One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 48



Melia memelankan suaranya kala mendengar hembusan napas Kevin yang kasar dengan raut wajah kecewa, ia sadar saat ini sudah sangat mengecewakan Kevin. Melia tahu hal itu.


"Maaf, aku janji kedepannya tidak akan membuatmu marah lagi, tolong percaya padaku," ucap Melia.


Ia sadar, atas hal apa yang dilakukannya, selama ini Kevin sudah sangat bersabar menghadapi sikapnya yang kekanakan, Kevin selalu sabar menghadapi egonya yang tinggi. Padahal, jika Kevin mau. Ia bisa bersikap jahat, bersikap kejam padanya. Tapi sikap laki-laki itu justru sebaliknya, selalu perduli meski berusaha menutupi. Laki-laki itu selalu siap menolong Melia, apapun yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan Melia ditindas orang lain.


"Hmm, baiklah." Pikir Kevin, mungkin saat ini Melia tidak akan berkata yang sebenarnya, mau ia desak dengan cara apapun, jawabannya hanyalah sama.


"Apa boleh tidak mengusirku? aku mau menemanimu bekerja hingga sore, karena aku sudah janji sama ibu untuk tetap disini." pinta Melia.


Mendengar ucapan Melia membuat Kevin tersenyum tipis, sangat tipis nyaris tak terlihat. Sepertinya tidak ada yang salah jikalau membiarkan gadis itu tetap disini, menemaninya bekerja bukanlah suatu hal yang mengganggu. Kevin justru senang, ia bisa melihat Melia sepuasnya, meski tak menjamin jikalau tidak akan ada perdebatan lagi.


"Hemmm, yasudah. Kamu tunggu di sofa kalau mau tetap disini."


Melia mengangguk lantas ia berjalan menuju sofa sambil memperhatikan Kevin yang sedang bekerja, wajah itu tampak serius. Apa itu salah satu kunci agar cepat kaya? harus melakukan segala hal dengan serius.


Melihat makanan yang tadi ia buat hanya berkurang sedikit membuat Melia melotot tajam.


Kevin seolah tahu, kenapa Melia bersikap seperti itu.


"Aku tidak nafsu makan karena Liona." jelasnya dengan suara datar. Melia memutar bola matanya malas, alasan yang cukup masuk akal. Tapi seharusnya Kevin mengenali tempat bekal itu adalah miliknya.


"Aku beneran tidak nafsu makan." Jawaban Kevin sontak membuat Melia kesal dan menekuk wajahnya berjalan menuju sofa.


Melia mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkan game. Cuek adalah hal yang tepat dari pada berdebat dengan Kevin yang tak ada habisnya.


Disisi lain, Alan yang merasa jikalau Melia belum keluar dari ruangan Kevin pun berinisiatif menawarkan sesuatu.


Tok tok tok...


Alan mengetuk pintu perlahan, setelah mendapatkan jawaban dari dalam lantas ia melongokkan kepala, benar saja Melia masih berada disana terlihat berdebat kecil dengan Kevin. Alan masuk ke dalam.


"Permisi nona, apa anda mau minum?" tawar Alan, ia akan dengan senang hati membelikan minuman untuk Melia, asal wanita itu tetap berada disini. Pikirnya.


"Ehmmmm, boleh. Boleh minuman dingin saja?" tanya Melia.


Alan pun mengangguk.


"Tuan Kevin juga mau?" tanya Alan sedikit menggoda Kevin yang saat ini tengah pura-pura sibuk di depan Melia. Ya, Alan tahu. Karena seluruh pekerjaan sudah ia handle dan sisanya tinggal pengecekan. Kevin hanya pura-pura sibuk di depan Melia, mungkin dengan begitu keduanya berhenti berdebat.


"Terserah kau saja." jawab Kevin, Alan mengangguk.


"Baik, permisi kalau begitu." pamit Alan.


"Iya nona? Ada lagi?" tanya Alan.


Melia berfikir sejenak, mungkin saja Kevin tidak nafsu makan karena bekal buatannya yang dibawa Liona.


"Tolong belikan bossmu makan siang, agar dia tidak mati kelaparan," ucap Melia. Kevin dan Alan sontak membulatkan mata, Kevin merasa kesal dengan ucapan Melia barusan. Apa itu artinya dia mendoakan dirinya mati.


