
SEKALI LAGI SAYA TEGASKAN, NOVEL INI ADALAH NOVEL MISI DARI NOVELTOON, ALUR DAN KERANGKA PER BAB SUDAH DARI SANA.
JIKA TIDAK SUKA, BERHENTI! JANGAN BERKOMEN YG BS MENJATUHKAN METAL AUTHORππ»
Happy Readingπ€
πππ
Sebenarnya Melia sudah melihat tujuan Liona, wanita itu datang pasti ada maunya. Terlihat bibirnya yang menyungging tipis saat dirinya bertengkar dengan sang Ibu. Liona seperti menemukan celah.
Melia bukan bermaksud menolak permintaan sang Ibu, ia hanya ingin melihat reaksi spontan Liona jika dirinya menolak bertemu dengan Kevin. Dan benar saja, Melia bisa membaca raut wajah girang Liona, Sintia yang belum menyadari pun masih kesal dan terus menerut mendebat penolakan Melia.
Seolah mendapatkan ruang, Liona tersenyum lantas mengusap bahu Sintia lembut.
"Tante, kalau Melia tidak mau jangan di paksa. Kasian!"
Sintia menghela napas, lalu menyerah.
"Nahkan, Liona bilang jangan paksa Melia, Bu. Lagian Kevin pasti sibuk, aku tidak mau mengganggu konsentrasi kerjanya dengan kehadiranku,"
"Baiklah terserah kau saja, Mel." pasrah Sintia, ia lalu memasang wajah murung. Melihat hal itu, Liona harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.
"Tante, ada yang bisa Liona bantu." pancing Liona. Benar saja, baru Melia menolak, kakak tirinya itu sudah beraksi dan mungkin sebentar lagi akan memperlihatkan tujuan aslinya.
Sebentar lagi, hya sebentar lagi pikir Melia.
Liona tersenyum ramah, "Apa tante mau mengantarkan sesuatu untuk seseorang, jika tidak keberatan biar aku yang bantu mengantarkannya. Lagi pula, ini sebagai tanda bahwa aku beneran serius minta maaf dengan kalian."
"Ah iya benar, aku setuju. Lagi pula aku sangat repot menjaga ibu, jadi bisakah mengantar makan siang ini untuk Kevin, Liona pasti tahu kantor LS Group dimana? iya kan?" Melia langsung menyetujui saran dari Liona, dalam hati Melia sudah tau niat terselubung wanita itu, sudah dipastikan ia akan mendekati Kevin.
"Terima kasih atas kepercayaannya adik, aku tau dimana kantor LS Group. Kalau begitu, aku akan pergi kesana mengantar masakanku dan menyampaikannya pada Tuan muda Louis." Liona merasa senang karena separuh rencananya mendekati Kevin, tidak salah jika dirinya pura-pura akting guna mendapatkan celah. Benar saja, ia punya satu kesempatan bagus yang tentu akan digunakan dengan sebaik-baiknya.
Melia yang semula memasak untuk ibu akhirnya meminta Liona mengantarkannya pada Kevin.
Liona pun dengan antusias menerimanya, menyempatkan diri berpamit pada Sintia lantas bergegas pergi dengan menenteng box bekal yang tersusun beberapa lapis.
"Oh iya tunggu, bilang sama Kevin jika aku hanya bisa menitipkan makan siang rumahan yang sederhana."
"Baik, akan aku sampaikan."
Langkah tergesa Liona membuat Melia tertawa dalam hati, ia jadi tahu tujuan wanita itu bersikap baik. Benar saja, Liona memang berniat mendekat karena Kevin.
Sintia menautkan alisnya, lalu tersadar apa yang terjadi saat punggung Liona menghilang di balik pintu. Seorang suster datang bersama dokter Revan. Mereka memeriksa keadaan Sintia sejenak, Melia pun memutuskan keluar sebentar.
"Bagimana, Dok?" tanya Melia setelah dokter Revan keluar, Dokter tampan itu mengulas senyum manis hingga membuat Melia salah tingkah.
"Semua baik, hanya saja tetap tidak boleha da tekanan sebelum mendapatkan ginjal yng cocok. Sejauh ini kami pihak rumah sakit sudah berusaha, tapi belum ada yang cocok dengan ginjal beliau. Kamu yang sabar ya, Mel." Revan menepuk pundak Melia.
