
Melihat wanita asing yang justru datang benar-benar membuat Alan merasa sangat sakit kepala, dilihat dari penampilan wanita di hadapannya saat ini sudah dipastikan jika wanita yang mengaku kakak dari Melia itu memiliki niat terselubung.
"Siapa nama anda, nona?" tanya Alan, dirinya memang tahu jikalau Melia mempunyai kakak tiri dari istri sah sang ayah. Alan memiliki data diri Melia, ia juga tau jikalau hubungan keduanya sedang tidak baik.
"Liona," ucap Liona singkat, ia pun mulai merasa gugup saat langkah kaki sampai di depan pintu bertuliskan CEO, Kevin Reyhan Louis.
Alan mengetuk pintu, memberitahukan jikalau ada kiriman makan siang dari Melia. Kevin yang di dalam tidak tahu pun mengiyakan.
Ceklek, suara pintu terbuka sementara Kevin yang mengira yang datang adalah Melia memilih pura-pura sibuk dengan dokumennya tanpa mau menatap Melia atau menyambutnya.
"Silahkan masuk, Nona." Alan mempersilahkan masuk dan membukakan pintu, Liona pun tersenyum senang lantaran sangat mudah bertemu dengan Kevin. Dirinya lupa, jika datang kemari atas dasar Melia, menggunakan nama Melia sebagai alibi.
Setelah mempersilahkan Liona masuk, lantas Alan permisi untuk kembali ke ruangannya. Kepalanya mendadak pusing, sebentar lagi Kevin pasti akan marah lantaran mengizinkan wanita asing masuk ke dalam ruangannya.
Kevin memilih tak menggubris bahkan menyambut, sebelumnya ia bertengkar dengan hasil Melia pergi meninggalkannya. Kali ini, Kevin enggan mengangkat wajah untuk menyambut.
"Ehmm." Kevin berdehem, masih dengan mata fokus pada dokumen. Liona yang mendengar mulai merasa gugup, bibirnya terkunci rapat dengan langkah pelan mulai mendekat. Melihat wajah tampan Kevin, membuat Liona takjub. Rahang tegas, bersih, putih, hidung mancung. Liona tak berhenti berdecak dalam hati, merasa sangat disayangkan jika Kevin, laki-laki yang terlalu sempurna itu memilih bersama dengan Melia.
Sayangnya Liona hanya bisa membayangkan, Kevin tersenyum menyambut.
Kevin yang merasa dirinya di tatap begitu lama, sontak berdehem kembali.
"Apa aku tampan?" Kevin melontarkan pertanyaan yang membuat Liona gugup sekaligus senang. Sayang sekali, ia masih enggan mendongkakkan wajah untuk bersitatap dengannya. Kevin pun yang sadar mengira, Melia lah yang saat ini berada di ruangannya.
"Sangat tampan," ucap Liona dengan bibir bergetar, bagaimana jika Kevin tau yang datang bukanlah Melia, si bodoh itu?
Mendengar suara asing, seperti bukan suara Melia lantas membuat Kevin mendongkak. Matanya menatap tajam Liona yang berdiri salah tingkah.
"Kamu siapa? Siapa yang mengizinkanmu masuk?" tanya Kevin dengan nada dingin, Liona yang mendengar itu pun mengulas senyum Meski gugup, ia harus menjelaskan kepada Kevin.
"Saya kakak Melia, Tuan. Kedatangan saya kesini, untuk mengantar bekal makan siang untuk Tuan muda Louis.
Kevin menghela napas kasar. Namun, pandangannya meneliti box yang dibawa Liona. Benar, box itu memang milik Melia yang sama dengan sebelumnya.
Namun, hal yang membuat Kevin kecewa kenapa bukan Melia sendiri yang mengantar makan siang untuknya. Kenapa harus menitipkan ke orang lain, dan membuat Kevin semakin sebal.
"Letakkan saja disitu," titah Kevin datar, aura dingin kentara sekali. Kevin memang tidak suka berdekatan dengan wanita manapun. Sifatnya bertolak belakang dengan Gio, sang paman yang berulang kali gonta ganti pasangan.
