One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 89



Kevin mengikuti langkah dokter itu hingga sampai di sebuah ruangan.


"Silahkan duduk, Pak Kevin." Titahnya seraya mengambil kursi, tak berselang lama Dokter dan Kevin sudah duduk berhadapan.


"Apa benar pasien yang anda bawa tadi adalah Kekasih Pak Kevin?" tanya dokter itu dengan raut wajah serius. Kevin mengangguk tanpa ekspresi.


Dokter itu berulang kali menghela napas, justru karena dia tahu Kevin Reyhan Louis adalah cucu dari pemilik rumah sakit jadi dia tak mengatakan langsung di depan tadi.


"Maaf, apa Pak Kevin juga tahu bahwa saat ini ia sedang hamil?" tanya Dokter itu lagi.


Deg.


Waktu seakan berhenti berputar, Kevin terkejut dengan ucapan Dokter di depannya saat ini, apakah Melia hamil? Apa itu benar? Jadi mimpi kemarin adalah sebuah firasat.


"Boleh saya menemuinya dulu? dan tolong pindahkan dia ke kamar rawat VIP."


Dokter itu mengangguk, Kevin keluar dengan napas memburu.


Entah kenapa ia merasa sesak sekali, hingga sulit mengekspresikan perasaannya, antara harus senang atau sedih.


Tak butuh waktu lama, Melia kini sudah sadar dan dipindahkan di kamar rawat VIP.


"Nona tenang dulu ya, istirahat yang baik agar tenaganya lekas pulih karena kondisi anda saat ini lemah sekali," ujar Suster seraya tersenyum.


Melia menatap selang infus di tangannya dengan bingung, ia masih berusaha mengingat-ngingat kenapa malah bisa masuk rumah sakit bukankah ia sedang bicara dengan Kevin?


"Saya permisi dulu, Nona."


Melia hanya mengangguk.


Setelah Suster keluar, tak berselang lama Kevin masuk dengan raut wajah kusut.


"Kev, kok bisa aku masuk rumah sakit?" tanya Melia.


Kevin sendiri bingung harus bagaimana? Melihat ekspresi Melia, Kevin yakin gadis itu belum tahu kalau dirinya hamil.


"Kamu sakit, kamu sendiri kenapa gak bilang kalau lagi sakit." Kevin pura-pura mengomel.


"Aku gak sakit," ucap Melia hendak bangkit untuk duduk akan tetapi tubuhnya menjadi lemas sekali.


"Kamu sakit, kalau gak sakit kenapa pingsan? Jangan ngeyel, kamu mau duduk biar aku bantu."


Melia hanya mengangguk pasrah saat Kevin membenahi posisinya.


"Aku beneran gak sakit kok, kamu sendiri juga lihat kan tadi aku baik-baik saja."


"Iya iya, aku tahu. Kamu pengen apa?" tanya Kevin.


Melia menggeleng.


Kevin menghela napas berulang kali, merasa tak tega kepada Melia untuk memberitahu perihal kehamilannya.


"Mel, kita harus segera menikah," ucap Kevin dengan nada serius.


Deg, Melia tertegun dengan penuturan laki-laki itu. Namun, untuk mengiyakan apa itu mungkin? kehidupan mereka sangatlah jauh, akan ada banyak pihak yang tak setuju.


Bagaimana dengan keluarga Kevin? kedua orang tuanya? atau bahkan orang-orang di sekitarnya?


"Tapi..."


"Kamu cukup bilang iya, masalah keluargaku biar aku yang mengaturnya, mereka pasti setuju." Kevin berujar penuh keyakinan.


Melia memikirkan bagaimana Kevin terus melindunginya saat ia membuat masalah, akhirnya ia pun hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.


Namun, detik berikutnya ia memalingkan wajah dan merenung. Kevin menggenggam tangan Melia kemudian menciumnya.


"Maaf," ucap Kevin.


Aku pasti akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu, Melia.


Aku pasti akan menikahimu.


Kevin berjanji dalam hati, ia tak ingin Melia menanggung sendiri terlebih semua ini karena kesalahannya.


"Aku pulang sebentar, kamu istirahat dengan baik. Hanya sebentar, aku sudah meminta pengawal bilang ke Ibu kalau kamu masuk angin." Kevin mengusap-usap rambut Melia, lalu beranjak.


"Iya," Singkat Melia, karena menurutnya sikap Kevin yang berubah drastis membuatnya semakin merasa curiga.


