One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 96



"Kek? apa aku mengganggumu." Kevin mendekat seraya menggenggam tangan Melia.


Louis mendongkak, "kebetulan, apa dia gadis yang kamu maksud?" sambut Louis.


"Hm, bagaimana? cantik kan?" ujar Kevin hingga memancing tatapan sinis Gio.


"Siang, Kek." Melia meraih tangan Louis dengan sopan.


"Siang! Wah, benar-benar luar biasa." puji Louis.


"Ayo kita ke dalam." sambungnya lagi.


"Tunggu, apa paman tidak ingin menyambut calon istriku?"


"Tidak perlu, kita sudah saling mengenal. Bukan begitu Nona?" Gio menyeringai, sementara Melia hanya meringis senyum palsu karena ingat saat ia menghancurkan aset laki-laki itu.


"Hm, iya paman." sahut Melia meniru panggilan Kevin.


"Heh, gadis kecil. Aku bukan pamanmu? Aku dan Kevin hanya beda satu tahun dan kau memanggilku paman?"


"Abaikan dia." kesal Kevin menarik Melia untuk masuk ke dalam rumah.


"Ke depannya, aku tidak suka kamu bicara akrab sama dia apalagi sampai melempar senyum." protes Kevin.


"Aku tidak..."


"Hm."


Melia mendelik, ia melihat gurat kesal di wajah Kevin karena Gio tadi. Jika ditebak, kemungkinan hubungan keduanya kurang baik.


Namun, Kevin sangat hebat dalam menutupinya di depan keluarga.


"Jadi kapan kalian akan menikah, apa semuanya sudah siap?" tanya Louis.


"Sudah, Kek. Minggu depan kita akan menikah, mohon restu kakek, Mama dan Papa."


"Pasti sayang. Mama berharap kamu dan istrimu kelak bahagia selalu," ucap Mama Kevin.


"Iya, kakek bangga karena kamu sudah mengurus segala sesuatunya. Pastikan tidak ada orang yang berusaha merusak momen pernikahan kalian," ujar Louis karena setahunya, banyak wanita yang tergila-gila dengan Kevin bahkan menghalalkan segala cara.


Salah satunya adalah Laras, Louis sangat tidak menyukai gadis itu.


"Papa juga, oh ya ngomong-ngomong kemarin Papa melihat Tom menemui seseorang di cafee XX, kamu harus lebih hati-hati sama orang itu."


"Baik, Pa."


Gio merasa tersindir dengan ucapan ayah Kevin. Pasalnya, kemarin yang bertemu dengan Tom adalah dirinya, apalagi kalau bukan laki-laki itu meminta uang untuk tutup mulut, sial sekali nasib Gio.


Gio mengepal, akan lebih baik ia menghindari masalah sebelum semuanya benar-benar terkuak. Jadi ia memilih meninggalkan ruang tamu, dan pergi ke kamarnya. Melihat Kevin dengan bangganya memperkenalkan Melia, ia jadi menyesal telah menjebak ponakannya itu. Karena bagaimanapun, Kevin bertemu Melia juga karena jebakannya.


"Argghhhh...." Gio melempar barang-barang di dalam kamarnya, sementara Kevin? hubungannya dengan keluarga jauh lebih baik.


Gio keluar dengan napas terengah, lagi-lagi ia memanas melihat Melia begitu akrab dengan orang tua Kevin bahkan sesekali terdengar canda tawa. Lagi juga Papanya?


Rumah ini terasa semakin menyebalkan, jika bukan karena pesan mendiang mamanya untuk tetap disisi Papa agar mendapat hak yang sama sebagai anak, Gio mungkin sudah memilih enyah.


"Oke baiklah, terserah kalian mau seperti apa? aku tidak peduli." batin Gio, meski sebenarnya hatinya sangat kesal melihat Kevin begitu intens dengan Melia bahkan sesekali mereka melempar senyum di bawah sana.


Di tempat lain, ada Alan yang disibukkan mengurus segala keperluan pernikahan Kevin di sela-sela kesibukan kantornya. Merasa senang karena ia bisa menjadi bagian di acara penting Kevin.


