
"Saya bilang berhenti, apa kamu tidak dengar?" geram Kevin. Liona lantas berhenti, kemudian menghampiri Kevin.
"Apa kamu tidak suka ada orang yang melihat ruang istirahatmu?" tanya Liona, Kevin hanya membalas perkataan Liona dengan tatapan tajam penuh kekesalan.
"Letakkan disitu." titah Kevin.
Liona lantas menaruh beberapa box yang semula tersusun lantas meletakkannya di hadapan Kevin.
"Beneran box milik Melia, apa dia sengaja menguji kesetiaanku?" pikir Kevin dalam hati.
Melihat Kevin hanya menatap box itu tanpa semangat setelah membukanya, lantas Liona tersenyum senang. Liona berfikir Kevin pasti sangat tidak suka masakan itu.
"Dasar gadis kampung, pantas Kevin tak semangat. Hanya masakan seperti itu, dibanding denganku kamu tidak ada apa-apanya. Ini kesempatan bagus, aku harus membuat kesan baik diriku di depan Kevin." batin Liona.
"Benar-benar tidak tahu selera orang kelas atas." ejek Liona dalam hati saat melihat masakan itu.
"Oh maaf, Tuan. Masakan adikku memang jelek dan sangat buruk, jika Tuan Kevin bersedia aku bisa meminta pengurus rumah tangga memasak makanan yang layak dan aku akan mengantarkannya setiap hari untukmu."
"Cih, lancang sekali." geram Kevin yang muak dengan tingkah Liona. Namun, ia masih menanggapi dengan wajah kesal dan bibir diam. Kevin ingin melihat sebusuk apa kakak Melia itu.
"Bagaimana Tuan, apa kau bersedia?"
Kevin yang tahu tujuan Liona datang untuk menggodanya pun tersenyum smrik.
"Setidaknya dia memasaknya sendiri, tidak seperti kamu yang membanggakan pembantu rumah tangga di rumah." Ejek Kevin, Liona pun terperanjat dengan respon itu.
"Maksud kamu?"
"Ya maksudku, setidaknya Melia bisa masak sendiri. Memang kamu bisa apa? atau jangan-jangan cuma bisa berdandan dan menghabiskan uang, menghina Melia apa kamu pikir aku akan diam saja."
"Bukan, bukan seperti itu maksudku. Kamu mana mungkin mau makan masakan yang buruk itu," ucap Liona gugup, sorot mata Kevin tajam menghujam. Sikapnya benar-benar dingin.
"Kamu bilang apa?" suara Kevin meninggi.
Liona yang kesal tak punya pilihan lain selain mengungkapkan perasaannya kepada Kevin, siapa tahu dengan begitu Kevin akan menyukainya.
"Kevin, aku mencintaimu, aku melakukan semua ini agar kamu mau menerimaku, lupakan Melia, dibanding denganku dia hanyalah gadis kampung yang tak pantas mendampingimu. Aku sangat mencintaimu, Kev. Bisakah meninggalkan Melia untukku?"
"Ck! Meninggalkan? apa kamu merasa lebih baik dari calon tunanganku? jadi apa tujuanmu sebenarnya?" Kevin tertawa sinis, tak habis fikir kenapa bisa Melia mengizinkan orang seperti Liona mengantar makan siang.
Liona geram, hal apa yang menarik dari Melia. Jelas-jelas ia jauh lebih berbibit, bebet dan bobot. Derajatnya sama dengan Kevin, dibanding dengan dengan Melia yang miskin dan tidak ada apa-apanya.
"Aku lebih cantik, lebih baik, kita sederajat. Kaum rendahan seperti Melia apa pantas mendampingi kamu yang terlalu sempurna?" Liona yang geram pun mulai merendahkan Melia.
Kevin mengepalkan tangannya, entah kenapa ia begitu emosi. Melia memang gadis sederhana, tapi apakah pantas menghina orang seperti itu? seumur-umur meski sikapnya dingin, Kevin masih memiliki hati dan adab dalam menilai orang, justru orang-orang seperti Liona-lah yang lebih rendahan. Memaksakan kehendak, merusak imec orang dengan menyombongkan diri sendiri, sangat tidak pantas disebut ka untuk Melia. Kevin heran, kenapa Melia memiliki saudara bersifat buruk seperti itu.
