
Siapa yang tidak kenal dengan Kevin, laki-laki tampan berumur matang. Kulitnya bersih dengan tubuh atletis mempesona. Laki bermarga Louis itu bukan hanya melemahkan kaum hawa dengan pesonanya. Sikapnya yang tegas, dingin, tak tersentuh membuat siapapun pasti penasaran. Tak hanya tampan, dia juga pembisnis handal, uang bukan apa-apa baginya. Selain sebagai CEO LS Group, keluarga Louis juga memiliki banyak aset kekayaan dari perusahaan, rumah sakit, mall dan masih banyak lagi. Tak kayal jika Liona meradang, merasa tak percaya jikalau sosok Kevin yang dingin itu sangat menyayangi Melia.
Sangat sangat disayangkan.
Laki-laki sempurna seperti Kevin, mana mungkin pantas bersanding dengan perempuan seperti Melia. Liona tak habis fikir, sisi mana dari Melia yang membuat Kevin begitu menyayangi bahkan mengorbankan banyak hal untuk gadis bodoh itu.
"Ck!" Decak Liona, ia masih kesal, sudah sangat kesal dipermalukan oleh Melia dan ibunya ditambah mendengar dari sang mama jika laki-laki di belakang gadis itu adalah Kevin Reyhan Louis.
"Apa itu benar Ma, apa Kevin benar-benar menyukai Melia?" Liona merasa frustasi, ia merasa kalah dan berharap bisa membuat Kevin menjadi miliknya dan membalas penghinaan hari ini.
"Itu benar, bahkan mama melihat langsung laki-laki itu datang khusus ke rumah sakit, dia bersama asistennya membawa banyak hadiah untuk ibu Melia." jujur Lyn.
Liona pun merasa geram, ia pernah bertemu dengan Kevin sekali. Sempat memiliki rasa pada laki itu, laki dingin yang sulit digapai, awalnya Liona merasa pesimis dan menyerah sebelum berusaha. Namun, melihat Melia yang begitu disayang oleh Kevin, darahnya seketika mendidih.
"Apa mama akan diam saja mendapat penghinaan hari ini, aku nggak bisa, Ma. Aku harus membalas mereka."
"Jangan macam-macam Liona, saat ini keluarga Kevin sudah cukup kacau. Jangan bertingkah buru-bura karena pasti dia sudah menyiapkan pengamanan untuk Melia dan ibunya. Pikirkan lebih dulu efeknya." Otak Lyn mulai jernih, dari pengalaman yang di dapat dari menyerang Sintia, Lyn rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membalas.
Ia harus benar-benar berfikir, tak membiarkan Liona gegabah dan membalas kejadian hari ini.
"Liona, dengar mama baik-baik. Saat ini, keluarga Kevin sedang kacau masalah laki itu dengan kakeknya juga Gio. Kemungkinan Melia akan menjadi nyonya CEO sangat tipis walaupun Kevin sendiri yang memintanya, Status sosial mereka sudah sangat berbeda, belum lagi kalau keluarganya tahu jika Melia anak haram. Bisa dipastikan, ia akan tersingkir dengan sendirinya." jelas Lyn dengan seringai tipis.
Dalam beberapa hari ini, Liona memikirkan Kevin, memikirkan bagaimana caranya menarik perhatikan pria sedingin es balok itu. Liona memikirkan berbagai macam cara yang akan ia lakukan. Liona memikirkan banyak rencana, tapi ia juga berfikir ulang, rencana mana yang akan ia jalankan. Kali ini, Liona punya rencana membalas mereka sendiri, melihat Melia dengan penampilan seperti itu bisa mengambil hati Kevin, rasa optimisnya kembali. Hya Liona pasti bisa merebut Kevin dari Melia. Liona akan memastikannya sendiri.
"Kita lihat saja nanti, seberapa lama Kevin akan tertarik denganmu. Hanya wanita bodoh dan kampung, mana pantas bersanding dengan sultan. Ck! Harusnya banyak-banyak pasang kaca di rumah agar sedikit tahu diri."
Liona berguling di kamar, ia sedang merencanakan sesuatu yang akan ia lakukan esok hari. Kemampuan beraktingnya patut diacungi jempol meski bukan artis. Dan besok, mereka akan melihat sendiri bagaimana rencana Liona berjalan.
"Aku nggak akan bilang mama, yang ada mama ntar merusak rencanaku," gumam Liona menatap cermin.
