
"Kamu tau, Mel. Laras telah menjebakku, padahal dia sendiri yang kotor, di sungguh ja lang yqng kotor karena telah tidur dengan beberapa laki-laki. Kelakuan buruknya aku tak pernah perduli sama sekali, aku tak pernah mengurusinya. Mau dia berbuat apapun di luar sana, aku sungguh tak pernah mengusiknya.
Tapi di saat namanya telah rusak, imagenya buruk dab orang-orang memandang jelek kelakuan dirinya, dia menfitnahku. Dia bercerita kepada papa kalau aku telah menjebaknya dengan memberi obat perang sang dan membuatnya tidur dengan laki-laki lain. Aku tak pernah melakukan hal itu, Mel. Itu bukan aku." Verell menceritakan awal mula masalahnya, masalah yang telah membuat ia sangat buruk karena sang papa lebih percaya dengan perkataan Laras, kakak tirinya. Maklum saja, Laras adalah anak kesayangan sang papa, sangat berbeda dengan dirinya yang tak bisa berharap apapun. Mendapatkan kasih sayang dari sang papa, itu hanyalah sebuah mimpi bagi Verell, dan ia tak berani untuk itu.
"Apa yang akan papamu lakukan?" tanya Melia penasaran.
"Papa mungkin akan memukulku sampai mati, jadi sebelum itu semua terjadi, hari ini aku datang kesini mencarimu untuk berpamitan," ucap Verell sungguh-sungguh, pandangan matanya tak lepas dari Melia, Melia yang terlihat cantik meski wajahnya sudah berubah saat mengganti gaunnya dengan seragam khusus.
"Oh ya, papamu cukup kejam ya terhadap anaknya." jawab Melia asal, Verell pun terdiam sesaat mendengar jawaban Melia membuat dirinya kembali berfikir, apa benar papanya kejam?
Verell sedih, sebagai anak ia harusnya mendapat kasih sayang sepadan dengan saudara yang lain. Tapi ini, jangankan kasih sayang, kepercayaan pun tak pernah Verell dapatkan dari sang papa. Laki-laki tua itu selalu membencinya, menganggap apapun yang menimpa sang kakak adalah kesalahannya, perbuatannya. Padahal yang terjadi sebenarnya, Laras bertindak licik. Laras selalu menfitnahnya, membuat kesan buruk dirinya di mata sang papa. Memanfaatkan masalah yang ada untuk membuat dirinya semakin buruk di hadapan papa mereka. Sampai kapanpun, Verell hanyalah anak yang tak dianggap, kesalahan kecil menjadi besar, kesalahan besar menjadi fatal dan itu semua karena Laras, ja lang itu selalu melakukan berbagai cara agar sang papa terus menerus membencinya, sungguh nasib yang sangat menyedihkan.
"Aku cuma anak yang gak papaku harapkan," ucap Verell tersenyum getir, melirik ke arah Melia sekilas yang seolah ikut sedih mendengar ceritanya.
"Mungkin maksudnya gak gitu," sanggah Melia, "Gak gitu gimana?"
"Ya, bisa jadi ada hal yang membuat papamu terpaksa tidak mempercayaimu," ucap Melia.
Verell menggeleng, "Itu tidak mungkin, kepercayaan papa buatku sama sekali gak ada. Aku juga gak pernah berharap, karena memang aku tak bisa di harapkan." Verell menenggak minuman lagi, wajahnya sudah memerah karena pengaruh alkohol.
"Berhentilah minum, wajahmu sudah sangat merah."
"Tidak, sayang sekali jika minuman ini tidak dihabiskan." gerutunya yang sudah mulai ngelantur, Melia mendekus sebal.
"Berhentilah minum, kamu sudah banyak minum. Pulanglah," ucap Melia, Verell berhenti sejenak dan menatap Melia tersenyum.
"Jika besok kau masih hidup, kau bisa menghubungiku dan sekarang pulanglah." titah Melia. Verell menarik sudut bibirnya sedikit, mendapat perhatian dari Melia adalah salah satu mimpinya.
"Terima kasih," ucap Verell melempar senyum, Melia yang melihat itu terlihat santai, selama ini ia hanya menganggap Verell sebatas teman tidak lebih. Hal-hal yang dilakukan laki-laki itu sama sekali tak meninggalkan kesan selain dar pada kasian. Nasib mereka hampir sama, hanya saja Verell lebih beruntung dari Melia soal kehidupan.
"Kamu tau, aku sudah melihat wajah aslimu." Verell mengu lum senyum, tatapan itu tak lepas, rasanya dekat seperti ini dengan Melia membuatnya merasa sangat bahagia.
