One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 46



Kevin bahkan masih sempat mendengarkan obrolan ibunya Melia di sambungan telepon. Namun, wajah dan pikirannya entah ada dimana.


Melia memundurkan langkah, ia bukan sengaja menggoda Kevin kan? tanyanya lebih pada diri sendiri. Yang terjadi barusan adalah ketidak sengajaan. Namun, melihat Kevin yang hanya diam mematung seraya menatapnya membuat Melia jadi takut, apakah laki-laki itu akan memarahinya?


Melia mendekat lantas melambai-lambaikan tangan di depan wajah Kevin. Ia sedang berusaha menyadarkan lamunan laki-laki itu.


"Maaf, aku beneran tidak sengaja. Hey, Kev! Kenapa diam saja, aku beneran minta maaf, aku sungguh tak ada niat apapun apalagi untuk menggodamu." jelas Melia, ia tak ingin Kevin salah paham karena tanpa sengaja bibir mereka bertemu dan itu karena kecerobohan Melia.


"Hmm." Kevin hanya berdehem, ia ingin melihat wajah Melia saat merasa bersalah dengan pipi tercetak rona merah, itu sangat menggemaskan bagi Kevin. Meski ia harus memasang wajah sedatar mungkin.


"Heee, aku minta maaf sekali lagi, aku gak bermaksud itu, eh." Melia salah tingkah, akan tetapi ia berusaha menjelaskan kepada Kevin.


"Tidak apa-apa," ucap Kevin dengan wajah sedatar mungkin.


Melia yang melihat respon Kevin biasa saja dan malah memilih mengabaikannya pun mengernyit heran.


Sampai akhirnya sambungan telepon terputus dan Kevin menghela napas pelan.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku anggap hanya dijilat anak anjing saja." Pernyataan yang terlontar membuat Melia membelalakkan matanya.


Dengan wajah kesal lantas mendekus.


"Jadi kamu pikir aku ini anak anjing?" Melia berkacak pinggang, tak terima dengan ucapan Kevin.


"Menurutmu?"


"Kamu ini ya, menyebalkan. Aku dah minta maaf tapi kam..."


"Sudah." potong Kevin.


"Gak bisa, kamu udah seenaknya bilang gitu, kamu pikir aku ini ap..." Kevin langsung menarik Melia ke dalam pangkuan dan mencium bibirnya.


Rasa manis, lembut Kevin rasakan. Kevin tau, saat ini Melia bahkan menatapnya tajam penuh keterkejutan. Tapi, inilah Kevin. Kesempatan ini, mana boleh ia lewatkan.


Kevin melu mat kecil bibir merah jambu itu, sementara Melia mematung dengan tingkat kesadaran lemah. Ia terhanyut. Namun, untuk membalas ciuman Kevin itu tidak mungkin bagi Melia.


Melia tak ingin Kevin beranggapan bahwa dirinya sangat menikmati hal ini.


Ego masing memang tinggi, Kevin yang merasa tak mendapat respon dari Melia hanya menikmatinya, tentu saja sebelum wanita itu sadar dan mendorong tubuhnya.


Masalah lain kini timbul, saat sesuatu milik Kevin dibawah sana memberontak, sebelum semuanya runyam segera ia akhiri. Melia memang berhasil menguasai geloranya sejauh ini. Kevin melepas ciuman, meski terpaksa.


"Kita impas," ucap Kevin memiringkan senyum seraya menaik turunkan alis. Melia yang tersadar sontak bangkit dari pangkuan Kevin.


"Apa-apaan sih kamu, kok jadi ambil kesempatan." pekik Melia, ia menepuk jidat karena tersadar apa yang sudah terjadi. Dan kini, pipinya sudah bersemu merah karena malu.


Pesona tampan Kevin berhasil membiusnya, melemahkan syaraf responnya. Hingga Melia yang seharusnya mendorong Kevin sejak tadi hanya diam tak berkutik saat pria dingin itu dengan mudah mencium bibirnya.


"Kenapa, hm? bukannya senang, lagian kamu duluan tadi yang mulai." Santai Kevin, ia berhasil membuat Melia malu, dengan pipi merona. Kevin sangat gemas sekali melihatnya, lagi dia hanya memasang wajah datar, Kevin memang pintar mencari kesempatan.


"Aku udah bilang gak sengaja, itu kakiku kepleset. Harusnya kamu paham dong," gerutu Melia.