Seperti biasa malam hari Melia harus pergi bekerja, dalam beberapa hari ini ia sangat menikmati pekerjaannya sebelum resign. Andre sudah mendengar kabar tentang rencana Melia yang hendak berhenti kerja. Ia tak bisa mencegahnya, Melia punya hak untuk berhenti, terlebih sekarang ibunya sedang dalam perawatan.
"Mel." panggil Andre, ia menghampiri Melia yang tengah berkeliling.
"Oi boss."
Andre berdecak kesal, memang dia boss. Namun, panggilan itu tidak untuk Melia yang notabenenya adalah teman dari SMA.
"Kamu kenapa mau berhenti, Mel. Kamu tahu, sangat sulit mendapat orang sepertimu di club ini."
"Banyak alasan, aku gak bisa ungkap satu-satu apalagi cerita. Semua terlalu rumit, dan aku cuma bisa pasrah. Hutang aku ke dia banyak, kalau nggak nurut nanti aku nggak dibantuin lagi."
"Iya hutang! Eh enggak, impas seharusnya, tapi dia perhitungan banget, semua perkataanku seolah ada rekam jejak. Sampai-sampai cuma ibuku yang di baikin." keluh Melia, tanpa sadar ia tengah curhat masalah pelik kisahnya pada Andre. Dentuman musik DJ memang memekakkan telinga, hingga Melia tak mampu mendengar kegaduhan di meja bartender. Melia masuk, dan berhasil membuat orang yang telah kurang ajar kepada bartender club penuh luka lebam.
"Seharusnya ku pukul pula waktu itu si Kevin, jadi masalahku nggak sepelik sekarang. Tapi ada untungnya juga, karena dengan begitu Kevin bisa membantuku mengatasi setiap masalah dengan kekuasaannya."
πππ
Sinar mentari menelusup masuk, membangunkan manusia yang sedang lelap-lelapnya tidur karena lelah bekerja di malam hari. Melia yang terusik segera mengusap matanya karena silau.
"Sudah siang," gumam Melia. Ia mengangkat sedikit kepala berusaha meraih ponsel yang tenggorok di atas nakas.
"Jam delapan, aku harus ke rumah sakit membawakan sesuatu untuk ibu." Melia beranjak membersihkan diri.
Sementara di tempat lain, Liona membawa bekal bubur ikan. Ia bermaksud menjalankan rencananya dengan mengunjungi Sintia di rumah sakit.
Langkahnya begitu percaya diri melewati lorong demi lorong menuju bangsal ruang rawat Sintia.
"Aku baik-baikin dulu deh meski terpaksa," gumam Liona bangga.
"Permisi, boleh masuk." Liona mengetuk pintu, berharap Sintia mengizinkan dirinya masuk untuk mengasah kemampuan akting Liona.
"Masuk," ucap Sintia dari dalam, setelah Liona masuk ibu paruh baya itu tampak tersentak beberapa saat.
"Mau apa kesini?" tanya Sintia menautkan kedua alisnya, ia bukan tak ingat kejadian kemarin. Dimana gadis angkuh itu mencaci maki putrinya.
"Tante," Liona masuk dan meletakkan bekalnya di nakas samping ranjang pasien.
"Aku sengaja kesini buat bawain tante sarapan, itu bubur ikan buatanku. Aku minta maaf karena sikapku kemarin yang kurang ajar sama tante dan Melia." Liona menjeda ucapannya, melirik ke arah Sintia yang ekspresinya sudah berubah lebih santai.
"Tante, apa tante tau. Aku bahagia saat mama menceritakan kalau Melia itu adikku tante. Meski mama sangat membenci tante dan Melia, Liona mohon di maafkan ya. Mama memang seperti itu, tapi tante tenang saja suatu saat nanti pasti mama akan sadar."
Sintia tersenyum, awalnya ia curiga dengan kehadiran Liona yang tiba-tiba, tapi setelah melihat keramahan yang ditunjukkan gadis itu, sepertinya ia harus berfikir positif.
"Aku gak bisa bayangin jadi Melia, pasti berat. Papa tak pernah memperdulikannya, tapi Melia terlihat sangat tegar. Andai aku tahu lebih awal tante, mungkin kita bisa menjadi saudara yang baik." Saudara baik, ck! sambung Liona dalam hati.
"Iya sayang tidak apa, kamu memang berbeda dengan ibumu."
"Ck! Dasar bodoh, baru dibaikin gitu aja udah luluh, heh! Siapa juga yang mau saudaraan sama orang kampung kaya kalian." Batin Liona dengan senyum kemenangan.
LIKE KOMEN RATE DAN VOTEπ₯³