One Night Love With CEO

One Night Love With CEO
Bab 58



Melia mundur beberapa langkah, ia berusaha tenang saat Laras memerintahkan dua anak buah untuk maju menangkapnya. Verell sedari tadi berusaha melawan, memukul meski tenaganya tak cukup kuat setidaknya ia tak ingin membiarkan Laras melukai Melia. Verell harus bisa menyelamatkan Melia, pikirnya.


"Mau kabur kemana hehe?" tanya Laras terkekeh dengan tangan terlipat di dada.


Kondisi ruangan yang berantakan, belum lagi pecahan kaca berserakan karena ulah Verell sebelumnya, membuat Melia merasa beruntung kali ini. Pecahan kaca itu sangat berguna nanti untuknya, sementara ini ia berusaha melawan sekuat tenaga.


Saat bawahannya mendekat berusaha menangkapnya, Melia melawan sekuat tenaga. Jago bela diri membuat dirinya bisa melawan serangan orang suruhan Laras, meski tak berlangsung lama setidaknya Melia bisa menghindari serangan bawahan Laras.


"Lari Mel, lari. selamatin diri kamu," ucap Verell berteriak.


"Kamu bagaimana, Rell?" tanya Melia, saat tangan bawahan Laras berusaha mencekal pergelangan tangan Melia, kaki Melia menendang tepat aset bawahan tersebut dengan keras hingga membuatnya memekik.


Bugh!


"Sia lan gadis, beraninya kau menendanga asetku." geram laki-laki berisi, bawahan Laras.


"Rasain." Melia lantas melepaskan diri, akan tetapi ia sempat menoleh ke arah Verell kemudian menatap Laras. Melia meraih satu pecahan kaca dan melemparnya asal ke arah Laras.


"Awh..." pekik Laras merasakan sakit karena lemparan kaca yang telah merusak wajahnya meski tak begitu keras, cukup membuat wajah cantiknya mengeluarkan darah.


Bugh!


Bugh!


Verell memukul bahu orang Laras saat mereka lengah, Verell berlari dan menarik tangan Melia yang justru terdiam di ambang pintu karena syok, seluruh bar sepi senyap membuat Melia berfikir keras siapa yang akan menolongnya.


Sial.


"Lemah, gitu aja bisa lepasin mereka kabur sih. Cepat kejar." titah Laras emosi sembari meringis merasakan perih karena luka di wajahnya karena Melia, ia tersenyum smrik karena yakin Verell dan Melia tak akan bisa kabur jauh.


"Semuanya keluar, kejar Melia dan Verell," titah Laras meminta sisa bawahannya bertindak. Bawahan Laras lantas berlari menyusuri bar mencari dimana Melia dan Verell berada.


"Kita bersembunyi dimana?" tanya Verell, saat Melia menoleh bawahan Laras sudah dibelakang berusaha mengejarnya. Tanpa pikir panjang, ia menarik Verell untuk masuk ke dalam toilet dan menguncinya dari dalam.


"Huhhh, sialan itu Laras." umpat Melia, Verell bersandar dibalik pintu toilet, ia menatap iba Melia sebab karenanya gadis itu sekarang ikut menjadi sasaran kemarahan Laras.


"Rell, cari bantuan cepat, mereka sudah sampai di luar. Kita tidak mungkin terus menerus sembunyi," bisik Melia. Verell pun kebingungan meminta tolong sama siapa, lantaran semua temannya menghilang lenyap di telan bumi.


"Gak ada, Mel. Gak ada yang bakal bisa nolongin kita, percuma! teman-temanku tak akan perduli meski aku memohon bantuan ke mereka. Mereka semua mendekatiku hanya karena uang, dan saat ini mereka tak akan ada yang perduli.


"Kamu aja, Mel. Cepat kamu cari bantuan, hubungi siapapun yang bisa bantu. pinta Verell, Melia terdiam beberapa saat, ia sudah terlalu sering merepotkan Kevin, apa iya dia akan merepotkannya lagi, tapi mengingat di luar kekacauan luar biasa pun memundurkan ego.


Terus terang, Melia takut. Ia takut Kevin akan semakin membenci dirinya karena untuk sekali lagi dia merepotkan orang itu. Namun, Melia tetap menghubungi Kevin karena ini mengancam nyawanya, Melia yakin Kevin tidak akan membiarkan dirinya celaka apalagi di tangan ja lang seperti Laras.


