One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 70



"Janji?" tanya Melia dengan kening mengkerut, ia sedang pura-pura melupa akan apa yang ia janjikan kepada Erick.


Flash back,


Di sepanjang jalan, Erick bercerita tentang masa kecilnya bersama sang kakak, Melia yang belum tahu orang yang dimaksud Laras pun sangat tersentuh dengan cerita Erick, dimana sang ayah, dirinya dan kakak perempuan hidup saling menyayangi dan melindungi.


"Aku tahu, kakakku itu sangat suka bertingkah, tapi kami selalu memaafkannya, selalu melakukan segala cara agar ia tetap baik-baik saja."


"Wah hebat sekali, kalian hidup saling menyayangi satu sama lain." puji Melia dengan senyum tipis, tak butuh waktu lama untuk ia dan Erick mengakrabkan diri.


"Tentu, meskipun kelakuan kakakku cukup buruk, bagaimanapun dia adalah kakakku." Erick menerawang, bagaimana jika gadis di sampingnya ini tahu kalau wanita yang berusaha membunuhnya adalah Laras kakaknya?


"Kamu harus ingat janjimu tadi, kalau kamu tidak akan membalas apa yang wanita itu lakukan padamu!"


"Hmm..." Melia hanya bergumam pelan, akan tetapi bagi Erick itu adalah jawaban 'iya'.


Flashback off.


Melihat ekspresi Melia membuat Erick bingung harus berbuat apa, ia paham gadis itu sangat kesal terhadap Laras, pun juga dia yang sebenarnya sudah muak dengan segala tingkah buruk sang kakak.


"Kev, tolong lepaskan saja dia." mohon Erick.


Karena Kevin dan Erick sudah berteman sejak kecil, juga dalam hal bisnis mereka saling membantu maka ia melepas cengkraman tangannya di leher Laras, pun juga dengan Melia.


Laras terduduk di lantai dengan napas tersengal, sedari tadi ia berusaha terlihat baik-baik saja saat tangan Kevin mencekik lehernya, dibalik itu ia sungguh kesusahan bernapas dan hampir mati. Setelah lebih baik, Laras menatap tajam Erick dengab emosi yang meledak.


"Ja lang, seharusnya aku bisa membunuhmu hari ini," pekik Laras saat tubuhnya sudah jauh lebih baik, Melia hanya membalas dengan tertawa sinis, ia mengalungkan tangannya di lengan kekar milik Kevin.


"Kamu dengar kan sayang, dia berusaha membunuhku," ucap Melia dengan nada manja.


"Cehhh, murahan!" desis Laras yang kepanasan melihat Melia dan Kevin.


"Laras!!!!" teriak Erick untuk menghentikan tingkah sang kakak, ia sudah benar-benar lelah sekarang menghadapi segala tingkah laku sang kakak.


Laras mendekus, menatap tajam Erick.


"Bodoh, kamu bukan membantuku malah menyelamatkannya, siapa yang mengizinkanmu menyelamatkan ja lang itu? adik sia lan!" maki Laras pada Erick.


"Kamu hanya ada dua pilihan, pilihan pertama kamu teruslah berulah seperti ini, aku sendiri yang akan mengirimmu ke RSJ, pilihan kedua berhenti bertingkah sekarang, kembali ke kamar. Kedepannya, kamu akan ke luar negeri!" tegas Erick dengan nada dingin dan raut wajah datar.


"Breng sek, sialan!" maki Laras pada Erick, "jika kamu berani melakukan hal itu padaku, tanggung akibatnya! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Ancam Laras.


Erick hanya bisa menghela napas, "aku minta maaf, dulu aku pernah berjanji pada mama bahwa akan selalu melindungimu sampai kapanpun, tapi mulai sekarang aku tidak bisa menepati janjiku itu, maaf!" Erick menjeda ucapannya sebentar, ia menatap sang papa yang terduduk lemas dengan tangan terus memijat pelipis.


