
Verell membawa Kevin masuk ke dalam rumah, dengan ramah ia mempersilahkan Tuan muda Louis itu untuk duduk di ruang tamu.
"Tuan, silahkan duduk dulu." Pinta Verell, seraya mengiring langkah Kevin menuju ruang tamu. Rumah keluarga Verell cukup mewah karena memang statusnya hampir sama dengan keluarga Louis.
"Ehm, terima kasih!" ujar Kevin meski dengan wajah datar, hari ini juga ia harus bicara dengan papanya Laras.
Laras masuk beberapa saat, ia mencari kotak P3K di dalam rumah untuk mengobati luka di wajahnya, ia sempat meringis berulang kali meski luka itu tak terlalu parah.
'Gadis to lol, tunggu pembalasanku, kamu bukan hanya akan kehilangan Kevin, tapi juga hidupmu akan segera aku hancurkan'.
Laras menyeringai, setelah mengobati lukanya sebelum ia ikut bergabung dengan Kevin dan Verell di ruang tamu. Tatapan dingin dan menusuk Kevin tak membuat Laras putus asa, ia justru semakin tertantang untuk menakhlukkan laki-laki itu dalam kungkungannya.
"Terima kasih sudah membantuku, Tuan. Aku sangat beruntung karena berkat Melia, anda datang untuk menolongku." Verell mengira jikalau Kevin membantunya karena Melia, sebab mendengar Melia yang meminta Kevin menjaganya, ia pikir gadis itulah yang membuat Kevin berfikir untuk melindunginya dari serangan Laras.
"Aku menyelamatkanmu bukan karena Melia, tapi karena kakak laki-lakimu." jawaban Kevin seketika membuat Verell mematung.
"Aku minta, kamu nanti cukup diam saja. Biarkan aku yang bicara dengan papamu." titah Kevin, dahi Verell mengkerut, sejurus kemudian ia paham dan mengangguk saja.
Deg,
Verell tertegun, ia sama sekali tak menyangka jikalau kakak laki-lakinya akan meminta bantuan kepada Kevin, meski hubungan Verell dengan sang kakak cukup baik, tapi bukankah Laras adalah adik kandungnya. Verell sama sekali tak pernah berharap bahwa dirinya akan mendapat pembelaan dari keluarga, tak disangka kakaknya ternyata sangat perduli.
"Kakakku?" tanya Verell tak percaya.
Kevin mengangguk datar.
Flashback on,
Satu jam sebelum pergi ke club.
"Hallo, Kev. Kamu dimana? bisa tolong bantu adikku, Verell?" tanya Erick, kakak laki-laki Verell.
"Ada apa?"
"Aku butuh bantuanmu untuk menghentikan Laras, dia orangnya ambisius, kasian Verell ia selalu tertekan karena kelakuan Laras." jelas Erick membuat dahi Kevin semakin mengkerut.
"Sekarang dimana adikmu,"
"Itu dia, aku tidak tahu dimana. Ponselnya susah dihubungi," ucap Erick lagi.
"Baik, aku tahu cara menghentikannya."
Flashback off,
Kevin menjelaskan tentang permintaan Erick, Verell tak menyangka jika beneran kakaknya yang telah membuat Kevin melindunginya, Verell pikir itu karena Melia.
***
Farhan, ayah dari Laras keluar dan menyambut kehadiran Kevin dengan sangat ramah, pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu mengabaikan putranya,Verell.
"Nak, Kevin. Kenapa datang malam-malam begini?" tanya Farhan dengan senyum ramah di kedua sudut bibirnya, ia sama sekali tak berniat untuk menyapa Verell yang duduk terdiam di samping Kevin.
"Saya ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan anda, Tuan Farhan." Kevin tersenyum dingin.
Wajah paruh baya itu langsung sumringah mendengar penuturan Kevin barusan.
"Apa kamu datang kesini untuk Laras, nak?" tanya Farhan dengan ekspresi senang, ia sungguh mengira Kevin datang untuk melamar Laras meski bukan secara resmi.
Diam-diam Verell berdecak dalam hati, mengumpat. Percaya diri sekali ayahnya.
