
"Hm, kekanakan!" gumam Kevin. Namun, dengan bibir tersenyum tipis memperhatikan Melia yang tampak bahagia bertemu temannya dari balik kaca mobil. Setelah memastikan Melia ikut masuk temannya, Kevin lantas melajukan mobilnya menuju kantor LS Group.
Melia memeluk Gisell erat, ia senang akhirnya bertemu sahabatnya itu. Dulu Gisel, Hana juga dirinya pernah bermimpi untuk sekolah di IMS sama-sama, sayangnya hanya Gisell yang lanjut sedangkan Melia juga Hana harus bekerja mencari uang.
"Astaga, ini kenapa Mel? Kenapa wajah kamu jadi kaya gini?" cerca Gisell saat mendapati wajah Melia terlihat luka meski mulai tampak samar.
"Bukan apa-apa, hanya luka kecil tak perlu khawatir!" alibi Melia yang memang tak ingin Gisell tau apa yang telah menimpanya semalam.
Gadis seumuran Melia itu meneliti wajah sahabatnya dengan seksama. Meski penasaran, ia enggan bertanya lebih lanjut karena Gisell tau Melia seperti apa, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya atas apa yang menimpa sahabatnya itu.
"Masuk, yuk! aku ajak kamu keliling kampusku." Gisell terlihat semangat, Melia mengangguk senyum karena ia juga penasaran bagaimana tempat yang sempat menjadi mimpi indahnya untuk melanjutkan pendidikan.
"Bagaimana kabar tante Sintia? Apa keadaannya sudah lebih baik?" tanya Gisell menatap manik mata Melia, ada banyak hal yang belum gadis itu tahu, jadi saat Melia ada waktu untuk menemuinya, Gisell ingin banyak bertukar cerita.
Mendengar keadaan Ibu Melia yang sudah membaik dan dapat segera berganti ginjal membuat Gisell turut bahagia. Pasalnya karena hal itu Melia tak jadi ikut kuliah bersamanya karena ia harus bekerja untuk membiayai pengobatan ibunya.
"Apa itu artinya, sebentar lagi kamu akan kuliah disini bersamaku?" tanya Gisell antusias, terdengar helaan napas berat dari Melia setelahnya, gadis itu tampak murung.
Melia mendongkak dan tersenyum getir, "aku tidak tau, Sell. Mungkin tidak," jawab Melia yang lebih mirip sebuah gumaman.
"Maksudnya?" tanya Gisell yang melihat raut wajah Melia mendadak sedih.
"Untuk saat ini aku sedang tak ingin memikirkan hal itu, aku hanya fokus biaya pengobatan ibuku, Sell. Oh ya, apa kamu sudah makan?" tanya Melia.
Gisell menggeleng, akan tetapi dengan bibir mengulas senyum.
"Aku akan mentraktirmu makan, bagaimana? Aku habis gajian, jadi kamu tidak boleh menolak."
Gisell sangat mengerti bagaimana kehidupan Melia, ia tahu Melia harus mengorbankan masa depannya untuk bekerja, dan gadis itu harus menanggung semuanya sendiri.
"Kau ehm, tidak perlu mentraktirku makan. Mel, uangnya lebih baik kamu simpan untuk pengobatan tante Sintia, lagi pula kamu sudah bekerja sangat keras untuk itu, aku yang akan mentraktirmu." Gisell dengan antusias menarik tangan Melia memasuki gerbang tempat kuliahnya. Dengan senyum merekah keduanya berjalan menuju kantin kampus yang terletak tak cukup jauh, mereka berjalan beriringan dengan tangan bergandengan hingga tanpa sadar beberapa pasang mata menatapnya penuh kesal.
Karena teman yang tadi bersama Gisell sudah pergi, Kedua gadis itu duduk sambil emmbawa dua piring nasi.
Melia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Hm, makanan disini lumayan enak." puji Melia yang sangat menikmati makanan di kantin itu, ditambah dari semalam ia memang belum makan sama sekali.
"Tentu saja, karena disini tempat melatih artis untuk terkenal di masa depan. Jadi, makanannya sudah pasti enak dan bergizi," ujar Gisell dengan bangga.
Melia hampir menandaskan makanannya sementara Gisell terlihat sangat senang melihat Melia makan dengan lahap.