"Makasih, Dok."
"Sama-sama Mel,"
πππ
"Ada apa, Bu?" tanya Melia heran.
"Kenapa kamu malah menyuruh Liona bertemu dengan Kevin, Mel?" Sintia tersadar, saat Liona mengantar makanan yang dibuat Melia. Dan dengan santainya Melia justru menyetujui ide tersebut. Melia berniat menjahili ibunya.
"Apa ibu tahu tujuan kesini untuk apa?" Melia memiringkan senyum, Sintia tersadar dan menatap putrinya cemas.
"Jadi kamu sudah tahu tujuan Liona kesini?"
Melia mengangguk saja, lalu dengan spontan Sintia memukul pelan bahu Melia.
"Kalau sudah tahu, kenapa membiarkan ia pergi dan bertemu dengan Kevin?" cerca Sintia.
"Apa ibu baru sadar tujuan Liona berbaik hati," sindir Melia, meski begitu ia tak marah atau kesal. Melia justru ingin melihat hal apa yang akan Liona lakukan untuk menggoda Kevin.
"Ibu istirahat saja, tidak akan ada masalah. Liona pasti mengantarkan makanannya langsung ke kantor Kevin. Lagi pula, aku sangat tahu seperti apa Kevin, dia tidak akan tergoda siapapun." Melia berusaha menenangkan hati ibunya yang cemas.
Meski dalam hati Melia mencibir, jelas ia tahu seperti apa Kevin. Seorang playboy yang pernah bermain dengan istri orang. Membayangkan saja membuat Melia menggelengkan kepala berulang kali.
"Mel, ibu khawatir. Lebih baik kamu susulin Liona, bagaimanapun gadis itu jahat sebelumnya. Kamu gak boleh biarin..."
"Sst... Udah ya bu, Mel capek banget, biarin aja."
Melia tidak butuh apapun, bahkan jika Kevin berniat dengan Liona ia sama sekali tak perduli karena yang ia butuhkan hanyalah status nyonya CEO yang artinya ia hanya butuh menjadi istri sah Kevin.
"Mel, ayolah. Liona bukan orang baik, dan ibu khawatir dengan hubunganmu dan Kevin. Jadi, kamu apa masih mau berdiam diri disini." Meski Melia terlihat santai, akan tetapi tidak dengan Sintia. Ibu paruh baya itu berulang kali menampilkan ekspresi gelisah karena Melia terus berdiam diri dan memilih tidak perduli saat Liona berusaha mencari muka di depan Kevin.
"Bu, ibu tenang aja. Kevin tidak akan mengkhianati Melia."
Namun, panik berlebihan yang melanda Sintia membuat kondisi tubuhnya lemah.
Melia yang khawatir pun mngecek keadaan ibunya.
"Ibu kenapa?" tanya Melia khawatir.
"Ibu hanya khawatir jikalau Kevin akan meninggalkanmu."
***
Derap langkah penuh percaya diri Liona, senyum kemenangan terus tersungging. Liona lantas meninggalkan area rumah sakit untuk menuju kantor LS Group. Merasa mendapat kesempatan emas, ia pun tak ingin menyia-nyiakannya, Melia hanyalah gadis bodoh yang tidak sebanding dengan dirinya.
"Mel, Mel. Dasar bodoh! Kamu nggak tahu aja kalau aku baik-baikin ibu kamu ada maunya, enak aja udah susah-susah akting kalau nggak dapat kesempatan ya rugi aku. Hmm, jadi tak sabar bertemu wajah Kevin yang tampan saat bekerja. Dan aku yakin, ia akan terpesona karena sudah pasti jelas aku lebih segalanya dari Melia." batin Liona, ia lantas mengeluarkan make up dan mulai membenahi tampilannya. Menambah ketebalan lipstik, juga memoles kembali tajahnya dengan bedak.
Diruang rawat, Melia jadi dilema. Melihat ibunya yang terlalu khawatir lantas tak membuatnya diam, jalan satu-satunya apakah ia akan menyusul Liona ke kantor Kevin? atau memilih tak perduli dengan bujukan sang ibu yang terus memintanya sedari tadi.
"Hmmm, demi Ibu. Kalau bukan karena ibu aku pun malas sekali, tiap bertemu yang ada hanya perdebatan."batin Melia.