
Para gadis yang berada disana juga ikut mentertawakan Gisell, Melia yang mendengarnya pun mulai risih. Sebab, sejak ia berurusan dengan Laras. Melia merasa muak jika mendengar seseorang berlagak menindas. Namun, yang terlihat saat ini Gisell terlihat biasa saja tak menanggapi celotehan mereka.
"Jangan dipikirkan, mereka cuma anj*ng menggonggong yang tak akan pernah ku masukkan hati." Gisell menyedot minumnya tanpa berniat meladeni Clara dan teman-temannya.
"Hhahaha kamu masih sama, ya? Mulutmu masih suka pedas kalau ngomong..." Melia menjeda ucapannya, menatap Gisell tersenyum.
"Kamu jangan mau ditindas, mereka sesekali harus diberi pelajaran." tekan Melia.
Melia sudah melewati kerasnya hidup ditindas, toh tak ada salahnya melawan. Hidup harus bisa membela diri sendiri.
"Ya, untuk itu aku harus bermulut pedas menghadapi mereka, sudah! tak usah difikirkan, biarkan saja." Cuek Gisell.
"Kamu kalau masih mau lulus dan mendapatkan pekerjaan yang pantas tentu harus menurut pada kita," ujar Clara dengan nada mengejek. Gisell mendesah pelan, setiap hari ia harus menghadapi hal seperti itu. Clara dan teman-temannya kerap kali bersikap menyebalkan dan membuatnya kesal.
"Memang harus ya, siapa kalian sampai berani menyuruh teman saya patuh? Jangan berlagak sok kuasa dan menindas sesuka hanya karena kalian orang kaya." Melia berusaha membela Gisell, sementara temannya itu tampak memegang tangan Melia, berharap tak melawan Clara dan teman-temannya karena menurut Gisell hal itu akan percuma.
"Hehhe heee, kamu lihat wajahmu yang jelek dan penuh luka itu, apa tidak takut akan bertambah luka lagi karena melawan kami," ejek Clara melipat tangannya di dada.
Salah seorang teman di belakang Clara tampak berbisik, "dia sepertinya bukan mahasiswa sini." bisik temannya membuat Clara seketika menyeringai.
"Hehh, siapa kamu? bukan murid dari kampus sini kan?"
"Memangnya kenapa kalau bukan? apa aku mengganggu kalian jika aku datang mencari temanku untuk bermain bersama." seloroh Melia tak kalah kesal. Lagi-lagi Gisell harus menenangkan Melia agar tak terpancing dengan orang-orang itu. Clara tersenyum smrik, menatap Gisell dengan remeh.
"Tentu saja sangat mengganggu, karena kedatanganmu membuat Gisell sangat senang, seluruh murid di asrama tau aku dan dia sangat tidak cocok jadi..." Clara menjeda ucapannya, jemarinya menujuk ke arah Gisell, sementara geng di belakangnya ikutan melirik sinis.
"Jadi aku sangat tidak senang jika Gisell merasa senang." Clara terbahak, lalu seketika menutup mulutnya.
"Ups!" Gadis arogan itu terdiam, menunggu ekspresi Gisell dan Melia.
"Apakah benar mereka semua satu asrama sama kamu, Sell?" tanya Melia menatap ke arah Gisell.
Gisell tersenyum masam lalu mengangguk.
"Tapi selain menyindir, mereka tak melakukan hal lain padaku kok." lirih Gisell, berharap Melia tenang dan tak kesal karena mengetahui nasibnya di kampus.
Melia menghela napas, meski mereka tidak benar-benar menyakiti Gisell, akan tetapi jika mendengar mereka menyindir setiap hari tentu akan sangat menyebalkan dan membuat emosi.
Awalnya Melia kira, Gisell sangat bahagia bisa di kampus, kehidupannya akan lebih menyenangkan daripada dirinya juga Lana. Tak disangka, kehidupan Gisell jutru tak jauh beda dengannya. Melia merasa sedih, andaikan kedua orang tua Gisell tahu anaknya di kampus sering ditindas dan direndahkan mungkin juga akan sedih. Keadaan keluarga Gisell tak jauh berbeda dengan Melia, hanya saja Gisell lebih beruntung karena orang tuanya lengkap. Meski begitu, kedua orang tua Gisell jugaa hidup dengan gaji kerja yang kecil. Mereka membanting tulang agar anaknya bisa kuliah di IMS dan meraih impiannya.
