One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 49



Alan memasuki lobi kantor dengan menenteng sekantong makan siang, juga jus untuk Kevin dan Melia. Langkahnya tergesa memasuki lift dan menekan tombol angka 8, semoga Melia belum pergi dari kantor ini. Pikir Alan.


Dengan semangat empat lima ia mengetuk pintu ruangan Kevin yang sepertinya hening. Alan melongokkan kepala setelah mendapat sautan masuk dari Kevin, setelah membuka pintu. Keduanya kembali terdiam, Alan melihat Melia lebih sibuk dengan ponselnya yang entah melakukan apa, pun dengan Kevin yangs edari tadi membolak-balikkan dokumen dengan wajah seriusnya. Atmosfir canggung kentara sekali, jangankan untuk bersitatap, saling lirik aja sepertinya harus menunggu giliran, tak pernah pada saat yang tepat. Sebentar-sebentar Kevin, selang lama Melia. Begitu seterusnya tanpa ada yang mau mengalah dalam mengambil sikap.


"Ini minuman pesanan anda nona, dan ini makan siangnya, Kev." Alan meletakkan dua porsi makanan di depan meja Kevin.


"Cuma dua, kamu gak makan?" tanya Kevin, Alan meringis, ia merasa bersalah karena makan lebih dulu dan di tempat pastinya. Padahal ia melakukannya sengaja.


"Ah, udah. Kalian yang penting makan dulu, aku tinggal kalau perlu apa-apa langsung telepon." pamit Alan.


"Makasih, minumannya." Melia mengulas senyum, melirik ke arah Kevin yang kini menatapnya tajam. Jangan bilang karena dia melempar senyum kepada pria lain, Melia tiba-tiba menggelengkan kepalanya.


"Sudah makan?" tanya Kevin sepeninggal Alan.


Melia menggeleng, akan tetapi tangannya tergerak memasukkan selang jus dan meminumnya, Melia benar-benar dehidrasi karena berdebat dengan Kevin.


"Makan, aku nggak mau kamu mati kelaparan karena aku nggak ngasih kamu makan pas nungguin aku kerja." Kevin menyodorkan seporsi makan siang kepada Melia. Melia menekuk wajahnya sebal, dalam hati mengumpati Kevin berulang-ulang.


Sialan emang.


Kevin tersenyum penuh kemenangan, dia mulai makan dengan tenang. Sementara Melia terpaksa makan karena perutnya sudah keroncongan dari tadi. Melia menandaskan jusnya sebagai penutup, kemudian melanjutkan bermain game lagi tanpa berniat sedikitpun bicara dengan Kevin, Melia lelah. Terlebih masih beberapa jam kedepan ia berada di ruangan cowok kulkas itu, pikir Melia lebih baik diam mencari aman.


Melia merebahkan tubuhnya di sofa, lambat laun rasa kantuk mulai menyerang disaat ia sudah bosan bermain game, Melia akhirnya tertidur.


Kevin yang tak mendengar suara sama sekali mendongkar, "pantas saja." gumamnya pelan, lantas bangkit dari kursi kebesarannya.


"Apa sebegitu lelahnya?" heran Kevin, AC ruangannya terasa sangat dingin, dan mungkin hal itu yang membuat Melia mengantuk dan nyaman hingga tertidur. Kevin masuk ke dalam ruang istirahat dan mengambil selimut.


"Gadis nakal," ucapnya seraya menyelimuti tubuh Melia yang meringkuk di atas sofa. Kevin lantas kembali duduk, kali ini ia beneran fokus bekerja, memeriksa beberapa dokumen laporan penting. Melia seolah nyaman dengan posisinya, ia terlelap tanpa bergerak atau terusik sedikitpun.


"Sebenarnya pekerjaan apa yang kamu lakukan sampai kekurangan tidur seperti ini," gerutu Kevin, ia bisa melihat dengan jelas kantung mata Melia yang menghitam meski samar karena tertutup dengan make up.


"Kok bisa sih aku ketemu sama cewek keras kepala kaya kamu, hm."


Pikiran Kevin hari ini benar-benar tak fokus, dipenuhi dengan wajah Melia, sama halnya seperti ruangan kerjanya. Gadis itu masih terlelap tanpa dosa begitu nyaman, tidak sadar si pemilik ruangan gelisah tanpa sebab.


