One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 92



"Saya mau menikahi Melia sesegera mungkin, Om, Tante!"


Bram dan Sintia saling tatap, sementara Melia hanya mampu menunduk. Entah apa yang akan Kevin katakan yang pasti baik dirinya atau Kevin sudah siap akan kemarahan Ibu yang meluap nanti jika tau kenyataan dirinya hamil. Atau ia harus menunda kembali paling tidak sampai sang ibu selesai operasi dan sehat kembali. Melia benar-benar dilema akan hal itu, jemarinya berulang kali menarik baju Kevin dengan harap cemas.


"Kenapa cepat sekali, apa nak Kevin tidak ingin menunggu paling tidak sampai Melia sedikit lebih dewasa umurnya?" tanya Sintia dengan lembut. Tak ada rasa curiga sedikitpun karena dimata Sintia Kevin adalah sosok laki-laki yang baik.


"Iya, bukankah umur Melia masih terlalu muda untuk menikah," ucap Bram.


Kevin menggenggam tangan Melia.


"Itu umur Melia, Om. Tapi umur saya, sudah hampir 30 tahun, lagi pula Melia sangat setuju dan sebenarnya pernikahan ini memang sudah menjadi rencana kita dari awal, iya kan Mel?"


"Iya, Bu. Kemarin aku berfikir untuk kuliah dulu, tapi Kevin bilang kuliah bisa dilakukan setelah menikah, jika masih harus menungguku takutnya saat nanti kita sudah menikah Kevin sudah tua," ucap Melia tersenyum tipis.


Kevin langsung menekuk wajahnya, mendengar ucapan Melia. Meski begitu, alasan Melia cukup masuk akal dan mungkin saat ini mereka berdua sepakat untuk tak memberitahukan kehamilan Melia. Toh kata dokter baru 4 minggu, perut Melia masih terlihat datar karena postur tubuhnya yang langsing ditambah Melia tak suka memakai pakaian ke tat.


Sintia terkekeh, "Iya juga, kalau begitu terserah bagaimana keputusan kalian. Ibu cuma bisa memberi doa dan restu, semoga meski pernikahan kalian terbilang cepat memutuskannya, Ibu berharap itu semua karena cinta." Sintia menatap haru Melia dan Kevin bergantian.


Bram menghela napas, ia tahu Sintia teringat masalalu dan hal itu menyisakan penyesalan dan rasa bersalah di hati Bram, ia tak bermaksud menipu Sintia, karena terkadang cinta bisa membuat orang bertindak hal gila dan bodoh.


Bram menyesal, karena demi mempertahankan tahtanya malah menyia-nyiakan Sintia dan tetap memakhlumi perselingkuhan Lyn.


"Maaf, ini semua karenaku. Aku yang membawa penderitaan di kehidupanmu, aku benar-benar menyesal." Bram menatap sayu Sintia.


"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Setidaknya karenamulah aku memiliki Melia, putriku yang sangat cantik. Dan tak terasa sebentar lagi ia akan menikah."


"Bu..." Melia tak mampu berkata-kata, biasanya ia masih bisa bersikap tenang menghadapi suasana seperti ini, tapi kenapa mendadak ia merasa mellow sekali.


"Om, tidak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Saya pribadi juga banyak salah dalam bersikap, entah dengan Melia atau siapapun. Tapi, bukankah setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua?"


"Ya kamu benar nak Kevin, apa aku tidak apa-apa memanggilmu seperti ini, seperti cara Sintia memanggilmu? Karena Melia juga putriku." Bram berkaca-kaca.


"Tidak masalah, Om."


Bram tersenyum. Tak berselang lama seorang suster datang memanggil keluarga Sintia untuk tanda tangan persetujuan.


"Biar Papa saja, Mel." bujuk Bram, mengingat kondisi Melia yang memakai selang infus tentu Bram tidak akan membiarkan putrinya kerepotan pergi meski ada Kevin di sisinya.


"Tapi..."


"Tidak apa, Mel. Meski Ibu dan Papamu tak bersama tapi percayalah, papa tidak pernah sedikitpun berucap meninggalkan ibumu. Jadi kami masih suami istri siri."


"Hah..."


Melia membeku, akan tetapi Kevin memberi isyarat untuk mengiyakan apapun perkataan Papanya.


Bram pun melangkah pergi, kini Melia menatap lekat sang Ibunya karena seingatnya sang Ibu selalu marah jika mengungkit kisahnya bersama sang Papa, tapi kenapa hari ini tiba-tiba memaafkan sang Papa.


