
Sejak Kevin menurunkan Melia juga Erick di jalan, sejak itu pula Melia tak lagi bertemu dengannya. Bahkan, laki-laki itu tak mencarinya sama sekali membuat Melia semakin sadar jika Kevin beneran marah.
Sementara di sebuah apartemen elite, seorang laki-laki tengah memandang padatnya lalu lintas dari balkon sambil menggerus putung rokoknya yang entah kesekian berapa.
Drtttt...
"Hallo, Kek?" sapa Kevin di sambungan telepon.
"Anak pembangkang, kenapa tidak pulang? Sembunyi dimana kamu, hah?" bentak kakek Kevin.
Napas laki tua itu tampak tersengal di seberang sana seperti menahan amarah.
"Ada, lagian aku sudah dewasa, Kek! Aku sedang tidak ingin bicara dengan mama," ujar Kevin.
"Mamamu menangis sepanjang hari karena Laras dikirim ke luar negeri, apa itu benar?" tanya sang kakek.
"Ya, itu benar."
"Baguslah, aku tak perlu repot-repot menjauhkannya darimu," decak sang kakek akan tetapi dengan suara jauh lebih pelan dan penuh kelegaan.
"Hah..." Kevin merasa cengo mendengar kelegaan kakeknya, apa selama ini laki tua itu tak menyukai Laras?
"Pulang, atau mau kakek coret dari daftar warisan," ujar sang kakek penuh penekanan.
"Ya, Kek! Aku akan pulang dengan satu permintaan dan kakek harus mengabulkannya," ujar Kevin.
"Apa? dasar cucu kurang ajar, sekarang sudah pintar bertaktik," gerutu sang kakek, Kevin hanya membalasnya dengan seringai.
"Terserah, tapi jika kakek tak memihakku. Itu artinya, kakek siap kehilangan cucu tunggal kakek," tekan Kevin.
Kevin menutup telepon.
***
Pagi hari di rumah Melia, gadis itu akhirnya bernapas lega saat badannya hari ini terasa lebih segar dibanding kemarin.
Kemarin karena perutnya bergejolak serta mual tak terhenti ia jadi membatalkan pergi ke rumah sakit untuk melihat sang ibu.
Dengan langkah tergesa ia menyetop sebuah taksi di depan gang jalan menuju rumahnya.
"Taksi, Pak?" Melia melambaikan tangan, tak berselang lama taksi berhenti dan dia masuk.
"Kemana, Non?" tanya bapak supir taksi.
"Rumah Sakit Pusat Medika, Pak!"
"Baik, Non."
Taksi pun melaju sedang, di perjalanan lagi-lagi Melia memikirkan Kevin. Bahkan laki-laki itu tak ada menghubunginya sama sekali membuatnya seketika merasa gusar.
Diam bersama kegalauan hingga tanpa Melia sadari mobil sudah berhenti tepat di depan Rumah Sakit Pusat Medika. Setelah membayar, Melia lantas turun dan langsung berjalan tergesa menuju lantai dimana bangsal ibunya dirawat. Sampai disana suasana tampak sepi membuat Melia mengernyitkan dahi, bingung. Bernapas lega karena pengawal suruhan Kevin masih setia menjaga ibunya 24 jam disana.
"Pagi, Bu." Melia langsung masuk ke ruang rawat ibunya, tampak wanita itu tengah terduduk lesu dengan lingkar coklat di sekitar mata.
"Loh, ibu kenapa kok pucat sekali?" tanya Melia panik.
"Gak papa, Mel. Ibu cuma kurang tidur akhir-akhir ini," ucap Sintia.
Melia semakin mengernyit, "bukannya bangsal ini sepi, Bu? ibu mikirin apa?" dalam hati Melia menerka apa sang ibu memikirkannya, terlebih kemarin-kemarin ia sering tertimpa masalah tapi terpaksa berbohong.
"Hah? Terus apa aku perlu menegurnya untuk ibu, agar ibu lebih nyaman disini?" tanya Melia, Sintia menggeleng dengan senyum.
Sintia tampak menghela napas, "Dia orang yang berkuasa Mel, bahkan kepala rumah sakit yang ibu tahu juga tak berani menegurnya." Cerita Sintia, Melia termenung.