Melia mengerjapkan mata berulang kali, mencoba meraih kesadarannya. Dan ia membulatkan mata saat tahu sedari tadi telah tertidur di dalam ruangan Kevin cukup lama.


"Dia gak ngapa-ngapain aku kan?" batin Melia.


Di dalam ruangan Kevin tengah berbicara dengan Alan, sekertarisnya.


"Pantas," gumam Melia yang merasa tubuhnya menghangat dan tidurnya begitu nyaman.


"Ehm, apa kamu yang memakaikan selimut untukku, Kev?" tanya Melia yang berhasil membuat keduanya menoleh. Kevin lantas menggaruk pangkal hidungnya dan melirik Alan, sebelum sekertarisnya menjawab ia memberi kode lebih dulu.


"Bukan aku, hya bukan aku. Tapi Alan," ucap Kevin tanpa rasa gugup tangannya menunjuk ke arah Alan yang mengernyit bingung. Alan sepertinya belum mengerti kode Kevin, meski begitu ia sudah terbiasa dengan sandiwara semacam ini.


Alan terkejut, namun ia terdiam.


"Makasih kalau begitu," ucap Melia dengan senyum kikuk. Lantas ia bangkit membenahi pakaiannya dan melipat rapi selimut itu dan meletakkannya di ujung sofa.


Melia mengukir senyum, lantas izin ke toilet bentar untuk membenahi raut wajahnya yang kusam akhibat tertidur.


"Benar-benar memalukan," gumam Melia di depan kaca cermin. Merutuki diri sendiri. Melia membasuh wajahnya, mengeringkan lalu memake up ulang. Otaknya tak bisa berhenti berfikir, tanda tanya besar menggema di kepalanya.


"Masa sih Alan, masa dia berani ngasih selimut ke aku di depan Kevin. Itu bukannya sama saja bunuh diri? Apa mungkin itu Kevin, tapi kenapa malah bilang yang melakukannya Alan."


Melia melangkah keluar toilet dengan wajah lebih cerah lantas menyapa Kevin yang sekarang tinggal sendiri. Namun, kali ini ia menangkap ada sepatu di kolong meja kerja Kevin.


Hya, Melia sangat ingat sepatu itu. Sepatu yang sangat Melia ingini hingga hampir meneteskan air liurnya, sayang sekali gara-gara ia tak tak punya cukup uang. Melia hanya bisa menelan ludah seraya tersenyum getir dan memasang wajah tegar. Terlebih saat member gratis VIP gerai branded Kevin peruntukkan hanya untuk ibunya, sungguh dadanya serasa sesak di hantam ribuan ton bebatuan.


Melia berfikir, apakah ia harus bertanya atau diam saja. Rasa penasaran menghampiri, ia sungguh ingin tau siapa wanita beruntung yang akan mendapatkan sepatu cantik itu dari Kevin.


"Tenang, Mel. Tarik napas dan bersabarlah." Melia berusaha menenangkan diri saat jiwa keponya meronta.


Kevin hanya menatapnya sekilas lantas kembali menyibukkan diri, Melia kesal sediri jadinya. Namun, bayangan Kevin menyelimuti dirinya yang tengah terlelap ada di perandaian Melia, mungkinkah?


Jika iya, Melia akan merasa sangat tersentuh sekali.


"Kevin." Melia berkata dengan suara lembut, Kevin mendongkak lantas menautkan alisnya.


"Hm, iya?"


Melia berjongkok untuk mendekati sepatu itu, "Sepatunya cantik, kenapa ada sepatu ini disini?" tanya Melia.


Kevin yang sudah tahu hal itu pun menjawab, "aku yang membelinya."


"Apa kamu membeli sepatu ini untuk menghadiahkannya kepada seseorang?" tanya Melia penasaran, ia tak menyangka jikalau sepatu yang ia ingin ternyata dibeli oleh Kevin, dan mungkin akan diberikan untuk orang lain. Melia tidak rela, tapi lebih baik ia menunggu jawaban Kevin. Jantungnya sudah berdetak, ia sangat ingin sepatu ini, apakah harus membujuk Kevin agar memberikan sepatu cantik ini untuknya?


Tidak heran, hal seperti ini sangat mudah bagi Kevin yang notabenenya dikelilingi banyak wanita.