
Tak butuh waktu lama bagi Gio untuk mendapatkan apa yang ia mau, buktinya wakil direktur langsung menuruti perintahnya dan mengatakan jika parcel buah mewah sudah dikirim ke kamar ibunya Melia.
"Kerja bagus, dan sepertinya aku tidak perlu selang infus ini lagi. Aku ingin membersihkan diri dan berbenah!" tegas Gio, mengisyaratkan agar para dokter melepas selang infusnya. Toh, sepertinya dia beneran akan sembuh dengan adanya Melia Zain di sisinya.
"Kalian boleh pergi!" titah Gio.
Wakil Direktur rumah sakit keluar ruangan Gio dengan kepala pusing, karena dirinya sangat tahu siapa orang dibalik Melia Zain, dia juga tahu terakhir kali Tuan Muda Louis datang menjenguk pamannya sudah berhasil membuat Gio menghancurkan banyak barang, jadi dia pun tak berani memberitahun Kevin akan hal itu.
Sekarang yang harus ia lakukan adalah memperingati Melia untuk sementara waktu tidak datang ke rumah sakit, agar tidak terus bertemu dengan paman dari Tuan Muda Louis karena bisa dipastikan akan terjadi peperangan dalam keluarga besar Louis. Dan hal itu, tentu saja akan membuat statusnya di rumah sakit ini menjadi tidak stabil.
Melia berjalan kembali ke ruang rawat ibunya, sembari sesekali bersenandung. Melihat kamar rawat laki-laki tua yang tadi mengganggunya tampak sepi pun Melia tersenyum lega dan melewatinya begitu saja. Sampai di kamar, dahinya mengernyit seketika saat melihat parcel buah dengan bungkusan mewah terletak di atas nakas.
"Parcel dari siapa, Bu?" tanya Melia penasaran, apa mungkin dari Kevin? karena tidak mungkin jika dari temannya tampilannya sangat istimewa.
"Oh, kamu ingat pasien yang ibu ceritakan tadi?" tanya Sintia.
Melia mendadak merasakan firasat buruk.
"Yang membuat onar itu?" jawab Melia, Sintia mengangguk dengan senyum.
"Dia mengirim parcel, sebagai permintaan maaf karena menganggu istirahat ibu selama dia dirawat, apa kamu mengadukannya dengan Kevin?" tanya balik sang ibu.
Melia menggeleng, "tidak ada, Bu. Aku hanya tak sengaja bertemu langsung dengannya saat keluar tadi. Aku hanya bilang untuk lebih tenang agar ibuku bisa beristirahat." Melia mengusap bahu Sintia.
"Ibu istirahatlah, aku akan disini menjaga ibu."
"Apa kamu beneran sudah keluar bekerja?" tanya Sintia.
"Ibu tidak percaya kah? apa aku perlu menelpon Kevin untuk mengatakannya dengan ibu, kami berdua sudah punya rencana untuk kedepannya." bohong Melia.
"Ibu cuma khawatir dengan kalian," ucap Sintia.
"Ibu tenang saja, Kevin adalah laki-laki terbaik, dia melindungiku, menyayangiku, bahkan dia berniat menikahiku tanpa memandang statusku, bukankah itu artinya dia tidak perduli dengan perbedaan diantara kita, bahkan dia juga menyiapkan masa depan yang bagus untukku, memintaku kuliah bareng Gisell dan mengatur semuanya."
"Apa kamu yakin akan kuliah disana, jurusan modeling apa cocok untuk kamu jika kelak menikah dengan Kevin? apa tidak ganti jurusan lain saja." tanya Sintia.
"Ibu tenang saja, Kevin sudah memutuskan. Jadi dia pasti menerima resikonya, oh ya jurusan itu juga dia sendiri yang memilih untukku." terang Melia.
"Ibu percaya sama kamu, kalian baik-baik ya?" ucap Sintia, Melia mengangguk.
Sintia lantas memejamkan mata untuk tidur karena akhir-akhir ini kurang tidur membuatnya sedikit lebih kurus dan kantung mata menghitam.
Melia memastikan jikalau sang ibu sudah pulas dalam tidurnya, lantas membawa parcel itu keluar ruangan. Ia sama sekali tak berminat untuk menerima pemberian laki-laki kolot itu, lalu dengan cepat ia menaruh asal di depan pintu kamar milik paman Kevin. Saat sedang meletakkan parcel itu, pintu terbuka dan tangan Melia sudah ditarik untuk masuk ke dalam.
