
Laras datang, ia bertepuk tangan seraya memandang sinis Verell dan Melia bergantian. Tak menyangka jika datang disaat keduanya sedang mengobrol masalah perasaan membuat Laras mencebik seraya memutar bola mata malas. Awalnya Laras tak mengenali Melia sama sekali saat berdiam di balik pintu ruangan Verell yang sedikit terbuka, tak menyangka adiknya yang bodoh itu menyebut nama Melia. Membuat ingatan Laras kembali, teringat akan wanita yang beberapa waktu lalu menggoda Kevin, laki-laki incarannya.
"Breng sek!" umpat Laras kesal, namun ia masih menguping di balik pintu, menahan orang-orangnya agar tidak dulu masuk ke dalam dan menangkap Verell, Laras menginterupsi untuk mengosongkan bar lebih dulu agar lebih mudah menyerang mereka.
Andre yang merasa ada kerusuhan di Bar miliknya tak bisa berkutik, ia tak memiliki perlindungan saat seorang gadis menerobos masuk mencari seseorang dengan membawa pasukan. Sungguh, Andre sangat tahu siapa wanita itu dan dirinya sama sekali tak punya nyali untuk menyinggungnya.
"Maafin aku, Mel." gumaman Andre dengan raut wajah bersalah, ia tahu Melia saat ini berada di ruangan Verell, ia tahu Melia pasti akan ikut terlibat masalah itu. Sementara Andre tak bisa menolong karena kini ia juga berada dalam ancaman.
Plok... Plok... Plok... Laras bertepuk tangan seraya masuk ke dalam.
Bagus, sangat bagus. Aku keluar berniat mencari seseorang malah bisa melihat drama sebagus ini." Laras bertepuk tangan, matanya menyalang menatap sinis ke arah Melia dan Verell bergantian. Verell mengusap wajahnya kasar, menghela napas, sudah di pastikan jikalau kakak tirinya itu akan berulah lagi, mengacaukan hidupnya lagi. Bisa jadi setelah ini hidupnya akan semakin rumit, ataukah ia memang tak lagi memiliki kesempatan untuk hidup?
"Kenapa kamu kesini?" tanya Verell yang melihat Laras masuk dengan mata penuh sorot kebencian.
"Kenapa? hmm, tentu saja aku datang untuk menangkapmu..." Laras menjeda ucapannya kemudian menatap Melia remeh.
"Ternyata, kamu tidak pulang ke rumah untuk mencari pacar baru ya ho ho?" Laras terbahak.
"Ini tidak ada hubungannya dengannya, aku akan ikut pulang denganmu asal kamu jangan berniat menyentuh orang lain, atau mengganggunya." tekan Verell.
Laras terkekeh pelan, merasa lucu dengan jawaban adik tirinya yang seolah ingin melindungi Melia.
"Sudah terlambat, sayang sekali. Awalnya aku tak mengenali dirimu dan wajah jelekmu, tapi berkat adikku tersayang ini. Aku jadi tau kamu siapa, heh."
"Kamu kenal dia, Mel?" tanya Verell, menatap Melia.
"Aku tidak mengenalnya, hanya saja aku pernah bertemu sekali dan aku mengatainya tua dan jelek, bukankah begitu?" santai Melia.
"Bagus, itu memang benar. Aku setuju dan suka dengan perkataanmu," ucap Verell menyunggingkan senyum. Laras semakin kesal, disaat terdesak seperti ini dan Verell masih bisa-bisanya ikut menghina hanya karena seorang gadis seperti Melia?
"Mamanya yang sudah meninggal pun, jika tahu kelakuan anaknya be jat dan kotor, pasti akan menyesal jika tau. Menyesal karena pernah melahirkan anak sekotor dia." sindir Verell semakin memancing emosi di diri Laras.
"Cehhh, bagaimana kamu dan ibumu tidak tahu diri datang di kehidupan keluargaku, sekarang kamu pasti akan menyesal setelah mengataiku seperti itu." hardik Laras.
Melia memutar bola mata malas, Laras memang berani pikirnya.
Verell ikutan berdecih, menatap kakak tirinya jijik.
