
"Kalian pergi saja," titah Kevin tanpa menoleh.
Wakil Kepala Direktur dan para dokter seketika membubarkan diri. Sementara dua pengawal datang tergopoh-gopoh menghampiri Kevin.
"Maaf Tuan Muda, tadi kami..."
Terputus saat Kevin mengibaskan tangan ke atas, tanda ia tak mau mendengar apapun.
Tok tok tok...
Melia yang mendengar ketukan pintu pun seketika mengernyit.
"Apa Om tua kamar sebelah?" pikir Melia, ia pun melihat ke arah Sintia, Ibunya terlihat benar-benar kurang tidur jadi ia pun memutuskan untuk membuka pintu agar laki-laki itu berhenti mengganggunya.
Ceklek...
"Kevin?" Melia menatap ke belakang laki-laki itu tak ada siapapun, menoleh ke kanan dan mendapati Gio memperhatikan ke arahnya pun Melia tersenyum licik.
"Hm, apa aku mengganggumu?" tanya Kevin, tak disangka Melia langsung menghambur ke pelukannya.
"Sayang aku kangen," ucap Melia dengan manja, sudah dipastikan Om-om kamar sebelah itu pasti sedang mendengarkannya. Mungkin, setelahnya dia tak akan mengganggu lagi.
Tapi, disisi lain ia juga takut akan reaksi Kevin, pasti akan terasa memalukan jika laki-laki itu menolak sandiwaranya. Terlebih saat ini Gio masih terdiam menatap ke arah mereka.
"Aku juga kangen, maaf akhir-akhir ini sibuk dan mengabaikanmu." Kevin mengusap rambut Melia berulang-ulang. Membuat pipi si empu merona seketika. Ia pun menyerahkan buket bunga yang sengaja dibawa untuk Ibunya, lantas meminta Melia membawanya masuk ke dalam.
Setelah menaruh bunga pemberian Kevin, Melia kembali melangkah keluar.
"Jadi dia kekasihmu!" Gio menghampiri dengan wajah datar.
Kevin menoleh, "Oh, paman! Aku bahkan lupa jikalau kau sedang dalam perawatan, karena saking lamanya asetmu tak bereaksi."
"Paman?" tanya Melia tak mengerti.
Gio yang merasa kesal pun semakin menggelap.
"Aku sudah sembuh, dan wanita di hadapanmu lah yang menyembuhkanku, hingga asetku bisa berdiri lagi."
Mendengar penuturan Gio membuat emosi Kevin naik ke ubun-ubun, Kevin mendekat dan langsung mencengkram krah kemeja yang dikenakan Gio.
"Breng s*k! Apa tidak bisa kamu berhenti mengusikku," bentak Kevin. Melia panik, dengan segera ia menarik Kevin dan membawanya menjauh.
"Apa yang dia katakan benar?" tanya Kevin, Melia yang tak mengerti apa-apa pun menggeleng.
"Kita harus bicara?" ucap Melia.
"Kita memang perlu banyak bicara!" tegas Kevin.
"Kalian jaga disini, ingat jangan sampai mertua saya kenapa-napa!" tegas Kevin kepada dua pengawal.
Deg!
Jantung Melia berdetak tak karuan mendengar Kevin menganggap Ibunya sebagai mertua, hatinya benar-benar menghangat oleh perlakuan Kevin, laki-laki itu selalu bisa membuat perasaannya naik turun bagai rollcoster.
Sementara Gio, dia mematung di tempat. Lagi-lagi ia selalu kalah sama Kevin.
"Kita mau kemana?" tanya Melia saat Kevin terus mengajaknya hingga ke parkiran.
"Naiklah, kamu akan tahu."
Melia menurut, dia duduk di belakang bersisihan dengan Kevin.
"Caffe terdekat, Pak!" titah Kevin kepada sopirnya.
"Baik, Tuan!"
Mobil pun melaju, hanya ada keheningan di sepanjang jalan. Namun, hal itu tak membuat Kevin mengabaikan Melia, bahkan ia bisa memperhatikan gadis itu dari ekor matanya.
Mereka pun sampai di caffe.
"Mau makan apa?" tanya Kevin, karena ini pertama kalinya mereka berdua menikmati waktu sebagai pasangan, meski Kevin sendiri tak yakin apa Melia setuju dengan keputusannya atau tidak.
"Aku ikut kamu aja," ujar Melia, Kevin pun mengangguk. Setelah memesan makanan, Kevin menatap Melia lekat-lekat.
"Aku..."
"Yaudah kam..." Keduanya sama-sama terdiam, lalu terkekeh.
"Aku punya banyak pertanyaan," ucap Melia.
"Iya, aku akan menjawabnya. Tapi, apapun jawabanku, apa kamu bisa berjanji untuk mempercayaiku."
Melia mengangguk.
"Apa kamu pernah ada main dengan istri orang?"
"Tidak pernah."
