
Melia memutuskan pamit pulang sebentar lagi, ia harus bersiap untuk berangkat kerja malam nanti.
"Aku pulang, ya? Aku harus pergi bekerja, ngomong-ngomong sepatunya aku bawa ya Kev, makasih." bisik Melia, Kevin menatap dress Melia, dahinya mengernyit saat mendengar Melia akan pergi dari kantornya dengan dalih bekerja.
"Apa pekerjaanmu, di Bar?" tanya Kevin, selama ini ia hanya tahu Melia bekerja malam hari tanpa tau pekerjaan apa yang sedang ditekuninya. Kevin berfikir, bekerja di bar sangat identik dengan wanita nakal. Ia pernah mengira Melia menjadi wanita penghibur disana. Tapi setelah dipikir-pikir, Melia tidak akan bekerja sekotor itu hanya untuk uang. Jika iya, mungkin bukan Kevin yang merenggut kesucian gadis itu.
Melia berfikir sejenak, ia bekerja sebagai ketua pengawal di bar milik Andre, jika ia mengaku maka Kevin akan teringat seseorang yang pernah menendang asetnya di dalam toilet bar waktu itu.
"Aku bekerja sebagai pelayan bar di club Red Apple," ucap Melia berbohong. Dan sepertinya Kevin mempercayai ucapannya kali ini. Melia tersenyum, ia sudah bersiap untuk pulang.
"Kamu hati-hati kalau kerja," ucap Kevin spontan membuat Melia mengernyit, ini kali pertamanya Kevin terlihat perhatian langsung padanya. Tapi, Melia tidak ingin senang lebih dulu, bisa jadi Kevin memiliki maksud lain dari ucapan 'Hati-hati' yang tersemat untuknya. Ya, mungkin saja.
"Baik, makasih. Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu baik-baik bekerja." Melia tersenyum simpul. Kevin membiarkan dirinya memakai sepatu ini membuat moodnya berubah sangat baik, Melia lantas meraih tasnya juga box bekal makanan yang hanya tersentuh sedikit itu untuk dibawa pulang, sayang sekali sudah lelah masak Kevin tak mau.
"Aku pulang." ulang Melia lagi sebelum meninggalkan ruangan.
"Ya, hati-hati."
Sahutan itu membuat hati Melia menghangat, tapi ia tak boleh lemah hanya karena ucapan seperti itu dari Kevin. Bagaimanapun Kevin adalah laki-laki playboy yang bisa memiliki wanita dimanapun ia mau.
Kevin tersenyum tipis melihat kaki jenjang Melia yang melangkah keluar, ia senang kali pertama melihat Melia bahagia meski hanya karena sebuah sepatu.
🥀🥀
Melia keluar ruangan, saat hendak menuju lift ia berpapasan dengan Alan, sekertaris Kevin yang sempat menolongnya waktu itu.
"Sore, Nona." Sapa Alan tersenyum ramah.
"Sore juga," ucap Melia.
"Wah mood anda terlihat sangat baik, apa Boss Kevin memberi anda hadiah Nona?" tanya Alan. Melia mengernyit, bagaimana dia bisa tahu? pikirnya.
"Kamu tahu?" tanya Melia. Seingatnya tadi pintu ruangan kerja Kevin tertutup, kenapa dia bisa tahu?
"Saya tentu sangat tahu, Nona. Boss Kevin langsung membeli sepatu itu saat tahu anda tak bisa membelinya, dan saya juga tahu sepatu itu boss beli spesial untuk anda." jelas Alan, Melia hanya mengangguk-ngangguk. Ekspresinya biasa saja, meski sebenarnya dalam hati juga sulit percaya Kevin membeli sepatu itu karenanya.
"Saya permisi," pamit Melia yang hanya menanggapi ucapan Alan dengan senyum simpul, ia harus segera pulang dan membersihkan diri sebelum berangkat kerja. Beruntung Melia langsung mendapatkan taksi, tak butuh waktu lama kini ia sudah sampai di pelataran rumahnya. Melia meraih kunci rumah dan membukanya, meletakkan box bekal di dapur lantas ke kamar untuk membersihkan diri.