"Lelahnya, lebih baik aku mampir makan siang?" putus Alan membelokkan sebuah mobil ke restorant cepat saji.


Bugh!


Karena terburu dan mengejar waktu, Alan tak sengaja menabrak seseorang.


"Kamu bukannya...?" bukan meminta maaf Alan malah mencoba menebak-nebak siapa wanita di hadapannya saat ini.


"Kamu assisten Kevin kan?" tanya balik Karina, Alan terkesiap.


"Iya, kalau tidak salah ingat kamu kakaknya Melia kan?"


Karina mengangguk dengan senyum.


"Alan..." Alan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Karina.


"Karina."


Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah duduk menikmati makan siang bersama.


Awalnya Karina pikir setelah putus dengan Verell, ia tidak akan bisa menyukai laki-laki manapun. Tapi, kini ia sadar bahwa masih banyak laki-laki di dunia ini.


Flash back on.


"Aku mau kita putus, Karin!" tegas Verell dengan wajah datar.


"Kenapa? apa selama ini aku terlalu merepotkanmu? padahal aku sudah berusaha membuktikan bahwa aku berbeda dengan mama dan adikku."


Verell menghela napas, ia bukan laki-laki bodoh yang tak menyelidiki apapun sebelum bertindak, sayangnya ia menyukai Melia tanpa tau laki-laki seperti Kevin telah lebih dulu di sisinya.


"Aku menyukai adikmu!"


"Adikku? sejak kapan kamu menyukai Viona? bukankah kamu bilang tidak menyukai sikapnya?" air mata Karina luruh, tak menyangka dengan keputusan Verell yang menurutnya mendadak.


"Bukan, bukan Viona. Tapi Melia."


Duar!!!


"Melia? tapi bagaimana bisa?" tanya Karina tak percaya.


"Aku sudah lama menyukainya sejak pertama kali melihat, dia juga menyelamatkanku dari amukan Laras. Jadi aku rasa..."


"Cukup! Baik, tapi ingat jika Melia menolakmu, jangan pernah sekalipun kamu muncul kembali dalam hidupku." tegas Karina seraya berlalu. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah di depan Verell.


Lamunan Karina buyar kala dering ponselnya berbunyi. Tertera nama Papa disana, hingga membuatnya mengusap sudut mata yang ternyata telah basah lalu mengangkat telepon.


"Hallo, Pa?"


"Hallo sayang, kamu dimana?" tanya Bram.


"Eh, aku sedang makan sama teman. Ada apa papa menelpon?"


"Begini, kamu mau kan bantu tante Sintia menyiapkan segala sesuatunya besok karena Melia mau lamaran."


"Tentu, Pa. Aku mau kok, Melia kan adikku."


"Terima kasih sayang."


Telepon pun terputus, Alan yang sempat mendengar pun jadi penasaran.


"Ada apa, Karin?"


"Ah ini, aku harus menyiapkan banyak hal untuk menyambut keluarga Kevin besok di rumah tante Sintia."


"Boleh aku bantu?" tawar Alan.


"Tentu saja, dengan senang hati hehehe." Karina tersenyum, senyum yang mungkin akan meluluh lantahkan hati Alan.


***


"Sampai bertemu besok, aku harap waktu akan berputar cepat." Kevin mengusap-usap kepala Melia kemudian beralih ke perutnya. Setelah berpamitan dengan Sintia, kini keduanya tengah berada di teras depan rumah lantaran Melia mengantar Kevin sampai depan.


"Hm, gak sabaran banget." cibir Melia namun dengan bibir tersenyum.


"Ya, tentu saja karena sebentar lagi aku akan punya guling hidup haha."


"Ck! hanya sebatas guling hidup ternyata." gerutu Melia.


"Terus mau gimana? Hm, aku rasa kita tidak perlu menggunakan perasaan."


Deg!


"Kau ini, kemarin bilang apa?" protes Melia kesal.


"Ptpffff... Aku bercanda sayang. Kamu kalau marah makin cantik, jadi pengen buat marah terus kan." goda Kevin.