"Apa katamu?" tanya Kevin tak terima, Melia hanya tersenyum sinis, senyum yang tersirat kepuasan karena lagi dan lagi telah berhasil membuat dirinya menjadi sangat kesal.


Sementara Alan, ia tersenyum masam lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alan akui, Melia memang terlalu berani, bahkan bicara seperti itu tanpa rasa takut di depan Kevin.


"Benar-benar wanita unik, bukan cuma unik tapi juga berani. Bisa-bisanya Kevin bertemu dengan orang seperti dia." Batin Alan, sejurus kemudian ia mengangguk saja, karena tak ingin terlibat, bisa jadi setelah ini akan ada yang mengamuk. Alan pamit permisi dan gegas keluar dari ruangan Kevin.


"Apa, kan benar aku ngomong. Lagian udah capek-capek masak nggak di makan." Melia menekuk wajahnya. Kevin hanya melirik sekilas, membiarkan gadis itu mengoceh semaunya, toh tadi sudah mencicipi sedikit masakan itu. Ia memang sedang tak nafsu makan, lebih nafsu memandangi Melia dari kejauhan dengan curi-curi pandang.


Kevin melotot, ia tak habis fikir dengan Melia.


"Aku cuma nunjukin perhatianku, apa tidak boleh. Kamu juga harus makan, walau nggak nafsu, aku gak mau kamu mati karena kelaparan, apa aku salah?" tentu saja salah, siapapun yang mendengar perkataan Melia pasti langsung marah, bukan hanya Kevin, orang lain sekalipun akan marah jika mendapat perhatian semacam itu, apa Melia sungguh tidak tahu cara memberi perhatian yang benar?


"Mau memberi perhatian padaku, sebaiknya kamu belajar dulu cara memberi perhatian pada kekasih yang baik dan benar, baru kamu mengutarakannya, siapapun pasti akan marah mendengar kata-katamu yang terkesan mendoakan. Kamu tuh ya benar-benar, hm?" geram Kevin.


Kekasih? benarkah ia menyebut Melia sebagai kekasih, Kevin sedang merutuki kebodohannya, merutuki mulutnya yang telah salah ucap. Melia bukan kekasihnya kan? Hubungannya dengan Melia terjalin karena kecelakaan malam itu, tidak lebih. Tapi kenapa Kevin tiba-tiba menyebutnya kekasih?


"Apa dia gak salah ucap? dia menganggapku kekasih kah? apa tidak takut kekasihnya yang lain marah. Apa dia mulai menampakkan sifat aslinya, menebar pesona agar aku terjerat? kekasih? konyol sekali. Pantas banyak wanita begitu tergila-gila padanya, bahkan istri orang pun tak akan sungkan, hanya mendengar kata kekasih dari mulutnya saja sudah terdengar sangat manis." batin Melia, ia terdiam membeku.


"Kenapa tiba-tiba dia diam, jangan-jangan dia kaget saat aku menyebut kata kekasih?" batin Kevin bertanya-tanya, ia melirik Melia, akan tetapi dengan tangan terus tergerak membolak-balikkan dokumen.


"Kenapa, Ehmm. Ada yang salah dengan ucapanku barusan?" tanya Kevin.


Melia masih melongo.


"Aku berkata benar kan? lain kali belajar baik-baik cara perhatian dengan kekasih yang benar." tegas Kevin.


"Ohh, ya terserah." Melia yang gugup memilih melanjutkan bermain game.


"Menyebalkan sekali, apa tidak bisa menjadi wanita yang lebih manis sedikit." gerutu Kevin dalam hati.


Sementara Alan saat ini tengah membeli beberapa makanan, sengaja ia berlama-lama keluar kantor, bisa jadi setelah kepergiannya atmosfir di ruangan Kevin sekarang berubah menjadi dingin. Alan memesan beberapa makanan, barangkali Melia juga ingin makan bersama Kevin. Ia juga membeli minuman dingin pesanan Melia.


BTW KALI AJA MAU MAMPIR KE KARYAKU YANG LAIN, UDAH UP BANYAK BAB, TAMAT SEASON 1 DAN SEKARANG LAGI SEASON 2 ON GOING, YUK MAMPIR😘