
Melia berjalan menyusuri bar, dentuman musik dj memekakkan telinga suasana yang semakin panas karena malam semakin larut sama sekali tak mengganggu aktivitas Melia. Ia terus mengawasi setiap pergerakan orang-orang yang tengah menghibur diri di club Red Apple.
Orang-orang yang sebagian besar dari mereka terdiri dari golongan pengusaha, orang kaya dan Tuan muda.
Andre masih belum terlihat batang hidungnya, Laki-laki pemilik club itu lebih sering menghabiskan waktu di ruangan, tanpa berniat keluar. Hanya sesekali ia sempatkan untuk menyapa Melia dan karyawan yang lain.
Melia menatap ke sekeliling, pandangannya menangkap salah satu pintu room VIP terbuka, seketika mengernyit heran saat dua orang membuat keributan disana.
Benar saja, Tak berselang lama Melia mendapat telepon dari Toni jika mereka harus mengatasi sebuah masalah.
"Kesini, Bu boss kami di ruang VIP 02 boss," ucap Toni sebelum mematikan sambungan telepon. Melia memasukkan ponselnya ke dalam tas, menggerutu kesal. Ini bukan pertama kali club Andre terjadi keributan, ia sudah lelah sebenarnya, melawan para laki-laki hidung belang, karena urusan sepele. Kebanyakan masalah yang terjadi diantara mereka adalah masalah urusan wanita. Rebutan wanita yang sama sekali tak pantas diperebutkan kadang membuat Melia jengah dan lebih sering merasa sakit kepala, bukan apa-apa, hanya saja terheran dengan pikiran para laki-laki itu yang menurutnya tak bisa melihat wanita lain.
Dengan langkah cepat Melia menuju ruangan dimana keributan itu terjadi. Toni dan satu rekan lain sudah berada disana, melerai adu pukul yang sempat terjadi diantara dua laki-laki. Dan si wanita justru menambah keributan dengan mencaci maki si laki-laki yang berusaha Toni lerai.
"Boss urus wanitanya," ujar Toni, Melia melipat tangan di dada. Melihat penampilan wanita dengan gaun mencolok namun kurang bahan itu membuat Melia kesal.
"Bukan aku yang salah mbak, aku udah bilang pergi kerja dan memintanya untuk tidak menemuiku disini. Tapi malah dia datang tiba-tiba dan menyerang klienku, kalau begini aku bisa di pecat." gerutu wanita itu membela diri.
"Oh, mbaknya kerja. Yaudah, Mas-nya suruh pulang aja, Ton. Orang mbaknya lagi kerja." sinis Melia, laki-laki itu berontak berusaha melepaskan tangan dari cengkraman Toni.
"Kerja apa, hah? kok ciuman sama klien di club," ujar Laki-laki itu dengan kesal, raut wajahnya merah padam.
"Ton, bawa keluar." titah Melia, Toni menyeret laki-laki itu keluar, sementara bawahan satunya melepaskan laki yang disebut klien oleh wanita di hadapan Melia saat ini.
"Mbak, lain kali kalau kerjaannya kaya gini gak usah punya laki, bebas!" kesal Melia.
Melia lantas keluar segera menyusul Toni, kasian sekali laki-laki itu. Pikir Melia.
Wanita itu meringis, sementara laki satunya tampak menggeram kesal.
Di luar, Toni menasehati laki-laki itu.
"Istrimu bukan, Mas?" tanya Toni, Laki-laki sebelahnya menggeleng lemah.
"Ck! bukan istri, udah tinggalin aja."
"Kalau bukan, ya cari lagi. Kalau bisa cari yang jangan suka keluyuran di tempat ini selain bekerja," sambung Melia yang baru saja keluar dari ruangan VIP.
"Tapi..."
"Mau mempertahanin cewek kaya gitu?" tanya Melia, ia terlihat sangat santai dalam berucap.
Laki-laki itu menggeleng, ia paham perkataan Melia.
"Maaf sudah mengacau, terima kasih atas sarannya." laki-laki itu pergi, tanpa berniat balik ke dalam ruangan dan kembali menghajar.
