdua janjikan? apa Melia berjanji akan menjadi kekasih Erick? dasar laki-laki munafik, masih berani menyentuh wanitaku maka aku tak akan segan lagi." batin Kevin menahan kesal.


**MOHON MAAF UPNYA TELAT, KARENA SUAMIKU LAGI SAKIT, MAAF YA πŸ™πŸ»πŸ₯°


TETEP STAY YA, LIKE KOMEN GIFT VOTENYA BOLEHπŸš£πŸ»β€β™€**