"Ih kamu tuh ya, Kev. Iseng banget, hatiku lagi sensitif ni gara-gara anak kamu."


"Eh, iyakah? Maaf Mel, aku gak bermaksud buat kamu sedih." Kevin merasa bersalah.


"Hahahahah." Melia gantian terbahak karena ekspresi Kevin.


Kevin beneran pamit pulang setelah sempat beradu canda dengan Melia. Gadis itu mendadak lesu karena Kevin meninggalkannya, namun tak bisa ia pungkiri karena besok Kevin akan datang bersama orang tuanya untuk melamar.


***


Pagi itu Melia terlihat gugup, berulang kali ia mendesah kasar di depan cermin hingga berhasil mengundang heran Lana dan Karina.


"Ck! sampai kapan kamu mondar-mandir seperti setrikaan Mel?" tanya Lana.


"Aku gugup, apa aku terlihat jelek? bagaimana make upku?" tanya Melia khawatir.


"Bagus kok, kamu cantik." puji Karina, sementara Lana hanya menggeleng heran.


Melia sangat cantik, ia hanya merasa gugup dan kurang percaya diri.


Tubuhnya semakin kaku kala keluar kamar dan mendapati Kevin dan kedua orang tua juga kakeknya berada disana. Melia terdiam, bahkan saat Kevin melempar senyum ia masih saja tak berkedip dalam waktu lama.


Kevin tampak tampan gagah dan luar biasa.


Sintia duduk berdampingan dengan Bram, setelah orang tua Kevin mengutarakan maksud kedatangannya. Kini Melia kembali dibuat berdebar hebat saat Kevin mengeluarkan sebuah kotak berisikan cincin yang sangat indah.


"Ada nama yang selalu tertulis di dalam hati. Tapi, belum tentu ia tertulis di atas buku nikah. Dan aku ingin kamu tertulis di keduanya, Melia Zain will yo marrie me?"


Melia mengatupkan mulutnya tak percaya dengan ucapan Kevin. Hingga tubuhnya menjadi beku seperkian detik sebelum tersadar oleh senggolan tangan Karina.


"Aa-aku mau," ucap Melia terbata. Saat itulah semua orang seketika mengulas senyum.


"Selamat sayang, Ibu senang kamu akhirnya bahagia." Sintia berkaca-kaca sambil memeluk Melia. Awalnya ia sangat takut Melia bernasib sama seperti dirinya. Namun, lambat laun Sintia sadar bahwa nasib, takdir sudah kehendak sang pencipta.


"Makasih, Bu!"


"Makasih Papa," ucap Melia memeluk erat Bram untuk pertama kalinya, kemudian beralih ke orang tua Kevin, kakeknya, Lana dan Karina.


Kevin bukan hanya melamar Melia, ia juga mengutarakan jikalau pernikahan mereka akan segera digelar akhir minggu ini dan undangan pernikahan dalam proses tersebar.


"Aku nggak nyangka sebentar lagi kita beneran menikah." Melia menatap Kevin lekat-lekat, kini keduanya tengah berada di apartemen Kevin lantaran Melia merasakan kembali mual pada perutnya.


"Huh, aku hanya berharap dia sedikit pengertian di hari bahagia kita nanti, Mel. Aku gak bisa bayangin kalau pas lagi acara tiba-tiba kamu mual."


"Semoga saja, tapi seandainya itu terjadi bagaimana?"


"Aku akan langsung menciummu." goda Kevin.


"Ih, mesum kamu ya!" Melia melirik ke arah Kevin.


"Kan sama kamu, aku gak pernah lho mesum sama orang lain."


"Ih ngeselin!" cibir Melia.


"Tapi sayang kan? sini peluk dulu," Kevin merentangkan tangannya, lantas diam-diam Melia langsung menghambur begitu saja.


MAKASIH ALL DUKUNGAN KALIAN, VOTE GIFT LIKE KOMENNYA JANGAN LUPA, SEMOGA ENDINGNYA TIDAK MENGECEWAKAN KARENA 4 BAB LAGI TAMAT.