One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 55



Dirimu yang kupuja


Dirimu membuatku jatuh cinta


Inginku mengatakan


I love you and I miss you


Lagi-lagi 'ku gak bisa tidur


Lagi-lagi 'ku gak bisa makan


Fikiranku selalu melayang


Wajahmu pun selalu terbayang


Kevin memutuskan bangkit dari ranjang, jam sudah hampir tengah malam dan ia masih saja terjaga. Rasa kantuk menguar begitu masuk ke dalam kamar, laki-laki tampan itu justru terjaga karena bayang Melia berlarian di kepala.


Kevin memutuskan turun ke bawah, menapaki tangga demi tangga lalu berjalan menuju dapur. Membuka kulkas, ia meraih air minum dingin dan meneguknya di tempat hingga hampir tandas.


Sial.


Ia merutuki pikirannya yang tersita karena Melia, Kevin tak menyangka tak bisa tidur selarut ini karena Melia, tingkah gadis itu dengan segala rekam jejaknya berputar-putar di kepala.


🍁🍁🍁


Awalnya Fany mengira saat mendengar perkataannya tentang Melia, Verell akan marah. Fany sempat menambah-nambahi, seharusnya Verell langsung keluar mencari Melia dan memarahinya. Dan hal mengejutkan lainnya adalah laki-laki itu malah tersenyum menyimpan tanda tanya di benak Fany.


"Dia benar, dia sama sekali tak salah, karena yang salah itu kamu. Kamu terlalu ikut campur urusan orang, jadi lebih baik segera keluar dan biarkan aku sendiri." Verell menyeringai, ia mengatakan hal itu juga karena risih, Fany selalu mendatanginya dari pertama kali datang ke club ini.


"Tapi..."


"Pergi, aku sedang ingin sendiri, aku masih ingin minum dan wanita seperti dirimu sama sekali tidak membuatku tertarik," ucap Verell, tak menghiraukan keberadaan Fany.


Mendengar ucapan Verell membuat hati Fany merasakan sakit, gadis itu keluar dengan sudut mata yang mulai berair. Semua usaha untuk menarik perhatian Verell, terasa sia-sia dan bagi Fany semua itu karena Melia. Karena gadis itu selalu menebar pesona pada semua laki-laki, fikir Fany.


"Jika bukan karena Melia breng sek itu, Verell pasti tertarik padaku. Lagi-lagi dia, kenapa semua lelaki harus tertarik padanya." Fany semakin membenci keberadaan Melia, ia tak terima merasa kalah karena apapun yang ia sukai, selalu ada Melia penghalangnya.


"Lihat saja nanti, dulu aku yang menjaga Tuan Verell duluan, kalau bukan Melia masuk dan sok berlagak baik mengobati tuan Verell, laki-laki itu pasti sudah tertarik padaku," gerutu Fany, ia mengingat-ngingat hal apa yang membuat Verell begitu tertarik dengan Melia, hal itu semakin membuatnya kesal.


Sementara di dalam ruangan, Verell sedang menggila. Ia merusak beberapa alat yang tersedia di dalam dan melempar botol minuman kosong ke lantai. Pecahan kaca berserakan, namun itu hanyalah hal kecil. Ia harus melakukan hal itu demi menarik perhatian Melia, Verell sudah bertekat karena dengan hal ini ia bisa membuat Melia datang ke ruangannya.


Verell menyeringai, ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Melia gadis pujaan hatinya


Tarrrr!


Pyakkk!


Tak.


"Melia kalau kamu tidak datang, aku akan mengancurkan tempat ini." teriak Verell, ia benar-benar menggila hanya untuk bertemu dengan Melia. Laki-laki itu bukan hanya berteriak memanggil-manggil Melia, ia juga membuat lantai room VIP penuh dengan pecahan kaca botol minuman. Aroma alkohol menyeruak.


"Boss, Tuan Verell mengacau di ruangan VIP 03, kita harus kesana sebelum semua pecah dan rusak karena ulahnya." Toni memberi laporan.