Melia menyedot es tehnya hingga tersisa setengah, sembari memperhatikan wajah Gisell.
"Akhir-akhir ini kamu makin cantik," puji Melia.
Gisell terkekeh, sahabatnya itu memang paling bisa melambungkannya langsung ke awan tanpa berniat menjatuhkan.
"Kamu tahu Mel, belakangan kampus mengadakan casting. Jadi aku berdandan, jika bisa aku terpilih dan aku akan terkenal maka aku akan bisa menghidupimu kelak." Gisell mengukir senyum.
"Oh ya?" tanya Melia.
"Iya tentu, setelah aku terkenal. Kamu cukup diam saja di rumah dan tak perlu memikirkan apapun."
Melia pun tertawa, "Semoga!" ujarnya.
Justru Melia ingin mendukung penuh sahabatnya itu hingga meraih sukses meski tanpanya.
"Bagaimana kabar Hana?"
"Entah, aku belum bertemu dengannya sejak kejadian kemarin." Melia hampir saja keceplosan akan tetapi ia langsung menutup mulut seketika.
"Kejadian apa?" tanya Hana dengan kening yang sudah mengkerut.
Melia tampak berfikir, ia tak mungkin menceritakannya kepada Gisell apa-apa yang menimpanya.
"Ah iya, kejadian... ehm kejadian dia jadian sama bossku!" ujar Melia, tiba-tiba ia teringat Hana dan Andre yang baru jadian membuatnya memiliki ide briliant tersebut sebagai alasan.
Beruntungnya, Gisell sama sekali tak curiga.
Mereka pun kembali mengobrol ringan, sesekali Melia tertawa pun dengan sebaliknya, saat tengah bercanda beberapa wanita datang menghampiri meja Gisell dengan sorot mata tak enak, tangannya terlipat di depan dada dengan bibir tersenyum remeh.
"Aku akan menunggumu terkenal, Sell."
"Pasti, kelak pasti aku akan terkenal Mel."
"Apa kamu tidak malu bermimpi di siang bolong," celoteh Disha.
Melia mendongkak, menatap ke arah sumber suara. Terlihat seorang gadis dengan segala barang branded yang melekat di tubuhnya sedang tersenyum sinis ke arah Gisell juga dirinya.
Gisell mengerutkan alisnya, lantas menatap tajam ke arah Disha.
"Aku rasa, sangat tidak sopan menyela pembicaraan orang lain saat sedang mengobrol, apalagi untuk hal yang tak ada urusannya sama sekali denganmu."
"Hm, oh ya? Aku sangat suka melakukannya. Kamu tahu, aku sangat senang jika kamu kesusahan!" ucap Disha dengan nada mengejek.
Sementara di kantor, Kevin terus uring-uringan hingga memyerahkan pekerjaannya kepada Alan. Bayangan wajah lebam Melia terus mengusiknya hingga ia susah sekali konsentrasi. Ditambah gak ada satu pesan pun dari Melia setelah ia mengantarkannya lagi.
"Kev?" Alan mengetuk pintu berulang kali sebelum akhirnya suara bariton dari dalam menyuruhnya masuk.
"Kusut banget," ucap Alan, ia menyodorkan beberapa dokumen yang harus Kevin tanda tangani.
"Kurang tidur, bahkan gak tidur," ucap Kevin dengan nada gusar.
"Masalah apalagi?"
"Gak ada, seharusnya dia sudah aman," ucap Kevin, namun tak bisa menutupi rasa khawatirnya. Kevin dengan segera menyelesaikan tanda tangan dan menyerahkannya kepada Alan.
"Udah jatuh cinta kan kau?" tanya Alan menyeringai.
"Nggak ada." elak Kevin, akan tetapi wajahnya sudah berubah merah padam.
"Ngaku nggak, ntar nyesel diambil orang. Melia itu banyak yang suka!"
"Siapa yang mau sama dia yang sudah tidur sama gue." cibir Kevin.
"Ck! jangan terlalu meremehkan, kalau gak gercep diembat juga sama yang lain, janda aja masih laku kok apalagi Melia yang cantik jelita." Alan berusaha memanas-manasi Kevin.
"Sudah-sudah, jangan bikin moodku tambah buruk, sana kerja!"