One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 100



ASSALAMU'ALAIKUM ALL READERS, INI ADALAH PART TERAKHIR MELIA DAN KEVIN, JANGAN MINTA BONUS YAH, SUDAH SESUAI DARI SANANYA, SALAM SANTUN DAN PELUK JAUH UNTUK READERSKU TERSEYENG🤗😍


***


Mata Melia membola demi melihat rumah yang menurut versinya lebih mirip istana. Bahkan ini lebih mewah desainnya dibanding dengan rumah keluarga Kevin. Kok bisa? tanda tanya itu berseliweran di kepala, Kakeknya memberikan rumah yang lebih mewah untuk pernikahan Kevin dengannya, luar biasa!


"Kev." Melia mengetatkan rangkulan tangannya. Kevin hanya terkekeh pelan melihat tingkah istrinya.


"Makasih ya, kamu udah izinin Ibu buat ikut tinggal disini." Melia menitikkan air mata haru, kehidupan peliknya sudah berakhir.


"Sama-sama, mau lihat kamar kita? atau mau mencobanya juga?" goda Kevin mengerling. Melia mengusap-usap perutnya sambil menggeleng, "nggak deh, kayaknya aku lebih membutuhkan asupan sekarang." aku Melia dengan wajah melas.


Kevin membereskan barang-barang dibantu art yang berjaga disana sedangkan Melia langsung menuju dapur.


"Kamu lapar? pengen makan apa?" tanya Kevin saat melihat istrinya itu mencari-cari sesuatu di kulkas.


"Dedek laper, Papa. Buatin makanan dong." pinta Melia dengan ekspresi yang digemas-gemaskan.


"Oh, anaku laper? anakku apa mamanya ini?" tanya Kevin pura-pura tak percaya.


"Ih, anak kita yang laper. Aku tidak sedang mengada-ngada kok," ujar Melia.


"Oke-oke, Mama mau makan apa?" tanya Kevin melingkarkan tangan di perut Melia dan mengusap-ngusapnya.


"Mau nasi goreng buatan Papa dong."


Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mana pernah memasak, dan sekarang Melia ingin makan nasi goreng buatannya?


"Eh itu, aku telepon Alan buat bawain nasi goreng ya, Mel. Aku kan ga bisa masak," ucap Kevin ragu-ragu.


"Gak jadi." Melia menekuk wajahnya.


"Yaudah aku buatin, tapi entah rasanya."


Mau tak mau Kevin pun membuatkan nasi goreng sebisanya untuk Melia, berbekal video youtube akhirnya ia bisa menuruti kemauan pertama istrinya.


"Enak?" tanya Kevin penasaran, seingatnya saat mencicip tadi rasanya tak karuan. Melia mengangguk, bahkan dengan lahap menikmati masakan Kevin hingga tandas.


Itu pertama kalinya Kevin merasa aneh, mungkin memang bawaan hamil, pikirnya.


Hari-hari berikutnya, ia semakin direpotkan dengan rengekan manja sang istri. Namun, hal itu tak membuat Kevin merasa terbebani sama sekali. Ia senang, karena Melia selalu membutuhkannya.


"Mel, biar ibu saja ya yang buatin. Kasian suamimu, baru pulang kerja." bujuk Sintia di sore hari kala Melia ingin sekali makan salad buah.


Sintia yang baru tahu perihal kehamilan Melia awalnya syok dan terkejut. Namun, Kevin menjelaskan pelan-pelan dan detail kejadian akhirnya membuat Sintia memaafkan kesalahan Kevin.


"Nggak, Bu. Nanti rasanya beda." Melia menautkan dua tangannya dengan wajah melas. Ia bukan sedang mengada-ngada, tapi ini murni keinginan yang timbul begitu saja.


"Ya sudah tapi kalau suamimu lelah jangan dipaksa." nasihat Sintia akhirnya.


Melia mengangguk, tak berselang lama Kevin sudah turun dan menghampirinya.


"Mau dibuatin apa yang?" tawar Kevin. Lalu tiba-tiba mata Melia basah karena haru.


"Maaf ya ngrepotin terus, aku beneran gak bermaksud nyuruh-nyuruh kamu loh, seharian tuh aku dah berusaha makan dikit-dikit tapi ga seenak makanan buatan kamu."


"Gak papa, tapi sebelum aku buatin salad, makan nasi dulu." pinta Kevin dan Melia mengangguk, bak anak kecil yang menemukan pawangnya.


Melia akhirnya kembali bisa merasakan makan lahap karena suapan Kevin, kembali lega karena tubuhnya menjadi nyaman dengan keberadaan suaminya.


Aneh, dan makin terlihat aneh bagi Melia. Tapi tidak bagi Kevin, ia sangat menikmati perannya sebagai suami siaga dan calon ayah.