"Lantas sebutan apa yang cocok untukmu, apa kamu pantas menjadi kakaknya. Bahkan untuk berstatus teman mungkin kau sama sekali tak pantas untuk Meliaku yang terlalu berharga."
Ucapan Kevin begitu menohok, merobek harga dirinya. Namun, Liona tetaplah Liona, rela merendahkan diri demi mendapatkan cinta Kevin.
Brakkk!
Kevin yang sudah sejak tadi tersulut emosi pun menggebrak meja, Liona terperanjat tak menyangka jikalau Kevin akan semarah ini hanya karena ia merendahkan Melia.
"Pergi." bentak Kevin, sebelum ia mengamuk seharusnya Liona sudah mengerti jika dirinya sudah sangat sangat muak.
"Kev, percaya padaku. Melia bukan orang yang tepat untukmu, pertimbangkan tawaranku, aku beneran mencintaimu. Aku rela melakukan apapun."
"Ck! Cinta." Kevin terkekeh sinis.
"Cinta seperti apa yang kamu punya, itu hanya obsesimu. Pergi dari sini sebelum aku benar-benar marah dan menghancurkan keluargamu." tekan Kevin.
Tubuh Liona bergetar hebat, sudah kepalang tanggung. Antara malu atau tetap maju. Kevin sama sekali tak mau memandangnya, sungguh ironis.
"Aku katakan sekali lagi, wanita seperti Melia, tidak akan ada satupun yang mau menikahinya. Dia hanyalah anak haram yang tidak pantas untuk siapapun, kamu akan menyesal karena telah menolakku hari ini, Kev."
"Bhahahahaha." tawa Kevin menggelegar. Namun, sorot mata tajam menusuk, menatap Liona dengan amarah.
"Melia-ku tidak perlu disukai orang lain, karena aku tak suka milikku menjadi pusat perhatian. Meski seluruh dunia tak ada yang mau, ada aku yang akan menikahinya nanti." tekan Kevin.
Gleg.
"Ck! jika Melia dengar kata-kataku ini, pasti dia besar kepala. Dan merasa aku benar-benar menyukainya." batin Kevin yang merasa konyol sendiri dengan perkataannya.
Wajah Liona memucat, ia kesal. Kesal karena Kevin lebih memilih Melia. Kesal karena Melia mendapatkan hal yang seharusnya menjadi miliknya. Dengan langkah gontai ia akhirnya meninggalkan ruangan Kevin. Kakinya menghentak seperti anak kecil, air matanya hampir tumpah. Liona tak menyangka jika Kevin adalah sosok yang susah untuk di goda.
Tapi, tapi kenapa Melia bisa? kenapa Melia dengan mudahnya mendapatkan perhatian dari Kevin. Bahkan Kevin menyemat nama Melia dengan indah.
"Bagus, harusnya memang sudah pergi dari tadi. Wanita memang benar-benar merepotkan." umpat Kevin.
Arghhhh!
Liona sempat terduduk di depan ruangan Kevin. Namun, ia buru-buru bangkit untuk pergi, hal ini sangat memalukan. Meski begitu, ia tidja akan pernah menyerah.
Tap tap tap...
Derap langkah kaki Liona menuju lift, ia sangat kesal karena Kevin telah menolaknya hari ini.
Taksi Melia sampai di depan LS Group, Melia turun dan membayar. Lantas berjalan pelan memasuki lobi kantor. Seorang resepsionis memperhatikan wajahnya dengan seksama. Namun, saat Melia hendak mendekat dan meminta izin bertemu dengan Kevin, Melia melihat Liona dengan wajah pucatnya keluar dari dalam lift.
"Liona, kenapa wajahnya terlihat pucat? Apa Kevin menolaknya? Apa terjadi sesuatu?" Melia mengernyit heran. Langkah kaki Liona yang tergesa membuat Melia penasaran akan apa yang terjadi, ia pun akhirnya memutuskan menunggu Liona sampai, saat ini Liona belum menyadari kehadirannya di LS Group.
"Ck! Aku jadi ingin tahu apa yang dilakukan oleh Kevin, apa dia dan Liona..." Melia mulai berfikir yang tidak-tidak.
LIKE KOMENNYA KAK🥲 Gift vote juga boleh banget😍