"Bu, kenapa ibu mudah sekali memaafkan Papa?" cerca Melia, Kevin mengusap bahu gadis itu untuk mengontrolnya.


"Mel, jangan buat Ibu tertekan." bisiknya.


"Karena Ibu masih ingin hidup dan mendampingi putri ibu menikah, mempunyai anak dan bahagia. Ibu sudah berusaha mengendurkan ego dan memaafkan papamu karena..." Sintia menghela napas, menjeda ucapannya.


"Karena apa, Bu?"


"Terus, bagaimana dengan istri sahnya? Apa tidak akan jadi masalah nantinya?"


"Kadang seseorang menyimpan amarah bukan karena tak bisa meluapkannya, bukan karena lemah tapi karena menunggu waktu yang tepat untuk meledakkannya. Papamu termasuk orang yang penurut, ia rela menelantarkan kita kerena Lyn mengancamnya, ibarat kata papamu seperti boom waktu di keluarganya sendiri, dan boom itu sudah meledak." jelas Sintia, karena baik Bram atau Karina sudah menjelaskan semuanya.


"Nak Kevin sendiri sudah tahu keadaan keluarga kami, tapi Bram pernah bilang jika putriku bukan anak haram. Hubungan kami memang rumit. Ibu juga baru tau ternyata Lyn selingkuh hingga menghasilkan seorang anak. Itulah alasan ia mengaku lajang pada Ibu, apa nak Kevin bisa menerima keadaan Melia?"


"Saya tetap akan menikahi Melia apapun keadaannya, Tante."


"Terima kasih sudah mencintai putriku sayang."


***


Dua hari setelahnya, kondisi Melia sudah benar-benar pulih. Dan selama itu juga Kevin rela mengesampingkan urusan kantornya dan mengurus Melia. Pun juga dengan Sintia, dimana ada Bram yang menemaninya bersama Karina.


Bram memutuskan untuk tinggal, sampai paling tidak Melia menikah.


"Kok aku takut banget ya," gumam Melia berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi.


"Tenanglah sedikit, semua akan baik-baik saja," ucap Kevin.


"Hm, ya mungkin aku hanya berlebihan. Tapi menurutku, operasi adalah hal yang paling menakutkan terlebih ini ginjal dan kedua orangtuaku sedang bertaruh."


"Kita bantu doa."


Gio mendesis melihat mereka dari kejauhan, awalnya ia pikir bisa mempengaruhi keputusan sang Papa, tak disangka Louis langsung mencari tau sendiri kebenarannya dan malah menemukan fakta bahwa anak kedua Bram-lah yang hasil perselingkuhan.


Gio mengepalkan tangannya, akan tetapi ancaman sang Papa membuatnya tak bisa melakukan apa-apa.


"Selamanya aku hanya bisa membencimu dalam diam, tapi dilain kesempatan aku pasti akan merebut satu persatu apa yang kamu punya termasuk wanita yang saat ini ada di sampingmu." Gio mengepalkan tangan, tak lama kemudian sebuah tepukan menyadarkan dirinya.


"Kalian adalah keluarga. Jika salah satu diantara kalian tidak bisa saling menerima. Maka selamanya, kamu ataupun Kevin hanya akan jadi orang yang rugi. Saling membenci tanpa sebab hanya akan membuat orang-orang di sekitar kalian terluka. Sekalipun Kevin orangnya selalu acuh terhadap keluarga, paling tidak ia tak pernah memiliki niat secuilpun melukai saudaranya." setelah mengatakan hal itu kepada Gio, Alan berlalu.


"Tau apa kamu tentang keluarga, hah!" pekik Gio.


Alan menoleh dan tersenyum sinis.


Ia yang tadinya beberapa langkah menjauh pun kembali mendekat ke arah Gio.


"Aku hanya tahu beberapa hal, tapi perlu kamu ingat satu hal ini! Urungkan niatmu mendekati Melia, karena sekalipun Melia tidak bersama Kevin, dia juga tidak akan mau dengan laki-laki sepertimu."


"Itu bukan urusanmu!" tegas Gio dengan wajah menggelap.


Di sisi lain, sudah dua hari ini Lyn tidak mau makan apapun, Liona jadi bingung menghadapi situasi seperti ini.


"Ma, Ona harus gimana?"


"Maafkan, Mama sayang. Tapi yang dikatakan Papamu benar adanya, kamu bawa mama pergi ke kota HN."


"Tapi, Ma...?"


"Ona, Mama dan Papa sudah tidak mungkin bersama lagi. Papamu mencintai Ibunya Melia." Lyn berkaca-kaca, ia sudah benar-benar kalah kali ini.