"Apa asetmu pernah di tendang seseorang dengan keras?" tanya Melia, dan itu berhasil membuat Kevin tergelak.
"Tidak, aku tidak pernah."
Melia menghela napas, "sebenarnya aku agak ragu sama kamu karena sering melihatmu keluar masuk club bersama banyak wanita, yang terakhir kali aku melihatmu masuk bersama wanita ke dalam toilet dan wanita itu adalah istri orang. Aku berinisiatif mematikan lampu dan menendang bagian aset dengan keras. Namun, aku ragu saat kemarin kamu menanyakan alamat club tempatku bekerja terlebih lagi saat kamu menolak keras wanita secantik Laras. Aku ragu kalau yang aku lihat itu kamu atau bukan."
"Jadi yang membuat aset pamanku lumpuh itu kamu?" tanya Kevin dengan gelak tawa.
Melia mengangguk, "jadi bukan kamu?"
Kevin lagi-lagi menggeleng.
"Aku pertama datang ke club itu dalam keadaan sadar tidak sadar, kedua kali karena menyelamatkanmu. Itu saja, aku tidak pernah ada main dengan wanita."
Entah kenapa Melia merasa senang mendengarnya.
"Aku sekarang percaya."
"Kamu tahu, pamanku itu mengadu ke Kakek kalau aku sudah menyuruh orang membuatnya celaka, dia juga sudah sebulan menjalani perawatan di rumah sakit. Tapi, apa maksud perkataannya tadi?" tanya Kevin memicing curiga. Melia menggeleng.
"Aku nggak ada apa-apa, kamu juga harus percaya sama aku. Aku cuma kebetulan bertemu dan dia menggodaku, mengirim parcel ke ibuku dengan dalih minta maaf, aku sama sekali tak menanggapinya." Jelas Melia, bersamaan dengan itu, pelayan mengantarkan makanan dan minuman.
"Makanlah," titah Kevin. Melia pun meraih sendok dan garpu lalu mulai menyentuh makanannya. Baru suapannya sampai di bibir.
Hoek...
Melia merasakan gejolak di perutnya, tak ingin membuat Kevin ilfill segera ia bangkit untuk mencari toilet.
Hoek Hoek...
Kepalanya mendadak pusing sekali, Kevin yang khawatir pun ikut berdiri dan mendekat.
"Kamu tidak ap-"
Brukk!" Belum sempat Kevin menyelesaikan ucapannya, Melia sudah lebih dulu ambruk tak sadarkan diri, Kevin yang panik pun menggendong Melia, Kevin menyodorkan beberapa lembar uang kepada seseorang untuk memintanya membayar makanan. Lantas ia membawa Melia keluar caffe.
"Mel, kamu kenapa? Pak ke rumah sakit." titah Kevin panik.
"Baik Tuan, ini ada minyak kayu putih. Silahkan dioleskan di area hidung dan dahi agar segera sadar." Sopir Kevin menyodorkan minyak kayu putih. Dengan panik Kevin pun menurutinya, kepala Melia ia letakkan di pangkuan dengan tangan sebelah sebagai penyangga, tangan satunya berusaha menyadarkan Melia dengan minyak kayu putih.
"Dasar keras kepala, kenapa nggak bilang kalau sakit, hm?" Kevin menggerutu. Sopir yang melihat Tuan mudanya tampak khawatir pun tersenyum tipis lantas melajukan mobil lebih cepat menuju rumah sakit.
Tak butuh waktu lama untuk sampai, Kevin langsung membuka pintu mobil dan menggendong Melia.
"Sus, tolong kekasih saya pingsan!" ujar Kevin.
"Baik, Pak Kevin! Mohon sabar sebentar." Suster pun meminta Kevin meletakkan Melia ke atas brangkar untuk dibawa menuju IGD.
Kevin mondar-mandir panik di depan IGD, bagaimanapun Melia pingsan saat bersamanya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" cerca Kevin saat seorang dokter keluar dari IGD.
"Pasien sudah sadar dan akan dipindahkan ke ruang rawat. Pak Kevin, apa saya boleh bicara dengan anggota keluarganya?"
"Saya keluarganya, Dok! Saya kekasihnya," ujar Kevin tak sabar, Dokter itu sempat terkejut akan tetapi sejurus kemudian mengangguk dan meminta Kevin untuk mengikutinya.
LIKE KOMENNYA JANGAN KETINGGALAN YAH, KUY RAMEKAN😗 GIFT VOTENYA JG BOLEH BANGET SAYANG😗
MESKI TAK SEMPAT BALAS SATU-SATU, KOMEN KALIAN ITU KADANG BIKIN MOODKU MEMBAIK🤗
SALAM PELUK JAUH😗 MAKASIH SUDAH MEMBERSAMAI MELIA - KEVIN SAMPAI DETIK INI, SEMOGA ENDINGNYA TAK MENGECEWAKAN KALIAN YAH, BIG LOVE ❤