One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 97



Dalam diamku


Kupanjatkan selalu doa untuknya


Jodoh bukan soal sempurna


Namun yang mampu tangguh tuk bertahan


Dan berjuang


Takkan siakan dia


Belum tentu ada yang seperti dia


Satu dunia tahu aku bahagia


Banyak pasang mata saksinya


Takkan duakan dia


Belum tentu esok kan masih ada


Kesempatan tak datang kedua kalinya


Hargai dan jaga hatinya.


( Cuplikan lagu Govinda - Hal hebat )


***


Hari yang ditunggu pun tiba, mungkin terlalu cepat bagi Melia dan Kevin. Meski begitu, Kevin sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Bukan hanya kolega, rekan bisnis, beberapa wartawan juga nampak turut mengabadikan ikatan cinta Kevin dan Melia.


Melia kembali dilanda gugup, perasaan senang, bahagia, gugup, berpacu dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Ia tak bisa berhenti menatap takjub ke arah cermin dimana bisa melihat dengan jelas balutan gaun pengantin melekat indah di tubuhnya, Kevin pasti sangat suka.


Namun, selain berusaha mengontrol debaran jantung dan kegugupannya ia juga harus mengontrol gejolak dalam perutnya dan berharap ia tidak akan mual atau mutah disaat momen bahagia tercipta.


"Singkirkan kegugupanmu, itu akan membuat make up mu berantakan." Karina memegangi pundak Melia dengan lembut. Melia sangat beruntung memiliki saudara sepertinya yang ternyata bertolak belakang dengan sikap Liona.


"Terima kasih, Kak." Melia mengulas senyum.


Sementara beberapa orang berusaha membenahi penampilan Melia.


Bram dan Sintia sudah berada di depan sejak tadi bersama orang tua Kevin juga kakeknya. Tentang Gio, sebenarnya ia urung datang tapi karena paksaan Louis mau tak mau ia turut berdiri disana.


"Apa aku boleh menemui Melia dulu?" tanya Kevin, karena tak sabar melihat Melia dengan gaun pengantinnya, pasti terlihat sangat cantik.


"Maaf, Kev! Tapi tidak bisa, kamu boleh menemuinya setelah ikhrar pernikahanmu selesai." jelas Alan.


"Hah! tidak boleh ya?" tanya Kevin dengan raut wajah frustasi, bukan tak sabar atau apa-apa, ia khawatir Melia akan merasakan mual-mual jika tanpanya.


"Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Alan membuat Kevin gelagapan.


"Tidak aku hanya terlalu gugup, ini seperti bukan diriku." elak Kevin.


"Bwahahha, kamu merasa aneh? Kevin yang biasa tegas, dingin, dan berwibawa bahkan sekarang terlihat sangat gugup." Alan menepuk pelan pundak Kevin.


"Hah... Berhentilah meledek." kesal Kevin.


"Aku tidak sedang meledek, aku sedang mengingatkanmu bahwa semua orang akan bucin pada waktunya. Teruslah mengelak, tapi ini hanya permulaan. Hal yang lebih menegangkan itu ya nanti malam, haha." Alan sampai terbahak sementara Kevin menggelap, akan tetapi ada benarnya juga perkataan Alan barusan.


"Ayo, hentikan kegugupanmu. Anggap saja sedang meeting dan kamu adalah pemimpinnya."


Orang-orang make up yang membantu Kevin bersiap itu pun berusaha menahan tawa mendengar perkataan Alan. Namun, mereka tidak berani mentertawakan orang sepenting Kevin yang notabenenya adalah penerus keluarga Louis.


Kevin menghela napas, berusaha mengurangi kegugupannya. Ia melangkah bersama Alan tapi baru saja ia keluar kamar hotel tempatnya bersiap Erick sudah menyambutnya.


"He, brother. Kau membuatku terkejut dengan pernikahan dadakan ini." protes Erick mencerca Kevin, karena tidak ada cerita apapun tiba-tiba ia mendapat undangan di acara pernikahan Kevin dan Melia.


"Aku sudah merencanakannya sejak lama." jawab Kevin.


"Ck! jangankan kamu, aku aja baru dikasih tau seminggu sebelumnya," ujar Alan.


Alan dan Erick saling pandang lalu tertawa.


"Sudah beneran bucin ternyata." goda Erick.


"Yah begitulah, bucinnya dari perut naik ke hati." canda Alan hingga berhasil membuat Kevin memukul lengan keduanya.