"Orang berkuasa, apa dia keluarga Kevin? Mengingat laki-laki itu bisa dengan mudahnya memberhentikan Lyn sebagai kepala rumah sakit. Aku nggak mungkin kan tanya sama Kevin soal hal ini, apalagi ini menyangkut keluarganya." batin Melia.
"Ibu sudah makan?" tanya Melia, Sintia menggeleng. Gadis itu seketika menoleh ke arah nakas, mendapati makanan masih pun ia berinisiatif menyuapi Sintia.
"Makanlah, Bu! Ibu harus segera sehat, karena kelak ibu akan melihat putri ibu ini menikah."
Sintia mengulas senyum, "benarkah? bagaimana hubunganmu dengan nak Kevin?" tanya Sintia.
"Baik, Bu. Belakangan dia selalu melindungi Melia, memarahi siapapun yang berusaha menghina Melia..." Tiba-tiba mata Melia berkaca-kaca, entah kenapa ia jadi mellow teringat Kevin mengabaikannya setelah menurunkan di jalan. Namun, untuk bercerita dengan Sintia itu hal yang tidak mungkin.
Sintia menerima suapan demi suapan Melia, "Tapi kamu kok sedih?" tanya Sintia.
"Melia sedih karena belum bertemu dengannya lagi, Bu. Dia sangat sibuk sekarang, Ibu tau bahkan dia meminta Melia untuk kuliah lagi," ucap Melia.
"Hah, memang kamu sudah tidak bekerja?"
"Enggak, Bu! Mulai sekarang, Mel akan menemani ibu." Melia beranjak ke kamar mandi, bersandar di dinding tembok dengan kepalanya mendongkak menatap langit-langit.
"Kok jadi sedih ya?" gumam Melia, perasaannya tak karuan sementara otaknya terus berfikir bahwa ia dan Kevin hanya sebatas hubungan 'tanggung jawab.'
Setelah keluar kamar mandi, Melia pun izin kepada ibunya untuk keluar membeli ear plug. Namun, baru keluar bangsal, ia dihadapkan oleh seseorang berwajah familiar.
Di sampingnya berdiri wakil kepala rumah sakit, belakangnya beberapa dokter dan salah satu diantaranya memegangi selang infus.
"K-Kevin," gumam Melia, tapi ia seketika menggeleng cepat mengingat kata sang ibu pasien itu cukup lama berada di rumah sakit, setiap hari membuat keributan hingga membuat sang ibu tak bisa tidur, akan tetapi wajahnya hampir mirip dengan Kevin.
Tiba-tiba Melia teringat sesuatu, bagaimana Kevin terlihat sehat-sehat saja saat dirinya sudah menendang aset berharga miliknya dengan sangat keras. Apa jangan-jangan selama ini, ia salah orang?
Di kantor LS Group.
"Host... Host..." Kevin terbangun dari tidur dengan napas memburu dan keringat dingin bercucuran. Satu jam yang lalu, kepalanya terasa sangat berat dan meminta Alan untuk membatalkan beberapa pertemuan. Kevin tidur di ruang istirahat, tak disangka ia malah bermimpi. Alan yang saat itu sedang khawatir masuk ke ruangan Kevin dan melihatnya.
"Kev?"
"Ah iya, aku mimpi sampai kebangun dan berasa sangat nyata!" ucap Kevin yang terdengar lebih mirip seperti gumaman.
"Mimpi?" tanya Alan, ia nyelonong masuk ke ruang istirahat Kevin sambil menyodorkan air mineral.
Kevin langsung menghabiskan separuhnya.
"Hya, dan sepertinya aku harus segera menikahi Melia."
"Hah, serius?"
Kevin mengangguk, ia kemudian bangkit meraih jassnya.
"Aku akan pulang lebih awal, kamu aturlah semuanya!" ujar Kevin kepada Alan.
"Baik, tenang saja!"
Kevin berlalu, ia melangkah cepat keluar dari ruangan, di dalam lift ia terus memikirkan arti mimpi itu. Namun, jika benar iya? seharusnya Melia sudah lebih dulu merasakan dan memberitahunya.
LIKE KOMENNYA JGN KETINGGALAN YAH, GIFT BOLEH BANGET KAKAKš„²