
Mendengar ancaman Laras, Kevin segera meraih ponsel dan menghubungi Melia. Sialnya, nomor Melia tak dapat dihubungi. Kevin masih belum menyerah, ia mencoba beberapa kali, dan mengirim pesan. Nomornya masih sama, tak aktif dan itu membuat Kevin mulai percaya bahwa ucapan Laras memang bukan main-main.
Pasti wanita itu sudah merencanakan sesuatu untuk Melia, bodohnya Kevin ia lupa tak meminta pengawal untuk mengikuti gadis itu. Kevin membiarkannya pulang sendiri, karena ia fikir gang masuk rumah Melia dari jalan raya hanya beberapa langkah dan pastilah Melia akan segera sampai rumah, tanpa berfikir bahwa Laras akan menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Melia.
"Bodoh," makinya dalam hati.
Kevin menatap tajam Laras, wajah Kevin sudah memerah karena amarah. Namun, hal itu sungguh tak membuat Laras takut.
"Karena kamu bilang Melia saat ini sedang berada di tanganmu, maka kamu tinggal memilih satu, antara Melia atau keluargamu?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Kev?" tanya Laras dengan senyum sinis.
Kevin menatap tajam Laras, dengan nada tinggi dia berkata, "jika terjadi apa-apa dengan Melia, maka seluruh keluargamu juga akan mati." ancam Kevin, Farhan yang mendengar pun bergetar dan syok, keringat dingin bercucuran. Namun, saat ini ia tak bisa menghentikan kegilaan anaknya.
Farhan berulang kali mengusap dada berharap Kevin tidak serius dengan ucapannya. Verell menangkap raut wajah kegelisahan di wajah Papanya, akan tetapi ia tak berani mendekat karena pasti papanya akan membentaknya, mencacinya atau menganggapnya mencari simpati, ia tak sama sekali tak takut ancaman Kevin, karena menurut Verell kakak tirinya memang keterlaluan.
Laras tertawa,
"Waw, aku tidak pernah menyangka bahwa sosok Kevin Reyhan Louis akan bereaksi seperti ini, ternyata kamu juga memiliki seseorang yang sangat ingin kamu lindungi. Ck! sayang sekali ya, orang itu bukanlah diriku..." ucap Laras sambil tertawa, ia menjeda ucapannya sebentar, menatap Kevin sinis.
"Terserah, apa yang akan kamu lakukan pada keluargaku, aku tak perduli! Yang jelas, aku ingin membuat tunanganmu itu mati hari ini, aku ingin kamu merasakan rasanya tak bisa memiliki meskipun kamu terus memohon!" sambung Laras lagi, ia sudah dirasuki obsesi tinggi untuk memiliki Kevin, sayang sekali Laras tetap tak bisa memenangkan laki-laki itu meski terus memohon, dan hari ini Laras sangat ingin Kevin merasakan apa yang ia rasakan.
Sebenarnya perasaan Kevin belum sedalam itu pada Melia, hingga bisa menggunakan kalimat 'tak bisa memiliki, meskipun terus memohon'
Hanya saja Kevin merasa, Melia sangat sial karena bertemu dengannya. Baru sebulan mereka kenal, bertemu karena sebuah accident, dan sekarang disaat Kevin ingin memulainya dari awal, masalah terus menerus menimpa gadis itu karenanya Baru sebulan, sudah banyak hal yang terjadi, dan jika terjadi apa-apa dengan Melia hari ini, maka selanjutnya ia akan hidup dalam rasa bersalah.
Tiba-tiba memori malam kelam itu berputar, Kevin mengingatnya, kesalahan terbesar yang pernah Kevin lakukan pada seorang wanita sepolos Melia, wajah polos gadis itu dan sikapnya yang tomboy dan menyebalkan membuat Kevin merasa sangat kesal dan marah apabila terjadi sesuatu dengannya. Perasaan itu semakin mendominasi kala Laras mengancam akan membuat Melia mati. Tiba-tiba Kevin mengepalkan tangan, Laras masih terbahak puas, terlebih saat mendapat kabar bahwa mereka anak buahnya sudah berhasil membuat Melia luka-luka.