Kevin mencium kening Melia sebelum pergi, lagi-lagi semakin membuat Melia penasaran.


***


"Sus, sebenarnya saya sakit apa?" tanya Melia saat seorang suster datang ke ruang rawatnya.


Suster itu mengulas senyum.


"Nona, anda hanya kelelahan karena hamil tri semester pertama, kandungan anda lemah sekali jadi perlu dua atau tiga hari istirahat total."


Deg!


"Ha-hamil?" tanya Melia tak percaya, suster itu pun mengangguk.


"Iya Nona, selamat ya!"


Setelah suster itu berlalu, Melia tak kuasa menahan tangisnya, jadi ini penyebab Kevin berubah perhatian dan mengajaknya menikah? karena dia hamil? karena rasa tanggung jawab laki-laki itu?


"Aku hamil? kenapa hamil?" tanyanya pada diri sendiri tak terasa air matanya jatuh, detik berikutnya ia menangis sendiri.


Sementara di kediaman Louis, Kevin baru saja sampai dan langsung menemui Kakeknya.


"Kek."


"Anak nakal, baru ingat pulang!" gerutu Kakek Louis akan tetapi dengan isyarat tangan meminta Kevin mendekat.


"Maaf," ujar Kevin.


Louis mengangguk, "nikahi dia secepatnya, Kakek tahu belakangan kamu selalu melindunginya."


"Apa Kakek mau menerimanya, dia..."


"Kakek tahu, Kakek bisa mengaturnya untukmu! Lagi pula, bukankah saat ini dia sedang mengandung anakmu?"


Deg!


Rupanya sang kakek sudah tahu lebih dulu sebelum ia menjelaskan masalahnya. Kevin menghela napas, menatap Louis.


"Kakek tahu?" tanya Kevin.


"Tentu tahu, dasar bodoh! Mintalah restu sama Mama Papamu." titah Louis.


"Baik, Kek! Aku akan bicara sama Papa Mama lebih dulu!" Kevin melenggang pergi, ia menemui kedua orang tuanya yang sedang bersantai di samping rumah.


"Ma Pa, Aku mau menikah!" Kevin berujar tanpa ekspresi.


"Kamu sudah memaafkan Laras?" tanya sang Mama yang bangkit kemudian menghampiri Kevin dengan sumringah.


"Bukan dengan Laras!" tegas Kevin, ia melirik sang Papa yang tampak sama terkejutnya.


"Tapi, Kev!" sela sang Mama.


"Ada tidaknya restu kalian, aku tetap akan menikahinya! Sekalipun dia bukan sederajat dengan kita, setidaknya ia bukan wanita yang mengumbar tubuhnya pada banyak laki-laki," Kevin berujar seraya melirik sinis sang Papa, laki-laki itu gelagapan.


"Laras bukan orang seperti itu, apa kamu masih percaya sama gosip."


"Ma, aku sudah dewasa! Toh selama ini aku tidak pernah merepotkan kalian, sejak kecil aku selalu bersama Kakek, kenapa saat sudah dewasa kalian jadi sok mengatur dan kerepotan dengan siapa aku nikah!"


"Kevin yang sopan sama mama kamu." bentak sang Papa.


"Sudahlah, Pa. Kevin benar, kita selalu mengabaikannya, dan sekarang ia berhak memilih dengan siapa akan menikah. Maafin Mama, Kev. Jika selama ini tak pernah memahami kamu."


"Hm, ya. Aku cuma minta restu kalian, karena secepatnya aku akan menikah."


"Ya, bawa gadis itu untuk berkenalan dengan kami, Papa tunggu."


"Baik." balas Kevin kemudian melangkah pergi.


Sebenarnya, bukan tanpa alasan Kevin bersikap acuh dengan kedua orang tua. Dulu, ia sering melihat sang Papa gila perempuan, sama persis dengan Gio, pamannya. Meski hubungan Papa dan Mamanya terlihat baik-baik saja akhir- akhir ini, Kevin sendiri tahu karena kelakuan sang Papa, Mama jadi melampiaskan kesalahan itu padanya, mengabaikannya bertahun-tahun dan memaksanya dewasa tanpa panutan kedua orang tua.


Kita akan segera menikah, Melia.


Kevin menghempas tubuhnya di atas ranjang king size, ia berencana kembali ke rumah sakit sebentar lagi untuk melihat Melia, khawatir suster akan bicara macam-macam dan Melia tahu kalau sedang hamil.