
Mendengar Verell menyuruhnya berhenti membuat Melia menarik tangan Toni dan mengajaknya lari sekencang mungkin.
"Boss, kenapa lari, di tempat kita sendiri?" tanya salah satu bawahan Melia. Karena baru masuk dua langkah, atasannya itu sudah kembali lagi keluar dengan menarik tangan Toni seraya setengah berlari.
"Gak tau tuh sii boss, tiba-tiba narik tangan pas tahu ada Tuan Verell." jawab Toni melirik ke arah Melia.
"Stttt, diam. Verell gak tau penampilanku yang kaya gini," ucap Melia setengah berbisik pada Toni.
"Kalau begitu, Boss lawat pintu rahasia saja, biar Toni yang antar. Aku akan berjaga di depan, "
"Oke, ayo boss." ajak Toni, menarik tangan Melia ke arah samping club dimana terdapat lorong panjang, sedikit gelap tapi langsung menembus samping ruang ganti bagian belakang club. Mereka pun berjalan beriringan lewat sana, Melia tampak beberapa kali menoleh ke belakang, memastikan jika Verell tak mengikutinya setelah tak sengaja bersitatap tadi.
"Semoga dia tak menyadari siapa aku," gumam Melia.
"Tumben dandan cantik, biasanya dari rumah udah jelek boss?" tanya Toni diiringi kekehan tawa, Toni memang tahu jikalau Melia sengaja bekerja dengan mengubah penampilannya karena melindungi diri sendiri dari mara bahaya, club malam adalah tempat dimana banyak laki-laki hidung belang berkeliaran. Maka dari itu, bawahannya pun juga setuju dengan hal yang dilakukan oleh Melia.
Melia mengerucutkan bibir, "hari ini beda," ujarnya.
Verell menunggu di depan, merasa wanita yang tadi melihatnya tak kembali membuatnya menekuk wajah seketika. Ia kembali masuk ke dalam club, malam belum sampai puncaknya, tapi club Red Apple milik Andre selalu saja ramai pengunjung, termasuk Verell salah satunya.
Melihat Verell tertarik dengan ketua bossnya, Toni lantas membawa kabur Melia melewati lorong yang langsung terhubung bagian belakang club, tepatnya sebelah ruang ganti. Sebelum mengganti pakaian, Toni dan Melia mengobrol disana, karena keadaan club masih aman terkendali, bawahan yang lain belum memberi kabar tanda-tanda kerusuhan.
"Bukannya malah bagus, Boss. Kalau Tuan Verell tau penampilan bu boss yang seperti ini, pasti malah semakin suka denganmu." ujar Toni, Melia menggeleng enggan. Ia bukan type wanita yang mudah jatuh cinta, apalagi dengan orang macam Verell, hal yang sangat tidak mungkin.
"Nggak, itu nggak boleh."
"Tapi, Boss. Kenapa tidak mencoba menerima Tuan Verell, yang aku lihat dia sangat mengagumi bu Boss, sikapnya juga baik. Jika membuat masalah disini, itupun karena dia ingin memarik perhatianmu," ucap Toni bersemangat.
Dahi Melia mengernyit, lantas menggeleng-geleng.
Melia bersandar pada dinding tembok menghela napas menatap Toni, bawahannya itu memang sedikit cerewet, suka menilai laki-laki, agar Melia tertarik salah satunya.
"Tapi boss," ucap Toni.
Melia menepuk pelan pundak Toni, "Mau denger cerita?" tawarnya.
"Harus, harus denger boss."
"Panggil aku nama jika sedang berdua seperti ini, Ton. Kamu orangnya friendly, makanya aku juga gak sungkan mau cerita, tapi ingat! Hal ini cuma kamu yang tahu disini." tegas Melia.
Verell tahu, wanita cantik itu adalah wanita yang waktu itu datang ke ruangan VIP untuk menyelesaikan masalahnya. Wanita yang menolak minum dengannya, wanita yang mengaku menyukai sesama jenis juga wanita yang berdandan jelek ketika bekerja. Verell memutuskan berjalan ke bagian belakang club, disana ada toilet, ruang ganti juga lorong yang bisa mengantarkannya ke depan lewat jalan samping. Barangkali ia bisa melihat gadis yang menarik perhatiannya itu menerobos masuk lewat pintu belakang, bukan sesuatu yang tidak mungkin.
