
Di dalam ruangan, mood Kevin kurang baik karena kehadiran Liona. Tak habis fikir apa yang membuat gadis iu nekat bahkan sampai menyatakan cinta. Sungguh konyol, ini bukan pertama kali Kevin menolak wanita, ini bukan pertama kalinya wanita datang dan memohon cinta padanya.
"Ck!" Decak Kevin, kesal. Namun, senyum kecil terukir menatap bekal makan siang yang begitu menggoda. Entah kenapa, masakan Melia begitu menggoda, mungkin sama menggodanya dengan tubuh Melia.
Alan masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu, ia ingin memastikan mood Kevin setelah kehadiran seorang wanita yang Alan pikir tadinya adalah Melia.
"Sorry, Kev. Aku kira tadi Melia, makanya aku langsung minta resepsionis menyuruhnya naik. Dan aku liat kotak bekalnya sama, jadi aku..."
"Hmmm." Kevin hanya membalas dengan deheman, lantas menatap datar Alan yang mendelik.
"Lain kali akan ku colok mata mereka itu, Kev!" pekik Alan menghindari sorot mata Kevin.
"Kau juga perlu ku colok kah?" tanya Kevin.
Alan terdiam, percuma. Lebih baik membiarkan Kevin mengembalikan moodnya sendiri baru berbicara, pikir Alan.
"Lain kali, jangan kasih izin masuk wanita seperti itu."
"Kalau gak aku kasih izin, mana dapat kau masakan Melia itu." Tunjuk Alan pada box bekal di hadapan Kevin.
"Iya, Iya. Kok bisa Melia nyuruh orang kaya gitu buat anter makan siangku, kenapa gak sendiri aja."
"Mulai kangen kayaknya," ucap Alan, yang langsung direspon Kevin dengan lemparan dokumen.
"Asal, gak akan." tegas Kevin seraya mengibaskan tangannya ke atas. Menurutnya, hubungan antara ia dan Melia adalah kecelakaan yang sampai kapanpun akan jadi rahasianya. Ia tidak akan mengungkap, bahwa semua berawal dari jebakan Tom yang disuruh oleh pamannya, Gio.
🍁🍁🍁
"Itu dia gadis kampung, gara-gara dia aku jadi bulan-bulanan Kevin. Dia pasti sudah merencanakan ini semua." Liona berjalan cepat saat tahu Melia berdiri di lobi dan menatapnya keheranan.
"Kamu ya, dasar wanita murahan. Kamu pasti sengaja 'kan membuat aku malu di depan Kevin, iyakan?" cerca Liona. Melia yang tak mengerti pun hanya mengerutkan alis heran.
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura gak tau, kamu dan ibu pasti sekongkol buat bikin muka aku jatuh di depan Kevin." geram Liona.
"Karena aku memang nggak tahu," ucap Melia santai. Liona sudah mengepalkan tangan, wajahnya yang pucat sudah merah karena amarah yang menguasai.
"Kamu segaja kan, memintaku mengantar bekalmu itu, kamu pasti sengaja karena kamu sudah tahu Kevin akan memandang rendah diriku."
"Nggak."
"Nggak apa? buktinya, sekarang kamu datang kesini untuk apa? untuk melihat semua, kamu dari awal sudah tahu kalau Kevin memandang rendah diriku, kamu cuma mau membuat aku kehilangan muka." pekik Liona, tangannya mengepal erat, emosinya memuncak.
Sama halnya dengan Melia, ia yang tak tahu apapun yang terjadi tapi kenapa Liona begitu marah, "apa yang terjadi sebenarnya? apa dugaanku tentang Kevin salah? Apa sebenarnya Kevin tak seperti yang aku kira?" batin Melia.
"Kamu bilang apa barusan? aku merencanakan ini semua? apa kamu saking nggak tahu malunya nuduh aku kaya gitu hmm? padahal kamu sediri yang menawarkan diri, kamu sendiri yang ke gatelan mau nganter makanan buat Kevin, lupa? apa perlu aku ingetin bagian kalimat mana yang kamu lupa, hah?" bentak Melia.