"Semuanya, masuk dan pukul Verell." teriak Laras, tak berselang lama, beberapa orang dengan memakai jaket kulit hitam berbadan kekar masuk ke dalam. Raut wajah garang serta dengan kalung rantai di Leher, membuat Melia menciut, sudah dipastikan jika laki-laki itu adalah segerombolan preman bayaran.
Bugh!
Dua pukulan tepat mengenai rahang Verell, Melia menjerit saat darah segar keluar dari sudut bibir laki-laki itu, Laras tersenyum smrik.
"Tolong panggilan darurat," Melia berusaha meminta pertolongan, menghubungi bawahannya namun tak ada tanda-tanda orang datang untuk menolong. Melia sungguh bingung, ia berusaha menghalangi orang-orang Laras. Meski Melia tak kena sebuah pukulan dan berhasil menangkis, akan tetapi dia hanya seorang wanita biasa.
"Breng sek! beraninya keroyokan," umpat Melia, Laras sama sekali tak menggubris. Yang wanita itu butuhkan adalah membuat wajah Melia hancur juga membuat Verell babak belur.
"Tolong," pekik Melia saat dilanda kepanikan, gadis itu memekik namun tak ada satupun yang menolongnya.
"Silahkan berteriak sekeras mungkin, ha ha ha... Tak akan ada yang datang menolongmu, ja lang sepertimu aku ingin lihat apa masih bisa menggoda laki-laki lain setelah wajahmu rusak." kecam Laras, Melia beringsut mundur.
"Breng sek! Jangan sentuh Melia dengan tangan kotormu," ucap Verell yang sudah hampir babak belur.
"Wah wah wah, rupanya sudah beneran jatuh cinta sama wanita ja lang ini. Bagus, bagus setelah wajahnya rusak nanti aku ingin lihat seperti apa nyalinya, apa masih bisa menggoda Kevin."
"Jangan sentuh dia!" teriak Verell lagi, setiap kali bersuara, saat itu juga satu pukulan mendarat di perutnya.
Sial.
Melia berusaha bersikap tenang, selama bawahan Laras belum menyerangnya, ia masih saja aman. Hanya saja, untuk menolong Verell ia tak lagi bisa.
Laras tertawa melihat kepanikan Verell, ia bisa melihat jikalau adiknya itu sangat menyukai Melia, kesempatan seperti ini mana boleh dilewatkan.
"Ups! Kamu beneran suka ya adik, ya ampun! Bagaimana kalau setelah aku merusak wajahnya lalu memberikannya padamu, adik. Biar kalian bisa tidur bersama whe he he he."
Laras menjeda ucapannya, tertawa sinis menatap Melia.
"Dan aku ingin lihat, apakah Kevin masih mau dengan wanita sepertimu setelah tahu kamu begitu kotor dan menjijikan, aku yakin Kevin akan membuangmu," ucap Laras begitu semangat.
Melia tertekeh pelan, "kamu yang sudah kotor pun ingin orang lain sama sepertimu, Ck! sayangnya, Kevin sendiri berkata padaku bahwa wanita yang sangat dibencinya adalah kamu. Kamu tahu kenapa? heh..." Melia menjeda ucapannya, melihat raut wajah Laras berubah seketika membuat Melia tertawa dalam hati.
'Mau melawanku, siapkan metalmu lebih dulu wahai wanita ja lang, hanya orang kaya dan manja sepertimu, belum mengerti kerasnya hidup maka bersiaplah kalah.'
"Kamu tahu kenapa? karena Kevin sangat membenci wajahmu, Kevin sangat muak saat mengingat kamu berusaha menjebaknya dan memberinya obat, ck! bisa jadi melihat wajahmu membuatnya ingin muntah," ucap Melia bangga.
Laras yang beneran menyukai Kevin merasa sangat kesal, ia tak terima akan pernyataan Melia barusan. Laras sangat kesal, ia pun mengisyaratkan bawahannya untuk menangkap Melia.
"Kalian tangkap ja lang breng sek itu, dan buat wajahnya rusak! Kelak, jika aku tidak bisa mendapatkan Kevin, kamu pun takkan kubiarkan memilikinya dengan tenang." pekik Laras setengah berteriak, matanya menyalang tajam.