"Sama-sama, semoga beruntung setelah ini," ucap Melia.
Melia menghela napas lega, saat ia tengah mengawasi area dance floor. Fany datang menghampirinya dengan tergesa.
"Heh, Mel," ucapnya dengan napas tersengal.
"Apa?" Melia menautkan alisnya heran, tak biasanya Fany datang mencarinya.
"Huh, susah sekali aku nyari kamu, kamu dicari Tuan muda Verell di ruang VIP 03."
"Dicari?" tanya Melia, heran.
"Iya, kamu kesana segera."
Melia menggeleng menolak, "nggak, aku nggak ada urusan sama orang itu, buat apa kesana?" Santai Melia, ia sudah terbiasa menghadapi sikap Verell yang terus mencarinya, Melia sudah tak ingin berurusan dengan orang itu.
"Ayolah, kali ini saja." bujuk Fany sekali lagi, Tapi Melia tetap kekeh menolak, apalagi meladeni hal yang bukan urusannya, Melia sangat malas.
Fany pun menjadi kesal, ia menatap Melia tajam.
"Kamu itu, gak usah belagu. Mentang-mentang tuan Verell menyukaimu, kamu jangan tidak tahu diri begini, mentang-mentang disukai apa lantas membuat kamu sok jual mahal," pekik Fany dengan emosi. Melia yang mendengar penuturan Fany tiba-tiba seperti itu lantas mengerutkan alisnya, ia tak tahu urusan apa yang membuat Fany begitu memaksanya menemui Verell.
Melia seolah tahu apa maksud Fany, ia pun mulai mencibir.
"Itu bukan urusanku, aku tidak perduli. Aku ingatkan kamu untuk menghilangkan niatmu itu, karena tuan Verell bukanlah orang yang sesuai untukmu."
Mendengar ucapan Melia membuat Fany menyeringai, dan kembali merendahkan Melia.
"Bukan orang yang sesuai, lantas kalau denganmu sesuai, begitu? Ck! kamu udah ngaca belum hari ini? cuma kepala security aja sok jual mahal, sok ditaksir sana sini, sok kecakepan banget kamu, orang yang ngelihat kamu cantik juga aku jamin pasti matanya gangguan." desis Fany kesal.
Melia melipat tangannya di dada, ia sama sekali tak emosi mendengar ucapan Fany, ia hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya malas. Orang seperti Fany hanya berani dalam berucap, bahkan gadis itu tidak pernah melihat bagaimana dirinya sendiri yang selalu menghalalkan banyak cara untuk mendekati para pengusaha muda. Melia sungguh muak melihatnya, kali ini pasti sasarannya Verell, sampai-sampai gadis bodoh itu melakukan apapun termasuk sampai memaksanya.
"Itu sama sekali bukan urusanmu, kenapa kamu terus memaksaku," desis Melia, Fany yang mendengar pun semakin geram.
"Jika kamu khawatir dengannya, kamu saja yang pergi sana untuk menjaganya," titah Melia. Fany menjadi emosi, susah sekali pikirnya membujuk Melia itu. Padahal, jika ia berhasil membawa Melia, bukankah berarti Verell akan memandang usahanya? Fany menggerutu, ia meninggalkan Melia seraya menghentakkan kakinya kesal.
"Sia lan, mentang-mentang kepala security seenaknya saja, apa-apa dia, orang-orang nyarinya dia, dia pikir dia siapa, heh!"
Sementara Melia yang kesal pun kembali bekerja, moodnya berubah karena seorang pelayan yang memaksanya bertemu dengan Verell, tak habis fikir dengan laki-laki itu. Ini bukan pertama kalinya, Melia merasa muak lama-lama dengan sikap childish-nya Verell.
Fany kembali ke ruangan Verell, begitu masuk tanpa membawa Melia, Verell mengerutkan alisnya.
"Mana ketua keamanannya?" tanya Verell. Fany memasang wajah kasian lantas menghampiri Verell.
"Dia tidak mau datang dan menyuruh jangan ikut campur," ucap Fany dengan raut wajah disedih-sedihkan.
LIKE KOMEN GIFT KAK🙈🥰