Melia mencari nama Kevin, dan menghubunginya.


"Lama banget, apa dia sudah tidur sekarang?" batin Melia, menggingit kuku-kukunya karena tak kunjung mendapat sahutan dari Kevin.


Sementara Kevin yang merasa tak bisa tidur uring-uringan sedari tadi tiba-tiba mengernyit karena satu nama yang mulai tersemat di hati memanggil.


'semalam ini?' batin Kevin bertanya-tanya, meski begitu ia segera menggeser logo telepon hijau ke atas guna mengangkatnya.


"Aku butuh bantuanmu, tolong aku Kev!" ujar Melia dengan nada gusar, gadis itu sampai memejamkan mata bersiap menerima penolakan dari Kevin.


"Ada apa? apa kamu membuat masalah lagi?" tanya Kevin.


Melia mendekus, dalam hati merasa sebal dengan perkataan Kevin, tapi Kevin satu-satunya yang bisa membantu.


"Aku tidak mencari masalah, Kev. Masalah itu sendiri yang tiba-tiba datang menghampiriku." keluh Melia, Kevin mengernyit heran.


Melia pun mulai menceritakan hal yang terjadi.


"Jadi begini, aku lagi kerja. Kebetulan ngobrol sama temenku, dia ceritain masalah keluarganya panjang lebar. Tiba-tiba Laras dateng dan marah-marah, awalnya dia nggak ngenalin aku, karena..." Melia melirik sekilas ke arah Verell, laki-laki itu diam menyimak pembicaraannya.


"Karena temenku manggil nama dia jadi tau kalau aku adalah cewek yang waktu itu sama kamu di kantor. Aku gak tahu harus gimana, sekarang lagi ngumpet di toilet karena dia bawa banyak orang." Jelas Melia, bersama dengan itu suara orang berteriak mulai mendekat. Melia dan Verell panik.


Kevin yang mendengar suara Melia berubah panik pun khawatir.


"Oke kamu ceritain pelan-pelan, aku pasti kesana, aku pasti bantuin kamu!" Kevin berusaha menenangkan Melia, senyum terkembang tipis di bibir Melia, hatinya menghangat mendengar penuturan Kevin.


"Dia datang bawa beberapa orang berbadan kekar, keliatannya preman bayaran. Kamu cepet datang kesini, dia ngancam-ngancam nyawa aku, bahkan dia bilang kalau akan membuat laki-laki meniduriku, agar kamu tak lagi mau denganku. Dia berniat menjebakku, Kev!" napas Melia tersengal saat gedoran pintu di luar memekakkan telinganya. Kevin diseberang yang mendengar itu pun wajahnya berubah kelam, tangannya mengepal erat.


Dor dor dor, gedoran pintu membuat Melia juga Verell memekik kaget.


"Kamu sembunyi dulu, Mel. Kamu ada di club mana?" tanya Kevin, dirinya tiba-tiba menjadi sangat khawatir karena suara rusuh di seberang sana, terlebih suara Melia memekik spontan membuat fikiran Kevin sama sekali tak tenang.


"Aku di tempat kerja, club Red Apple." jawab Melia.


"Club mana itu?" tanya Kevin kebingungan, seperti familiar tapi dimana?


"Dimana itu?" tanya Kevin.


"Aku share lokasi," ucap Melia sebelum menutup telepon, ia lantas mengirim lokasi keberadaannya ke nomor Kevin.


"Gimana?" tanya Verell, ia berharap Melia mendapat bantuan.


"Semoga dia datang menolong kita," ucap Melia yang lebih mirip gumaman. Verell merasa bersalah, karenanya Melia jadi terlibat masalah dan kini kakak tirinya itu juga berniat buruk kepada Melia.


"Sebentar lagi pasti mereka berhasil menerobos masuk, gimana ini?" panik Melia.


"Kita bersandar di pintu," titah Verell.


Sementara di kediamannya, Kevin berulang kali mengumpat.


"Breng sek!!! Berani menyentuh Meliaku, aku akan buat hidupmu lebih hancur wanita sialan." geram Kevin, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.


Kevin bersiap, ia menuruni tangga menghampiri seluruh pengawal rumah.


LIKE KOMEN DAN VOTE YA SAYANG😘


BESOK VOTE GRATISNYA BOLEH BANGET DISUMBANGIN, BIAR AKU SEMANGAT💃🏻