Melia tertegun, ia membeku beberapa saat dengan panik bertanya, "kapan kamu melihatnya?" Meski begitu, Melia berusaha bersikap tenang.
"Tadi, hya aku melihatmu tadi saat kamu berusaha kabur dan ternyata kamu lewat pintu belakang, aku ada disana. Aku ada dibelakang melihatmu masuk ke ruang ganti bersama bawahanmu." jelas Verell.
"Apa kamu mendengar apa yang aku bicarakan disana?" tanya Melia.
"Ohhh!"
"Kamu cantik." kata itu lolos begitu saja dari bibir Verell, senyum tersungging saat mengatakannya. Melia memang cantik mau seperti apapun penampilannya.
"Aku serius, kamu beneran cantik kalau seperti itu, kenapa harus pura-pura jelek?" tanya Verell.
Melia tersenyum canggung, ia sama sekali tak menyangka jikalau Verell sadar akan dirinya tadi. Dalam hati, Melia bertanya-tanya apa karena ia langsung kabur jadi Verell tahu, atau karena memang laki-laki di hadapannya saat ini sudah lama mengetahuinya?
"Maksud kamu, aku emang seperti ini. Aku gak ngerti yang kamu maksud itu," ucap Melia mengelak, Verell mengusap wajahnya, ia sudah berhenti minum sedari Melia menyuruhnya berhenti tadi.
"Apa kamu punya pacar? kamu tak punya pacar kan?" tanya Verell tiba-tiba ingin memastikan.
Melia menghela napas sejenak, ia sungguh tak mengerti rencana Verell, selain dari pada itu, ia mulai memikirkan perasaan Kevin sekarang. Jika Melia bilang tidak, dan Kevin mengetahui hal ini apa ia akan dikata telah berkhianat?
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Melia tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Jika aku bisa kembali ke sini dalam keadaan hidup, aku punya satu permintaan. Aku ingin kamu jadi pacarku, agar aku bisa selalu melindungimu dan menjagamu, apa bisa?" tanya Verell penuh harap, Melia terdiam. Ia masih berusaha menelaah maksud dari pernyataan Verell, apa secara tidak langsung laki-laki itu memintanya jadi pacar? Melia sungguh pusing, di situasi ini ia tidak ingin terikat dengan siapapun kecuali Kevin.
Satu saja sudah cukup membuat Melia pusing, pikirnya.
"Gimana, Mel?"
"Apanya?"
"Jika aku masih bisa kembali kesini dalam keadaan hidup, kamu mau kan jadi pacarku?" Verell menatap Melia penuh harap, sedangkan Melia ia sedang mengumpat dalam hati, mengumpati Verell yang telah menjebaknya lewat sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan.
"Kamu lebih baik segera keluar." Baru saja Melia mengatupkan mulutnya, seorang wanita masuk sembari bertepuk tangan.Wanita cantik dengan balutan dress merah kurang bahan itu, Melia sangat mengenalinya. Meski baru dua kali bertemu, tak membuat Melia lupa siapa wanita yang saat ini masuk ke dalam ruangan dimana ada dirinya dan Verell di dalam.
"Bagus, bagus. Aku keluar berniat mencari seseorang malah bisa melihat drama sebagus ini." Laras bertepuk tangan, matanya menyalang menatap sinis ke arah Melia dan Verell bergantian. Verell mengusap wajahnya kadar, sudah di pastikan jikalau kakak tirinya itu akan berulah lagi, bisa jadi setelah ini hidupnya akan semakin rumit, ataukah ia memang tak lagi memiliki kesempatan untuk hidup?
MAAF SEMUA, SEGINI DULU🙏🏻
HARI INI SIBUK ACARA, MAAF UP KEMALAMAN. MAKASIH YG SETIA MAMPIR, LIKENYA JGN KETINGGALAN YA. YG PUNYA VOTE GIFT BOLEH SUMBANGIN😘
BTW AKU MINTA TOLONG YA, UNTUK LEBIH BIJAK DALAM BERKOMEN. AKU NULIS JUGA GAK ASAL NULIS LHO, AKU JUGA MIKIR, INI KERANGKA DAN ALUR DARI NOVELTOON BUKAN MURNI AKU YG BUAT. TOLONG SABAR JIKA MASIH MAU MEMBACA, DAN JIKA TIDAK SUKA LANGSUNG BERHENTI SAJA JGN KOMEN YG BISA JATUHIN METAL AUTHOR YA🙏🏻🥲