
"Apa kau menghadiahkan sepatu ini untuk seseorang?" tanya Melia lagi, ia sangat ingin sepatu itu, sepatu yang pernah ia lihat di gerai toko branded beberapa waktu yang lalu bersama sang ibu.
Melia yang polos sama sekali tak mengerti jika Kevin menyiapkan sepatu itu karenanya, karena gadis itu menginginkannya.
"Iya memang benar." Kevin mengiyakan pertanyaan Melia, Kevin ingin melihat cara apa yang akan digunakan gadis itu untuk sepatu favoritnya.
"Ehm, Kev. Apa kamu tahu aku sangat menyukai sepatu ini." Melia menautkan jari-jarinya, menatap Kevin. Siapa yang tidak suka, semua wanita yang melihat sepatu merk C putih bersih itu pasti tertarik, termasuk Melia. Ia bukanlah gadis bodoh yang tidak tahu fashion, ia tahu apa yang cocok melekat di tubuhnya dari atas sampai kaki. Tapi, ia tahu berapa uang yang dipunya. Melia lebih rela menahan diri dari pada menguras habis tabungannya hanya untuk sebuah sepatu.
"Aku harus bisa merayunya kan? Aku pasti bisa mendapatkan sepatu itu, memangnya wanita mana yang akan diberi sepatu itu?" tanya Melia dalam hati kemudian tiba-tiba ia menutup mulutnya, "jangan-jangan wanita yang waktu itu di bar bersamanya? Astaga, aku harus menyelamatkan Kevin." pikir Melia dalam hati. Mungkin sebenarnya bukan menyelamatkan Kevin, tapi menyelamatkan sepatu favoritnya.
"Lalu?" dingin Kevin.
"Ehm, apa aku boleh mencobanya, Kev?" tanya Melia, ia bahkan sudah memegang sepatu berwarna putih itu. Melia sangat menyukainya.
"Tidak boleh." tolak Kevin, yang langsung mendapat cibiran dari Melia. Gadis itu menekuk wajahnya, akan tetapi pantang menyerah.
"Pelit banget." Gerutu Melia. Kevin tak menggubris cibiran Melia, ia mengabaikan gadis itu dan memilih sibuk dengan dokumennya, Kevin melirik Melia sekilas. Gadis itu mengerucutkan bibir, menambah poin plus kelebihannya di mata Kevin, menggemaskan.
Namun, Melia diam-diam tangannya sudah cekatan mencoba sepatu tersebut. Senyum tersungging di bibir Melia, sepatu itu bahkan sangat cocok di kakinya, Kevin belum menyadari jikalau sepatu itu sudah berhasil ia coba. Selanjutnya, Melia ingin melihat reaksi Kevin, apakah laki-laki itu akan marah-marah padanya?
Melia mendekat ke meja kerja Kevin, "bagaimana menurutmu, Kev? ini bagus kan?" tanya Melia meminta pendapat, Kevin hanya terbengong-bengong. Melihat kaki jenjang Melia sangat cocok, dan sesuai dengan dress yang dikenakan. Pilihan wanita itu memang luar biasa, pikir Kevin.
Kevin tersadar, lalu mengusap wajahnya.
"Lumayan," ucap Kevin.
"Boleh ya sepatu ini kamu hadiahkan untukku, boleh ya Kev." pinta Melia dengan nada manja.
"Hm, tidak boleh!" kekeh Kevin menolak. Meski entah kenapa, Kevin begitu senang dengan sosok Melia yang berubah manja padanya. Padahal biasanya ia sangat membenci wanita manja yang membuat Kevin merasa risih, tapi semua itu tidak berlaku bagi Melia.
"Boleh ya, Kev." Melia mengedipkan mata, berharap Kevin akan luluh dengan rayuannya.
"Tidak," ucapnya sambil menggeleng.
Melia cemberut, memasang wajah sedih di hadapan Kevin.
"Boleh ya, Kev. Kamu kan baik, ganteng, pengertian dan pastinya sabar banget menghadapi diriku." Melia duduk di kursi depan Kevin hingga berhasil membuat si empu keheranan.
"Kamu sedang merayu?" tanya Kevin.
"Aku tulus, merayu juga tulus kok. Boleh ya, aku dah lama lho pengen sepatu ini, sayang aku gak punya cukup uang untuk membelinya." jelas Melia.
