One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 47



"Jadi?" tanya Kevin.


"Jadi apa?" Melia yang mulai hilang kesabaran meninggikan suaranya, lantas ia mundur dan terduduk di sofa, tangannya mengusap wajahnya kasar. Melia merasa sangat bodoh sekarang.


Banyak hal yang akan kita lalui, perdebatan kecil ini hanyalah awal dari bumbu.


Kisah kita sebenarnya baru akan dimulai


"Kamu nyebelin, kamu pria paling nyebelin." Entah kenapa berdebat dengan Kevin membuatnya bersikap sangat kekanak-kanakan.


Kevin hanya tersenyum sinis, "apa bedanya sama kamu?" tanya Kevin. Melia mendekus, lantas menghentakkan kakinya tanda protes.


"Jelas beda, kamu mesum. Kamu bahkan udah nidurin aku, kamu gak tahu malu." pekik Melia.


Kevin menajamkan mata, bisa-bisanya Melia membahas hal itu lagi. Kali ini ia beneran marah, "iya kenapa? kamu gak perlu terus-terusan mengungkit hal itu, seolah aku ini laki yang tidak mau bertanggung jawab." kecam Kevin.


"Aku akan menyelamatkan ibumu, aku juga sudah berjanji akan menikahimu, tapi kenapa kamu terus membahasnya seolah aku ini akan lari, seolah hutangku selamanya tidak akan bisa lunas. Kamu sabar dong?" kesal Kevin, ia mengusap wajahnya kasar.


"Kamu terus nyalahin aku?" dengan nada bergetar, mata Melia mulai berkaca-kaca, Kevin belum menyadari hal itu.


"Kamu sendiri yang membahasnya, oke aku akan nikahin kamu. Tapi kamu bisa sabar?" tanya balik Kevin, kini dua mata itu beradu pandang.


"Jadi kamu nyalahin aku, hiks." Nada Melia hampir menangis, ia tak menyangka jika Kevin akan memarahinya.


"Sudah, jangan bahas lagi. Kamus sediri tadi yang bahas duluan, malah sekarang mau nangis."


"Menjadi nyonya CEO tak semudah itu?" ucap Kevin, Melia yang mendengar pun menunduk dalam.


Melia sadar, akan posisinya dalam hidup yang sudah sulit dari awal. Mungkin, satu-sqtunya alasan Kevin adalah karena dia bukan dari golongan orang kaya, mungkin saja.


Kevin menghela napas sejenak, mengetuk-ngetuk meja karena kecanggungan menghampiri.


Sejujurnya ia tak bermaksud memojokkan Melia dengan statusnya, Kevin hanya ingin jikalau Melia jujur padanya tentang tujuan sebenarnya. Hanya itu.


"Kenapa aku terus disalahkan, aku hanya ingin memperjuangkan hakku. Laki-laki lain mungkin tak akan menerimaku jika aku tak jadi menikah denganmu."


"Aku yang akan menikahimu." Tekan Kevin.


"Apa karena aku orang miskin, dan statusku adalah anak har..."


"Bukan!" potong Kevin cepat, susah sekali menjelaskan kepada Melia, Kevin hanya ingij Melia mengatakan yang sebenarnya, Kevin hanya ingin mendengar langsung dari mulut Melia, bukan dari Alan atau orang lain.


"Bukan karena itu," ucap Kevin memelankan suara. Melia lantas bangkit, ia berjalan ke arah kaca besar dimana pemandangan Jakarta di siang hari nampak jelas di sana. Tangannya terlipat di depan dada.


"Lantas karena apa?"


Kevin terdiam sesaat, memijat pelipisnya pusing.


"Ini tidak ada hubungannya dengan identitas, aku gak pernah mempermasalahkan hal itu, aku cuma mau tau alasan kamu sebenarnya, bisa?" tanya Kevin, ia berusaha meredam amarahnya, bicara dengan Melia tak bisa langsung to the point. Melia tipe orang keras, sama halnya dengan dirinya. Namun, Melia juga sebenarnya sedang rapuh.


Kevin sangat tahu alasan apa Melia meminta menikahinya, Kevin sangat tahu. Yang membuat ia tak habis fikir kenapa Melia tidak pernah jujur, itu saja.