Kevin keluar ditemani Erick dan Alan menuju ballroom. Ballroom di hotel ini juga memiliki "Wedding Terrace" yang menawarkan area outdoor dengan taman indah, gazebo serta pepohonan kelapa yang memperindah suasanya. "Wedding Terrace" ini sendiri bisa dijadikan sebagai bagian dari Grand Ballroom untuk sempurnakan acara pernikahan Kevin dan Melia.


"Kenapa Melia belum keluar juga?" tanya Kevin, baru saja mengatupkan mulutnya Melia sudah keluar bersama Karina dan Lana yang menemaninya.


Acara ikhrar nikah pun dimulai, Kevin dengan tegas dan lantang mengucapkan janji sehidup sematinya dengan Melia, pun juga dengan Melia. Kini resmi sudah mereka menjadi sepasang suami istri.


Hal mendebarkan lainnya adalah saat keduanya harus berciuman di depan para tamu undangan.


"Jangan gugup, anggap saja tidak ada orang Mel, bukankah dunia ini memang milik kita berdua." rayu Kevin yang diam-diam langsung mendapat cubitan pelan dari Melia.


"Aku gugup." aku Melia terlebih jarak mereka semakin terkikis, dan Kevin dengan sigap meraih pinggang Melia, lalu mendekatkan bibirnya.


Cup!


Kecupan singkat ia daratkan hingga berhasil mengundang tepuk tangan yang menggema. Kecuali dua orang yang duduk di sudut depan dan kursi paling belakang. Gio dan Verell sama-sama tersenyum kecut menyaksikan itu semua.


Mungkin, jika ini bukan pernikahannya. Kevin akan langsung meraih tubuh Melia dan membawanya masuk ke dalam kamar sesegera.


"Selamat sayang," ucap Sintia dan Bram.


"Bahagia selalu ya, Nak. Semoga lekas diberikan keturunan." Orang tua Kevin, kakek dan para kerabat memberikan selamat satu-satu.


"Tamunya banyak banget," bisik Melia.


"Memang banyak, kolega bisnisku datang semua. Belum kolega perusahaan Papa, teman-teman Kakek, bahkan para pimpinan dan dokter Rumah Sakit Pusat Medika juga banyak yang hadir."


"Hah?" Melia hampir tak percaya, sebesar itukah pengaruh keluarga Kevin? Merasa mimpi karena saat ini ia beneran menjadi nona CEO, seperti apa yang ia harapkan untuk membalas dendam.


Tapi, ngomong-ngomong soal balas dendam Melia bahkan belum melakukan apapun, Lyn sudah mendapatkan getahnya. Kabar terakhir, perusahaan yang di pimpin Bram bangkrut karena Bram angkat tangan, terlebih beredar video skandal Lyn dan bawahannya.


Tak bisa dibayangkan bagaimana kondisi wanita angkuh itu, tapi yang jelas karma sudah berjalan semestinya.


Rangkaian acara demi acara hampir usai, Melia benar-benar dibuat kewalahan dengan banyaknya para tamu yang hadir.


"Selamat ya Pak Kevin, Melia. Saya nggak nyangka calon istri Pak Kevin itu kamu." Revan menjabat tangan Melia yang tertegun lama.


"Terima kasih, Revan. Tapi, bisakah segera lepaskan tangan istriku."


Revan tersadar, dan langsung melepaskannya.


"Maaf, Pak Kevin. Hanya saja saya masih tak menyangka." Revan tersenyum sopan, meski entah dengan hatinya.


"Terima kasih dokter Revan. Terima kasih juga untuk kebaikannya selama ini, aku akan mengingatnya," ucap Melia.


"Tidak menyangka karena wanita yang kamu sukai adalah calon istriku kan?" ujar Kevin yang menekan kata calon istri.


"Kev."


"Saya permisi dulu," pamit Revan.


"Apa, emang benar kan itu kenyataannya."


"Aku gak tau apa-apa," bisik Melia.


"Gak tau juga, dia tetep suka sama kamu kan, hm. Pake makasih segala, perasaan kamu sama aku gak ada makasihnya, Mel."


Beruntung tamu mulai sepi, jadi tak ada yang melihat perdebatan panjang mereka. Meski lirih, tapi rasanya menyebalkan saat hari yang membahagiakan harus terisi dengan perdebatan.


Dan kini, disaat Melia mulai bersikap sabar, Kevin justru menjadi sangat sensitif.


"Iya iya makasih suamiku yang baik tapi galak." goda Melia berusaha agar Kevin tak marah. Diam-diam ternyata Kevin menyimpan banyak rahasia tentangnya.