One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 81



Orang tua Clara mengerutkan alisnya melihat kedatangan Melia bersama sosok tampan di sampingnya. Dilihat dari penampilan yang rapi dengan setelan jass mahal, laki-laki itu seperti bukan orang biasa. Namun, hal yang membuat ibu dari Clara itu masih tidak terima adalah permintaan Melia yang menyuruh Clara untuk meminta maaf padanya juga Gisell.


"Saya cuma minta dia meminta maaf ke saya dan teman saya, mengosongkan asrama yang ditempatinya agar dipakai teman saya juga berjanji kedepannya tak akan pernah mengganggu teman saya lagi..." Melia menjeda ucapannya.


"Oh, ya satu lagi. Kalian juga tidak boleh meminta ganti rugi untuk kerusakan barang kepada saya, karena saya kan cuma membalas dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan," ucap Melia lagi dan menunjuj wajah Clara.


"Memangnya siapa kamu? berani sekali menyuruh anakku minta maaf. Padahal jelas kamu yang bersalah, kamu yang merusak barang dan memukulnya," ujar ibu Clara tak terima.


"Dia yang memukul duluan, dan ini bukanlah saatnya dia bisa mengatur apapun." sambung Ibu Clara lagi bernada sinis menatap Melia juga Erick bergantian.


"Siapa Melia? Menurut anda, siapa dia bisa meminta saya, Erick Arsya Wenas datang sendiri ke polisi untuk membawanya pulang?" tanya balik Erick seraya menyebutkan marga Wenas di belakang namanya.


Ibu Clara pun mundur selangkah karena saking terkejutnya, pun juga dengan papanya.


"E-rick Ar-sya Wenas?" ujar mereka terbata-bata menyebutkan nama Erick secara lengkap dan langsung terkejut setelah menyadari siapa laki-laki yang bersama dengan Melia.


Melia yang melihat mereka kaget pun dalam hati merasa senang karena dirinya sudah benar mencari bantuan dari Erick.


Clara memutar bola mata malas, melihat ekspresi Melia yang terlihat senang membuat dadanya kesal dan marah.


"Walaupun Tuan Erick sekalipun orang penting juga tidak boleh membela dan menyelamatkan orang jahat," desis Clara melirik sinis ke arah Melia.


Erick melipat tangan di depan dada, "apa menurutmu, diriku tidak mencari tahu lebih dulu permasalahan yang terjadi sebelum datang kesini!" ujar Erick dengan senyum dingin.


"Apa saat ini kamu sedang berusaha mengguruiku," sambung Erick lagi menatap datar ke arah Clara. Clara tertekan, ia menatap wajah kedua orang tuanya yang tiba-tiba menggeleng tak jelas lantas menghela napas kasar.


Dengan pelan Clara berkata, "setidaknya aku tidak akan menindas dan memukul seseorang!" sindirnya lagi. Namun, hal itu langsung dibalas perkataan telak oleh Erick yang geram mendengar penuturan Clara.


"Ada banyak penindasan yang dilakukan dengan tidak perlu memukul seseorang akan tetapi sakitnya berkali-kali lipat. Jika kamu tidak suka cara Melia, kamu bisa memberitahu kepadanya. Aku bisa membuat masalah seperti ini lebih rumit sepuluh kali lipat bahkan seratus kali lipat." tekan Erick dengan sorot mata menajam.


Ayah Clara yang diam sedari tadi pun mulai bersuara.


"Clara, lebih baik kedepannya kamu tidak banyak berulah dan banyak tingkah. Karena mau sebesar apapun keluarga kita. Meski terbesar dalam dunia hiburan, jika dibandingkan dengan Tuan Erick, kita hanyalah segelintir debu yang tak ada apa-apanya!" tegas ayah Clara.


Clara pun terdiam dengan wajah kecut. Sementara Gisell berjalan ke sisi Melia dengan bangga dan bertanya siapa laki-laki yang telah menyelamatkannya.