"Kamu!!!" geram Melia, tak habis fikir dengan otak dangkal Liona, padahal jelas-jelas tadi ia dengan semangat membara mengantar sendiri bekal itu kesini, dan sekarang? yang terjadi ia limpahkan kepada Melia, semua seolah salah Melia.
"Apa, hah?"
Liona memgangkat tangan, hendak menampar Melia, ia ingin sekali memberi pelajaran gadis kampung itu. Namun, Melia yang lihai mampu menahan tangan Liona bahkan menghempaskannya begitu saja.
"Ck!" pekik Liona, ia merasa tangannya sakit saat di hempas. Harusnya ia berhasil menampar Melia. Memberi gadis itu pelajaran, kenyataannya Liona justru dibuat terdiam.
Beberapa karyawan yang berlalu lalang memperhatikan mereka, ada diantaranya yang berbisik-bisik. Termasuk resepsionis yang sudah tau kalau Melia adalah tunangan bossnya.
"Lihat cewek itu, itu yang tadi datang duluan. Aku kira calon tunangan pak Kevin loh, sampai Pak Alan memarahiku, karena membiarkan dia masuk."
"Ceroboh sih kamu, gak nanya dulu." bisik temannya.
"Ya mana kutahu, habis dia bilang mengantar bekal."
"Terus calon pak Kevin yang mana?" tanya temannya lagi.
"Itu yang baru datang, gak modis sih tapi cantik sebenarnya, mungkin kecantikannya masih tersembunyi, dirombak dikit pasti lebih cantik dibanding cewek yang galak itu." tunjuk Resepsionis ke arah Liona.
"Modis doang kalau gak baik buat apa, apalagi liat penampilannya yang sok kecakepan gitu. Pasti habis ditolak dia sama pak Kevin."
"Kelihatannya sih, soalnya marah banget sama cewek itu." tunjuk resepsionis pada Melia
"Itu calon pak Kevin yang sebenarnya, golongan kita kayaknya."
Mereka semua bukan melerai perdebatan Melia dan Liona, mereka justru asyik berbisik-bisik membandingkan keduanya. Mana yang lebih cocok untuk Kevin dan itu terus berlanjut.
"Jadi kamu cuma pura-pura kan? kamu pura-pura di depan ibuku, bersikap sok baik padahal kamu cuma seonggok manusia paling munafik..." Melia menjeda ucapannya, menatap Liona penuh tingkah dengan tatapan muak.
"Kalau iya kenapa memang? Orang kaya kamu, mana mungkin aku tiba-tiba baik kalau nggak ada tujuan." Liona tertawa sinis.
"Dasar ya kamu, sayang sekali aku memang tidak pernah percaya padamu. Dan perlu kamu tau, kalau ibuku cuma pura-pura percaya padamu," ucap Melia emosi.
"Apa perduliku, kalian hanya makhluk sampah tak berguna." pekik Liona.
"Breng sek." maki Melia, ia sudah geram hendak menjambak rambut Liona kalau tak mengingat ini di kantor Kevin, Melia tidak ingin jika dirinya membuat ulah yang nantinya akan membuay Kevin malu karenanya.
"Kamu yang breng sek, kamu yang udah merusak harga diriku di depan Kevin. Apa dirimu tidak cukup tahu diri dan pergi saja, kamu cuma orang miskin. Bersanding dengannya hanya akan terlihat seperti punggul merindukan bulan." sindir Liona.
Melia terbahak, ia merasa lucu sekaligus geram dengan Liona.
"Bukankah kata-kata itu lebih pantas tersemat untukmu? Kamu yang berusaha keras mengambil hati Kevin, sampai merendah. Sementara aku, aku tak perlu melakukan apapun, Kevin akan menikahiku. Kami saling mencintai, dan sudah janji apapun yang terjadi akan selalu bersama." Melia tersenyum sinis.
"Kamu akan menyesal, aku tidak akan pernah membiarkanmu masuk ke dalam keluarga kami. Aku tak akan pernah membiarkan papa menganggapmu, aku tak akan pernah membiarkan kamu merebut semua hal yang harusnya milikku." Pekik Liona emosi.