Dalam hati ia berfikir, tidak akan tenang kerja hari ini jika terus menolak memberikan sepatu itu untuk Melia.
Kevin menatap kaki jenjang Melia, gadis itu terlihat sangat sangat cantik mengenakan sepatu yang ia beli.
"Cantik," batin Kevin, gadisnya itu memang sangat cantik menurutnya. Melia terus menekuk wajahnya, kali ini harusnya ia bisa merayu Kevin. Melia sudah mengeluarkan semua kemampuannya, ia memang tak pandai menggoda jadi hanya berharap Kevin berbaik hati mengalah dan membiarkannya membawa sepatu itu.
"Ehm, apa kamu sudah berhenti dari pekerjaan malammu?" tanya Kevin, ia ingin tahu apakah Melia akan menepati janjinya atau tidak.
"Aku akan berhenti saat Andre sudah menemukan pegawai baru penggantiku, paling lambat sampai akhir bulan. Dan aku janji akan menepati kata-kataku waktu itu," jelas Melia, dengan nada sungguh-sungguh berharap Kevin percaya dengan ucapannya.
Kevin merasa sangat puas dengan jawaban yang terlontar dari bibir Melia, ia tidak punya alasan untuk tak mempercayai gadis itu. Melihat kesungguhan Melia membuat Kevin yakin, gadis itu akan menepati janji tanpa di ingatkan. Kevin sangat salut, Melia type orang yang keras sama dengan dirinya, dan bisa lembut karena hal-hal yang disukai.
"Apa rencanamu setelah berhenti bekerja?" tanya Kevin penasaran, Melia memajukan wajahnya yang membuat Kevin tersentak matanya yang bulat dan jernih membuat kaum adam manapun pasti terpesona. Hya dia adalah Melia Zain. Kecantikannya natural dari lahir bahkan jika tanpa make up sekalipun, Kevin yang didekati mulai gugup.
"Aku belum memikirkannya, apa kamu ada saran?" tanya Melia. Kevin memalingkan wajahnya, ditatap seperti itu membuat detak jantungnya berpacu cepat. Kevin tak ingin Melia tahu, jikalau saat ini dirinya sedang berusaha mengendalikan diri. Pesona Melia memang luar biasa. Melia yang berani, Melia yang percaya diri, Melia yang keras kepala. Bukan hanya itu, mungkin semua pujian pantas tersemat untuk Melia.
"Tidak ada, aku tidak ada saran sama sekali. Lebih baik kamu rencanakan sendiri hidupmu selanjutnya!" ucap Kevin, masih memalingkan wajah.
Melia mengangguk, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Hari sudah sore rupanya, matahari hampir tenggelam. Pesona senja tampak indah terlihat dari kaca besar ruangan Kevin yang bisa langsung melihat seperti apa Jakarta. Melia terheran, dalam hati bertanya-tanya apakah Kevin bekerja sampai malam. Bahkan ia tak melihat laki-laki itu pergi, tapi kenapa sudah sesore ini dia juga belum pulang.
"Jam berapa berangkat kerja?" tanya Kevin berbasa-basi.
"Jam tujuh, apa kau mau mengusirku?" tanya Melia.
Kevin menggeleng, "tidak, hanya saja aku masih banyak pekerjaan. Tidak bisa mengantarmu pulang, maaf."
"Tidak masalah, aku bisa naik taksi nanti. Bagaimana sepatu ini? apa boleh?" tanya Melia lagi, ia tak rela melepas sepatu itu dan membiarkan Kevin menghadiahkannya untuk orang lain.
Melia memasang wajah imutnya, berharap Kevin mau luluh dan berbaik hati memberikan sepatu itu.
"Aku belum mengiyakan, kau sudah memakainya dari tadi." gerutu Kevin. Melia meringis, "aku terlalu menginginkannya, boleh kan."
"Hm." Kevin hanya menanggapinya dengan berdehem.
"Aku anggap jawabannya iya." Melia tersenyum senang.
Kevin memperhatikan Melia, gadis itu tampak senang sekali mendapatkan sepatu yang beberapa waktu lalu diincarnya.
"Hanya karena sepatu," gumam Kevin diam-diam tersenyum tipis.