Dengan langkah cepat Kevin menghampiri Laras, tangannya yang mengepal erat lalu satu tangannya mencekik leher Laras dengan emosi.
Laras yang melihat api kemarahan di mata Kevin pun berhenti tertawa.
"Breng sek! wanita macam apa kamu," umpat Kevin.
Laras menyeringai, "kau ingin membunuhku, Kev? karena wanita itu? ck!" Laras berdecak.
"Jika sampai Melia mati karenamu, maka kalian semua harus dikubur bersamanya!"
"Wawww, sebegitunya kah? apa kamu tidak bisa melihatku sekali saja, aku bahkan lebih dulu menyukaimu dari 10 tahun yang lalu!"
"Memangnya kenapa? aku tak pernah bilang kamu berhak menyukaiku, itu salahmu sendiri yang tidak tahu diri." tegas Kevin.
"Lepas, sakit Kev!" pekik Laras.
"Sakit ya, bagaimana jika aku membunuhmu juga?"
Farhan sudah terduduk lemas di sofa, ia bahkan tak bisa mencegah Kevin untuk berhenti, putrinya memang keterlaluan.
"Itu tidak ada hubungannya denganmu!" tegas Kevin.
"Tentu saja ada, aku menyukaimu! Tapi sampai sekarang, kamu bahkan tidak memikirkan, kalau aku juga hancur karena kamu lebih membelanya, kamu bahkan melindunginya, tapi sekarang sakit hatiku sudah terbayar dengan hilangnya dia dari kehidupan kamu! Aku bilang, jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain pun tidak boleh." tekan Laras yang sudah seperti orang gila karena obsesi cintanya.
"Ck! menyukaiku, yang kamu lakukan itu apa pantas disebut suka, bagian mana dari kelakuanmu yang menggambarkan rasa suka padaku. Kamu terlalu terobsesi, takutnya malah kamu sendiri akan gila karena apa yang kamu inginkan tak tercapai." kecam Kevin.
Laras menahan sakit di lehernya karena cengkraman tangan Kevin, ia berusaha tak terlihat kesakitan dan masih menampilkan seringai di wajah.
"Tolong jangan gegabah," lirih Farhan. Ia sudah tak sanggup melihat Laras dicekik oleh Kevin.
Kevin menatap sinis, ia sudah tak perduli dengan lirihan Farhan yang meminta ia melepaskan Laras.
"Aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan pada Meliaku," ancam Kevin.
"Suruh seseorang melepaskan Melia atau aku akan membunuhmu juga!" teriak Kevin yang seolah tak digubris oleh Laras.
"Jangan mimpi, meski aku mati aku tak akan melepaskannya, aku tak akan membiarkan dia hidup untukmu," pekik Laras.
***
Di sisi lain, Melia yang sudah penuh luka-luka di tolong oleh Erick, Erick seperti mengenali orang-orang yang berusaha mencelakai Melia.
"Apa perlu aku bawa ke rumah sakit dulu?" tanya Erick.
"Oh, tidak. Terima kasih sudah menolongku," ucap Melia tersenyum, meski ia harus menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Siapa yang berusaha melukaimu?"
"Dia Laras, dia menyuruh orang untuk menculikku dan menghabisiku." aku Melia, Erick membulatkan mata.
"Aku akan membawamu melihatnya, apa kau mau?" tawar Erick.
Melia yang dipenuhi dendam pun bersemangat, karena ia ingat Kevin sedang berada disana, Melia ingat Kevin pulang dengan Verell diikuti Laras.
"Kamu siapanya Laras?" tanya Melia memicing curiga.
"Kamu mau atau tidak?"
"Mau!"
"Tapi aku ingin kamu janji, kalau kamu tidak akan membalas perbuatannya padamu hari ini?" tanya Erick.
Melia terdiam, "Apa dia orang yang menyukai Laras?" batin Melia.
"Kalian, masih diam disini! Pergi dan katakan pada boss kalian, tugas sudah beres!" teriak Erick, mereka yang tahu kalau Erick adalah kakak kandung dari Laras pun hanya bisa patuh.