Melia mendekus, ia sudah menyangka jika laki-laki itu akan berulah lagi. Baru beberapa menit yang lalu Fany memaksa dirinya menemui Verell dan sekarang tuan muda itu bertingkah childish lagi untuk menarik perhatiannya. Melia sungguh muak, akan tetapi hal seperti ini tidak bisa ia biarkan.


"Melia, kamu masih belum mau datang kesini. Aku akan menghancurkan semuanya, semua yang ada di ruangan ini, Arrghhhh...."


"Coba saja kalau kamu berani," ucap Melia dingin berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Verell tersenyum sumringah melihat kehadiran Melia, itu artinya dia berhasil menarik perhatian wanita itu.


Verell senang dan merasa puas dengan kehadiran Melia, sementara Melia mendekus sebal.


"Kenapa menggila hari ini?" tanya Melia dengan nada marah, Verell yang mendengar pertanyaan Melia merasa seperti sedang dimarahi. Meski begitu, ia merasa senang mendapat perhatian dari Melia, susah payah ia mencari perhatian maka Verell tidak akan berdiam saja, meski keadaannya sudah mabuk.


"Aku datang untuk berpamitan denganmu, tapi kamu malah tidak mau menemuiku, apa karena aku terlalu menyebalkan." lirih Verell sedih.


"Semua orang sudah tahu kalau kamu mrmang menyebalkan," jawab Melia.


Verell tersenyum, "aku tidak butuh penilaian orang lain, aku hanya butuh penilaianmu, terserah orang lain mau melihatku seperti apa."


"Hmmm." Melia hanya ber hmm ria.


"Apa menurutmu, aku ini memang menyebalkan?" tanya Verell, nada suaranya lirih namun terlihat sangat senang terlebih Melia menanggapi perkataannya.


Melia terdiam sebentar, ia tak berniat menjawab pertanyaan Verell karena menurut Melia biasa saja. Sosok Verell mau bagaimanapun di mata Melia hanya biasa, taj spesial sama sekali.


"Aku menganggapmu teman, hanya itu. Tapi tolong jangan membuat masalah disini, aku sedang kerja dan kamu tahu, aku tidak bisa terus menerus menyelesaikan masalahmu karena kamu terus menerus sengaja melakukan kesalahan untuk menarik perhatianku."


"Ya memang benar."


Melia menghela napas, dibanding dengan Kevin ternyata Verell berkali lebih menyebalkan.


"Aku hanya ingin berpamitan denganmu," ucap Verell lagi.


"Apa maksud perkataanmu?"


Verell tersenyum ringan, menatap Melia.


"Apa kau masih ingat ruangan ini?" tanya Verell dan Melia mengangguk. Tentu ia ingat dnegan ruangan ini, karena berulang kali Verell membuat masalah di ruangan ini.


"Tentu aku ingat, ruangan ini sudah berkali-kali diganti peralatannya karenamu."


"Bukan itu." sanggah Verell.


"Kita pertama kali bertemu di ruangan ini," sambung Verell lagi menjelaskan.


Melia menaik turunkan alisnya, "apa dipukul olehku sangat membekas dalam ingatanmu?"


"Iya kau benar, dan hari itu moodku sedang tidaj baik."


"Aku ingat, dan itu karena masalah keluargamu lagi?" Melia ingat, Verell sering mabuk dan membuat masalah untuk menarik perhatiannya, jika Melia datang laki-laki itu akan curhat dengannya.


Verell adalah anak yang paling tidak disayang. Kakaknya tertua adalah ahli waris, dan Laras kakak perempuannya adalah yang paling disayang oleh ayahnya. Tak heran, Laras sangat membenci Verell dan ibunya. Setiap kali membuat masalah, Laras tak segan mengadu dengan sang papa. Sang papa tidak pernah mau mendengar penjelasan Verell, ia selalu percaya apapun perkataan Laras.


Walaupun Verell terlihat seperti tuan muda, namun kehidupan yang ia lewati cukup pelik dan tak mudah.


"Masalahnya kali ini lebih parah," ucap Verell, Melia kemudian melangkah masuk menghampiri Verell.


"Apa yang terjadi?" tanyanya heran.