One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 67



Setelah memastikan TV menyala yang akan menampilkan video dari DVD pemberian Kevin, Verell dengan sengaja meletakkan remote-nya di atas meja, tepat diantara formasi mereka. Laras menegang, ia merasakan firasat buruk akan video yang di putar oleh adik tirinya. Layar menyala, Farhan fokus menatap layar televisi. Dan tak berselang lama terlihat gambar video yang berputar, dimana Laras sedang berada di sebuah kamar hotel bersama beberapa pria.


Wajah Laras seketika memucat, Farhan tak kalah terkejutnya kala melihat Laras tersenyum bahkan meminta para pria itu mengejarnya, pakaian yang dikenakan Laras pun sangat seksi.


Laras tampak sedang bermain di kamar hotel sambil tertawa dengan beberapa pria. Melihat adegan dalam video itu dengan panik Laras langsung meraih remote dan mematikan televisinya.


Dalam video itu, Laras tampak menikmati suasana, tawanya bersama beberapa pria masih menggema di seluruh ruang meski layar televisi sudah dimatikan. Farhan tampak terkejut, lalu dengan gusar ia meminta Verell agar membawa kakaknya ke masuk ke dalam kamar.


"Rell, bawa Laras masuk ke kamar!" titahnya dengan raut wajah kecewa, Verell mengangguk. Namun, Laras menolak masuk ke dalam kamar.


"Nggak, Pa. Aku mau disini, itu bukan aku. Mungkin saja itu orang lain yang mirip denganku, aku tidak tahu siapa mereka?" elak Laras meski wajahnya sudah memucat sedari tadi.


"Diam kamu!" bentak Farhan, akan tetapi Laras tidak akan menyerah, karena sebentar lagi mungkin Kevin akan menghancurkannya, terlebih jika video itu sampai diputar hingga akhir.


Kevin menyeringai, meski Laras menyangkalnya, ia cukup puas melihat wajah ja lang itu ketakutan.


"Pa, itu bukan aku, ini pasti hanya akal-akalan Kevin untuk menolak dijodohkan denganku, papa tau sendiri kan? aku tidak pernah melakukan hal yang melewati batas, dia menjebakku, Pa. Kevin menjebakku!"


"Om Farhan tidak akan kecewa mempercayai saya, karena saat kejadian ini saya belum kenal dengan Melia. Jadi, ini video ini murni dibuat dan salah satu pria yang bermain disanalah yang mengirimkannya ke saya," jelas Kevin.


"Bohong!" Laras tentu tau jelas saat salah satu pria yang bersama mereka membuat video ini.


"Kevin pasti mengada-ada, dia melakukan ini karena ingin menghancurkanku, Pa! Dia ingin menghancurkanku!" pekik Laras berteriak.


"Sudahlah, bukankah kamu dengan senang hati melakukannya, kenapa masih tidak mau mengaku?" ucap Kevin melirik sinis Laras.


"Papa kecewa sama kamu, kamu yang bersalah dan berulah kenapa malah menyalahkan adikmu, selama ini papa selalu percaya apapun perkataanmu, bahkan saat kamu bilang adikmu menjebakmu, papa percaya begitu saja. Tapi hari ini, kamu bukan hanya menghancurkan kepercayaan Papa, tapi kamu juga menjadi orang yang sangat jahat!" marah Farhan.


Laras terdiam, tangannya mengepal erat. Entah siapa yang harus ia salahkan saat ini, akan tetapi Melia sudah berada di genggamannya maka dengan senang hati ia akan membuat Kevin merasakan hal yang sama.


"Dan hukuman yang pantas buatmu, papa sudah memutuskan jika kamu akan menggantikan adikmu, Verell pergi ke luar negeri!" tegas Farhan, di balik perkataan itu ada Verell yang sedari tadi berkabut kini matanya berubah berbinar. Namun, Verell berusaha menyembunyikan euforianya, karena melihat nasib sang kakak yang harus menggantikan dirinya pergi ke luar negeri.


