One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 80



"Seharusnya kalian cukup sadar diri jika ingin melukai anakku, kalian tidak akan punya kuasa dan kami, tentu kami akan menuntut apa yang telah kalian lakukan kepada putriku, tak punya etika bahkan merusak barang yang bukan miliknya. Aku sebagai ibu dari Clara tak akan pernah melepaskan kalian." Ibu Clara menatap tajam ke arah Gisell dan Melia bergantian.


Sebelum masuk ke kantor polisi, Erick sudah menghubungkan ponselnya dengan ponsel milik Kevin. Erick akan menginfokan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana nanti.


Kevin hanya tinggal menunggu dan mendengarkan informasi Erick dari dalam mobil.


"God! Infokan semua kejadiannya," ujar Kevin setelah kedua ponsel itu berhasil tersambung.


Jadi dengan begitu, Kevin bisa mendengar semua kejadian di kantor polisi.


Erick berjalan masuk, mendengar suara memekakkan, ia sudah menebak apa yang terjadi di dalam sana.


Erick melihat ke sekeliling ruangan, tiba-tiba ia tertawa ringan membuat Kevin yang mendengarnya pun semakin penasaran.


"Kenapa tertawa?" tanya Kevin.


"Hm, sepertinya gadis kecilmu sudah memukul seseorang hingga hidungnya bengkok." terang Erick yang mendengar perdebatan diantara mereka.


"Heh mana mungkin? seharusnya dalam situasi yang normal tidak akan bengkok kan?" tanya Kevin.


Erick tertawa, "tentu saja karena oplas baru bisa bengkok!"


Kevin menghela napas, ia tak lagi melanjutkan topik ini. Erick mulai masuk di ambang pintu kantor, jelas di dalam sana sedang ada perdebatan karena terdengar suara ibu-ibu berdebat yang hampir memekakkan telinga.


"Dimana Melia?" tanya Kevin tak sabar.


"Tenang, jangan panik Kev! Aku akan menanyakan dimana keberadaan Melia." Erick berujar seraya melangkah masuk ke dalam.


Panik? hah...


Apalagi ini, aku sedang tidak panik sama sekali.


Hanya saja, ingin melihat bagaimana keadaannya sekarang...


"Saya minta maaf untuk anak saya, tapi yang sebenarnya menghancurkan barang dan memukul putri anda bukan Gisell melainkan Melia, jadi jika mau menuntut silahkan tuntut Melia." Ibu Gisell menunduk, meminta maaf.


Clara tersenyum dingin, "walaupun bukan pelaku, tapi juga termasuk pembantu."


"Yang salah bukan Melia, dia melakukannya juga karena membela diriku." Gisell berusaha membela Melia.


"Ibu sudah bilang 'kan, jangan pernah berhubungan lagi dengan dia..." Ibu Gisell menjeda ucapannya, jarinya menunjuk-nunjuk wajah Melia hingga membuat gadis itu hanya menunduk. Memang, Ibu Gisell selama ini selalu menilainya buruk lantaran pekerjaannya di club malam. Sejak saat itu, ia tak lagi bertamu ke rumah Gisell.


"Ibu dan ayahmu menambung, bekerja keras untuk memasukkanmu ke universitas itu dengan susah payah. Ibu menguliahkan kamu, agar kelak kamu belajar baik-baik bukan untuk membuat onar." Napas ibu Gisell tersengal, Melia hanya mampu menunduk dalam-dalam.


Seharusnya, hal yang ia lakukan masih dalam batas wajar karena dia hanya membalas perbuatan Clara yang merusak skincare Gisell. Namun, karena kekuasaan gadis itu justru membuat semuanya semakin rumit. Melia hanya mampu berharap, Erick akan segera datang menolongnya.


Tiba-tiba Erick bertanya kepada polisi yang berjaga di ruang depan.


"Permisi, Pak. Apa boleh tau dimana gadis yang bernama Melia Zain?" tanya Erick di depan.


Suasana di dalam tiba-tiba hening, mereka terdiam saat mendengar seseorang mencari Melia.


Polisi itu menatap Erick sekilas, "Dia di dalam sedang menunggu anggota keluarganya," jawab polisi itu.