"Tidak dengar? letakkan saja disitu," titah Kevin menunjuk meja kerja dengan dagunya.
Dalam hati merasa sangat kesal pada Melia, kenapa bukan dirinya yang mengantar sendiri dan malah menyuruh kakaknya yang genit itu. Kevin mendekus, lantas berulang kali membuang napas kasar.
Liona bukan segera meletakkan bekal makanan itu, ia malah berjalan mengagumi ruangan Kevin tanpa menghiraukan perintah CEO LS Group itu. Hya, Liona malah berjalan menuju ruang istirahat. Di ruangan Kevin memang ada sebuah kamar pribadi. Kamar yang biasa Kevin gunakan untuk istirahat saat merasa penat dan lelah kerja, ia memilih menghabiskan waktu dengan tidur sebentar.
***
"Aku perbaiki penampilanku dulu, dari pada sampai sana malu-maluin." pikir Melia.
Melia mulai membuka bedak yang ada kaca kecil di dalamnya, lalu memoles tipis kembali wajahnya yang sudah memudar make upnya. Lantas memoles bibir seksinya dengan liptint berwarna merah muda.
"Sempurna." Bibirnya menyungging senyum saat melihat ke arah jalan raya, sebentar lagi ia akan sampai kantor milik Kevin. Dalam hati Melia juga was-was, ia harus mempersiapkan hati untuk kemungkinan yang terjadi. Melihat Kevin berkencan dengan istri orang membuat hatinya mencelos, ia benar-benar belum siap akan hal itu. Sebelumnya Kevin menolak Laras karena adanya Melia di ruangan itu, bagaimana jika dirinya tidak ada? apakah kejadian di bar waktu itu akan terulang lagi.
"Ngakkkk..." pekik Melia berteriak, sontak sopir taksi mengerem mendadak karena tersentak.
Dugh!
"Aduh," pekik Melia meringis, mengusap dahinya.
"Pelan-pelan sih, Pak. Kenapa rem mendadak?"
"Mbaknya yang tereak, saya cuma kaget dan reflek."
"Ouhhh, maaf kalau begitu." Maaf Melia merasa malu.
Disisi lain, Alan sedang memarahi resepsionis. Ini bukan kali pertama membiarkan wanita lain naik ke atas bertemu Kevin.
"Perhatikan baik-baik wajahnya," titah Alan menyerahkan foto Melia.
"Ke depan, jika bukan wanita ini yang izin bertemu dengan pak Kevin. Tanya baik-baik identitasnya. Saya nggak mau kejadian seperti ini terulang terus." tekan Alan, resepsionis itu mengangguk, menunduk dalam.
"Baik, Pak."
"Ya sudah."
Alan melangkahkan kaki menuju lift dan kembali ke lantai atas, melihat kakak dari Melia cukup lama di ruangan Kevin membuat ia juga penasaran, apa Kevin tidak marah?
Namun, rasa penasarannya cukup ia tahan. Alan memilih kembali ke ruang kerjanya.
"Dia bilang, kakak Melia. Kakak dari mana? Dari segi penampilan saja sudah mencolok bedanya apalagi sifat." batin Kevin, ia melirik tajam ke arah Liona yang malah melangkah menuju pintu ruang istirahatnya.
"Berhenti." teriak Kevin dengan sorot mata tajam. Liona menoleh, terperanjat namun dengan tangan meraih handle pintu.
"Siapa yang mengizinkanmu kesitu?" tanya Kevin dengan dingin.
"Maaf, aku hanya ingin melihatnya." goda Liona, gadis itu belum tahu jikalau benteng pertahanan Kevin bukan hanya kuat tapi juga kokoh tak tertanding.
Kevin membuang napas kasar, "Aku tadi bilang letakkan makanan itu di meja, apa kau tidak dengar." bentak Kevin, Liona pun mendelik. Tak menyangka jikalau Kevin akan bersikap dingin tanpa mau melihat penampilannya yang menggoda.
"Ck! Dia fikir aku akan tertarik hanya karena di goda, hmm. Apa Melia sengaja mengirim kakaknya untuk mengujiku?" batin Kevin geram.