"Mel, siapa dia? Siapa laki-laki yang datang menyelamatkanmu? hebat sekali bisa membungkam keluarga sombong seperti Clara?" tanya Gisell penasaran, terlebih dilihat dari segi manapun erick memiliki nilai plus yang luar biasa. Penampilan, ketampanan, juga sikapnya, Pikir Gisell.


"Oh, dia? dia adalah temannya temanku. Aku yang memohon, meminta agar dia datang kesini membantu kita," jawab Melia setengah berbisik. Gisell pun mengacungkan dua jempolnya dan tersenyum sumringah ke arah Melia untuk memuji.


"Oh ya, aku minta maaf untuk sikap orang tuaku ke kamu. Kamu tahu ibuku kan, tapi percayalah. Kita tetap teman baik. Aku akan bicara dengan ibuku pelan-pelan dan menjelaskannya, Mel." Gisell meminta maaf atas sikap orang tuanya yang keterlaluan.


"Tidak masalah, karena bagiku yang penting adalah kamu. Masalah perkataan orang tuamu, aku tak begitu memperdulikannya karena aku hanya perduli dengan kamu dan tidak perlu mengurusi orang tuamu," ujar Melia.


Suasana kembali hening, Kedatangan Erick seolah membungkam semua orang yang ada di ruangan itu termasuk kedua prang tua Gisell yang berfikir dan menerka-nerka bahwa laki-laki yang datang menyelamatkan Melia, mungkin saja karena Melia menjadi simpanannya.


"Bekerja di club akan dengan mudah mendapatkan laki-laki kaya, pantas saja gadis itu berani bertingkah. Hanya bermodal jual diri sudah bisa memilih laki-laki manapun untuk membantunya." batin Ibu Gisell yang sedari dulu tak suka dengan Melia.


Clara akhirnya mengalah, dia berjalan pelan ke arah Gisell untuk meminta maaf.


"Maaf," ucapnya yang terdengar singkat dan lirih.


"Minta maafmu seperti tidak ikhlas," ujar Gisell menggurui Clara. Gadis itu langsung mengepalkan tangannya emosi.


"Aku sudah minta maaf, lalu apalagi?" tekan Clara tak senang, karena ia sudah berusaha meminta maaf akan tetapi sikap dua gadis di hadapan kembali membuatnya kesal.


"Apalagi? Heh, lain kali kedepannya jangan lagi kamu sembarangan menindas orang. Kamu gak akan tahu siapa orang yang berada di belakangnya," tekan Melia dengan sorot mata tajam.


Melihat hal itu sebenarnya membuat Erick salut, dalam hati ia memuji Kevin yang tak salah dalam memilih wanita. Melia bukan hanya kuat fisik tapi juga metal.


Erick menjauh sebentar saat Kevin berulang kali memanggilnya di sambungan telepon.


"Ada apa?" tanya Erick berbisik saat jauh dari jangkauan mereka.


"Kau bisa mengatasinya kan?" tanya Kevin terdengar ragu, Erick pun terkekeh.


"Mereka hanya segelintir kerikil kecil, sudah ku bilang jangan panik. Melia akan keluar segera dan baik-baik saja."


"Oke oke, baiklah! Pastikan orang tua dan anak yang telah menghina Meliaku jera!" ujar Kevin tak sabaran. Namun, Erick lagi-lagi menanggapi Kevin dengan kekehan kecil.


"Jika tak sabaran, maka masuklah. Tidak baik menahan emosi di luar, oke aku akan masuk dulu." Erick pamit akan tetapi tak memutus sambungan telepon, ia membiarkan Kevin mendengar apa-apa yang menimpa Melia di dalam.


Erick yakin, sahabatnya itu tengah menahan diri untuk tidak menyusulnya kesini. Mengingat Kevin juga memiliki tempramen buruk karena orang tuanya.


Erick kembali, dan melihat ke mereka. Sepertinya perdebatan belum usai, ia menghela napas dan berbicara kepada polisi meminta izin untuk membicarakan masalah ini secara keluarga lebih dulu.


Clara tampak emosi meski sudah menjatuhkan diri untuk meminta maaf, dalam hati berjanji tidak akan melepaskan mereka begitu saja.