"Melelahkan," keluh Melia di sela-sela mandinya. Tak butuh waktu lama, Melia sudah kembali bugar dan mulai bersiap. Ia mengenakan gaun selutut dan sepatu yang tadi Kevin berikan. Melia tampil cantik hari ini mengenakan sebuah gaun dan sepatu yang tari Kevin, ia akan mengganti seragamnya setelah sampai di bar karena hari ini ia berangkat lebih awal.
"Mau berangkat kerja, Mel?" sapa Lana.
Melia menoleh, "Kamu, Lan. Darimana?"
"Malah balik nanya, aku habis beli cemilan di mini market depan." jawab Lana.
"Iya aku juga mau kerja, Lan. Mumpung masih kerja, bentar lagi aku keluar soalnya. Mau ngerawat ibu dan nyari kerja yang lebih baik."
"Iya, soalnya itu..." Melia menjeda ucapannya, ia tak mungkin bercerita kalau Kevin melarangnya bekerja disana, meski Lana cukup bisa dipercaya, Melia tak ingin membagi cerita tentang awal mula dirinya dan Kevin kepada siapapun. Melia malu, ia sangat malu karena kini sudah tak ada lagi yang berharga dalam dirinya.
"Ya, gapapa kalau mau keluar. Lagian kerja disana terlalu bahaya buat kamu, kamu cewek, masih muda dan meski disana ada bang Andre. Dia tidak bisa setiap saat ngelindungin kamu dari marabahaya."
"Iya aku tahu, maka dari itu Lan, duh malah curhat aku." Melia merutuki dirinya sendiri.
"Biasanya gimana? hehe. Kabar tante Sintia gimana, Mel?"
"Baik, ibu baik Lan. Dateng ke rumah sakit, tengok sebentar kalau ada waktu."
"Iya nanti, aku cari-cari waktu dulu." jawab Lana.
"Oh, iya aku kerja dulu, Lan."
"Hati-hati, salam buat bang Andre." Lana terkekeh, lantas berlari masuk sebelum Melia merecokinya dengan seribu pertanyaan.
"Dasar," pekik Melia.
Gadis itu lantas menyalakan motor maticnya, memastikan dressnya yang akan tersingkap meski sedang naik motor, juga mengecek barang bawaan sebelum berangkat menuju Red Apple.
Jalanan yang lenggang membuat Melia tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat kerja, club Red Apple milik Andre sudah berpengunjung meski malam baru saja dimulai.
Melia memarkirkan motornya, beberapa bawahan sudah menyambutnya di parkiran.
"Malam, boss." sapa bawahannya Melia, Melia mengangguk, mengadu punggung tangan mereka bergantian.
"Pak Andre sudah datang?" tanya Melia, mereka menggeleng.
"Mungkin sebentar lagi," ucap salah seorang dari tiga bawahannya yang berdiri tak jauh dari Melia.
"Aku masuk dulu," ucap Melia.
Dengan langkah lebar ia berjalan ke pintu masuk club, namun baru saja ia masuk beberapa langkah, matanya bertemu dengan sosok Verell disana. Melia tersentak dan langsung membalikkan badan, sayangnya ia terlambat. Melia terlambat karena Verrel sudah melihatnya, Verell menyadari kedatangannya.
Verell mengernyit heran saat wanita di hadapannya langsung membalikkan badan saat melihatnya. Hal itu membuat Verell penasaran.
"Aneh, kenapa gadis itu langsung membalikkan badan saat melihatku, apa ada yang salah dengan penampilanku," batin Verell, ia juga menoleh ke belakang, memastikan jikalau yang membuat gadis tadi membalikkan badan benar adalah dirinya, bukan orang lain yang ada di belakangnya.
Saat bawahannya mendekat dan hendak memanggil namanya, Melia berusaha menahannya dengan menarik tangan bawahannya, Bawahannya yang tak mengerti pun bertanya-tanya.
"Boss, ada apa sebenarnya?"
"Tidak, hanya saja jangan memanggil namaku saat ini," bisik Melia menarik-narik tangan bawahannya. Mereka pun tarik-menarik hingga berhasil membuat Verrel curiga.
"Aneh sekali mereka," batin Verrel.