One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 38



"Aku gak bisa bayangin jadi Melia, pasti berat. Papa tak pernah memperdulikannya, tapi Melia terlihat sangat tegar. Andai aku tahu lebih awal tante, mungkin kita bisa menjadi saudara yang baik." Saudara baik, ck! sambung Liona dalam hati.


"Iya sayang tidak apa, kamu memang berbeda dengan ibumu."


"Ck! Dasar bodoh, baru dibaikin gitu aja udah luluh, heh! Siapa juga yang mau saudaraan sama orang kampung kaya kalian." Batin Liona dengan senyum kemenangan.


🍁🍁🍁


"Tante, bagaimana keadaan tante. Kenapa bisa sampai dirawat. Ona nggak tau, kalau tante sakit?" tanya Liona dengan raut wajah cemas dibuat-buat.


"Tante sakit, hm hanya mudah lelah." Sintia berbohong soal penyakitnya, melihat senyum manis Liona pun lantas Sintia menggenggam lembut jemari gadis itu.


"Maaf karena kehadiran tante di kehidupan kalian, tapi tante hanya korban dari kebohongan papamu." Sintia menerawang, ia tak pernah tahu versi seperti apa Lyn bercerita kepada anaknya. Yang pasti, Liona juga harus tau kejadian sebenarnya.


"Liona percaya sama tante," Ucap Liona, ia melirik ke arah pintu, ada sosok Melia disana yang diam-diam sedang menguping.


Melia, langkahnya begitu tergesa melewati koridor demi koridor menuju bangsal ruang rawat ibunya, matahari yang mulai meninggi membuatnya tak sabar. Satu rantang makan siang ia siapkan untuk ibunya. Awalnya Melia ingin mengantar sarapan, akan tetapi ia sangat kesusahan bangun pagi akhir-akhir ini.


Langkahnya terhenti dengan bibir mengatup.


Melia terkejut mendapati Liona berada di ruang rawat ibunya, ia tahu kakak tirinya itu bukan perempuan baik. Pasti, sudah dipastikan jika ada niat terselubung di dalamnya.


"Dia tidak menyadari aku datang, tapi dia pasti akan bersikap manis dengan kepura-puraannya. Dasar ular, sama aja dengan nenek lampir itu. Setelah merendahkanku kemarin, apa ia masih tidak tahu diri dan datang dengan membawa maaf palsunya." batin Melia.


Liona merasa tak terganggu dengan kehadiran Melia yang masih betah diambang pintu, bersembunyi di luar dan mendengar pembicaraan ia dan Sintia.


Namun, situasi seperti itu harus dimanfaatkan dengan baik oleh Liona. Ia terus memuji Melia dengan segala keterbatasan yang tak diberikan oleh papanya, sesekali menghapus sudut air mata yang berair agar aktingnya semakin sempurna.


"Astaga, bisa-bisanya ibu percaya gitu aja dengan ular itu." Melia berdecak lalu memutuskan untuk masuk ke dalam ruang rawat ibunya. Melia melirik sesuatu di nakas dan melihat jika Liona membawa sesuatu untuk ibunya.


"Eh, Melia. Baru datang?" sambut Liona tersenyum ramah. Melia mencibir, melirik sinis ke arah Liona dan langsung meletakkan makanan di atas nakas.


"Mel, yang sopan sama kakak kamu." Tekan Sintia, lalu meminta kepada Liona agar memakhlumi sikap Melia yang sinis.


"Maafin Melia, ya Ona. Mungkin, dia bekum terbiasa."


"Ngapain sih, bu. Minta maaf, ibu lupa kalau kemarin dia merendahkan kita." Sinis Melia. Ia tak ingin, Sintia dengan mudah percaya begitu saja dengan sikap manis dan ramah Liona.


"Maafin sikapku kemarin, Mel. Itu karena aku gak tau kamu juga anak papa. Aku gak bisa bayangin gimana kamu hidup selama ini. Pasti berat ya," ucap Liona berusaha agar Melia juga memandang dirinya baik.


"Cih, aku tak sudi. Kamu pikir semudah itu minta maaf."


