
Di sebuah rumah, Lyn melamun di depan tv yang menayangkan pernikahan Melia dengan penerus keluarga Louis. Ia membeku di tempat dengan tatapan mata kosong terlebih saat melihat Bram disana mendampingi Sintia.
Tiba-tiba Viona datang dengan kesal langsung mematikannya.
"Jangan ngejatuhin metal mama dengan melihat tayangan gak penting seperti ini," ucap Viona. Ia menghela napas kasar melihat kondisi ibunya yang stress berat dan semakin kurus.
"Mama menyesal, Ona."
"Ona tahu, maka dari itu kita harus cukup tahu diri dan menyingkir dari mereka."
"Mama yang salah," gumam Lyn, dan Liona hanya mengangguk samar. Bukankah masih baik mereka bisa menghindari masalah? menjauh tak begitu buruk meski kini kehidupan mereka turun drastis.
"Mama teringat pernah mencaci Melia karena kekuasaan, tapi sekarang?"
"Sudahlah Ma, lagi pula kita sudah aman disini. Jika kita tetap di Jakarta, bukankah besar kemungkinan Melia akan membalas dendam karena sekarang ia punya kekuasaan?"
"Mama takut Ona, kesalahan mama banyak. Bukan cuma dengan Sintia dan Melia tapi juga papamu."
"Mama cukup bercerai saja dengan Papa, mungkin itu lebih baik." saran Liona, karena mau dipaksa bagaimanapun hubungan yang sudah terkotori dengan pengkhianatan akan sangat sulit kembali dan saling menerima.
***
"Kita menginap di hotel?" tanya Melia membulatkan mata.
Kevin mengangguk.
"Bukankah kita bisa pulang?" tanya Melia yang terheran.
"Biar mereka yang pulang, aku ingin disini. Toh hotel ini juga milik keluargaku, aku ingin menikmati waktu kita tanpa gangguan siapapun." Kevin memandang Melia penuh arti, sementara Melia tampak salah tingkah kemudian memalingkan wajahnya yang merona merah karena menahan malu.
"Apa masih ada acara lagi?" tanya Melia, ia lelah sangat sangat lelah dan ingin segera membaringkan tubuhnya terserah dimanapun asal ia bisa segera tidur.
"Tidak ada, hanya acara minum-minum teman-temanku."
"Hm..."
"Aku gak ikut kok, lagian malam ini kan malam pengantin kita," ucap Kevin seraya mengedipkan matanya sebelah, mendadak genit.
"A-aku capek, Kev. Bawaannya pengen segera tidur."
"Beneran mau tidur aja?" tanya Kevin yang diangguki lemas oleh Melia. Melihatnya pun Kevin menjadi tak tega, sepertinya malam pengantin mereka akan terlewat begitu saja tanpa warna.
"Auhhh..." Melia merintih, ia sudah tak tahan sebenarnya ingin segera melempar high heel yang dipakainya.
"Aku gendong," ucap Kevin maju selangkah dan menurunkan punggungnya agar Melia naik.
"Oke, tapi jangan dijatuhin ya, Kev!"
"Lah, mana tega! Aku belum siap jadi duda."
"Ish, kamu tuh. Awas aja nanti," ancam Melia dengan menekuk wajahnya marah.
Kevin tidak bisa membiarkan hal itu, ia tak ingin malam pertama jadi gagal unboxing meski sebelumnya sudah pernah.
"Canda sayang, kamu kalau marah bikin ketar-ketir."
"Kok bisa?" tanya Melia tak paham.
"Iya bisalah, nanti kamu juga tau sendiri jawabannya, kita istirahat."
Kevin sudah sampai di kamar hotel khusus dipersiapkan untuknya dan Melia. Kamar yang mewah dengan taburan bunga mawar serta lilin-lilin disana.
"Astaga," pekik Melia terkejut sekaligus takjub.
"Kamu suka?" tanya Kevin senang melihat keterkejutan Melia, sebenarnya ini bukan ide gilanya. Melainkan ide dua curut, Si Alan dan Erick yang meminta khusus kepada manager hotel.
"Ini, bukankah sangat berlebihan?" tanya Melia, tiba-tiba merasa dadanya bergetar karena debaran jantungnya yang tak terkendali.
"Tidak ada yang berlebihan, malam pertama ya begini. Jadi, sebagai ucapan terima kasih untuk mereka bukankah kita harus menikmatinya?" Kevin menaik turunkan alis, menyeringai penuh misteri.
"Hah, baiklah." jawab Melia santai.
Semudah itukah Melia menyetujuinya? Wah, Kevin tidak akan melewatkan kesempatan sedikitpun malam ini.
"Kalau begitu, kita bisa memulainya kan?" goda Kevin.
"Iya tapi kakiku sakit, Kev!" rengek Melia.
"Hah, yang tadi ya? sini biar ku lihat." Kevin sedikit berjongkok guna melepaskan high hell Melia.
"Pantas sakit, orang merah dan bengkak." Kevin melihat punggung kaki Melia yang ternyata memerah dan sedikit bengkak. Kalau begini, ia tak akan mungkin memaksa Melia.