"Alasanku, karena kamu sudah meniduriku. Itu saja. Nggak ada maksud lain." kesal Melia, jika bukan karena ego yang menjulang tinggi mungkin ia sudah menangis sekarang. Beban Melia terlalu berat, ia ingin Kevin menjadi tameng dalam melawan istri sah sang papa dan anak-anaknya kelak.


"Tapi kenapa aku yakin bukan hanya itu?" tanya Kevin, Melia menoleh lantas menghampiri Kevin dengan sorot mata tajam.


"Hanya itu, memangnya apa? Apa kamu tak percaya padaku?"


"Mungkin tidak," ucap Kevin semakin mrmbuat Melia menekuk wajahnya.


Melia kembali duduk, matanya menyapu kr seluruh ruangan maskulin milik Kevin. Benar-benar sesuai dengan orangnya.


Di ruangan Lain, Alan tersenyum puas. Ia senang sepertinya melihat kedatangan Melia ke ruangan Kevin, bahkan sampai sekarang gadi itu belum nampak keluar ruangan.


"Mood Kevin pasti membaik, apalagi Melia datang. Pasti gadis itu mau menjelaskab sesuatu. Pikir Alan.


"Mel, katakan dengan sesujurnya. Kamu mrmbutuhkan identitas CEO ini untuk apa? seharusnya kamu tahu, aku bisa melakukan apapun bahkan meneliti masalahmu sekalipun." tekan Kevin.


Melia menggeleng lemah, ia masih saja mengelak.


"Kamu mau balas dendam dengan keluarga papamu kan? kau ingin status itu karena dengan begitu kamu bisa membalas mereka."


Melia masih berusaha mengelak, meski sebenarnya ia benar.


Wajar jikalau letih


Kadang datang hampiri hati


Melemahkan langkah kaki


Membuatmu tertatih


Wajar jikalau jenuh


Kadang terselip di tawamu


Menggoyahkan dinding hati


Mendatangkan ragu


Jadi coba dengarkanlah


Semangat jiwa terluka


Aku percaya kita 'kan bisa lewati semua


Lewati semuanya


Belum saatnya untuk menyerah


Hadapi semua dengan yang kita punya.


🍁🍁🍁


Melia dilema, antara berkata jujur untuk sebuah kepercayaan atau membohongi. Karena Melia pikir, Kevin belum saatnya tahu. Namun, Melia khawatir jika ia akhirnya mengecewakan. Dengan tubuh gemetar ia menggeleng untuk sekian kalinya. Ini langkah yang cukup sulit baginya. Melia memilih diam meski Kevin berulang kali mencercanya dengan pertanyaan yang sama.


"Apa aku harus berkata yang sebenarnya, tujuanku? tapi bagaimana kalau dia berfikir buruk akanku, aku belum siap. Aku harus bisa membalas mereka lebih dulu, baru akan berfikir tentang perasaan." batin Melia, ia menggigit jarinya dan duduk resah di sofa. Kevin benar-benar mendiamkannya kah?


Air matanya hampir tumpah, tak pernah ia merasa sesedih ini. Namun, untuk menangis Melia juga tidak bisa.


Kevin menghela napas kasar, "Nggak bisa? mengatakan yang sebenarnya?"


"Aku beneran nggak ada niat apapun, aku cuma mau kamu nikahi aku karena sejak malam itu, aku merasa diri ini hancur, aku tidak bisa menikah dengan orang lain."


"Jangan salahkan aku," sambungnya lagi.


"Baik, tapi ingat. Kamu tidak bisq menantangku dalam hal apapun." tegas Kevin dengan raut wajah kecewanya.


Melia merasa sangat bersalah, tapi lagi ia tak bisa mengatakan yang sejujurnya.


Di kamar rawat, Sintia mulai khawatir, lantaran tadi Kevin langsung mematikab telepon tanpa berpamitan. Dalam bati berfikir apakah Melia membuat ulah disana?


Sintia mencoba memejamkan mata, akan tetapi tak bisa. Ia merasa khawatir berlebihan. Dokter Revan datang memeriksa, pandangannya menyapu ke seluruh ruang rawat Sintia.


"Melia gak disini, Bu? apa dia gak menemani ibu?" Tanya Revan. Dokter tampan itu memang baik, pikir Sintia.


Bahkan sebelum bertemu dengan Kevin, Dokter Revan-lah yang jadi penyelamat dirinya di rumah sakit ini dari ancaman Lyn. Sintia jadi merasa bersalah, ia menilai bahwa dokter tampan itu memiliki rasa untuk putrinya.