"Hargai? mau di harga berapa emang?" ketus Melia dengan raut wajah sebal. Lantas ia terdiam memainkan ponselnya dan duduk di kursi, menjauh.


"Mel, jangan begitu."


"Gak papa tante, mungkin Melia masih bekum percaya sama aku. Nanti lama-lama kita juga bisa menjadi saudara yang saling menyayangi."


Liona tersenyum tipis, meski sejujurnya dalam hati meletup-letup emosi.


"Ck! bertahan berapa lama kamu bersandiwara. Meski ibu tak akan menyadarinya. Jangan harap kalau aku juga akan tertipu dan bersikap baik." Batin Melia, menahan kekesalan.


Moodnya sedang tidak baik dari kemarin, dari ia pulang dari mall dan dihina-hina oleh Lyn, istri sah papanya.


"Melia, bisa kan bersikap sopan sama kakakmu. Walau bagaimanapun, kalian saudara. Kemarin kakakmu seperti itu karena dia belum tahu, kalau kamu adalah adik sambungnya." Bela Sintia.


Mendengar penuturan sang Ibu membuat Melia merasa kecewa, hya dia kecewa dengan Sintia yang begitu mudahnya termakan akting pura-puranya Liona. Bahkan baru beberapa menit mereka bicara, Ibu lebih memilih membela kakak tirinya itu. Benar-benar membuat Melia sangat muak.


Melia tertawa sinis, menatap ibunya dan Liona bergantian.


"Bagusss, ibu lupa penghinaan nenek lampir kemarin seperti apa? Ibu lupa kalau ibu juga sering emosi dan tak terima dengan semua perlakuan Lyn. Jangan karena sekarang Liona baik-baikin ibu, terus ibu dengan mudahnya luluh. Hanya karena sarapan yang dibawa dia lantas ibu terus menerus membelanya. Apa ibu gak pernah mikir perasaan Melia, yang mati-matian belain ibu di depan wanita itu." Suara Melia tercekat, ia sangat kesal hingga emosi dalam diri seketika meluap.


"Aku nggak pernah nyangka, ibu mudahnya memaafkan mereka, membuatku semakin kesl saja." batin Melia.


Liona sejujurnya juga ingin marah, terlebih saat Melia berkata sebutan nenek lampir untuk mamanya, anak mana yang tak sakit hati. Pikir Leona. Namun, lagi-lagi ia harus menahan, meski tangannya ingin sekali langsung menjambak rambut Melia.


"Mel, aku beneran minta maaf. Teruntuk kejadian lalu, aku gak bisa bilang aku ini baik, penilaian itu memang dari orang-prang. Tapi Mel, apa kamu selalu berfikir bahwa sifat kamu dengan tante Sintia sama? Begitupun aku, aku sama mama memiliki sifat yang beda. Kamu tau sendiri kemarin, aku bersikap baik awalnya, aku marah karena terbawa mama." jelas Liona.


"Iya, Mel. Yang dikatakan oleh Liona benar adanya. Meski ibu dan anak, mereka memiliki karakter masing-masing. Jadi kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada orang yang berusaha memperbaiki kesalahan sama kamu, apalagi orang itu kakakmu."


"Ck!" decak Melia, ingin rasanya ia marah kepada ibunya karena lebih membela wanita ular yang membuatnya muak kali ini. Melia tahu, jika perempuan dengan segala kepura-puraannya ini sedang merencanakan sesuatu.


"Pergi sana, ngapain kamu masih disini. Aku nggak suka kamu disini, bikin pemandangan mataku jelek saja." decak Melia sebal, lebih sebal lagi saat sang ibu membela orang itu ketimbang dirinya.


"Tante, maafin aku ya? Sepertinya Melia memang butuh banyak waktu." Tak ingin sia-sia, Liona memperlihatkan raut menyedihkannya.


"Mel." Sintia menatap tajam putrinya.


Melia mencibir, lantas memutar bola matanya malas.


Liona tak akan mundur hanya karena sikap Melia, ia harus bisa berbaikan dengan Melia dan Sintia dulu agar lebih mudah untuk mendekati Kevin nantinya. Melia yang sebal pun berusaha mengusirnya keluar.