Melihat Gisell tak berbicara, Clara lantas kembali berulah.
"Lebih baik kamu pindah tempat dari sini, merusak pemandanganku saja." celoteh Clara, dengan gerakan tangan sedikit mengusir.
"Jika merasa terganggu, lebih baik kamu dan teman-temanmu saja yang pergi!" Gisell berujar tanpa menatap Clara.
Clara mendekus, gadis di belakangnya pun kesal.
"Heh, Gisell. Harusnya kamu yang pergi. Rakyat jelata kok mau melawan, punya apa kamu, hm?"
"Aku duluan yang duduk disini, kenapa harus pergi?" jawab Gisell santai. Teman Clara berdecak kesal.
"Heh, Seharusnya kamu yang pergi bukan kami. Karena kami memesan makanan mahal sedangkan kamu? hm jangankan memesan makanan mahal, kamu hanya makan makanan murah. Jadi, kamu yang pergi. Benar-benar merusak pemandangan kami."
Melia sudah mengepalkan tangan kesal.
Brakk!
Melia menggebrak meja saking emosinya, ia kesal karena sedari tadi orang-orang itu bertingkah membuatnya sangat muak. Melia bisa saja memarahi mereka andai Gisell tak menahan tangannya, mengisyaratkan agar Melia mengabaikan para gadis pembuat masalah itu.
Mau tak mau, Melia akhirnya pasrah dan menahan kekesalannya, ia sendiri sangat muak dengan tipe-tipe wanita seperti Clara yang mengingatkannya pada sosok Laras.
"Mel udah, gak usah diladenin mereka."
"Tapi mereka keterlaluan," geram Melia, mendadak ia kehilangan selera makan. Meski ia sudah makan beberapa suap.
"Plis dengerin aku, percuma kita melawan juga. Biarin saja mereka mau berbuat apa, lagi pula kita tak punya kekuatan. Aku dah biasa kok seperti ini, mereka gak akan macam-macam, mereka cuma berani di mulut doang." jelas Gisell.
Melia benar-benar tak habis fikir, kenapa Gisell yang memiliki tempramen buruk malah diam-diam saja membiarkan mereka berbuat semua.
"Clar, kita apain enaknya?" tanya teman di belakangnya.
"Biarin aja mereka menikmati waktunya dulu." desis Clara.
"Aku punya ide," temannya membisikkan sesuatu di telinga Clara hingga membuat gadis itu tiba-tiba menyeringai.
"Apa kau yakin?"
"Tentu, kita lakukan nanti." bisik temannya.
"Aku muak melihatnya disini." Desis Clara.
"Memang benar-benar rakyat jelata, punya teman pun sama buruknya. Bahkan wajahnya penuh luka."
Melia hanya menghela napas, menatap Gisell yang masih diam.
"Kamu kenapa sih diem aja, Sell. Mereka bakalan ngelunjak kalau nggak kamu lawan."
Gisell terdiam.
"Aku nggak punya apa-apa untuk melawan mereka, Mel. Kamu tahu bahkan orang tuaku kerja mati-matian agar aku tetap disini untuk itu aku tak akan mengusik mereka selagi tak melewati batas."
Melia menghela napas sejenak, Gisell bukanlah dirinya yang ketika membuat masalah Kevin akan datang menolong. Tiba-tiba ia teringata akan pria itu, sedang apakah dirinya?
"Kau tau siapa mereka Mel, yang itu. Dia adalah Clara, anak salah satu dari dua keluarga besar pemegang perusahaan hiburan jadi lebih baik kita tak usah meladeninya," Ujar Gisell berbisik, berharap Melia mengerti posisi sulitnya saat ini.
Melia membulatkan mata, akan tetapi rasa kesal semakin menjadi kala mendengar apa yang telah Gisell beritahukan padanya.