"Kalau gak nafsu makan telepon aja, atau video call sambil makan, siapa tau jadi lahap gara-gara lihat wajahku," usul Kevin.


"Hm, kayaknya nggak ngaruh deh, Kev."


"Pasti ngaruh, Mel. Coba aja dulu, kalau gak berhasil ya coba terus."


"Ih, itu mah mau kamu kan?"


"Heheheh."


***


Tak ada masalah yang tak bisa dilalui, karena nyatanya semenjak menikah sikap Melia berubah lebih lembut dan manja sementara Kevin semakin menampakkan keposesifannya. Meski begitu, baik Melia atau Kevin keduanya berusaha saling memahami dan mereka sedang berada di tahap membiasakan diri dengan keberadaan calon buah hati mereka.


"Makin sayang sama Mel-Mel." Kevin memeluk Melia haru usai melakukan tes USG kehamilan.


"Cuma sayang nih?"


"Iya cinta juga."


"Nggak lah, udah tua juga."


"Ish, aku ngambek nih." ancam Melia.


Kevin terkekeh pelan, lucu sekali memang istrinya.


"I love you, sayang Mel-Mel." bisiknya sambil menautkan tangan.


"Ayo jalan-jalan, kamu pengen kemana?"


"Love you too Papa Kevin." Balas Melia tersenyum senang.


Kevin mengajak Melia mengelilingi Mall, membelikan beberapa baju untuk istrinya.


"Kev, ini bagus nggak?" tanya Melia menunjuk sebuah gaun.


"Jelek, kamu bagus pakai itu tuh." tunjuk Kevin ke arah gerai yang menjual berbagai macam pakaian dalam dan ligerie. Melia menatap ligerie yang terpampang berwarna merah menyala seketika ia bergidik.


"Biar makin aktif olah raganya," bisik Kevin dengan seringai menggoda.


Melia tak bisa membayangkan bentuk tubuhnya jikalau memakai baju tidur kurang bahan itu, akan tetapi melihat Kevin yang sepertinya tertarik membuat langkah kakinya maju ke depan.


"Yaudah beliin, buat aku ya. Aku juga mau coba pakai."


"Akan aku belikan sebanyak yang kamu mau, makin banyak kayaknya makin bagus buat masa depanku." goda Kevin. Melia hanya mencibir akan tetapi tak menolak. Puas jalan-jalan mereka pun pergi makan sebelum pulang.


Bahagia itu bukan memiliki semua hal yang kita cintai, tapi...


Bahagia itu mencintai semua hal yang kita miliki,


kamu contohnya...


Melia~


***


Dua tahun kemudian,


"Pa-pa." Div tersenyum, Kevin menyambutnya dengan pelukan hangat bocah tampan berusia satu setengah tahun itu.


"Hai sayang, hanyo rewel tidak hari ini."


Div menggeleng, ia malah tersenyum lalu mencium pipi Kevin dengan tak sabar.


"Papa sudah pulang?" sambut Melia setelah menaruh celemeknya.


"Mama masak?" tanya Kevin, ia langsung menarik Melia ke dalam pelukan sambil membawa Div.


"Ih, jangan peluk. Mama bau asem belum mandi." Melia berontak, akan tetapi percuma saja karena Kevin tak pernah memperdulikan hal itu.


Namanya Div Michael Reyhan. Bocah tampan milik Kevin yang lahir satu setengah tahun yang lalu kini sudah mulai bisa berjalan dan mulai berceloteh meski sedikit mengeja. Buah hati Kevin dan Melia yang pertama. Meski melewati banyak hal, itu semua sama sekali tak membuat cinta diantara mereka pudar.


"Sayang Div dan Mama Melia banyak-banyak, terima kasih sudah hadir dalam hidup Papa." Kevin menghujani mereka dengan ciuman.


.


.


.


TAMAT


~Dear READERS sayang, maaf untuk ketidak sempurnaan endingnya. Namun, saya Mimah e gibran mengucapkan banyak terima kasih sudah meramaikan novel ini, mendukung novel ini hingga akhir, saya doakan semoga kalian sehat dan sukses selalu aamiin.


OH YA, dengan berakhirnya novel ini semoga kita masih bisa bertemu di karyaku yang lain. Yang baru dan lagi on going, meski tak ada keterkaitannya dengan Melia dan Kevin semoga kalian juga sama antusiasnya dengan novel ini.


***


Cuplikan :


Bagaimana rasanya tinggal seatap dengan mantan istri akan tetapi dengan status yang berbeda?


Sisa trauma pengkhianatan Najira membawa Bara bertemu gadis semanis gula seperti Rea. Cinta hampir tumbuh akan tetapi Bara harus kembali menelan pil saat tahu kenyataan bahwa Rea adalah adik dari selingkuhan istrinya.



HAPPY READING, KLIK PROFILKU YAH🥰