
Verell, kedatangannya ke club Red Apple bukan tanpa tujuan. Verell sengaja datang ke club untuk berpamitan dengan Melia, selanjutnya pria berhidung mancung itu mungkin tidak akan datang ke club lagi karena masalah ia sebelumnya yang menjebak sang kakak tiri, Laras.
Sebelumnya, Verell menjebak kakak tirinya itu dan menyebarkan foto-fotonya. Kini Laras, setiap hari terus menangis di depan papanya, memasang wajah menyedihkan dan berpura-pura layaknya korban di malam itu.
Flash back on,
"Maaf, Pa. Laras beneran nggak tau siapa yang tega melakukan hal sekeji ini sama Laras, Laras di jebak, Pa." Laras mendramatisir keadaan, di hadapan papanya.
"Laras minta tolong, papa untuk cari tahu siapa dalang dibalik penyebaran foto ini, Pa. Gimana?"
"Baik, papa akan bantu kamu."
Laras menyeringai, ia berhasil membuat papanya percaya bahwa diri dijebak oleh laki-laki, selanjutnya cukup tahu siapa dalang dibalik penyebaran foto, maka dirinya sudah bisa dipastikan tidak bersalah di mata sang papa.
Flash back off.
Di mata Verell, papanya sangat menyayangi Laras. Besar kemungkinan, jika tahu siapa dalangnya. Papanya tak lagi segan. Erick, kakak tertua bilang, jika sang papa sudah mulai menyelidiki siapa di balik kasus Laras.
Erick baik hati, laki-laki saudara kandung Laras itu memiliki hubungan baik dengan Verell, dan sebelum sang papa mengetahuinya, Erick sudah lebih dulu memberitahu Verell perihal masalah pelik di rumah.
Verell datang ke club sengaja untuk berpamitan, melihat gadis cantik yang berpapasan dengannya langsung kabur melarikan diri membuat Verell menyimpulkan, jikalau gadis tadi adalah gadis yang diisukainya, gadis yang berprofesi sebagai ketua penjaga Club Red Apple yang Verell kagumi, karena berpenampilan pura-pura jelek.
"Aku tahu kamu pasti akan ke ruang ganti, karena kamu belum merubah penampilanmu, entah kenapa aku yakin kamu berada disana?" gumam Verell, ia berjalan melewati hiruk pikuk keramaian dance floor, berjalan lurus melewati lorong sempit untuk sampai arah toilet, tujuannya adalah ruang ganti. Verell sangat yakin jikalau gadis itu akan menuju ke sana. Jadi Verell berinisiatif untuk sembunyi di salah satu sudut aman, kebetulan lampu disana terlihat temaram. Verell tersenyum puas, dan benar saja, ia melihat Melia dan laki-laki yang tadi membawanya kabur berada disana.
"Aku harap tidak ketahuan," gumam Verell, yang berusaha sembunyi. Laki-laki itu tak habis akal, rasa penasarannya mengalahkan banyak hal, termasuk ia yang harusnya menikmati arena dance floor di depan sana.
Setelah berhasil menguping dan melihat teman laki-lakinya keluar. Verell berjalan santai menuju meja resepsionis, ia tak ingin membongkar pembicaraan mereka. Verell memilih memesan minuman kepada bartender dan satu buah room VIP untuk ia gunakan sendiri, Verell ingin menikmati hidupnya sebelum penderitaan itu dimulai.
Di ruang ganti, selepas kepergian Toni. Melia mulai bersiap, ia membenahi penampilannya agar terlihat jelek, dan mengganti gaunnya dengan seragam serba hitam, seragam yang memang biasa ia gunakan tiap kali bekerja.
"Seharusnya, tidak akan ada yang tahu kecuali teman-temanku," gumam Melia yang kemudian melangkah keluar menghampiri bawahannya yang sedang berjaga.
Di dalam ruangan mewah, Room VIP, Verell menyandarkan punggungnya, pikirannya menerawang mengingat perkataan kepala keamanan, gadis yang sudah mencuri perhatiaannya ternyata menilai Verell sosok yang childish dan playboy. Penilaian itu membuat Verell merasa tak nyaman.