"Jadi kamu pengen dipahami, kenapa harus pake cara seperti itu."


"Kan kan, kamu yang mulai. Kamu juga yang marah, aku bilang aku cuma mengambil kembali ciumanku, kamu terlalu heboh apa mau menggodaku untuk hal yang lebih?"


"Dasar mesum." pekik Melia, lantas memukul lengan Kevin.


"Kamu yang mesum, jelas-jelas tadi kamu berusaha menggodaku."


"Kamu pria mesum, aku bilang gak sengaja kenapa kamu terus-terusan mengungkitnya." Melia mulai lelah. Ia memundurkan langkah namun tangan Kevin mencegahnya.


"Mau kemana? Sudah menggodaku apa tidak mau bertanggung jawab sudah membangunkannya."


"Kau..." geram Melia, Ia memalingkan wajah dengan bibir mengerucut.


Kevin yang melihatnya merasa gemas sendiri, tapi ia memiliki pertahanan akting yang kuat.


Kevin yang sedari tadi muak karena tingkah Liona dan segala bujuk rayunya seolah lupa, jika belum ada setengah jam yang lalu ia marah-marah. Setengah jam yang lalu moodnya benar-benar buruk karena kehadiran Liona.


Kini, karena kehadiran Melia, Kevin bisa tersenyum tipis. Meski tak terlihat, tapi raut wajahnya sangat kentara jikalau saat ini moodnya sudah kembali membaik, dan semua itu berkat kehadiran Melia.


Apalagi setelah Melia tanpa sengaja menciumnya, meski kecelakaan. Hal itu membuat Kevin merasa senang, ia punya kesempatan menggoda Melia, ia punya kesempatan membalas, bahkan mencium bakik dengan alasan yang tentu tidak masuk akal.


'Harus baik-baik sama Kevin, janji sama Ibu kamu akan menemaninya di kantor nanti sampai pulang kerja, jangan sampai si Liona punya ruang kembali dan merencanakan sesuatu untuk merebut Kevin darimu' perkataan sang ibu terngiang di kepala Melia, jika bukan karena janjinya kepada Sintia sebelum datang kesini, mungkin Melia sudah berlari meninggalkan ruangan Kevin sekarang. Mungkin, Melia memilih tidak datang, membiarkan Liona merebut Kevin darinya.


Namun, kadang Melia berfikir bahwa, menjadi nyonya CEO, ia harus menjadi wanita satu-satunya dalam hidup Kevin, Melia harus menyingkirkan alang-alang penghalang lebih dulu.


"Kenapa dia menatapku seperti itu, apa dia benar marah karena perlakuanku barusan. Tapi, sikap yang aku ambil sudah impas sesuai dengan yang dilakukannya." Batin Kevin, melirik ke arah Melia yang mematung resah.


"Pria mesum sepertinya, aku harus hati-hati. Tidak akan ada kejadian dua kali, apalagi tadi menciumku tiba-tiba dan malah berkata aku sedang menggodanya, menggoda apa? aku jelas-jelas tidak merasakan sesuatu." batin Melia.


"Ehmm, karena sudah menciumku maka kamu harus di hukum," ucap Kevin. Melia menghela napas, manik matanya beradu dengan mata Kevin.


"Apa, aku bilang gak sengaja. Kamu kira-kira dong, Kev. Jangan ambil kesempatan."


"Ck! Kesempatan ya, bukannya aku yang harus bilang begitu. Kejadiannya kamu sudah menciumku disaat aku lengah, bisa jadi besok-besok kamu akan melakukan hal lain."


"Kamu sudah mengambilnya lagi, kenapa masih diungkit?" pekik Melia semakin kesal.


Kevin senang sekali, bagi dirinya wajah cemberut Melia adalah mainan yang menggemaskan.


"Jadi?" tanya Kevin.


"Jadi apa?" Melia yang mulai hilang kesabaran meninggikan suaranya, lantas ia mundur dan terduduk di sofa, tangannya mengusap wajahnya kasar. Melia merasa sangat bodoh sekarang.


Banyak hal yang akan kita lalui, perdebatan kecil ini hanyalah awal dari bumbu.


Kisah kita sebenarnya baru akan dimulai~


***


YG PUNYA VOTE/ GIFT GRATIS BOLEH SUMBANGIN BIAR MAKIN SEMANGAT😘


LIKE KOMENNYA JANGAN LUPA SAYANG🤗