"Apa yang sudah kamu lakukan akhir-akhir ini sudah sangat keterlaluan, dan bahkan setelah melakukan banyak tingkah kamu masih tak terlihat sama sekali menyesali perbuatanmu. Kak, aku sudah muak! segala tingkah burukmu akhir-akhir ini membuat saham perusahaan kita terus menurun," ucap Erick.


Melia tertegun, tangannya mencengkram lengan Kevin erat hingga si empu menoleh dan memperhatikan wajahnya. Tiba-tiba Kevin merasakan ngilu, jarak sedekat ini mampu membuatnya melihat jelas luka-luka di wajah Melia, ada bekas darah disudut bibir kiri dan kanannya, juga beberapa luka lebam di wajah.


Mendengar perkataan Erick membuat Farhans seketika teringat sang istri yang sudah meninggal, mau seberapa besar pun masalah yang disebabkan oleh Laras, Farhan akan selalu memaafkan putrinya itu. Namun, sekarang setelah mendengar penuturan Ericj membuat Farhan merasa sangat lelah.


Erick yang tahu jikalau sang papa selalu membela kakaknya pun berusaha membujuk.


"Pa, jika papa terus membela kak Laras, papa bukan sedang membantunya tapi menyelakainya!" tekan Erick. Farhan terhenyak, ia hanya bisa menggeleng pasrah.


"Papa sudah tua, papa lelah. Masalah ini, kalian selesaikan bagaimana mestinya," ucap Farhan mulai berdiri, ia menatap Laras sekilas lantas berjalan pelan menaiki tangga. Melihat sang papa yang selalu membelanya kini sudah lepas tangan dan tak perduli membuat Laras panik.


"Pa," panggil Laras, Farhan yang sudah berada di tangga menuju lantai kamar atas hanya menoleh sekilas, kemudian Farhan melangkahkan kakinya lagi.


Laras syok, ia tak menyangka papanya akan lepas tangan dan memberikan kuasa pada Erick untuk menghukumnya.


Sial.


Sementara Erick meminta bodyguardnya masuk.


"Ikat dia, dan antar ke kamar." perintah Erick, ingin rasanya Laras mengumpat, ingin rasany Laras memaki adik-adiknya.


"Kamu sudah puas kan? kenapa memegang tanganku erat sekali, apa ketakutan membuatmu kangen padaku," bisik Kevin.


"Aku terus memanggil namamu, bahkan saat hal paling menakutkan itu hampir terjadi padaku, tapi kau sama sekali tak datang menolongku," kesal Melia.


"Hmmm, ya itu karena kau tak menyebut namaku tiga kali," ucap Kevin.


Melia hampir tergelak mendengar penuturan Kevin, akan tetapi lagi ia harus menahannya karena suasana sedang bersitegang di rumah Laras.


Erick bersama bodyguardnya membawa Laras ke kamar, sementara Verell ia tersenyum lega saat tahu Melia baik-baik saja, ingin mendekat namun sungkan pada Tuan muda Louis, terlebih ia sempat melihat interaksi keduanya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya membuat Verell urung, ia memilih ikut naik ke atas untuk melihat keadaan papanya.


Ruang tamu mendadak sepi, Kevin dan Melia saling tatap, kedua mata itu bertemu dan saling mengunci, ingin rasanya Kevin memeluk Melua, akan tetapi urung karena mereka masih berada di kediaman Laras.


Erick turun, dia menghampiri Kevin dengan senyum getir.


"Aku minta maaf, Kev! atas nama kakakku, dan segala kelakuan jahatnya, aku tak menyangka dia akan senekad ini..." Erick menjeda ucapannya melirik Melia.


"Aku juga minta maaf, Mel. Karena kakakku berusaha membunuhmu, aku bahkan tidak tahu rencananya akan seperti ini," aku Erick, ia merasa tak enak dengan Kevin, karena bagaimanapun ia dan Kevin berteman baik.


Namun, dengan ekspresi tenang Kevin menepuk pelan pundak Erick.


"Tidak perlu semunafik itu, apa aku masih belum mengenal bagaimana dirimu, heh."