Polisi itu mengajak Erick masuk ke ruang dimana mereka berada. Melia tersenyum, sementara Gisell heran saat tahu ada laki-laki tampan yang datang karena Melia.


"Apa itu kekasih Melia? tampan sekali. Kalau keluarganya mana mungkin, sedangkan setahuku keluarga pun kerabat Melia menjauh semua semenjak tante Sintia sakit." batin Gisell menerka-nerka.


"Anda siapa?" tanya polisi.


"Apa boleh saya mengajak Melia bicara di luar, Pak? saya adalah kakaknya Melia." Semua orang terkejut mendengarnya, suasana semakin hening.


Polisi mempersilahkan Melia menghampiri anggota keluarganya, lalu dengan antusias Melia menghampiri Erick yang berdiri diambang ruangan.


"Saya izin berbicara sebentar dengan Melia, saya ingin tahu permasalahan sebenarnya dari Melia agar lebih mudah melakukan negoisasi dengan pihak keluarga lainnya nanti," ucap Erick.


Semua orang tertegun, Clara diam mematung dengan alis mengkerut menatap tubuh Erick.


Wajah tampan dengan jass mahal merk ternama, seharusnya dia bukan orang biasa? apa memang keluarga Melia dari kalangan elite? apa dia telah salah menerka miskin teman Gisell itu? pikirannya berkecamuk.


Polisi keluar bersama Melia, gadis itu melebarkan senyum saat jarak dirinya dan Erick semakin dekat.


"Terima kasih sudah susah payah datang," ucap Melia dengan seulas senyum.


Dalam hati, Erick sama sekali tak merasa kesusahan karena hal ini akan jadi hutang budinya dengan Kevin.


Dengan senyum ringan, Erick mengacak rambut Melia.


"Bagaimana kamu ingin menyelesaikan masalahnya?" tanya Erick.


"Apa aku bisa melakukan apa saja?" tanya Melia.


"Tentu," jawab Erick mengiyakan apa yang diinginkan Melia.


"Benarkah?"


"Iya." Erick pun mengiyakan. Dalam hati dia hanyalah jembatan, karena pelindung Melia yang sebenarnya sangatlah dekat. Bahkan jika Melia ingin ke langit pun mungkin bisa diwujudkan. Meskipun Kevin tak menampakkan diri, bagaimanapun Erick tahu kalau laki-laki itu berusaha untuk terus melindunginya.


"Sebenarnya aku hanya ingin, Gadis kaya itu meminta maaf padaku dan temanku Gisell, lalu berjanji keluar asrama dan tidak lagi menindas Gisell. Aku tahu, temanku itu sudah menahan diri terlalu lama. Kau tau, tempramennya bahkan lebih buruk dari diriku. Seharusnya, dia membalas saat gadis bernama Clara itu terus menerus menindasnya. Aku sungguh tak menyangka, karena tak tahan aku pun membalas dia yang merusak skincare temanku dengan melakukan hal yang sama, merusak skincare miliknya. Rick, aku ingin gadis itu juga tak meminta ganti rugi padaku pun temanku, apakah bisa?" jelas Melia panjang lebar.


"Tentu saja bisa, kamu tenang saja!"


Erick tersenyum, lantas ia mengajak Melia masuk dan menjelaskan kepada keluarga Clara apa yang diinginkan oleh Melia.


"Hah, kenapa harus aku yang minta maaf? Dia yang merusak barangku, dia yang berbuat onar! Bilang saja jika tidak punya uang untuk mengganti rugi, sok-sokan meminta diriku minta maaf, ceh!" Clara menolak apa yang diinginkan Melia.


Sementara di dalam mobil, Kevin yang mendengarkan lewat sambungan ponsel pun berulang kali mendekus kesal, merasa geram dan mengepalkan tangan.


"Kenapa dia selalu dikelilingi oleh manusia bersifat ja lang," desis Kevin kesal dan mengusap wajahnya berulang kali.


"Kenapa aku merasa sangat kesal? Apa aku beneran sudah menyukai gadis pembuat onar itu, hah!" batin Kevin yang tak mengerti dengan mood perasaannya yang berubah-ubah.