"Kau..." Geram Melia menatap tajam Gio yang mencengkram tangannya.
"Heii Nona cantik, kenapa harus bersikap galak." Gio berujar seraya melepaskan cengkraman tangannya, mencolek dagu Melia dengan genit, tatapan matanya penuh gelora saat melihat Melia, lagi-lagi ia harus kembali menelan ludah saat di bawah sana kembali bereaksi.
Dan saat itu Melia gunakan untuk memegang pinggang Gio dan mendorongnya ke lantai hingga laki-laki itu ambruk.
"Kenapa? aku peringatkan jangan sekali-kali menyentuhku, atau aku akan mematahkan jari-jarimu," ucap Melia pura-pura arogan.
Gio bangkit membenahi pakaiannya, matanya menatap tajam Melia yang seolah menatapnya jijik.
"Kau adalah orang pertama yang berani mengatakan hal itu padaku," ucap Gio diiringi tawa, merasa lucu dengan tingkah sok arogan Melia.
"Memangnya kenapa? apa kamu pikir aku takut, hah?" ujar Melia.
Gio lagi-lagi hanya tertawa, menertawakan keberanian Melia. Memangnya siapa yang berani mengusiknya, di negara ini bahkan tak ada yang bisa menandingi kekuasaan keluarganya.
"Kenapa tertawa, heh! Aku adalah orang yang tidak bisa kamu ganggu, kedepannya lebih baik menjauh jika kamu cukup tahu diri," ujar Melia, ia hendak berbalik akan tetapi tangan Gio menahannya.
"Kau benar-benar menggemaskan, aku tadi hanya bercanda. Jika kau tak menyukai parcelnya, tidak apa-apa. Aku hanya ingin berkenalan denganmu yang imut ini, apa tidak boleh?" Gio yang merasa kesal dengan sikap Melia pun mengubah taktiknya, berbicara lebih lembut dan ramah.
"Kamu sama sekali tidak pantas berkenalan denganku!" Melia langsung melepas diri meninggalkan Gio yang mematung, wajahnya menggelap seketika. Namun, Gio berusaha menahan diri karena ia masih memiliki banyak taktik, maka dia pun tak akan terburu-buru dalam hal ini.
Drrttt...
"Dimana?"
Melia mengerutkan kening saat membaca pesan masuk dari Kevin, setelah mengabaikannya tiba-tiba laki-laki itu mengirim pesan. Ada rasa senang menyeruak, akan tetapi tiba-tiba dia mencibir kesal.
"Sebel, tapi pengen ketemu." Gerutu Melia.
"Di rumah sakit, temani Ibu." Melia membalas singkat, tanpa bertanya kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Ia kembali masuk ke ruang rawat Ibunya. Kevin yang kala itu hampir sampai di rumah tiba-tiba memutar mobilnya menuju rumah sakit.
"Kita mampir ke toko bunga," ujarnya kepada sopir.
"Baik, Tuan!"
Kevin memutuskan untuk membeli buket bunga untuk ibu Melia, sekalian dia ingin berbicara pada gadis itu perihal rencananya.
Tak butuh waktu lama, kini mobilnya sudah sampai di halaman parkir rumah sakit, dengan gagah ia turun sembari membawa buket bunga di tangan. Kevin berjalan disambut wakil kepala direktur dengan gemetar.
"Tuan kenapa kesini?" Wakil Direktur merutuki kebodohannya dengan menutup mulut.
"Maaf maksud saya, apa Tuan mau menjenguk paman anda."
"Tidak, aku mau bertemu kekasihku!" ujarnya yang tetap berjalan lurus. Wakil Direktur dan beberapa dokter pun mengikutinya hingga sampai lantai dimana Ibu Melia berada.
Namun, hal terduga lainnya adalah ia malah berpapasan dengan Gio. Kevin dengan cuek melewatinya begitu saja tanpa menyapa sementara Gio seolah meminta penjelasan lewat sorot mata kepada Wakil Direktur.
Dengan gementar Wakil itu menjawab.
"Maaf Tuan, Tuan Muda Louis datang untuk bertemu kekasihnya," ucapnya terbata, Gio langsung memutar pandangan dan melihat ke arah Kevin. Saat tahu laki-laki itu mengetuk pintu kamar rawat ibu Melia, Gio pun mematung seketika.