"Gadis itu, dia bahkan belum tahu siapa aku? Kenapa sudah menyimpulkan sifat dan sikapku, hmm." gerutu Verell namun dengan senyum mengembang tipis di sudut bibirnya. Verell minum bir, wajahnya sudah hampir memerah. Sementara seorang gadis biasa, ia datang dan memperhatikan Verell yang sendiri. Dia adalah Fany, gadis biasa dengan lesung di pipinya itu memiliki segudang kepercayaan diri meski tampangnya standar saja.
"Ada apa?" Verell yang masih sadar, siapa yang datang pun menatap sinis perempuan itu.
Fany mengulas senyum, lantas menghampiri Verell sambil membawa beberapa makanan ringan lalu meletakkannya di depan meja.
Melirik sekilas ke arah Verell, Fany sudah terpesona dengan sosok tampan itu.
"Minum sendiri tidak baik untuk kesehatan tubuh," ucap Fany mengedipkan sebelah matanya, Varell yang tahu maksud dari Fany hanya mencibir sambil menatapnya sinis. Varell tidak menyukai wanita asing sok cantik yang berusaha menggodanya, hal itu membuatnya sangat muak dan benci.
Fany tak menyerah, ia harus melakukan apapun agar dekat dengan laki-laki tampan tersebut.
Verell hanya ingin ditemani Melia, andai ada pertanyaan seputar apa yang jadi keinginannya saat ini.
"Tuan," ucap Fany lagi.
"Apa hubungannya denganmu?" bentak Varell, ia sangat risih dengan perempuan satu yang tak ingin pergi dari hadapannya.
"Aku hanya mengkhawatirkan tuan, apa tidak boleh. Terlebih tuan sendiri, apa tidak ingin aku bergabung menemani anda minum disini, Tuan?" tanya Fany lagi.
"Apa aku terlihat seperti orang yang butuh perhatianmu, Ck! Menyingkirlah, Nona."
Fany mendekus kesal, namun ia tak ingin melangkah pergi sedikit pun. Fany terdiam, sepertinya sebentar lagi laki-laki tampan di hadapannya akan memerlukan bantuan, pikir Fany. Ia duduk menyilangkan kakinya, kulit putih dengan rok sebatas pa ha nyatanya tak mampu membuat Verell merasa tertarik. Dibandingkan dengan itu, ia memilih tertarik dengan Melia yang berdandan jelek namun memiliki aura kecantikan tersembunyi.
"Masih tidak mau pergi?" tanya Verell tak mengerti, menatap tajam ke arah Fany.
"Aku hanya ingin bertanya, apa ada hal yang bisa aku lakukan untuk tuan? Aku ingin menemani tuan disini, bagaimana?" tawar Fany, Verell geram, "Panggilkan saja ketua keamanan, aku ingin dia kesini sekarang," ucap Verell akhirnya.
Fany membelalakkan mata, ia berfikir sejenak tentang ketua keamanan. Lantas ia ingat, jikalau ketua keamanan memang perempuan.
"Apa laki-laki ini menyukai ketua jelek itu?" tanya Fany dalam hati, ia lantas menjawab pelan dan keluar dari ruangan Verell dengan raut wajah kecewa. Meski mengiyakan, sampai di luar Fany tampak menekuk wajahnya sembari mengepalkan tangan. Hya, Fany merasa iri dengan Melia. Gadis itu hanya kepala security baginya, tapi kenapa begitu dekat dengan semua laki-laki tampan?
Melia sedang berjaga, ia mengamati sekitar, Club masih dalam keadaan aman terkendali, meski kepadatan pengunjung semakin malam semakin bertambah. Sementara di sebuah ranjang king size, seseorang tengah ebrguling gelisah, siapa lagi kalau bukan Kevin. Laki-laki itu berulang kali melihat ke arah jam di dinding kamarnya. Bayangan Melia memakai gaun seksi seraya melayani tamu tamu laki hidung belang bersiweran di kepala, Kevin pikir ini adalah efek dari menanyai Melia tadi siang.
"Dia hanya pelayan antar minum kan?" tanya Kevin lebih kepada diri sendiri.