Dalam keluarga konglomerat seperti mereka, ke luar negeri adalah pilihan yang sulit. Ada dua arti, yang pertama jika seorang anak dikirim ke luar negeri itu untuk mengembangkan kemampuan anaknya. Pilihan yang kedua adalah karena ingin membuang sang anak jauh-jauh dan tak lagi memperdulikan kehidupannya disana. Dan yang dimaksud oleh Farhan adalah yang kedua. Laras tak terima, ia tak ingin ke luar negeri sendiri dalam artian keluarga mencampakkannya, meski ia masih bisa hidup disana tapi hal itu sama saja membuat rencananya berantakan.


Laras tak menyangka, papanya akan semarah ini. Ia mulai putus harapan.


"Apa sudah puas kamu menghancurkan hidupku sekarang? kamu puas kan, karena pada akhirnya aku akan dibuang dan kamu bebas berbahagia dengan ja lang itu," pekik Laras dengan sorot mata tajam menatap ke arah Kevin yang saat ini menyandarkan punggungnya di sofa. Laki-laki itu memasang wajah dingin, namun sikapnya terlihat sangat santai menghadapi keluarga Laras.


"Laras!" bentak Farhan, pria paruh baya itu terlihat pusing mendengar ucapan anaknya.


"Kevin, masalah ini biar aku yang bereskan!" ucap Farhan.


"Laras apa kamu sadar yang sudah kamu ucapkan, kenapa kamu bukan menyadari kesalahanmu dan malah menyalahkan orang lain, seharusnya sebelum kamu melakukan hal itu, kamu pikir dulu resiko apa yang akan diterima, selama ini papa selalu memanjakkan kamu dengan harapan kamu bisa menjadi apa yang papa inginkan, tapi apa yang terjadi sekarang? kamu membuat papa kecewa, kamu membuat kepercayaan papa padamu hilang, meski video itu tak berlanjut! tapi papa mengenali kamu, apa kamu masih mau mengelak?" tanya Farhan dengan penuh penekanan.


Laras merasa putus harapan, mau mengelak seperti apapun, papanya sudah tidak percaya karena dalam video itu nyata jelas dirinya.


Ia diambang emosi yang tinggi, Kevin benar-benar sudah menghancurkannya. Tapi, kita lihat bagaimana laki-laki itu bersikap setelah tahu saat ini tunangannya ada di tangan Laras.


"Apakah kamu yakin, Kev bahwa mengusirku ke luar negeri akan membuat Melia aman. Ha ha, kamu salah! Justru saat ini, tunanganmu itu sedang berada di tanganku, aku ingin lihat hal apa yang akan kamu lakukan lagi untuknya, aku ingin lihat bagaimana kamu hidup dalam keputusasaan yang sama sepertiku," desis Laras.


Kevin mengernyitkan dahi, "mau mengancamku?" tanyanya.


"Aku tidak sedang mengancam, aku hanya memberitahu semisal aku ke luar negeri pun. Aku masih bisa menyuruh seseorang untuk menghancurkan tunanganmu. Kamu tahu kan, sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan, mana boleh orang lain dengan mudah mendapatkannya, dan ingat baik-baik bahwa aku tidak sedang bercanda."


"Laras!!" bentak Farhan, gadis itu tak merasa ketakutan, ia justru menyeringai licik menatap ke arah Kevin dan papanya.


***


Pandangan Melia menjadi buram saat sesuatu mengenai kakinya, ia merasakan sakit sekaligus ketidaksadaran di waktu yang sama, samar- samar masih terlihat laki-laki yang sempat menyeringai ke arahnya. Dengan sisa kekuatan yang ia punya, Melia mencoba memohon.


"Tolong, jangan biarkan mereka menyentuhku!" selesai berbicara sepatah kata, Melia tak lagi mulai sadar. Laki-laki itu terdiam di tempat, Melia yang sudah tak sadar di tangannya serta beberapa rekan yang mulai melangkah mendekatinya.


"Bawa sekarang? boss bilang, jangan sentuh dia!" titah salah satunya.


"Sayang sekali, padahal kita bisa berpesta dan melakukannya bergilir," ucap yang lain diiringi gelak tawa.