One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 93



Usai operasi, Sintia masih harus dirawat beberapa hari untuk pemulihan. Melia sedikit bernapas lega karena ada Papa dan Kakak tirinya yang membantu menjaga. Sebab sejak hamil, ia lebih banyak istirahat di rumah.


Anehnya, ia kembali merasakan mual setiap pagi sampai menjelang siang saat berjauhan dengan Kevin.


Bagaimanapun, ia tak ingin egois karena Kevin harus mengurus banyak hal termasuk urusan kantornya.


Hari ini, rumah minimanis itu tampak rapi. Meski Melia harus membersihkannya sendiri dengan susah payah. Karena siang nanti, Sintia sudah diperbolehkan pulang.


Melia berpesan kepada Papanya untuk mendampingi Ibu sedangkan ia membersihkan rumah agar terlihat lebih nyaman.


"Huh, akhirnya selesai juga." Melia menyeka keringat dengan tangannya. Selain mual dipagi hari, tubuhnya juga gampang lelah tak seperti biasanya.


"Mel, ya ampun Mel udah lama banget kita nggak ketemu!" Lana menjerit saking senangnya dan langsung berlari hendak memeluk Melia.


"Eh, aku bau keringet tahu." omel Melia saat tangan Lana berusaha meraihnya.


"Ya gapapa, aku khawatir sama kamu. Karena Mas Andre udah cerita semuanya."


"Masalah itu, bukan salah Andre kok. Dari awal aku emang udah ada masalah sama cewek itu, tapi sekarang sih dia udah gak bisa ganggu lagi."


"Syukurlah, tapi kok bisa sih?"


"Ceritanya panjang Lana, sepanjang jalur rel kereta api Bandung - Surabaya." canda Melia diiringi kekehan kecil.


"Kamu nih, Mas Andre bilang itu cewek sakit jiwa ya?"


"Heh sembarangan! Enggak, hanya kadang cinta itu membuat seseorang bertindak bodoh dan gila, aku yakin sih otaknya normal. Tapi ya sudah, dia menyerangku tiba-tiba juga karena adanya kesempatan. Tapi, adiknya baik kok, bahkan lebih belain aku ketimbang kakaknya. Dan dia sudah dikirim ke luar negeri sama keluarganya untuk intropeksi diri.


"Serius, Mel?"


Melia mengangguk, "serius!"


Hufft...


Terdengar helaan napas Lana, gadis itu terduduk di samping Melia.


"Kamu kemana aja setelah kejadian clubnya mas Andre waktu itu?" tanya Lana, gadis itu menatap Melia lekat-lekat.


"Ceritanya panjang Lana, butuh berjam-jam buat cerita sementara sekarang Ibu aku lagi on the way pulang."


"Eh serius tante Sintia sudah boleh pulang?" tanya Lana. Melia mengangguk dengan senyum, andaikan Lana tau ia memutuskan menikah segera, ia pasti akan sangat heboh.


***


"Sintia, dari sini ke arah mana?" tanya Bram yang sudah sampai di jalan raya menuju rumah Sintia.


"Itu di depan ada mini market, Mas. Nah depannya ada gang kecil itu masuk, udah sampai." terang Sintia yang duduk di belakang bersama Karina.


"Mobil bisa masuk?" tanya Bram sekali lagi.


"Bisa, tapi pelan aja soalnya sempit jalannya. Takutnya ada mobil dari dalam gang."


"Baik."


Tak butuh waktu lama, kini mobil itu sudah sampai di depan gerbang rumah Sintia.


Rumah minimalis tapi terlihat rapi dan nyaman.


Dahi Bram mengernyit, "kamu ngontrak rumah?" tanyanya. Karena seingat Bram keluarga Sintia dulu bukan dari kalangan orang berada.


"B-bukan kok, itu ini rumahku sendiri?" jawab Sintia.


"Oh, syukurlah. Rumahnya terlihat nyaman sekali meski kecil," gumam Bram.


"Nyaman tidaknya rumah itu bukan tergantung bangunannya, Pa. Tapi, lebih ke penghuninya. Sekalipun rumah bak istana jika pemghuni di dalamnya tak saling menyayangi ya percuma." tegas Karina. Bram seperti tersindir, mungkin selama ini putrinya memang tertekan tinggal di rumahnya sendiri.


"Ayo turun Tante," ujar Karina menggandeng Sintia. Bram yang melihatnya pun mengulas senyum tipis.


