One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 62



Melia sudah memesan taksi online sesuai permintaan Kevin, tak berselang lama taksi datang dan Melia melangkah meninggalkan Kevin dan Verell yang masih menungguinya.


Kevin terdiam, pandangannya tak lepas dari sosok Melia, Melia yang terlihat cantik dengan polesan tipis tiap kali datang ke kantornya. Dan hari ia menemukan sisi berbeda dari Melia, gadisnya itu terlihat sangat rapuh dan takut. Tak bisa Kevin pungkiri, hatinya merasa menghangat saat jemari mungil itu mencengkram sisi kanan dan kiri jaketnya.


"Aku pulang," pamit Melia sebelum masuk taksi, membuyarkan lamunan Kevin seketika.


Kevin menjawab dengan anggukan kepala, tanpa pesan tuk sekedar berkata 'hati-hati'.


Ia memilih diam membisu, melirik Verell yang berdiri di sampingnya dengan senyum lebar seraya melambaikan tangan. Ada perasaan mengusik kesal jauh di dalam hati, akan tetapi Kevin sedang ingin mengabaikan hal itu.


"Ehm, maaf Tuan. Apa sebenarnya hubungan anda dengan Melia?" tanya Verell to the point, meski dugaannya 80% benar, ia mencoba bertanya langsung kepada Kevin, barangkali ia boleh berharap kalau mereka berdua hanya teman? hya hanya sekedar teman.


Kevin enggan menjawab, bukan karena apa. Tapi, hubungannya dengan Melia selama ini tanpa status resmi, tanpa ikatan jelas atau bisa dibilang samar. Namun, dalam hati Kevin slalu mengklaim jikalau Melia adalah wanitanya.


'Aku masih ingat saat Tuan Kevin bilang jikalau Melia adalah wanitanya, tapi apakah itu benar?


"Kamu mau naik mobilmu sendiri atau ikut aku?" Bukan menjawab pertanyaan Verell, Kevin malah balik bertanya.


"Aku ikut Tuan," ucap Verell, ia masih sangat penasaran dengan hubungan Melia dan Kevin, Verell yakin jika diantara Mereka ada something.


"Ayo, mobilku disana." tunjuk Kevin, Verell memgangguk senyum, ia masih tak menyangka jika di hadapannya saat ini adalah Tuan muda keluarga Louis.


Lantas Kevin berjalan menuju mobilnya, dan Verell mengikuti langkah panjang itu sampai mobil kemudian duduk di sisi kiri Kevin.


Tak ada percakapan penting diantara mereka, hanya rasa penasaran Verell terhadap sosok di sampingnya saat ini, sosok yang tiba-tiba hadir karena permintaan Melia.


Mobil mulai melaju, dan keheningan menyelimuti mereka berdua. Verell masih penasaran, malam ini juga ia harus tahu hubungan apa antara Melia dan laki-laki di sampingnya ini.


"Tolong jawab, Tuan. Sebenarnya apa hubungan anda dengan Melia. Tadi aku berfikir bahwa kita tidak akan selamat, tak ku sangka Melia menghubungi anda untuk meminta tolong."


Kevin terdiam, ia melirik sekilas ke arah Verell yang sedang menunggu jawabannya.


"Ayolah tuan, Melia gadis yang baik dan polos. Saya sangat penasaran, seorang Melia bisa mengenal anda bahkan bersikap tanpa rasa canggung," ucap Verell.


"Ck! Jadi begitu penilaiannya terhadap Melia, aku tidak mungkin bilang kan kalau aku sudah meniduri gadis itu. Sial, dia sepertinya memiliki perasaan pada Melia." batin Kevin.


Kevin berfikir sejenak, "Hm, tidak ada." sahutnya singkat.


Memang mereka tidak ada hubungan kan? ia dan Melia masih abu-abu.


Sepanjang perjalanan, Verell terus menanyai Kevin, akan tetapi laki-laki itu masih enggan terus terang perihal Melia. Kevin rasa, Verell tak perlu tahu apapun. Sedangkan Verell, fikirannya kini sedang membandingkan diri dengan Kevin. Memang benar, ia dan Kevin bagaikan langit dan bumi dari segi apapun.


"Aku tahu, sampai kapanpun tidak akan menang melawanmu untuk mendapatkan Melia, kita adalah dua orang yang sangat berbeda. Kamu bisa melindunginya, melakukan hal apapun untuknya, sedangkan aku? tapi, apa salahnya jika aku mencoba mendekati Melia, bukankah cinta itu buta?" batin Verell.


Kevin membuang napas kasar, melihat gelagat Verell, laki-laki itu seperti sedang memastikan sesuatu. Namun, meski laki-laki macam Verell menyukai Melia, Kevin sama sekali tak merasa terancam, sudah dipastikan jika Melia akan tetap dalam genggamannya.


Disisi lain, Melia sedang menaiki taksi pun merenung. Hari ini lagi dan lagi Kevin menyelamatkannya. Hidupnya sudah rumit dari awal, tapi semakin kesini ia semakin dikelilingi banyak orang yang sangat membencinya. Pertama Keluarga sang ayah, dan kedua wanita disekeliling Kevin.


Lamunannya buyar ketika taksi sudah sampai di depan gang menuju rumahnya. Gang lumayan sempit, meski mobil bisa masuk ke dalam tapi akan kesulitan berputar.


"Kiri pak," ucap Melia, ia lantas membayar taksi kemudian turun. Taksi melaju meninggalkan Melia yang berjalan hendak masuk ke dalam gang.


Tubuhnya terasa sangat lelah dan matanya mengantuk, masih beberapa meter untuk sampai di depan rumahnya.


"Fyuhh." keluh Melia, seraya meregangkan tubuhnya.


Baru beberapa langkah berjalan, derap langkah kaki mengikuti Melia. Melia rasa langkah itu semakin mendekat seolah sedang mengejarnya, Melia menoleh sekilas mendapati beberapa orang menguntitnya, Melia pun berlari.


Sialnya, Orang itu berhasil mengejarnya membuat Melia panik.


"Tenang, Mel!" gumamnya menenangkan diri sendiri.


"Mau apa kalian?" tanya Melia.


Mereka menyeringai, "lebih baik diam dan ikut kami." orang itu berusaha menangkap tangan Melia, akan tetapi Melia dengan sigap melawan.


"Apa mereka orang suruhan Laras, mengikutiku? astaga." Pikiran Melia bertanya-tanya, mungkin saja! Terlebih tadi ia melihat raut wajah Laras yang murka.


Orang itu berusaha mencengkram tangan Melia, dengan sekuat tenaga Melia membukul mereka.


"Sial, cari mati kamu." umpat salah satunya, Melia tidak takut dan masih berusaha melawan sebelum mereka benar-benar menangkapnya. Melia mendaratkan pukulan bertubi-tubi di wajah mereka satu per satu.


"Breng sek, beraninya sama wanita." kesal Melia, orang pertama yang maju terlihat seperti petarung profesional. Melia mulai kewalahan, namun ia sempat tersenyum karena tangannya cukup kuat membuat mereka luka-luka.


Hingga saat lengah, Melia terpukul di perut membuatnya memekik kesakitan. Sialnya lagi, tangannya mulai mati rasa karena telah mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada mereka.


Hya bagaimanapun Melia hanya seorang wanita, sekuat apapun ia takkan mampu melawan mereka yang lebih dari satu.


"Oh ya Tuhan, selamatkan aku." gumam Melia yang mulai kesakitan.