"Masa sih, separah itu?" tanya Melia.
Sakitnya tak seberapa, tapi melihat kekawatiran Kevin tiba-tiba membuat perasaannya haru biru.
Kevin hendak keluar akan tetapi buru-buru Melia mencekal pergelangan tangannya.
"Ini gak papa kok, jangan berlebihan."
"Gak papa gimana, besok kalau berubah lebih bengkak jadi kaki gajah gimana?" Melia yang tadinya haru biru kini mengerucutkan bibir.
"Jahat banget sih," gerutu Melia.
"Bercanda sayang."
***
Kevin keluar, tak berselang lama kembali masuk membawa kotak P3K.
"Sakit gak?" tanya Kevin seraya mengoleskan salep di kaki Melia.
"Enggak, kan aku dah bilang jangan berlebihan. Hal kaya gini aku dah biasa setiap harinya, kamu tau kan kehidupan aku kaya gimana?? boro-boro sempet ngobatin kaki bengkak, luka memar aja kadang cuma aku biarin."
"Hm, makin sayang aku sama kamu! Mulai sekarang gak boleh kaya gitu lagi, Mel."
"Iya-iya bawel."
Kevin melepas jassnya, membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa ragu di depan Melia. Sementara Melia terpaku di tempat lantaran masih tak menyangka jika kini statusnya sudah berubah menjadi seorang istri. Maka, apapun yang terjadi ia harus patuh kepada Kevin, suaminya.
"Ayo," ajak Kevin mengulurkan tangan.
"Hah? ehm, itu aku tidak bisa membuka gaunku." Melia menunduk, kentara sekali polosnya. Apa dia tidak tahu jika ucapannya barusan bisa membangunkan macan tidur?
"Aku bantu, berdirilah."
Melia pun berdiri, kini posisinya dengan Kevin berhadapan.
"Berbalik, Mel. Apa kamu mau aku membuka yang depan dulu." goda Kevin.
"Begini." Melia membalikkan tubuh. Punggung seputih susu itu membuat Kevin menelan salivanya paksa. Melia bukan hanya definisi cantik, tapi juga seksi.
Perlahan, tangan Kevin menyusuri gaun belakang Melia, membuka kancingnya satu persatu dengan hati-hati. Ia tak ingin malam ini menjadi malam mengulang kesakitan Melianya, ia akan lembut, harus lembut.
"Mau melakukannya sekarang," bisik Kevin terdengar ambigu, antara pertanyaan atau sebuah ajakan. Namun, kedua tangannya kini sudah berusaha menelusup lembut ke dalam. Menghidupkan gelenyar-gelenyar aneh hingga membuat Melia memekik spontan dan bergumam di waktu yang bersamaan.
"Eum, Kev! Tanganmu..." ucap Melia mecegah, akan tetapi seperti sebuah perintah di telinga Kevin.
"Aku menginginkanmu, Mel." Kevin berucap dengan tangan menjalar kemana-mana hingga gaun pengantin itu sudah luruh ke bawah. Pemandangan yang luar biasa, Kevin lagi-lagi tertegun.
"Kamu seksi, sayang."
"Sudah lama," jawab Melia yang sebenarnya sudah hampir sesak napas mendengar kalimat demi kalimat Kevin yang memuji, terlebih saat bibir suaminya itu menyusuri punggungnya dengan lembut. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Melia bahkan tak memberontak sama sekali.
"Hm."
"Kamu siap?"
Melia mengangguk, detik berikutnya Kevin sudah membawa Melia masuk ke atas ranjang.
"Aku mungkin pernah membuatmu trauma. Tapi, malam ini aku sendiri yang akan mengobatinya. Mel, i love you."
"Hm, i..." Melia belum sempat membalas, Kevin sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Ciuman lembut nan memabukkan itu mulai panas kala napas Melia mulai terengah.
"Host, aku ga bisa napas."
"Haha, maaf. Aku terlalu menikmatinya." bisik Kevin menghantarkan kembali getar tubuh-tubuh Melia, menginterupsi tangan agar mengalung mesra di leher Kevin.
Ciuman itu kemudian turun dan berhenti disana, di sebuah bukit indah nan mempesona, lalu dengan gerakan cepat Kevin sudah berhasil merobek kain penutup terakhir tubuh Melia.
"Kev, aku takut."
"Aku tidak akan menyakitimu, percayalah." Kevin tersenyum sangat manis, senyum yang bisa meluluh lantahkan siapapun yang melihatnya dari jarak kurang dari lima centi.
"Hm, iya aku percaya."
Dengan gesit pula Kevin melepaskan seluruh pakaiannya. Mata Melia membulat sempurna demi melihat jagung rebus milik Kevin dengan spontan ia menutup matanya.
"Tenang, baby. Malam ini milik kita." Kevin mulai bergerak, menghafal setiap inci tubuh Melia sebelum membuatnya menjerit nik mat.
.
.
.
Bersambung🏃🏼♀
Selamat berbuka, biar telat yang penting buka😂