Melia menghela napas sejenak,
"Kamu tahu, alasanku gak bisa nerima dia. Itu karena dia sangat childish dan playboy, dia bukan tipeku sama sekali. Mau tertarik dari mana? sedikit aja gak bisa bikin hati aku greg, apalagi mau menerima." jelas Melia, Toni manggut-manggut, mengerti.
"Dan satu, dia sudah punya tunangan. Menurutmu apa masih pantas menyukai wanita lain, laki-laki yang sudah memiliki tunangan." kesal Melia.
Toni menggeleng cepat.
"Nah, kamu juga tahu kan." cerca Melia, ia yakin Toni tak akan memaksa dirinya menerima laki-laki lain, sementara Melia ada Kevin. Namun, untuk menceritakan keterikatannya dengan Kevin, Melia juga tak punya cukup nyali. Selama ini rekan kerjanya melihat, Melia selalu sendiri. Tak mengenal laki-laki manapun.
"Iya-iya Mel. Oh ya, ngomong-ngomong jadi resingn dari sini?" tanya Toni yang kini sudah tak canggung lagi, karena memang hanya ada mereka berdua di ruang ganti.
"Entah, yang penting setelah mendapat pengganti aku keluar dulu. Urusan rencana, aku sedang tak ingin memikirkannya," ucap Melia lesu. Berat, meninggalkan club milik Andre yang selama ini memberi penghasilan lebih untuknya. Tapi Melia tak bisa berbuat apa-apa, ini semua atas permintaan Kevin. Dan dia sudah berjanji, jika tidak ditepati bisa jadi laki-laki itu akan marah dan mengecapnya sebagai tukang ingkar.
Di balik ruang ganti, Verrel terdiam. Ia sedang menguping pembicaraan gadis tadi dengan satu teman laki-lakinya.
"Jadi namanya Melia, nama yang bagus!" batin Verell memuji, bibirnya membentuk lengkungan tipis ke atas, karena berhasil mengetahui nama gadis yang telah membuatnya tertarik dari pertama kali melihatnya.
"Mel, Mel. Kalau belum ada pikiran kemana, mending disini dulu, Pak Andre juga baik banget sama kamu, kurang gimana?" ujar Toni. Melia tersenyum kecut, menghela napas sejenak.
"Ini bukan soal aku bakal nganggur atau enggak, Ton. Tapi ini soal janjiku sama seseorang. Aku nggak bisa ingkar, berat." gumam Melia menerawang. Membayangkan wajah garang Kevin, memelototinya, menatapnya tajam dan sebal apalagi kalau penyebabnya Melia kekeh kerja, sial memang.
Laki-laki itu meminta Melia berhenti bekerja seenaknya, saat ditanya apa ada saran untuk kehidupan Melia selanjutnya, dia tidak tahu. Sungguh menyebalkan!
Tapi, meski begitu Melia tidak bisa untuk tidak mengiyakan. Apalagi Kevin memberinya sepatu yang menjadi favorit, rasanya tak mungkin. Melia tidak mau menjadi jahat untuk kesekian kali, sudah cukup rasanya. Sudah cukup menguji kesabaran Kevin, laki-laki itu sudah teruji kesabarannya secara klinis.
"Janji sama siapa sih, Mel?" tanya Toni.
Melia hanya terkekeh, melihat raut wajah penasaran Toni. Gadis itu tidak akan cerita soal Kevin untuk saat ini. Karena Melia belum punya hak untuk itu.
"Rahasia, yang jelas dia laki-laki luar biasa," ucap Melia yang sebenarnya merutuki ucapannya dalam hati.
Toni melengos demi mendengar ucapan Melia, atasannya itu memang menyimpan banyak rahasia yang tak ayal membuat ia dan teman-temannya penasaran.
Luar biasa? tunggu. Melia hanya bercanda bicara seperti itu. Kevin tetaplah Kevin, hingga saat ini belum bisa meraih tahta di hati Melia..