"Tentu saja bukan, saya mau membiacarakan hal serius dengan anda hari ini."
Farhan mengulas senyum, mungkin saja Kevin mau membicarakan hubungannya dengan Laras, pikirnya dalam hati.
"Saya datang kesini untuk menegaskan satu hal, bahwa saya tidak akan menikahi Laras, Tuan Farhan," ucap Kevin dengan raut wajah dingin. Farhan yang mendengarkan pun tak terkejut mengingat masalah putrinya akhir-akhir ini, namun Farhan tak ambil pusing toh Laras sudah menjelaskan jikalau semua itu karena jebakan. Farhan yakin dengan sedikit bujukan mungkin Kevin akan menerima apa adanya Laras.
"Jangan begitu, Nak. Bagaimanapun Laras sudah menyukaimu selama 10 tahun, apa kamu tak bisa sedikit pun membalas rasa cintanya? Bukan, bukan membalas! kamu cukup menerima Laras sebagai istrimu," ucap Farhan berusaha membujuk Kevin agar membatalkan niatnya.
"Keputusan saya sudah bulat." tegas Kevin.
"Kamu dan Laras di kalangan kita sudah seperti pasangan." bujuk Farhan lagi, ia tak ingin Kevin mencampakkan Laras.
Mencampakkan? Bukan, lebih tepatnya menolak.
Laras yang mendengar dari arah samping pun menarik sudut bibirnya, papanya memang selalu bisa diandalkan. Laras pun mulai mendekat namun urung untuk ikut bergabung dengan pembicaraan mereka.
"Tuan Farhan tentu tau apa yang menjadi alasan terkuat saya menolak perjodohan ini, saya sudah melihat semua foto-foto Laras, dan tentu saya tidak akan menikahi gadis semacam dia." tegas Kevin, tatap matanya masih sama dingin, Verell yang mendengarnya bersorak dalam hati, meski ia akan bersaing dengan laki-laki seperti Kevin. Namun, sebagai seorang laki-laki, jika Verell berada di posisi Kevin pun ia pasti akan melakukan hal yang sama, di dunia masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Laras.
Wajah Laras seketika berubah muram dan sedih, kata-kata Kevin yang menolaknya penuh tekanan membuat ia tak terima. Meski sebenarnya, ini adalah bagian dari kesalahannya yang selalu mencari kesenangan dengan para pria. Namun, tak seharusnya Kevin menolak perasaannya.
Farhan seketika berdiri, rahangnya mengeras mendengar penuturan Kevin. Secara langsung pria itu menolak putrinya, padahal sudah jelas jikalau Laras hanyalah korban jebakan.
"Kamu pikir, keluarga saya ini keluarga apa? seenaknya saja kamu menolak, kamu sedang meremehkan keluarga Farhan. Kevin, seharusnya kamu tahu kalau anak saya sangat mencintai kamu, dan kita sebagai orang tua sudah sepakat agar hubungan keluarga kita semakin erat." Tangan Farhan sudah mengepal erat, ia merasa diremehkan oleh bocah ingusan seperti Kevin.
Melihat amarah yang menggunung di sorot mata sang papa membuat Verell ketakutan, akan tetapi sikap tenang Kevin berhasil membuat dirinya sangat salut.
"Tuan Farhan, saya minta maaf sebelumnya. Tapi anda tak perlu khawatir karena saya Kevin reyhan Louis akan memastikan, jika hubungan keluarga kita akan tetap baik-baik saja, tapi keputusan saya tidak bisa berubah. Saya tetap tidak akan menikahi Laras dan menjadikan wanita sepertinya sebagai istri saya." tegas Kevin, sikapnya yang tenang memang aptut diacungi jempol, dan hari ini ia harus menuntaskan kesalahpahaman dua keluarga yang menganggap dirinya dan Laras menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah wanita itu yang terus menghalalkan segala cara untuk mengejar Kevin, hingga membuat Kevin begitu sangat muak dan jijik.
"Mulai sekarang, satu persatu masalah akan aku luruskan, dan kedepan aku hanya akan memikirkan tanggung jawabku untuk Melia." batin Kevin dengan lega, meski saat ini ia melihat pria paruh baya di hadapannya berubah masam.