"Ibu..." Pekik Melia membukakan gerbang, ia menghampiri Sintia, Bram dan Karina.


Lalu membantu membawa beberapa barang masuk ke dalam.


"Aku buatkan minum dulu ya, Pa!" ujar Melia setelah Bram mengantar Sintia istirahat ke kamar, kini Bram dan Karina di ruang tamu.


"Makasih, Mel!" ucap Bram menatap lembut putrinya, Melia mengangguk saja.


"Sepertinya aku betah disini," gumam Karina menatap sekeliling.


"Hah!" Bram dan Melia sama terkejutnya, Karina mengulas senyum misterius.


"Pa, apa gak lebih baik kembali sama tante Sintia?" tanya Karina.


Melia yang sedang meletakkan minuman itu pun tertegun, begitu juga dengan Bram yang tak henti-hentinya terkejut dengan sikap Karina.


Namun, obrolan itu harus terhenti saat ponsel Melia berdering.


"Pa, kak! Aku angkat telpon dulu." pamit Melia.


Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan bergemuruh karena satu nama memanggil disana.


"Hallo, Kev?" sapa Melia dengan seulas senyum.


"Hallo, Mel? Bagaimana keadaanmu? masih mual-mual?" tampak raut wajah khawatir Kevin dan hal itu berhasil membuat Melia menjerit dalam hati.


"Ah tidak, aku baik-baik saja kok. Mual iya, tapi gak separah kemarin-kemarin."


"Coba arahkan ke perut kameranya?" pinta Kevin.


"Hah! Mau apa?"


"Mau mencium anakku, kenapa? apa kau sedang berfikir aku mesum." Kevin menyeringai.


"Ih, dasar..." Melia menekuk wajahnya sebal.


"Hahahah, kamu kenapa jadi sebel?"


"Kamu nyebelin, Kev!" Melia menggerutu.


"Oh jadi kamu berharap aku mesum ya, hm?" goda Kevin.


"Enggak," ucap Melia memutar bola matanya, akan tetapi tak bisa menyembunyikan rona merah yang tercetak di pipi.


"Pulang kerja aku kesana," ucap Kevin yang dibalas anggukan oleh Melia.


"Jangan lupa makan dan minum vitamin."


"Iya iya!"


"Hehehe."


"Haisssh." Melia sebal melihat seringai Kevin. Namun, setelah telepon itu mati Melia justru memeluk erat-erat ponselnya.


***


"Hiks..." Tiba-tiba Melia menangis, ia menjadi sangat rindu dengan Kevin dan memeluknya.


Sementara di LS Group, Kevin masih disibukkan oleh beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani dan periksa. Tak hanya itu, ia juga harus pulang ke rumah sebentar untuk menemui kakek dan orang tuanya.


Tepat jam lima sore, Kevin keluar dari gedung menjulang tinggi. Ia berjalan bersama Alan di belakangnya.


"Lan, apa kau sudah mengurus surat-suratnya?" tanya Kevin.


"Sudah, Kev. Semua beres,"


"Bagus, aku ingin semua berjalan semestinya." tegas Kevin seraya masuk ke dalam mobil disusul Alan.


"Apa Tuan besar tidak keberatan? Bagaimana dengan Om..."


"Tidak." potong Kevin cepat.


Lalu mendekus sebal.


"Bahkan jika Mama dan Papa keberatan aku tidak perduli," gumam Kevin yang di dengar oleh Alan. Suasana jalan yang agak sepi membuat mereka segera tiba di kediaman besar. Kevin melangkah masuk akan tetapi matanya sempat bertemu dengan Gio yang memandangnya sinis.


Kevin berjalan cuek dan melewatinya begitu saja, sementara Alan di belakang Kevin tak kuasa menahan tawa.


"Ptpfff..."


Gio mengepalkan tangan kesal, akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa sementara ini karena ancaman Louis.


"Kek..." Sapa Kevin. Louis menghela napas sejenak kemudian menyeruput kopinya. Kevin duduk tepat di hadapan Louis, sementara Alan di sebelah Kevin.


"Kapan kamu mengajaknya pulang?" tanya Louis.


Kevin menghela napas, "tentu bukan hari-hari ini, karena Ibunya baru keluar dari rumah sakit."


Mama Kevin menuruni tangga, mendapati putranya kembali kerja sore membuatnya tersenyum senang dan langsung menghampiri.


"Mana calon menantu Mama, Kev?"